Young Marriage

Young Marriage
Young Marriage 13



... Happt reading🤗...


Matahari tak lagi menyembunyikan wujudnya, sinarnya yang terik secara terang-terangan terpancar denggan indah, memberikan kehangatan pada setiap insan yang hidup di dunia fana ini. Salah satunya Aletta, gadis itu sudah bersiap dengan pakaian olahraganya, ia terlihat sangat segar dengan setelan celana training yang dipadukan dengan kaos oblong, serta sehelai handuk kecil yang tergantung manis di lehernya.


Bersama dengan Sella, ia akan melakukan lari pagi di taman kota hari ini. Sebagai salah satu cara alternatif untuk merilekskan isi kepalanya dari berbagai masalah yang belum juga selesai sampai detik ini. Saat Aletta sibuk memasang sepatunya di teras depan rumah, tiba-tiba Arvin datang dengan langah tegas dan langsung membanting sepatunya ke lantai, kemudian ia ikut terduduk disamping Aletta untuk memakaiannya. Hal itu berhasil mengundang rasa penasaran dari benak Aletta.


"Mau kemana lo?" tanya gadis itu setelah selesai memasang sepatunya.


Arvin menoleh dengan menghela nafas. " Ya mau lari pagi lah, yakali mau berenang pake sepatu kayak gini!"


Aletta hanya mengangguk pelan serta membulatkan mulutnya membentuk huruf 0 sebagai jawaban.


"Gue mau ke taman flamingo, lo mau ikut?"


"Sama siapa lo di sana?" Bukannya menjawab, gadis itu justru kembali melemparkan pertanyaan kepada suaminya. Membuat Arvin kembali menghela nafasnya jengah.


Kemudian laki-laki itu berdiri dari duduknya, menatap Aletta dengan intens, " Sama Zidan, Ardi. Lo mau bareng gue?"


Aletta menggeleng cepat, bagaimana bisa Arvin mengajaknya untuk berangkat bersama. Jika nanti teman-temannya curiga, bisa bahaya.


"Terus … kalau nggak mau bareng, ngapain nanya-nanya. Kepo banget jadi istri."


"Ya nggak, kirain lo perginya sama si Medina."


Arvin yang mendengar jawaban itu, tak bisa lagi menyembunyikan senyum nakalnya, " Kenapa, emang kalau gue sama Medina, lo cemburu?" ucapnya sambil mencoba menggoda Aletta.


Pertanyaan itu reflek membuat Aletta melotot tajam, dengan cepat Aletta turut berdiri dan menatap Arvin horor.


"Idih pd banget bang, siapa juga yang cemburu sama lo!" serunya dengan nada yang keras, mencoba menyembunyikan rasa malu yang tiba-tiba menyerang.


"Udahlah, cemburu-cemburu aja, ngomong sini gausah malu-malu."


Aletta tetap keras kepala, "Nggak ya Vin, ngapain juga harus cemburu sama lo!" Ia memalingkan wajahnya, mencoba menghindari tatapan suaminya, tetapi hal itu justru berhasil membuat desiran perasaan aneh di dalam dirinya semakin kuat.


Tiba-tiba, Arvin mendekat. Bisikannya merayap di telinga Aletta, " Lo udah suka kan sama gue? Ngaku aja udah!" Kata-kata itu terucap dengan lembut, dan berhasil membuat bulu kuduk Aletta meremang dengan sendirinya, ditambah hatinya yang ikut berdebar tak karuan.


"Sial! Apa bener gue udah suka sama dia!" Batin gadis itu, hatinya kembali berkecamuk, dan dengan cepet ia menggeleng, berusaha menepis semua pikiran tersebut. Arvin yang ternyata masih memperhatikan gadis itu menyerngitkan kening merasa bingung.


Aletta menoleh, hendak kembali menatap Arvin, tapi justru kedua matalah yang pertama bertemu dan saling mengunci, mengubah atmosfer yang semula terasa ringan menjadi lebih serius.


Dalam diam, kedua hati mereka berbicara dengan bahasa yang tak mampu terucapkan. Ada rasa yang begitu dalam, tetapi belum terungkap sepenuhnya. Hingga akhirnya keduanya sama-sama mengalihkan pandangan, dan memilih beranjak dari sana dengan perasaan yang rumit di hati masing-masing, meninggalkan pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban yang masih menggantung di udara.


...****...


Setelah dirasa cukup mendapatkan keringat dan membuat otak lebih tenang, Aletta dan Sella memutuskan untuk berjalan santai, sesekali Aletta dibuat tertawa oleh lelucon aneh yang Sella lontarkan. Dan kini canda tawa itu sudah berhasil menjadi hal yang selalu ingin Aletta dengar setiap harinya.


Namun, tiba-tiba seorang gadis berambut blonde dengan poni Dora itu datang dan langsung mendorong tubuh Aletta. Karena kurangnya keseimbangan dan tindakan yang tiba-tiba, Aletta pun berhasil tersungkur di atas paving yang keras.


Sella yang menyaksikan kejadian itu, langsung melototkan matanya, tak terima dengan apa yang terjadi. Dengan cepat, dia ikut mendorong tubuh Medina agar menjauh. "Lo ngapain sih, datang-datang ngajak ribut. Ngeselin banget jadi orang! Berani lo sama kita?"


Melihat reaksi Sella, justru membuat Medina tersenyum dengan sombong. "Gue gak pernah takut sama lo!" ujarnya dengan nada penuh penekanan.


Sella yang merasa tidak terima dengan perlakuan yang diterima oleh Aletta, semakin kesal. Dia menatap Medina dengan mata yang penuh kemarahan, tangannya semakin mengepal kuat.


"Dasar cewek brengsek!" umpat Sella sembari melemparkan satu bogeman yang berhasil mendarat tepat di pipi Medina.


Medina merintih kesakitan. Gadis itu membalas tatapan marah Sella dengan tatapan yang tidak kalah tajam. Sementara itu, Aletta segera berdiri dan menarik tubuh Sella untuk menjauh.


Sella terdiam, berusaha meredakan ketegangan dalam dirinya. Pandangannya tidak beranjak sedikitpun dari Medina, yang ternyata juga masih menatapnya dengan sikap meremehkan.


"Kenapa lo? Takut sama gue?" tanya Medina dengan nada meremehkan, diakhiri dengan tawa yang menggoda.


Siren merasa nafasnya kembali naik turun tak teratur, akibat kemarahannya yang semakin memuncak. Dia ingin membela Aletta, tapi juga tidak ingin memperpanjang konflik ini demi Aletta.


Dengan nada yang lebih tenang, Sella akhirnya menjawab, "Gue nggak takut sama lo, Medina. Tapi itu bukan berarti gue bakal duduk diam saat lo ngelakuin hal-hal kaya gitu ke temen gue."


Medina masih tersenyum dengan sombong, meski ada bekas bogeman di pipinya yang mulai memerah. "Wah, benarkah? Terharu banget gue dengernya!" cicit gadis itu dengan ekspresi disebut se syok mungkin.


"Jadi … kalau gitu, gue bakal bikin lo gak bakal bisa ngelindungi tu cewek murahan dari semua masalahnya." lanjutnya penuh ancaman.


"damn it! Siapa yang lo bilang cewek murahan?" balas Sella dengan nada tak ramah. Telunjuknya ia arahakan tepat diwajah Median dengan tajam.


Medina tetap mempertahankan senyumnya, dengan bersedekap dada ia menunjuk Aletta menggunakan dagunya yang lancip. "Tuh, cewek dibelakang lo!"


Plakkk!!!!


Satu tamparan keras kembali mendarat di pipi mulus Medina yang langsung membuat nya tertoleh. Namun,seakan tak memperdulikan Sella dan rasa perih yang menjalar di pipimya, gadis itu justru melangkah melewati Sella begitu saja, mengikis jaraknya dengan Aletta yang masih diam dengan tatapan kosong.


Medina menyeringai tepat di samping Aletta, membuat gadis itu menolehkan sedikit kepalanya. "Lo murahan Aletta, sama kayak kakak lo."


Aletta yang mampu mendengar bisikan itu dengan jelas, merasakan rahangnya semakin mengeras dengan urat yang telihat menonjol.


"Lo denger gue Aletta? Lo inget kan siapa kakak Lo? Dan lo pasti tahu kan kelakuan bejat apa yang udah dia lakuin!"


"Brengsek lo setan!" teriakan itu keluar begitu saja dari mulut Aletta, "Kakak gue gak kayak yang lo omongin anjing!" sambungnya dengan penuh amarah.


Sejak tadi, Aletta sudah berusaha keras untuk menahan amarah yang memuncak di dalam dirinya. Dia mampu menahan semua ejekan dan hinaan yang ditujukan padanya, tetapi ketika pembicaraan mulai menyentuh kakaknya, semuanya berubah. Gadis itu semakin mempertajam tatapannya dan matanya berbicara lebih keras dari pada kata-kata yang telah ia lontarkan. Ada ketegangan dalam tatapan itu, layaknya sebuah peringatan yang tidak perlu diucapkan.


Namun, sepertinya tatapan Aletta berhasil menciutkan nyali Medina, mata gadis itu bergerak kesana kemari mencari sesuatu, dan tepat saat itu ia melihat Arvin dan kedua temannya lewat tak jauh dari mereka.


Tanpa Aba-aba, Medina menjatuhkan tubuhnya sendiri dan mengaduh kesakitan, seolah-olah dia terluka karena ulah Aletta. Dan skenario itu berhasil menarik ketiga laki-laki untuk mendekat ke arahnya. Arvin yang pertama berlari dan langsung membantu Medina untuk berdiri. Kemudian dengan tegas, laki-laki itu berdiri tepat di hadapan Aletta.


"Bukannya gue udah bilang! Jangan cari maslaah sama Medina!" seru Arvin menatap tajam Aletta, mengubah tatapan tajam gadis itu menjadi tatapan tatapan tak percaya.


Rasa sesak kembali menggrogoti dada Aletta tanpa sebab, dengan suaranya yang serak karena menahan tangis gadis itu tetap bersuara. " Gue gak pernah cari masalah sama siapapun, termasuk dia!"


"Jangan fitnah lo Medusa, jelas-jelas tadi lo yang dorong Aletta duluan!" sahut Sella berusaha membela.


"Berisik, nggak usah ikut campur lo!" cicit Ardi yang tiba-tiba sudah berada disampingnya. Tapi, bukan Sella jika takit begitu saja, dengan kekuatan yang masih ada, ia menginjak kaki laki-laki itu, membuatnya mengaduh kesakitan. Sedangkan Zidan sendiri hanya menunjukan smrik andalannya tanpa mau ikut campur.


"Kamu percaya sama aku kan vin?" tanya Medina yang bersembunyi di balik punggung besar Arvin, berusaha tampil denngan lemah lembut. Membuat laki-laki itu menoleh sekilas dan mengangguk mantap, meskipun ada rasa sakit yang turut mengambil alih dirinya, dan entah apa itu


Aletta sendiri merasa semakin terjebak pada perasaan yang berkecambuk hebat. Bagaimana bisa Arvin percaya dengan Medina begitu saja, dari pada istrinya? Meski hubungan mereka hanya karena terpaksa.


"Gue lebih percaya sama Medina, ketimbang Lo? Udah jelas-jelas tadi gue lihat lo dorong Medina?"


Aletta tetap mencoba menahan rasa kecewa, meski senyum hambar di bibirnya sulit untuk dipertahankan. "Terserah lo Vin, Gue juga gak butuh kepercayaan dari lo!"


"Tapi, untuk lo Medina," sekilas Aletta melupakan kehadiran Arvin dan perasaan kecewanya. Ia kembali menatap Medina dengan penuh emosi. "Lo boleh hina gue, lo boleh ngerendahin gue, tapi … tidak untuk kakak gue!"


...Terima kasih untuk yang udah mau baca:) Jangan lupa tinggalin like, dan comment kalian:)...