Young Marriage

Young Marriage
Young Marriage 23



...Happy ReadingšŸ¤—...


"jadinya kita mau cari makan apa?" tanya Arvin dengan nada sedikit kesal, pasalnya sejak tadi gadis itu terus menyuruhnya jalan tanpa arah yang jelas.


Aletta menggeleng. Membuat Arvin kembali menghela nafas berat. Diatas motor hitam milik Arvin, mereka berdua terus berkendara menyusuri jalan raya di bawah langit senja.


"Nggak tahu," tuturnya kemudian menatap wajah Arvin yang terbalut oleh helm fullface yang dikenakannya, "nyesel kan lo? Salah sendiri sok-sok an nyuruh gue yang nentuin!"


Arvin berdecak, kemudian memilih untuk menepikan motor dan melepas helmnya. Ia menatap horor Aletta yang masih duduk nyaman di jok belakang.


"Yaudah, gue aja yang mutusin. Turun lo sekarang!"


Gadis itu menurut tanpa mau melawan, perutnya terasa lapar tapi otaknya sangat tidak bisa diajak berpikir ingin makan apa.


Di seberang jalan tak jauh dari mereka, banyak perkumpulan pedagang kaki lima yang berjejer di sepanjang jalan. Tanpa permisi Arvin menggenggam tangan Aletta dan menyeretnya untuk menyusuri semua pedagang yang ada disana.


"Mau makan bakso?" tawar Arvin saat mereka melewati tukang bakso yang terlihat cukup ramai pembeli.


Aletta kembali menggeleng, untuk saat ini bukan bakso yang ia inginkan. Arvin yang ternyata masih memiliki stok kesabaran terus berjalan, matanya bergerak kesana-kemari mencari jajanan yang enak dan bisa mengenyangkan.


"Makan bubur ayam? Sore-sore gini enak, mau coba nggak?"


Dengan antusiasme tinggi Arvin berucap demikian. Wajahnya dipoles se excited mungkin, berharap Aletta tergoda dan menganggukkan kepala.


Namun, Arvin salah nyatanya bubur ayam bukanlah makanan yang mampu menarik perhatian Aletta. Sebab gadis itu termasuk ke dalam tipe manusia yang tidak suka dengan segala jenis bubur, karena baginya bubur adalah makanan orang sakit, jadi ia benci itu.


Arvin masih berusaha untuk menahan kekesalannya, ia memandangi jam yang melingkar di tangannya yang menunjukan waktu terus berjalan tanpa ampun, sedangkan mereka masih sibuk berdiri di tengah padatnya pengunjung yang mulai berdatangan.


Arvin menghela nafas panjang, seraya meraup wajah dengan kedua tangan. Lantas ia memandangi Aletta dengan tatapan tegas yang dominan.


"Oke! Terakhir. Kita beli es kacang hijau di seberang sana, dan lo harus ikut gue gak menerima penolakan." Arvin berucap dengan mutlak.


Saat Arvin kembali menarik tangan Aletta, gadis itu mencoba menahan tubuhnya, membuat Arvin kembali melengos dengan tidak ramah, keningnya berkerut, membuat kedua alis di dahinya hampir menyatu.


Aletta yang menyadari tatapan itu, dengan senyum yang dipaksa mengembang ia mencoba melepaskan genggaman tangan Arvin yang semakin mengerat.


"S-sory nih ya Vin sebelumnya. Lo kalau beli itu nggak papa, beneran nggak papa. Tapi gue gak bisa ikut," serunya dengan hati-hati, yang justru membuat Arvin semakin mengerutkan kening, meminta penjelasan.


"Gue dari kecil gak bisa dan gak boleh makan kacang hijau! Jadi lo aja ya yang pergi, gue mau pulang dulu!"


Aletta yang berhasil melepaskan tangannya hendak bergegas lari, tapi Arvin lebih dulu menahannya. Entah sudah yang keberapa ratus kali Arvin menghela nafasnya mencoba lebih sabar, laki-laki itu melunakkan tatapannya yang sempat menajam.


"Yaudah iya, gue hitung sampai tiga, lo tentuin mau makan apa!"


Aletta tersenyum, dengan senang hati ia langsung memikirkan makanan apa yang enak menurutnya, dan belum sampai hitungan ketiga Aletta sudah mendapatkan apa yang diinginkan.


Gadis itu berganti menarik tangan Arvin, membawa laki-laki itu berlari menyusuri setiap orang yang mereka lewati, hingga kaki jenjang membawanya berhenti tepat di tikungan jalan.


"Gul-tik," ucap Arvin mengeja banner kecil yang berada di hadapan mereka, merasa asing dengan makanan itu. Ia menoleh menatap Aletta dengan wajah heran, "Gulai tikus?"


Ftppp….


Aletta tak mampu lagi menahan tawanya, apalagi saat melihat wajah Arvin yang begitu polos dan penuh keterkejutan. Ia tertawa terbahak-bahak, tak peduli dengan tatapan orang yang melewati keduanya.


Melihat itu, membuat Aletta kembali menarik tangan Arvin dan mengajaknya duduk pada kursi plastik kecil yang bapak penjualnya sediakan. Lantas gadis itu memesan untuk Arvin dan dirinya.


Tak menunggu terlalu lama, sepasang suami istri itu sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Disaat Aletta sudah lahap memangsa makanan ditangannya, Arvin malah sibuk membolak- balik daging yang ada disana.


"Gultik itu, bukan gulai tikus. Tapi gulai tikungan, nih cobain punya gue!"


Arvin membuka mulutnya merasakan sesuap nasi yang Aletta berikan, membiarkan rasa gurih dan pedas menyapa lidahnya.


"Enak kan?" tanya Aletta setelah melihat Arvin menelan suapan pertama yang ia berikan. Sejak tadi senyuman tak sedikitpun luntur dari wajah cantiknya.


Arvin mengangguk mantap, matanya tak sedikitpun teralihkan dari wajah cantik yang berhasil mengambil alih titik fokus dan mengalihkan dunianya " Iya … lo emang cantik!"


...****...



Di dalam ruangan yang seharusnya nyaman dengan suhu 26⁰ Celcius, Medina justru merasakan hawa panas yang semakin meletup-letup dalam dirinya. Tangannya terkepal kuat di atas sofa, dan matanya penuh amarah saat melihat tweet yang sedang ramai diperbincangkan di akun sekolahnya. Meskipun kondisi lingkungan sejuk, amarah Medina semakin memuncak hingga membuatnya merasa seolah tengah berada dalam pusaran emosi yang tak terkendali.Kemudian gadis itu berteriak brutal, menyerukan nama seseorang yang tak kunjung muncul di hadapannya.


Gadis itu berlari keluar kamar dengan langkah terburu-buru, menuruni tangga dengan napas yang tersengal-sengal, lalu kembali berteriak kesetanan. Namun, saat suaranya bergema di seluruh rumah, yang dihasilkan hanyalah gemercik air yang menyapu pendengarannya dari akuarium besar di sudut ruangan. Kesal yang semakin tak tertahankan mendorongnya untuk membanting segenap benda yang terletak di depannya, membiarkan kaca-kaca itu pecah berkeping-keping dan berserakan di lantai. Hingga akhirnya, seseorang muncul dari arah belakang, melihat Medina dengan senyum sinis yang selalu menjadi andalannya.


Wajah laki-laki itu mencolok, dengan alis tebal yang terdefinisi dengan baik, memberikan kerangka yang kuat pada matanya. Hidungnya mancung, dengan garis hidung yang tegas dan ramping.


Medina menoleh, dan langsung mendekati laki-laki itu, dengan kasar tangannya menarik kerah baju yang dikenakannya, tapi tetap saja laki-laki itu hanya tersenyum dengan raut wajah yang begitu tenang, seolah mengisyaratakan bahwa dia telah melihat berbagai gejolak emosi Medina sebelumnya.


"Why?" tanyanya dengan suara yang begitu tenang, alisnya terangkat sebelah, menunggu jawaban gadis dihadapanya.


Namun, bukannya menjawab, Medina justru menatap netra hitam itu dengan lekat, dan justru membuat ia kehilangan tenaga, dengan kasar ia mendorong tubuh laki-laki itu. Lantas menjauhkan diri dan memilih duduk diatas sofa dengan menyibak rambut blondenya yang sudah tak beraturan. Membiarkan keringat bercucuran dari jidatnya, mengalir turun seperti sungai kecil di tengah derasnya badai kemarahan yang melanda.


Dengan dada yang masih naik turun tak karuan, Medina memjamkan mata, mencoba meredakan emosi yang sudah jauh mengambil alih dirinya. Namun, sial bayangan foto di tweet itu kembali membakar emosinya. Gadis itu kembali berdiri dengan tegas menakankan jari tepat di dada Eldino Rajaksa putra. Ia yakin pasti laki-laki itu juga sudah tahu apa yang sedang ramai diperbincangkan di sosmed. Tanpa mengetahui wajahnya pun keduanya sudah mengerti jika yang ada di foto itu adalah Arvin bersama Aletta.


"Lo bodoh, gue benci sama lo!"


"Lo bilang lo suka sama Aletta dan mau dapetin dia. Tapi mana buktinya?"


"Lo udah gue izinin buat balik ke diri lo, tapi apa nyatanya? Lo masih nggak bisa dapetin tu cewek murahan."


Medina tersenyum getir, membuang pandangan, enggan memperlihatakan matanya yang sudah dipenuhi dengan genangan yang masih ia tahan. Namun, dengan cepat yang laki-laki menarik kepalanya untuk kembali menghadapnya.


Masih dengan senyuman, tangannya bergerak lembut mengusap setetes cairan bening yang berhasil lolos dari manik gadis itu. Merasakan hal itu semakin membuat bibir Medina bergetar menahan isakan. Dengan lembut Dino menarik tubuh Medina untuk ia dekap, berusaha memberi kehangatan yang selama ini gadis itu rindukan.


Tangannya kembali bergerak pelan, menepuk punggung yang perempuan, dengan dagu yang sengaja ia letakkan di bahu Medina, matanya memincing melirik gadis itu dengan tersenyum culas.


"Gue tahu, ini salah, dan gue masih bisa diem. Tapi inget, stop bilang Aletta cewek murahan, atau lo bakal kehilangan semuanya."


Bersambung...


Terimakasih yang udah baca:)


Jangan lupa tinggalin jejak kalian:)


See You di eps berikutnya:)