Young Marriage

Young Marriage
Young Marriage 14



......Happy Reading🤗......


Kehadiran Arvin membuat Aletta merasa kecewa yang mendalam. Ia memandang Medina dengan emosi yang berkobar di matanya. "Lo boleh hina gue, lo boleh ngerendahin gue, tapi … tidak untuk kakak gue!"


Setelah berucap, Aletta segera beranjak dengan perasaan yang campur aduk. Dia merasakan ada sesuatu yang hancur di dalam tubuhnya, tak tahu harus berbuat apa. Tanpa kata-kata, dia memilih menjauh dari kerumunan dan mencari ketenangan di bawah pohon rindang yang berjauhan dari mereka semua. Gadis itu menekuk lututnya dan menyembunyikan wajahnya di antara lekukan itu, mencoba menenangkan diri.


Angin sepoi-sepoi menyapu anak rambut Aletta yang terlepas dari ikatannya. Memberikan sentuhan lembut pada hatinya yang kacau.


"Kalau mau nangis, nangis aja!"


Suara bariton yang hangat itu berhasil menginterupsi Aletta, membuat gadis itu mendongak, dan mendapati sebuah tisu terulur untuknya.


Tidak langsung mengambil, mata coklat yang indah itu mengalihkan pandangannya pada si pemberi tisu, dan membuat si pelaku mengembangkan senyum, memperlihatkan lesung pipit yang terukir di wajahnya.


"Udah, ambil! Kalau mau nangis, nangis aja, gue gak bakal ganggu."


Aletta tersenyum kikuk, dengan tangan mengambil tisu itu, "Makasih."


"Oh iya, gue boleh duduk!" gumam laki-laki itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Dino, temannya sendiri.


"Duduk aja kali Din, kayak sama siapa aja lo." jawab Aletta, mempersilahkan.


Kini kedua mahluk Tuhan itu, tengah duduk berdampingan di tempat yang nyaman, ditemani oleh hembusan angin yang sejuk.


Gadis itu kembali memfokuskan pandangannya ke arah depan, dengan tatapan yang kosong dan senyum yang hampa, dan semua itu tak lepas dari jangkauan mata Dino.


"Eh Al, lo tau nggak? Kenapa lalat selalu bahagia?" tanya Dino dengan ekspresi dibuat semisterius mungkin, mencoba mengalihkan perhatian gadis di hadapannya.


Dan benar saja, karena pertanyaan itu, Aletta menoleh, menatap Dino dengan menyerngitkan kening, "kenapa emang?"


Dino tersenyum, sebelum kembali menjawab," karena … lalat selalu bisa landai."


Mendengar jawaban Dino, tawa Aletta meledak di udara, mengisi lingkungan mereka dengan keceriaan. Baginya, tebak-tebakan Dino memang sangat garing, tapi Aletta berhasil menikmatinya.


Sementara itu, tak jauh dari mereka, di balik pohon mangga yang rindang, seseorang menyaksikan mereka dengan tangan mengepal. Kemudian, dengan frustrasi, orang itu menonjok pohon itu dengan keras sebelum memilih untuk pergi. Suasana hatinya penuh dengan kekesalan, melihat dua orang disana saling melempar tawa di saat ia sedang bimbang dengan perasaannya sendiri.


...***...


Brmm … Brmm … Brmm.


Arvin memarkirkan motor hitamnya di halaman depan, dengan langkah tergesa, ia langsung masuk kedalam rumah yang dominan warna putih itu, dan menemukan kedua orang tuanya tengah asik bercengkrama sambil menikmati secangkir teh di hadapan mereka.


Naya yang lebih dulu menyadari kedatangan anak laki-lakinya dengan memncarkan raut gelisah, membuatnya dengan cepat berdiri dan menghampiri Anak semata wayangnya itu.


"Kamu kenapa Arvin? Mantu mama mana? Kamu nggak ngajak dia kesini?" tanya wanita paruh baya itu sembari menatap asal kedatangan Arvin, berharap ada seseorang yang juga turut muncul, menyusul langkah Arvin.


Namun, harapan itu langsung memudar saat Arvin menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Membuat Wijaya turut berdiri dan berkomentar.


"Kamu nggak bikin masalah lagi kan?" ujar Wijaya, nadanya terdengar sangat lembut, tapi sorot matanya begitu dalam dan mengintimidasi


Arvin masih terdiam, menatap kedua orang tuanya dengan tatapan penuh tanya, dan berhasil membuat kedua orang tuanya semakin bingung.


"Kamu nggak lagi berantem kan sama Aletta?" Naya kembali membuka suara, tangannya bergerak menepuk pundak Arvin,berusaha menyalurkan energi positif yang ia miliki.


"Sea? Sea siapa yang kamu maksud?" tanya Wijaya, memandang Arvin lebih intens. Sebelum akhirnya memilih beranjak dan kembali mendudukan tubuhnya di atas sofa.


Arvin mengikuti langkah Efendi, berdiri tegak di samping pria paruh baya itu. Mereka berada di ruang tamu yang luas dengan lantai marmer yang bersih. Cahaya alami menyinari ruangan melalui jendela besar, memberikan nuansa hangat pada suasana percakapan ini. Di dinding, terdapat lukisan-lukisan indah yang menambahkan sentuhan seni pada ruangan yang elegan. Suara gemerisik daun-daun pohon di luar jendela mengisi udara, menciptakan kesan damai dalam pertemuan yang tengah berlangsung.


"Queensea Efendi, kalian pasti tahu kan siapa dia? Tolong pa … Arvin juga pengen tahu lebih soal gadis itu."


Melihat ada rasa keingintahuan yang dalam dari wajah anaknya. Sejenak, membuat Naya dan Wijaya terlibat dalam perdebatan mata yang penuh makna, hingga Naya mengangguk kecil guna memberi isyarat pada Wijaya, mencoba menyakinkan.


Sebelum berbicara, pria paruh baya itu merasa perlu mengurangi ketegangan dalam ruangan. Dia berdehem kecil, membiarkan suasana lebih tenang, dan merubah tatapannya yang semula intimidatif menjadi lebih lembut.


"Queensea Efendi. Tentu dari namanya kamu sudah bisa menebak kan, siapa dia?" ucap Wijaya dengan nada bersahabat, membuat Arvin mengangguk mantap.


"Dia kakaknya Aletta, dan berarti dia juga anak dari Ayah Wijaya. Satu lagi, dia sudah tiada sekarang!"


Mendengar penjelasan Arvin yang cukup gambalamg, berhasil membuat sedikit keterkejutan terlukis pada wajah Naya. " Kamu sudah tau semuanya, nak?"


Arvin menoleh, menatap mamanya penuh harapan, berusaha mencari petunjuk dari wajah wanita itu. " Nggak ma, Arvin cuma tau itu, selebihnya Arvin belum tau. Dan itulah alasan kenapa Arvin datang kesini"


"Kalian mau kan ngasih tau Arvin tentang semuanya?" sambungnya penuh permohonan.


Entah untuk keberapa kalinya Wijaya menghela nafas jengah. Dia kira ini sudah waktunya untuk Arvin mengetahui.


Pria itu kembali berdiri dan melangkah menuju jendela, matanya menatap keluar, melihat dedaunan hijau yang terombang-ambing oleh angin. Seakan-akan ia mencari ketenangan dalam pemandangan yang mengalir tenang di luar sana. Suasana dalam ruangan pun menjadi hening, hanya terdengar suara angin yang pelan, dan perasaan ketidakpastian yang melingkupi percakapan sebelumnya.


"Queensa Efendi. Kamu benar Vin, dia anaknya Efendi, sahabat papa yang kini jadi ayah mertua kamu. Dia tumbuh jadi gadis cantik dan pintar!" gumamnya tanpa menoleh.


"Tapi sayang, nasibnya tak sebaik rupa dan sifatnya!"


"Maksud papa?" potong Arvin yang belum juga faham. Wijaya akhirnya menoleh memandang putranya dengan perasaan campur aduk. Kematian Sea juga berhasil membuatnya hancur.


Kini giliran Naya yang bergerak, wanita itu menangkup pipi anaknya, membiarkan kedua nerta itu saling bertatapan. " Ini bukan hak kami buat ngasih tau kamu, Vin."


"Yang jelas, kepergian Sea membawa dampak yang besar, keluarga mereka hancur, dan tidak mudah buat mereka menerima dan kembaki menjadi sekarang. dan itu bukan hanya buat keluarga mereka, tapi Papa Mama juga, Kami berdua juga sangat menyayanhi Sea.!"


Naya menahan air matanya dengan susah payah, berusaha keras agar air mata tidak menetes. Menmbahas perihal Sea dan semua kenangan itu, kembali mengingatkannya pada rasa sakit yang mendalam. Dia berjuang untuk menjaga ketenangan di tengah momen yang penuh emosi ini, tetapi rasa kehilangan yang mendalam terus merayapi hatinya.


"Terutama bagi Aletta, Dibalik sifatnya yang keras dan egois ada luka besar yang berusaha ia tutupi."


"Aletta yang kami kenal, bukanlah Aletta yang sekarang bersama kamu. Dan inilah alasan perjodohan ini terlaksa."


"Papa dan Ayah kamu, yang merencanakan ini semua, kami percaya kamu bisa melindungi Aletta. Dan mama harap kamu bisa melakkkannya dengan baik. kamu harus mengembalikan Aletta, menghapus segala kesedihan dan memperbaiki jiwa yang hancur itu"


Naya tak kuasa lagi menahan tangisnya, ia menarik tubuh Arvin untuk didekap erat, tangannya meremas kuat baju yang Arvin kenakan, berusaha keras melawan rasa sakit yang menghantamnya. Desakan air mata yang sudah lama ditahan sekarang pecah, dan dia merasakan kehilangan Sea seperti luka yang tak akan pernah sembuh. Jika Naya bisa se hancur itu lantas bagaimana dengan Rani dan Aletta?


Arvin, yang mendengar dan merasakan itu semua, ikut terdiam, dia merasa hampa dan tidak tahu jalan apa yang harus dia pilih. Selama ini, dia merasa telah membuat Aletta kecewa atas perlakuannya, dan perasaan bersalah itu semakin mendalam. Mereka berdua terperangkap dalam perasaan yang rumit dan bingung, mencoba mencari jalan keluar dari situasi yang begitu sulit ini.


"Al, maafin gue!"


Bersambung....