
...Happy Reading🤗...
Aletta terus berlari mengikuti arah angin, tanpa memperdulikan tatapan penuh tanya dari siswa siswi yang juga tengah berlalu lalang disana, bahkan setelah tanpa sengaja menabrak bahu Siren. Aletta benar-benar sudah tidak peduli, pikiranya sangat kusut saat ini.
Hingga kedua kaki itu berhenti tepat di ambang pintu rooftop sekolah, gadis itu kembali melangkahkan kakinya, dan ia berdiri tepat di samping pembatas rooftop yang langsung disambut oleh udara segar dan suasana yang hening. Ia merentangkan tangan, menikmati hembusan udara segar yang langsung mengisi paru-parunya. Aletta memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya kelopak mata itu kembali terbuka, netra indah itu memandang jauh ke horizon yang dipenuhi oleh langit berwarna biru cerah.
Hanya di tempat inilah Aletta bisa merasakan ketenangan dan melarikan diri dari segala amarah yang menghantuinya, angin yang sepoi-sepoi selalu berhasil meluruhkan semua rasa itu.
Tangannya bergerak mengambil sebuah foto yang selalu dibawanya kemanapun ia pergi. Dengan tersenyum nanar, mata itu terus menatap salah satu gadis yang tergambar disana.
"Lo tenang aja! Gue gak selemah lo. Gue bisa nyelesain masalah ini tanpa bantuan siapapun" gumamnya dengan penuh keseriusan, tapi tak dapat dipungkiri setiap kali melihat foto itu, hanya rasa sakit yang ia rasakan.
Otak kecilnya kembali mengingat sosok gadis yang bernasib malang itu.Gadis cantik dan lugu yang selalu berhasil jadi sasaran empuk para manusia biadab yang hobinya membully.
.
"Ale, maafin aku ya! Aku harus pergi. Dunia terlalu kejam buat gadis lemah sepertiku"
Suara itu terus berputar-putar di kepala Aletta. Membuat rasa sesal kian membludak. Sedikit demi sedikit cairan bening berhasil menerobos pertahanan gadis itu. Untuk kali ini ia tak ingin menghapusnya. Ia akan menikmati segala rasa sakit yang menusuknya. Aletta memang tidak suka situasi seperti sekarang, ia benci dengan tangisan, ia benci dianggap lemah. Tapi kebencian itu tidak akan ada apa-apanya. Sebab Gadis itu lebih benci dirinya sendiri, ia benci Aletta di masa itu. Aletta yang hanya bisa diam dan menangis saat dengan seenaknya gerombolan orang memaki-maki saudaranya tepat di hadapannya.
Aletta mendongak, menatap hamparan langit yang seketika menjadi redup, tak membiarkan gadis itu bergerak, hujan deras sudah lebih dulu turun, mengguyur bumi tanpa ampun, sepertinya alam pun turut sedih dengan keadaan gadis itu.
Aletta yang panik segera berlari menuju pintu. Matanya melotot saat pintu terasa susah dibuka. disana tidak ada sedikitpun tempat untuk berteduh. Aletta terus menggedor pintu kayu di hadapannya. Namun, Nihil tidak ada yang mendengarnya.
"Siapapun yang denger gue! Tolong!" lirih gadis itu dengan seragam yang sudah basah kuyup karena tetesan hujan.
Namun, ternyata hujan itu tak lagi berhenti pada tetesan-tetesan halus. Secepat kilat, hujan berubah menjadi guyuran deras yang menghantam atap gedung dengan keras. Suaranya bak ribuan juta tetes air yang memenuhi udara, menciptakan gemuruh yang menakutkan.
Tidak berhenti disitu, di tengah kekacauan hujan, gemuruh petir membelah langit dengan kilatan cahaya yang menyilaukan mata. Terkadang, suara petir menggelegar seolah alam sendiri turut marah. Kilatan petir yang tajam menerangi rooftop, menggambarkan cahaya dan bayangan yang mengerikan di sekeliling Aletta.
Angin kencang tak kenal ampun, turut berputar-putar di sekitar gadis malang itu, seakan berusaha mencabut tubuh dari tempatnya berpijak. Rambutnya tak lagi tertata karena diterpa oleh hembusan angin liar, dan seragam basahnya berdesir terbawa oleh semburat angin yang marah. Suaranya melolong seperti seruan hantu, menciptakan suasana yang semakin mencekam
"Siapapun, T-tolong gue! Gue masih disini. Gue kedinginan!"
Aletta merasa terisolasi dan terkepung oleh elemen-elemen alam yang begitu kuat. Suara hujan deras, gemuruh petir dan angin kencang, seolah-olah menyampaikan pesan, bahwa gadis itu hanyalah titik kecil dalam kekuatan alam yang jauh lebih besar. Kesendirian di atas gedung yang diterpa oleh badai, semakin membesar kan rasa takut yang melingkupi Aletta. Gadis itu semakin menekuk lututnya untuk ia peluk, bibirnya membiru dan tubuhnya bergetar hebat merasakan dingin yang semakin menusuk.
Ia terus merintih, suaranya yang rapuh tercampur dengan deru hujan dan gemuruh petir yang mengguncang. Kepalanya semakin memberat dan terasa pusing, seakan-akan ada ledakan di dalam otaknya. Disambung dengan pandangannya yang turut memburam, dan dunia terlihat memburam.
"Siapapun yang denger gue, tolong … gue kedinginan disini!" desis Aletta dengan suaranya yang hampir tidak terdengar di antara hujan yang deras.
Tangannya terus berusaha membuka gagang pintu yang terasa mengeras itu, sedangkan hujan terus mengguyur tanpa ampun. Tanpa sadar, gadis itu berdoa untuk segera bertemu dengan Arvin, ia menginginkan laki-laki itu untuk ada disini sekarang.
Aletta seperti terjebak dalam mimpi buruk, dimana elemen-elemen alam itu, berkumpul dan bersatu untuk menguji keberaniannya. Rasa pusing yang semakin intens ditambah pandangan yang semakin kabur, membuatnya semakin frustasi diatas ketakutan. Namun, bukan Aletta jika akan menyerah begitu saja. Sekuat tenaga ia mengumpulkan tenaga untuk berdiri, tapi ternyata tubuh itu sudah terlalu lemah, kakinya tak mampu lagi menopang tubuh mungilnya, membuatnya harus tersungkur di atas lantai rooftop yang dingin dan basah.
Percikan air hujan bercampur jadi satu dengan cairan bening yang mengalir dari kelopak matanya yang sayu. Aletta merasa dirinya semakin terhanyut dalam kegelapan dan kesendirian dengan harapan yang semakin memudar.
"Sea! Ini beneran lo?" tanya Aletta dengan nada lemas, matanya memandang gadis itu dengan takjub. Sea mengangguk dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
"Kamu mau ikut, Kakak?"
Dengan mantap, Aletta mengangguk. "Iya, gue mau ikut lo!"
Kedua gadis itu saling mengeratkan tangan masing-masing. Hujan yang berangsur mereda, mengiringi langkah mereka yang tengah berjalan mengikuti cahaya matahari yang mulai menghilang.
Namun, tiba-tiba terdengar suara teriakan yang berhasil memecah keheningan.
"Aletta, tunggu! Gue di sini!"
Teriakan itu berhasil membuat Aletta menoleh. Di kejauhan, dia melihat seorang laki-laki yang mencoba mendekatinya.
"Al… tolong, balik ke gue. Ini gue, Arvin, suami kamu!" pinta Arvin dengan suara yang parau, raut wajahnya penuh kekhawatiran.
Namun, Aletta sama sekali tak menghiraukan. Gadis itu kembali menoleh ke arah Sea yang masih tetap tersenyum ke arahnya.
"Nggak, Vin, gue mau ikut Sea!"
"Al, gue mohon!"
Aletta dibuat bimbang, posisinya kini berada di antara kedua orang itu. Hingga Sea turut membuka suaranya.
"Balik, Al. Ini belum saatnya kamu ikut kakak!"
Aletta menggeleng brutal, "Nggak, gue mau ikut lo Sea!"
"Pergilah ke Arvin, kita akan bertemu, tapi bukan sekarang!"
Entah apa yang membuat gadis itu mengangguk mengiyakan, bersamaan dengan itu Sea turut menjauh, dan Aletta segera berlari ke arah Arvin, memeluk laki-laki itu seerat-eratnya.
"Arvin!"
Teriak Aletta dengan mata yang turut terbuka, di depannya sudah ada Arvin yang langsung merengkuh tubuh ringkihnya.
"Al, lo udah sadar!" gumam Arvin dengan perasaan campur aduk.
Aletta merasa dirinya sangat lemas, dengan wajahnya yang masih pucat, ia mengangguk.
"Vin… dingin!"