Young Marriage

Young Marriage
Episode 6



Enjoy dude!


-


-


-


-


Aku begitu panik, saat ini aku sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Rencananya aku akan pulang lebih dulu sebelum Januar pulang, tapi sepertinya rencana ku gagal.


Saat ini aku masih berdiri di depan gerbang, aku menatap khawatir pada sebuah mobil yang sudah terparkir di halaman rumah.


Itu mobil Januar, itu artinya pria itu sudah pulang ke rumah. Aku ketar-ketir sendiri, aku bingung harus bicara apa nanti pada Januar.


Tak lama pintu rumah pun terbuka, keluarlah sosok Januar. Aku semakin panik melihat Januar yang berjalan ke arahku.


"Masuk." Ujar Januar dengan raut wajah datarnya, terlihat begitu menyeramkan.


"Januar gue-"


"Gue bilang masuk." Ujar Januar ucapannya mengintimidasi, akhirnya aku menuruti perintahnya.


"Januar gue-"


"Diem! Bersihin badan lo,setelah itu temuin gue, ada yang mau gue omongin sama lo."


Glek


Matilah aku, Januar pasti akan mengintrogasiku habis-habisan karna aku sudah berbohong padanya dan berpura-pura sakit tadi pagi.


Aku menganguk, lalu Januar pergi masuk ke dalam kamarnya.


"***** ****** deh gue sama Januar." Aku merutuki diriku, lalu aku segera masuk ke kamar.


Sesuai perintah Januar aku sudah selesai mandi dan mengganti pakaian ku.


"Januar." Panggil ku pada Januar yang sudah duduk di sofa ruang tamu.


Ia belum bicara apapun, aku menjadi khawatir karna dia terus menatapku tajam.


"Darimana lo?" Aku menundukkan kepalaku tidak berani menatap matanya.


"Alika! Gue lagi nanya sama lo!" Aku tersentak saat suara Januar meninggi.


"Ja..Januar maafin gu..gue." aku berucap terbata-bata, dan merasa risih dengan tatapan Januar yang mengintimidasi.


"Jawab pertanyaan gue Alika!"


"Gu...gue ke sekolah." Ujarku asal, Januar menyungingkan senyuman sinis padaku.


"Sekolah? Oh ya? Bukannya lo tadi pagi sakit? Jangan bohongin gue jawab yang jujur.


" Januar menjeda ucapannya namun tatapannya masih menatapku tajam.


"Lo kemana aja dari tadi pagi?" Aku menghela nafasku, merasa tertekan.


"Oke! Gue bakalan kasih tau lo, gue dari pagi kerja! Udah kan? Puas lo sekarang?!" Aku meninggikan suaraku, persetanan dengan dosa terhadap suami. Toh aku juga tidak pernah menginginkan pernikahan ini.


"Kerja? Lo kerja? Kenapa lo harus kerja?" Januar kembali bertanya padaku, ia terlihat kaget ketika mendengar kalau aku ini bekerja.


"Iya gue kerja, gue gk mau jadi beban buat lo. Gue tau lo juga lagi nyari pekerjaan kan? Gue liat brosur lowongan kerja di meja belajar lo, dan apa salahnya kalau gue kerja? Gue bisa ngeringanin beban lo kan?"


"Astaga, lo tuh ya bener-bener. Gue gk pernah minta lo kerja Alika, lo tuh harusnya sekolah! Kalau emang harus kerja itu tugas gue, karna sekarang lo juga tanggung jawab gue." Ujar Januar, aku menatapnya sambil menyungingkan senyuman miring.


"Gue gk pernah minta lo buat tanggung jawab sama diri gue, gue gk pernah minta itu. Asal lo tau, gue hampir gila hidup sama lo, gue capek! Gue capek harus begini terus, pernikahan konyol ini bener-bener ngikat gue dan gue benci itu." Aku menjeda ucapanku, mencoba menahan air mataku namun tak bisa.


Setelah mengatakan itu aku pergi meninggalkan Januar sendiri, aku masuk ke dalam kamar dan menangis sepuasnya.


Aku benar- benar capek sekali menghadapi ini semua, aku merasa lelah, lelah dengan semua ini. Aku tidak tau kenapa papah dan mamah begitu jahat padaku, kenapa mereka tidak mau membantu kamu sedikit pun? Aku tau sekarang aku dan Januar memang harus hidup mandiri tapi apa mereka tidak mengerti? Kami ini masih sekolah! Kami belum siap untuk menikah, bahkan aku juga tidak pernah menginginkan pernikahan ini.


Kenapa rasanya dunia begitu kejam dan kenapa hidup ini begitu terasa sulit dan pelik, aku merasa ingin menyerah saja dengan semua ini.


Aku menggambil gawaiku, aku berniat menghubungi seseorang.


Tuttt tutt tutt


"Hallo?"


"Hallo Ismi..hiks Ismi." Aku tidak bisa untuk menahan tangisku lagi.


"Alika? Lo kenapa? Kok nangis? Ada apa? Coba cerita, lo kenapa?!"


"Ismi...hiks gue gk kuat lagi mi, gue gk kuat sama semua ini."


"Oke kita ketemuan di kafe biasa ya, gue tunggu dan lo bisa jelasin sepuasnya ke gue nanti."


"Iya, makasih ya mi."


Setelah itu panggilan terputus, aku menghapus air mataku lalu menyambar hoodie ku dan sling bag milikku, aku akan pergi menemui Ismi malam ini.


Aku membuka pintu kamar ku secara perlahan, lalu melangkahkan kakiku menuju pintu depan namun saat tangaku hampir sampai mengeggam handle pintu tiba-tiba saja suara seseorang menghentikan ku.


"Tunggu. Mau kemana lo?" Aku berdecak, rasa kelasku kembali muncul.


Aku pun membalikkan badan lalu menatap ke arah Januar yang baru saja menghentikan langkahku.


"Mau kemana gue pergi, itu bukan urusan lo." Ujar ku ketus, aku kembali ingin membuka pintu namun tangan Januar menahan tanganku.


"Lepas! Gk usah pegang pegang ya."


"Lo mau kemana Alika? Ini udah malem dan gue gk ngizinin lo pergi."


Brakk


Aku membanting sling bag ku ke lantai, aku menatap Januar tajam. Kali ini dia benar- benar memancing amarahku.


"Alika, gue ini suami lo. Jadi gue berhak nentuin lo boleh pergi atau nggak." Aku tersenyum sinis mendengar ucapan Januar barusan.


"Suami? Tapi gue gk pernah minta lo buat jadi suami gue jadi jangan sok berkuasa atas hidup gue." Setelah mengatakan itu aku langsung memunggut sling bag ku, membuka pintu lalu segera berlari keluar tidak memperdulikan Januar yang terus berteriak memanggil namaku dan memintaku untuk berhenti.


[]


Aku sudah sampai di Kafe, dan manik mataku langsung menemukan keberadaan Ismi.


Tanpa fikir panjang aku langsung berlari ke arahnya dan memeluk dirinya.


"Eh kok nangis sih?" Aku tidak menjawab aku masih terisak dalam pelukkan Ismi.


"Udah jangan nangis lagi, kalau ada masalah lo bisa cerita ke gua. Kita ini sahabatan udah lama lik." Aku mencoba meredakkan tangisku, setelah tangisku mulai mereda aku pun mulai menceritakan semuanya pada Ismi.


"Hiks, gue gk sanggup mi. Gue gk sanggup sama pernikahan ini. Orang tua gue sama orang tua Januar ngelepasin kita gitu aja setelah menikah, mereka bahkan gk ngebiayain kehidupan kita. Mereka bilang biar kita bisa mandiri, gue ngerasa kalau gue ini emang sengaja di buang sama keluarga gue mi." Ismi mengusap punggungku, aku kembali menggambil tisue dan mengelap air mataku.


"Gue tau kita berdua emang harus mandiri, tapi mi lo fikir deh pernikahan ini aja atas perjodohan dari mereka. Kita berdua juga masih SMA, gila banget mereka ngelepasin tanggung jawab mereka sama gue gitu aja."


"Astaga, jadi sekarang lo sama Januar harus hidup mandiri tanpa bantuan apapun dari nyokap bokap lo dan nyokap bokapnya Januar?" Aku menggangukkan kepalaku, kemudian aku menceritakan semua hal yang terjadi antara aku dan Januar.


"Gue capek mi, gue gk sanggup lagi ngadepin pernikahan ini." Akhirnya kalimat itulah yang aku utarakan, Ismi pun membawaku ke dalam pelukkannya.


"Ya ampun Alika, gue gk tau harus ngomong apa. Tapi kalau lo butuh bantuan gue siap bantu lo." Aku tersenyum mendengar ucapan Ismi.


"Ismi malem ini, boleh gk gua nginep di rumah lo aja?" Tanyaku dan Ismi pun menganggukkan kepalanya.


"Boleh dong, kapapun lo mau dateng pintu rumah gue mah selalu terbuka buat lo."


"Makasih banyak mi, lo emang sahabat terbaik."


[]


Aku tidak tau bagaimana keadaan Januar malam ini, tapi sudah ku pastikan dia pasti sedang merasa kesal dengan tingkahku. Biarkan saja toh siapa suruh dia sangat menyebalkan seperti itu, dia selalu saja melarangku melakukan ini dan itu yang aku inginkan.


Malam ini aku benar-benar menginap di rumah Ismi, kebetulan Ismi memang tinggal sendiri di rumah karna kedua orang tuanya selalu sibuk bekerja jadi sangat jarang pulang ke rumah demi mengurus pekerjaannya.


Sama seperti ku dulu saat pernikahan konyol ini belum terjadi, maka dari itu aku dan Ismi juga bisa bersahabat karna kami memiliki kesamaan nasib, sama-sama selalu di tinggal oleh orang tua kami untuk mengurusi bisnis atau pekerjaan mereka.


Namun itu dulu, sebelum aku tau bahwa mereka melakukan hal yang begitu tega pada putrinya ini.


Aku menatap Ismi yang sudah terlelap di sampingku, entah kenapa aku jadi tidak bisa tidur seperti ini.


Aku terus saja kefikiran tentang Januar, sedang apa dia di rumah? Apakah dia masih marah padaku?


Astaga sepertinya aku tidak waras, kenapa juga aku memikirkan orang seperti Januar itu yang diktator, selalu memerintah dan selalu mengekang kebebasanku.


Biar saja dia di sana, aku tidak perduli! Benar-benar tidak perduli.


Aku pun mencoba memejamkan mataku, besok pagi aku sudah harus pergi bekerja lagi yaps besok aku tidak akan pergi ke sekolah lagi.


Biarkan saja, jika pihak sekolah memanggil orang tuaku ke sekolah itu tidak apa-apa justru sangat bagus, dengan begitu aku bisa bilang pada mereka betapa tersiksanya diriku dengan perjodohan ini.


Perlahan aku mencoba memejamkan mata, rasa kantuk akhirnya menghampiriku dan aku akhirnya mulai memasuki alam mimpi menyusul Ismi yang sudah terlelap terlebih dahulu.


[]


"Lo beneran gk ke sekolah?" Tanya Ismi padaku, Aku mengelengkan kepalaku sementara itu kedua tanganku sibuk ku gunakan untuk menguncir rambutku.


"Gue mau kerja aja daripada sekolah." Ismi terlihat menghembuskan nafasnya, aku tau dia tidak bisa menentang apa yang sudah menjadi keputusanku karna aku ini dari dulu memang terkenal dengan keras kepalanya.


"Oke terserah lo, gue cuma bisa dukung dan berdoa yang terbaik buat lo." Aku tersenyum lalu memeluknya dari samping.


"Makasih banyak, lo udah selalu ada buat gue." Ismi menganggukkan kepalanya, ia tersenyum tulus pada Ismi.


"Ya udah deh, gue berangkat sekolah dulu ya. Lo kalau mau sarapan di meja makan udah ada roti bakar coklat, lo bisa makan itu buat sarapan."


"Iya, makasih ya mi."


"Lo bilang makasih terus, kaya sama siapa aja lo tuh. Dah ah gue berangkat ya Assalamu'alaikum." Pamit Ismi aku pun menjawab salamnya, sementara Ismi sudah pergi ke sekolahnya.


Aku pun menghela nafasku, lalu berjalan ke arah meja makan kebetulan perutku juga sudah lapar.


Aku pun memakan roti bakar coklat tersebut dengan lahap karna rasanya enak sekali.


Setelah selesai sarapan, aku pun melangkahkan kaki ku ke luar rumah tak lupa sling bag sudah siap aku bawa.


Rencananya pagi ini aku akan naik angkot saja untuk pergi ke tempat kerjaku.


Dengan sabar aku menunggu angkot di pinggir jalan, sambil sesekali melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku.


Tin tin


Aku tersentak kaget saat mendengar suara klakson dan sebuah mobil berhenti tepat di depanku.


Dan tak lama kaca mobil tersebut terbuka, menampilkan wajah seseorang dari dalam mobil tersebut, yang membuatku sangat terkejut.


"Hai, mau berangkat bareng gue?" Tanya nya, aku mengelengkan kepalaku.


"Nggak kak, saya...gk mau ke sekolah." Jawabku dengan lirih di akhir kalimat.


"Loh kenapa? Lo mau bolos ya?" Aku menggelengkan kepalaku lagi.


"Ayo naik." Aku menatapnya heran.


"Kemana kak?" Tanyaku, dia hanya tersenyum menatapku. Lalu ucapan dia berikutnya membuatku terpaku di tempat.


"Kemana aja asal sama lo."


**Hula gais ketemu lagi sama aku hehe. Btw gais jangan panggil aku author karna aku gk bawa-bawa palu kaya auTHOR:v panggil aja ZeZe biar lebih akrab. Jangan lupa juga vote dan komennya gais hehe, see you next part.


Zalam hobah dari ZEZE


[FV/V]


💙**