
Happy reading lur!
-
-
-
-
-
-
"Assalamu'alaikum Alika pulang." Aku langsung masuk ke dalam rumahku setelah mengucapkan salam.
"Alika cepat ganti bajumu,lalu segera bergabung ke ruang tamu. Waktu kamu 15 menit untuk ganti baju dan membersihkan diri kamu." Aku hanya berdehem saja mendengar perintah mamah,aku melangkahkan kakiku menaiki tangga satu persatu menuju kamar ku.
Setelah aku selesai mandi dan mengganti pakaianku,aku pun turun dari kamar dan segera pergi ke ruang tamu.
Aku begitu kaget saat aku sampai di ruang tamu,di sana sudah ramai orang berkumpul. Bukan hanya ada mamah dan papah saja tapi ada kedua orang tua dari Januar juga.
Aku merasakan atmosfer ketegangan di ruangan ini.
"Alika,duduk." Aku menurut saja saat mamah menyuruhku duduk di samping Januar,aku menatap Januar seolah-olah bertanya ada apa dan sepertinya Januar paham maksudku,ia hanya mengangkat bahunya,pertanda ia juga tidak tau apa yang terjadi.
"Di sini kami mau berbicara pada kalian,berhubung saat ini perusahaan mamah dan papah serta orang tua dari Januar sedang tidak baik-baik saja. Jadi kami memutuskan untuk mengirim kalian ke rumah yang sudah kami belikan untuk kalian." Aku hanya menghela nafasku,aku fikir ada hal serius apa sehingga aku dan Januar di minta untuk berkumpul seperti ini.
"Tapi,kami tidak bisa memberikan kalian uang harian ataupun bulanan. Kalian harus membiayai hidup kalian sendiri,kalian tidak boleh manja karna saat ini kalian sudah menikah. Jadi kami ingin kalian mandiri,setelah kami fikir dan pertimbangkan hal itu cukup berguna untuk kemajuan perusahaan dari kedua belah pihak agar bisa melewati masa krisis ini."
Aku membulakan mataku mendengar penjelasan Papah,mereka memang gila! Mereka semua lagi-lagi mengorbankan aku dan Januar yang notabennya adalah anak-anak mereka hanya agar perusahaan mereka bisa sukses lagi.
Orang tua macam apa yang sepeti itu,mereka sudah menyuruhku untuk menikah muda dan sekarang mereka ingin membuatku sengsara di usia muda juga? Memang tidak masuk akal dan sangat egois jika mereka sudah tidak mau merawat diriku ya sudah mereka tinggal bilang saja tidak perlu membuangku dengan cara seperti ini.
"Kenapa? Kenapa harus kami berdua yang menderita?!" Aku membenarkan ucapan Januar barusan yang sepertinya juga tidak terima dengan keputusan tersebut.
"Yah,bun. Kenapa Bunda gk nyuruh abang pulang dan kuliah di Indonesia aja supaya menghemat biaya juga kan? Kenapa harus kehidupan Januar yang di korbanin?"
"Tidak bisa Januar,abang kamu harus tetap kuliah di Amerika karna itu sangat penting,demi kehormatan dan martabat keluarga kita." Aku berdecih mendengarnya,sudah muak mendengar hal itu. Lagi-lagi yang di pertahankan di sini adalah gengsi bukan kehormatan maupun martabat.
"Pah Alika juga gk mau kemana-mana! Alika mau tetap tinggal di ruma ini,ini rumah Alika. Kalian masa tega mau membiarkan putri kalian menderita?" Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua ini.
"Alika! Jangan membantah,kamu ini sekarang sudah menikah jadi harus ikut suamimu."
"Menikah? Aku tidak pernah minta untuk menikah muda! Kalian yang memaksaku,kalian memang tidak pernah menyayangiku kan? Jadi kalian menikahkan aku supaya aku bisa pergi dari rumah ini,itu kan yang kalian mau?" Aku terbawa emosi,aku menatap wajah kedua orang tuaku berharap mereka mengerti dengan apa yang aku rasakan saat ini.
"Ini semua gk adil buat kita,Alika dan Januar masih sekolah. Kami masih muda,tapi kalian sudah menikahkan kami? Dan sekarang kalian tidak mau ikut terlibat juga? Kalian malah ingin mengirim kami keluar dari sini,dengan alasan agar kami mandiri,bullshit!"
Brakkk
"Alika,diam! Jangan membantah. Mau kalian berdua terima atau tidak,keputusan ini sudah mutlak tidak bisa di ganggu gugat lagi." Aku menatap wajah kedua orang tua ku itu,rasanya aku ingin menangis saat ini namun aku menahannya.
Aku membenci mereka berdua,aku membenci mereka. Tidak ada orang tua yang memperlakukan anaknya seperti ini,ini tidak adil! Kenapa harus aku yang mereka korbankan? Kenapa bukan kedua kakak ku yang kini berada di Inggis sana,jika perusahaan mereka sedang krisis lalu apa hubungannya dengan ku?
Apakah aku pernah meminta mereka untuk selalu memanjakan aku setiap saat? Tidak! Aku tidak pernah meminta mereka untuk selalu menuruti keinginanku,tapi kedua kakaku? Keinginan mereka selalu di turuti,bahkan mereka di perhatikan dengan baik.
Aku tidak meminta apapun dari mereka,aku hanya meminta keadilan untukku dan juga kebebasan ku. Mereka sungguh kejam merenggut semua itu dari dalam hidupku.
"Aku benci kalian berdua!" Setelah mengatakan itu aku memilih untuk pergi dan kembali ke kamar,persetanan dengan panggilan mereka yang terus meneriaki namaku.
Di dalam kamar aku menangis sepuasku,aku menangisi segala hal yang telah menimpa diriku.
Hidupku kini hancur,semua itu karna pernikahan ini. Aku tidak pernah meminta untuk menikah secepat ini,aku masih ingin bebas seperti teman-temanku yang lainnya.
Aku tidak berdaya,aku tidak mungkin membujuk kedua orang tua ku untuk berubah fikiran,atau merubah keputusannya.
Karna aku sudah tau jawabannya,pasti mereka akan menolak pendapatku,karna mereka itu egois.
Aku memejamkan mataku,rasanya kepala ku terasa sangat pusing memikirkan semua ini.
Aku mencoba memejamkan mata,mencoba tuk melupakan semua yang telah terjadi walaupun hanya sejenak.
Perlahan namun pasti aku mencoba untuk memasuki alam mimpi,mencoba berdamai dengan keadaan,setidaknya aku bisa lupa dengan masalahku walau hanya sebentar saja.
"Kita sudah sampai." Aku hanya diam tidak mengubris ucapan Januar.
Kini mataku terpaku menatap rumah sederhana yang ada di hadapanku ini,rumah itu jauh lebih kecil dari rumah ku sebelumnya,ah ralat lebih tepatnya rumah kedua orang tua ku.
Pagi ini aku dan Januar baru saja tiba di rumah yang akan menjadi rumah kami berdua,rumah yang diberikan oleh para orang tua,sebagai hadiah pernikahan kami? Ah tentu tidak,bagi ku justru ini adalah awal dari penderitaanku.
"Alika...ayo kita masuk." Aku menoleh pada Januar,aku terkesima sesaat melihat raut wajahnya yang melembut tidak datar seperti sebelumnya.
"Iya." Aku hanya menjawab singkat,lalu aku berjalan ke arah garasi mobil. Aku mulai mengeluarkan barang-barang ku dari dalam bagasi.
"Perlu bantuan?" Tanya Januar,ia kini berdiri tepat di depanku.
"Nggak,gue gk butuh bantuan lo. Sana minggir!" Usirku ketus pada Januar,meskipun dia besikap baik seperti itu tapi aku tidak bisa lupa bahwa semua yang terjadi padaku ini semua karna ulah Januar juga.
Aku merengangkan ototku yang terasa pegal,aku sudah selesai manata semua barang-barang milikku di kamar.
Rumah ini memang tidak sebesar rumahku,namun menurutku masih lumayan untuk di tinggali.
Biarku perjelas,rumah ini hanya memiliki dua kamar,satu kamar mandi,dapur yang tidak terlalu besar,taman minimalis di belakang rumah,sesederhana itu.
Awalnya aku merasa rumah ini bukanlah tipe rumah impianku,memang benar sih tapi setidaknya rumah ini masih ada AC jadi aku tidak akan kepanasan,itu sudah lumayan cukup bagiku.
Tok...tok...tok
"Tunggu sebentar." Aku beranjak dari dudukku,aku memutar kenop pintu lalu manik mataku menangkap tubuh seseorang yang menjulang tinggi di hadapanku.
"Ada apa?" Tanyaku datar dan langsung to the point,malas berbasa basi.
"Gue udah go-food makanan tadi,kita makan dulu." Aku hanya mengangukkan kepalaku,aku berjalan mengekori Januar.
"Nih gue pesen pizza,kata nyokap lo,lo suka pizza kan? Makannya gue pesen ini." Aku hanya diam tidak mengubris ucapan Januar,aku malah hendak langsung menggambil potongan pizza tersebut namun tanganku di tepis oleh Januar.
"Kenapa sih?" Tanyaku geram.
"Jorok banget sih,cuci tangan dulu sana!" Januar berujar ketus,aku hanya memutar bola mataku jengah tapi aku tetap menuruti ucapan Januar.
"Udah selesai cuci tangannya? Coba gue liat."
"Tuh liat tuh udah bersih." Aku menunjukkan kedua telapak tanganku ke arahnya dengan rasa kesal,entahlah jika berhadapan dengan Januar aku selalu merasa kesal.
"Nah bagus,udah sekarang lo boleh makan pizza nya." Aku lagi-lagi mengabaikan ucapan Januar,aku langsung menyantap pizza tersebut dengan lahap.
Rasanya sangat lezat! Pizza memang tidak ada matinya,rasanya selalu enak dan pas di lidahku.
Sejak kecil aku memang sangat menyukai makanan yang berasal dari Italia ini,setiap aku sakit aku pasti sangat susah untuk makan,mamah sampai pusing menghadapiku lalu dia memberikan ku pizza dan hanya pizza lah yang bisa di terima oleh perutku saat aku sedang sakit.
"Alika." Aku menatap Januar yang kini sedang menatapku juga.
"Kenapwah?" Tanyaku dengan mulut yang masih penuh dengan pizza.
"Abisin dulu ish!" Aku mengunyah pizza yang ada di dalam mulutku,setelah menelannya aku kembali menatap Januar.
"Lo tau kan kita gk bakalan bisa hidup enak terus kedepannya?" Aku hanya mengangukkan kepalaku.
"Gue tau lo udah biasa hidup enak,lo selalu bisa makan pizza sepuas lo. Tapi sekarang,mungkin cuma saat ini lo bisa makan pizza. Kalau untuk seterusnya gue gk bisa jamin,karna uang yang gue punya saat ini gk akan sanggup buat beli pizza atau makanan mewah lainnya secara terus-menerus." Januar terlihat menghela nafasnya sebentar,memberi jeda lalu kembali melanjutkan ucapannya.
"Karna tabungan gue cuma cukup buat bayar tagihan listrik,dan biaya kehidupan kita selama sebulan ini aja. Setelah itu gue gk tau harus gimana." Januar terlihat begitu kesulitan,aku yang melihatnya menjadi sedikit iba.
"Januar." Aku mencoba menggambil tangannya,lalu mengengam jari-jemarinya. Januar terlihat sangat kaget dengan tindakan ku yang tiba-tiba.
"Gue gk tau harus gimana,tapi gue bakalan bantu sebisa gue." Januar menyungingkan senyuman,ia mengangukkan kepalanya.
"Kita bakalan hadapin ini sama-sama,kita pasti bisa." Januar membalas gengaman tanganku dengan erat,ia menatap ku penuh harap. Aku membalas senyumannya,dalam hati aku juga berharap bahwa kami mampu melewati ini semua. Entah sampai kapan,tapi aku tau semesta punya caranya sendiri,jadi aku hanya bisa berharap bahwa kami mampu melalui ini.
**Hulaaa,aku update lagi:) btw cerita ini bakalan di revisi setelah tamat nanti. Cerita ini partnya gk akan panjang-panjang kok,gk sepanjang cerita Binar di Langit Senja tapi konfliknya bakalan gereget hehe. Jadi tungguin terus ya aku update,aku bakalan update cerita ini selang seling sama cerita AZANTA,karna jujur aku tuh anaknya gampang banget bosen sama cerita yang aku bikin hehe,jadi maklumin aja kalau aku tuh suka plin plan bikin cerita banyak tapi blm tamat-tamat😠dah lah,see you next part.
[FV/V]
💙**