
Pagi hari telah tiba,hari ini adalah hari senin. Hari dimana semua orang mulai kembali menjalani rutinitas mereka seperti biasanya.
Sama halnya dengan diriku,pagi sekali aku sudah datang ke sekolah. Aku datang begitu pagi bukan tanpa alasan,alasannya hanya satu karna,nyaman.
Dengan datang begitu pagi ke sekolah aku bisa menikmati suasana pagi yang tenang dan damai,tanpa ada yang mengusik.
Seperti saat ini,aku sedang berjalan di koridor sekolah yang tampak lengang karna belum banyak siswa yang datang.
"Pagi pak Jajang."
"Eh,pagi neng Alika,meuni geulis pisan neng Alika teh,cihuy da poko na mah." Aku hanya tersenyum,karna sebenarnya aku tidak mengerti mendengar ucapan pak Jajang yang bercampur logat daerah Sunda itu,karna memang pak Jajang itu asli dari Sunda.
Setelah berbincang sebentar dan bertegur sapa dengan pak Jajang,aku pun memutuskan untuk kembali melanjutkan langkahku.
Jika kalian fikir aku akan segera pergi ke kelasku,jawabannya adalah tidak. Aku akan pergi ke tempat di mana aku bisa melihat cahaya matahari pagi,yaitu rooftop sekolah.
Aku harus menjajaki anak tangga satu persatu untuk bisa sampai ke rooftop,namun itu tidak masalah karna aku sudah biasa melakukannya.
Akhirnya aku sampai juga di rooftop,aku tersenyum puas melihat sekelilingku.
Berada di rooftop pagi-pagi begini,membuat diriku tenang.
Hembusan udara dingin di pagi hari ini begitu terasa di kulitku,Aku begitu menyukainya. Bahkan saat ini aku sudah merentangkan kedua tanganku menikmati angin yang menerpa wajahku.
"Hmmm." Aku membuka kedua mataku saat mendengar suara deheman seseorang yang berasal dari arah belakang,dan tentu saja aku segera menolehkan kepalaku ke belakang.
"Lo? Ngapain ke sini?" Tanyaku dengan nada tidak suka pada orang tersebut,bukannya menjauh dia malah melangkah maju.
"Katanya lo takut ketinggian? Kok berani naik ke sini?" Aku diam tidak langsung menjawabnya,aku mencoba mengendalikan kekesalanku pada orang ini yang sudah membuat pagi indahku jadi tidak indah lagi.
"Bukan urusan lo." Aku hanya menjawab seperti itu saja,sebenarnya aku memang takut ketinggian namun entah kenapa ketakutan itu sirna tiap kali aku naik ke rooftop sekolah ini,entahlah aku juga tidak tau mengapa bisa begitu.
"Segala hal yang menyangkut tentang lo sekarang jadi urusan gue,karna lo sekarang istri gue."
"Jangan pernah bilang sama siapapun yang ada di sekolah ini tentang hubungan kita,kita bersikap kaya biasa aja,kaya dua orang asing seperti sebelumnya,inget itu." Setelah mengatakan itu aku memutuskan untuk pergi dari rooftop tersebut,moodku untuk menikmati pagi di rooftop sudah menguap entah kemana karna kehadiran pria tidak tau diri itu.
Aku memilih untuk kembali ke kelas saja dari pada harus berkeliaran,dan nantinya malah ketemu dengan Januar lagi,aku tidak sudi.
Sesampainya di kelas,ternyata kelasku sudah lumayan ramai anak yang datang. Aku melangkahkan kakiku masuk dan langsung duduk ke tempat dudukku,menaruh tasku lalu menelungkupkan wajahku pada kedua tangan yang ku letakkan di atas meja,aku mulai memejamkan mata dan tertidur.
πΌπΌπΌ
Bel istirahat sudah berbunyi,Aku merasa perutnya sangat lapar dan akhirnya aku pun memutuskan untuk pergi ke kantin.
Aku pergi ke kantin seorang diri,di sekolah aku tidak punya teman yang betul-betul akrab dengan ku kecuali Ismi,namun sayangnya Ismi tidak berada satu sekolah yang sama dengan diriku.
Aku mendudukkan tubuhku di kursi yang telah di sediakan oleh pihak kantin untuk para pelanggan,sambil menunggu pesanan bakso dan es teh ku datang,Aku asyik memainkan gawai,sambil mendengarkan musik menggunakan headset.
"Wahh ya ampun!"
"Lihat si tampan datang!"
"Halo kakak."
"Halo tampan!"
Aku merasa terganggu,suara musik yang ku dengar sepertinya kalah keras dengan suasana kantin yang mulai terlihat tidak kondusif,aku menolehkan kepala,lalu mengerenyitkan dahi bingung melihat para kaum hawa yang terlihat sedang mengerumuni sesuatu.
Karna jiwa kepo ku mulai berkoar-koar,aku pun memutuskan untuk melihat apa yang sedang mereka kerumuni.
Tubuhku yang mungil,membuatku dengan mudah masuk ke antara para kaum hawa yang teriak semakin histeris.
Saat aku berniat untuk maju ke barisan paling depan,namun aku urungkan saat aku tau apa yang sedang kaum hawa itu kerumuni.
"Kak Januar,makin cakep aja kak."
"Januarr ya ampun tambah ganss parah!"
"Januarr aku padamu."
Aku mulai berfikir apa istimewanya si manusia kampret itu? Menurutku dia itu biasa saja,jadi tidak usah terlalu histeris ketika melihatnya,dasar memang ciwi-ciwi di sekolahku sepertinya kaum lemah yang tidak bisa menolak pesona Januar si cowok kampret.
Aku yang sedang sibuk menghujat Januar di dalam batin pun baru sadar,jika Januar sedang memperhatikan diriku.
Sadar kalau aku di perhatikan oleh Januar,aku pun memilih untuk kembali ke tempat duduk ku sebelumnya karna aku tidak ingin memancing kehebohan,jika fans Januar tau kalau Januar yang mereka agung-agungkan sudah menikah dengan diriku,bisa habis diriku sama mereka.
Persetanan dengan Januar,aku lebih memilih untuk menikmati semangkuk bakso dan segelas es teh yang terasa begitu nikmat ini.
Aku sangat suka sekali dengan bakso dan mie ayam,dan juga makanan lain yang paling aku sukai yaitu kulit ayam. Aku tidak akan rela jika harus berbagi kulit ayam milikku pada orang lain.
Srekk
Aku yang baru saja ingin memasukkan bakso ke dalam mulut,harus ku urungkan saat melihat kursi di hadapanku di geser oleh seseorang. Perlahan aku mendongakkan kepalaku melihat siapa orang yang kini duduk di depanku.
"Lo ngapain duduk di sini?" Tanyaku dengan volume suara agak kecil.
"Tempat yang lain penuh,dan gue gk suka makan sambil berdiri." Bukannya pindah,orang itu yang tak lain adalah Januar kampret,malah menyantap makanannya dengan lahap.
Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling,melihat kondisi sekitar. Aku tersenyum sinis pada Januar yang telah menipuku,jelas-jelas kalau sebenarnya masih banyak bangku yang masih kosong yang bisa ia duduki.
"Alasan mulu lo,pergi sana. Jauh-jauh deh dari gue. Gue gk mau ya sampe di jahatin sama fans-fans lo itu." Aku ngeri sendiri melihat tatapan para fans Januar,tatapannya seperti memperingati diriku untuk tidak mendekati Januar. Padahal asal mereka tau ya aku mana sudi dekat dengan cowok itu.
"Mereka gk akan jahatin lo,jangan lebay."
"Jingin libiy,eh denger ya gue bukannya lebay cuma gue gk mau nambah masalah sama orang macam fans-fans lo itu." Setelah mengatakan itu aku bangkit tak lupa membawa serta semangkuk bakso dan es teh milikku.
Namun aku tidak bisa pergi,karna Januar malah menarik tanganku. Otomatis aku langsung duduk kembali,aku memelototi Januar mengisyaratkan dirinya untuk tidak macam-macam denganku.
"Kenapa? Gue ganteng banget ya sampe lo ngeliatin gue terus kaya gitu."
"Idih,ganteng gigi lo ompong noh!" Aku membalasnya sengit,lalu kembali melanjutkan menyantap bakso ku meskipun aku terasa begitu terintimidasi dengan tatapan para fans Januar.
"Aaaa-ups!" Aku langsung menutup mulutku saat tidak sengaja bersendawa dengan kencang.
"Hahaha,lo jorok banget sumpah asli!" Aku menatap kesal pada Januar yang sedang mentertawakan diriku,kampret emang nih anak.
"***** lo kenapa ngelempar gue pake tisu?" Januar sepertinya tidak terima ketika aku melempar tisu yang sudah aku pakai ke arahnya.
"Lo gk liat apa? Muka cantik gue ini apa menunjukkan sebuah keperdulian?" Aku menunjuk wajahku,Januar terlihat kesal sebelum amarahnya meledak aku segera bangkit dari dudukku,lalu berjalan ke arah abang Nofal-tukang bakso yang sudah terkenal seantero sekolahku ini.
"Bang Nofal saya tadi pesen bakso sama es teh,berapa semuanya bang?" Tanyaku pada bang Nofal yang sedang meracik bakso untuk pelangannya.
"Eh neng Alika,gk usah neng tadi udah di bayarin sama pacarnya."
"Hah? Udah di bayar sama pacar? Pacar siapa bang? Saya mana punya pacar? Udah ah ini ambil uangnya." Aku kaget sendiri mendengarnya,karna aku ini jomblo sejak lahir mana mungkin punya pacar,yang ada juga suami noh,suami kampret.
"Duh si eneng gk usah atuh,tadi udah di bayarin sama pacar nya neng Alika. Nah itu tuh orangnya!" Aku mengikuti arah yang di tunjuk oleh Bang Nofal,aku membulatkan mataku ketika tau siapa cowok yang mengaku-ngaku sebagai pacarku.
"Hai." Aku masih terdiam memperhatikan seseorang di hadapanku yang kini sedang menunjukkan senyumannya.
"Lo mau gk jadi pacar gue?"
"Hah? Apaan?!" Aku terperangah kaget mendengar pertanyaan tersebut bagaimana aku tidak kaget,orang yang begitu terkenal di sekolah ini memintaku menjadi pacarnya,wah kayanya nih orang tadi pagi gk sarapan deh jadi ngelindur gini.
Atau dia salah nembak ya? Apa ini prank? Kalau iya apakah ada kamera tersembunyi? Akhirnya aku mengidarkan pandanganku mencari dimana keberadaan kamera tersebut namun sepertinya tidak ada.
"Gk apa-apa kok gk di jawab sekarang juga,aku bakalan tunggu kamu. Aku ke kelas dulu ya,Alika." Aku semakin terkejut ketika dia tau namaku.
Setelah pergi aku baru sadar,kalau ini sepertinya bukan lagi halu ku. Sepertinya memang ini nyata,jika ini mimpi aku mohon jangan bangunkan aku.
"Aaaa mamah! Alika di tembak cogannn." Aku gemas sendiri jadinya,entah aku jadi salah tingkah begini,rasanya benar-benar bagaikan mimpi di siang bolong tapi rasanya bahagia.
**Holaa! Ketemu lagi ama author:) btw gimana part ini? Lumayan panjang nih gais hehe. Eh iya btw siapa tuh yg nembak Alika? Hayo komen ya di bawah! Jangan lupa π nya ya gaiss! See you next part:)
[FV/V]
π**