
...HappyReading🤗...
"Lo beneran gak mau pulang bareng gue?" tanya Arvin, dengan terus mengikuti langkah kecil aletta dari atas motor hitam miliknya.
"Nggak!" tanpa menoleh gadis itu berucap dengan tegas. Dengan kaki jenjangnya, ia terus menyusuri torotar, juga tak lupa sebuah earphone yang tetap bertengger manis di salah satu telinga.
"Gue mau nginep, di rumah ayah bunda!" ujar gadis itu lagi, kali ini ia menghentikan langkah sejenak, menatap Arvin yang juga turut berhenti.
"Kan kemaren lo baru aja kesana," keluh Arvin, suaranya sedikit kesal. Sebelum akhirnya laki-laki itu menghela nafas mencoba meredam emosi.
Aletta mengerutkan kening, sepertinya ada sesuatu yang mengganjal pada benaknya. Ia segera melepaskan earphone dan memandang Arvin dengan serius.
"Lo gak bakal ngerti Vin, ini urusan anak dan bunda!" jelas Aletta, suaranya penuh dengan penekanan. "Gue juga butuh waktu buat ngobrol sama Ayah Bunda, nggak sama lo terus."
Arvin mengangguk pelan, mencoba memahami gadis dihadapannya. "iya, iya. Yaudah jangan lama-lama tapi!"
Aletta tersenyum sinis, menatap Arvin dengan bersedekap dada. " Mau lama ataupun sebentar itu urusan gue. Emang lo siapa hah?"
"Suami lo Aletta. Gue Arvin askarava wijaya, suami sah dari Aletta queensa Efendi. Paham—
tanpa aba-aba satu toyoran dari Aletta berhasil mendarat tepat di wajah Arvin, "Arvin ... jangan kenceng-kenceng ngomongnya. Awas aja kalau semua ini kebongkar. Gue habisin lo!"
Mendengar itu semakin membuat arvin tak kuasa menahan tawa, ia terus menatap istrinya dengan penuh canda." Lo berani sama gue? Emang lo mau jadi janda muda?"
Aletta menyerngitkan keningnya kesal. Arvin memang selalu punya jawaban untuk segala hal.
"Yaudah gue anterin!" pangkas Arvin akhirnya, laki-laki itu segera memasang kembali helm fullface yang sempat ia lepas.
"gak usah! Gue bisa naik ojek." dengan tegas Aletta menolak tawaran itu. Dan berhasil memancing emosi Arvin.
Laki-laki itu kembali membuka kaca di helm, menatap Aletta dengan tajam. "Gue anterin! Gue gak nerima penolakan. Lo denger Aletta?"
Aletta mendengus tak suka, tapi dengan malas ia tetap mengangguk. " Yaudah iya, tapi jangan mikir macem-macem! Inget gue nerima lo karena terpaksa."
Arvin tak menggubrisnya, Laki-laki itu justru dengan sengaja menarik tangan Aletta untuk dilingkarkan ke badannya yang ramping. "Gak usah berisik! Dan jangan dilepasin!"
Mendapat perlakuan itu berhasil membuat jantung Aletta kembali berdebar, gadis itu terdiam dan terus menatap helm Arvin dari sisi samping. membuat sang empu tersenyum dibalik helmnya.
Mereka, melanjutkan perjalanan pulang dengan penuh ketegangan. Tangan mereka saling bertaut satu sama lain diatas motor yang melaju kencang membelah kota metropolitan yang semakin redup menjelang senja.
tak jauh dari mereka, seorang gadis berponi dora dengan rambut blondenya mencengkram kuat setir kemudi mobil yang ditumpangi. Giginya bergemeletuk hebat menahan panasnya hawa yang menyulut dari hatinya.
"Aletta! Lo tunggu pembalasan gue."
...***...
"Assalamualaikum, bunda!" teriak Aletta yang suara langsung menggema memenuhi rumah.
Gadis itu terus berjalan dengan cepat, mencari keberadaan wanita yang selalu menjadi tujuan utamanya, saat tiba dirumah. Meninggalkan Arvin yang masih sibuk memarkirkan si joni- Motor kesayangannya.
"Bunda, Aletta pulang!" teriaknya lagi saat tak kunjung mendapat jawaban.
Tak peduli, jika nantinya ia akan menerima ocehan dari wanita berjilbab yang masih asik berada di depan kompor.
"Waalaikumsalam." gumam Luna yang langsung berjalan mendekat, dengan mengulurkan tangan untuk dicium oleh istrinya.
Luna yang saat itu masih mengenakan celemek motif beruang, menatap wajah Aletta penuh tanda tanya. "Aletta, ngapain kamu kesini lagi? Suamimu mana?
Aletta mengerucutkan bibirnya, dan langsung duduk di kursi kayu yang ada disana. "Anaknya pulang, bukannya disambut dengan baik, malah ditanya kayak gitu? Bunda gak seneng Aletta pulang?"
"Kamu ada masalah sama Arvin?" tanya wanita berjilbab itu untuk kedua kalinya. Aletta kembali mengulum senyuman di bibirnya dan menggeleng pelan.
"Masalah yang kemarin?" tanya Luna penuh perhatian, dengan tatapannya yang lembut dan menenangkan, ia mencoba mengalirkan ketenangan pada anak perempuannya. Dan itu berhasil membuat Aletta terhanyut dalam tatapan itu, kini Aletta sadar hanya itu yang Aletta butuhkan dalam situasi seperti ini.
Aletta tak menjawab, gadis itu menarik nafasnya dalam-dalam, membiarkan oksigen masuk kedalam paru-parunya yang terasa tidak nyaman.
"kamu udah ceritain semuanya ke Arvin?" tanya Luna lagi, kini tangannya bergerak menepuk pelan bahu Aletta.
Saat hendak menjawab, tiba-tiba Arvin memunculkan batang hidungnya dengan cengiran tanpa dosa. Dan itu berhasil membuat Aletta bergidik ngeri sendiri.
Oh iya, Aletta menyadari sesuatu sekarang. Arvin yang saat ini di hadapannya bukanlah Arvin yang ia tahu 3 tahun kebelakang. Tidak ada raut kejam dan dingin bak kanebo kering yang sangat khas di wajah tukang bully itu.
"Ngapain lo dateng-dateng pake nyengir. Ngarasa keren lo?" tanya Aletta dengan sarkastis, tak peduli jika nanti ia akan kena marah bundanya.
"Serah gue dong, muka-muka gue. Iri lo?"
Aletta memutar bola matanya malas, enggan terlibat perdebatan dengan arvin. " Apaan coba? Ga ada juga yang perlu di iriin dari lo, Arvin!"
...****...
Entah sudah yang keberapa kali, Aletta menghela nafasnya gusar, pandangannya tak teralihkan sedikitpun dari gelapnya langit yang terbentang luas diatas sana. Sangat gelap, tak ada bulan dan satupun bintang yang terlihat malam ini.
"Anak ayah kok belum tidur?"
Suara itu berhasil merebut atensi Aletta, ia menoleh, menatap Pak Efendi yang sudah berdiri di sampingnya, dengan wajah penuh perhatian.
"Lagi mikirin suaminya ya? sampek gak bisa tidur kayak gini!" tutur Pak Efendi dengan senyum menggoda, mencoba menghibur putrinya.
"Apaan sih Ayah! Siapa juga yang mikirin Arvin." ujarnya, ketus. Sebelum akhirnya kembali menatap hamparan langit yang semakin menghitam.
"Aletta marah sama Ayah?" tanya pria paruh baya itu dengan penuh kehati-hatian. Aletta yang mendengar itu reflek mengerutkan kening. Bingung dengan pertanyaan yqng baru saja ayahnya lontarkan..
"Maafin ayah ya, sayang! Kalau semua keputusan ini bikin kamu sakit," lanjut Efendi dengan nada lembut.
"Ihh, Ayah, apaan sih, enggak ayah. Aletta nggak pernah marah sama Ayah. Mana bisa Aletta marah sama Ayah sebaaaikkk dan sesabaaar Pak Efendi ini."
"lagi pula Arvin sama keluarganya baik kok yah sama Aletta, mereka juga sayang banget sama Aletta," Gadis itu langsung menghamburkan pelukannya, lantas berusaha tersenyum selebar mungkin, mencoba meyakinkan sang Ayah, meskipun dalam hatinya masih ada keraguan dan kekhawatiran dalam menjalani pernikahan ini.
"Eh ... Ada apa nih? Gitu ya sekarang gak ngajak-ngajak bunda!" tanya Luna dengan nadanya yang lembut. Wanita itu terus melangkahkan kakinya menuju balkon kamar Aletta, diiringi senyuman hangat yang selalu membawa ketenangan.
Aletta yang melihat itu, segera melepaskan pelukannya. " Bunda dilarang kepo!"
Luna tersenyum penuh pengertian, sebenarnya sejak tadi ia sudah berada di balik gorden, mendengarkan obrolan mereka. Wanita itu berhenti tepat di samping Aletta, tangannya bergerak menangkup pipi cabi gadis itu.
"Aletta, Ayah sama Bunda hanya ingin yang terbaik untukmu, kami nggak mau kehilangan kamu. Dan kami percaya bahwa Arvin adalah pilihan yang baik."
Aletta hanya bisa mengangguk, mencoba menyembunyikan keraguan dalam hatinya. Toh ini semua juga sudah terjadi, bagaimanapun juga ja harus tetap menjalaninya, walaupun hatinya masih dipenuhi oleh ketidakpastian tentang masa depannya bersama Arvin.
Tangan itu perlahan bergerak turun, dengan lembut ia menggenggam kedua tangan putrinya, memberikan dukungan yang tulus. "Sayang, percayalah bahwa Ayah dan Bunda selalu ada untukmu. Kami hanya ingin melihatmu bahagia. Kami tidak ingin kehilangan harta berharga untuk yang kedua kalinya."
Sepertinya, kalimat yang Luna lontarkan berhasil mengikis sedikit demi sedikit kegusaran yang Aletta rasakan. Gadis itu mengangguk dengan senyuman yang mengembang sempurna.
Efendi yang melihat itu pun ikut mengangkat kedua ujung bibirnya. Tangannya bergerak merengkuh kedua perempuan yang sangat berarti untuk hidupnya. Malam ini akan menjadi malam yang bersejarah bagi Aletta, gadis itu kembali mendongak menatap langit, dan berseru dalam hati.
"Gue harap, lo juga bahagia disana!"