
...Happy Readingš¤...
Sejak tadi, Arvin terus mondar-mandir di samping tempat tidur, sesekali melirik Aletta yang masih terlelap dan lemah di atas kasur.
"Sea, lo dimana? Jangan tinggalin gue, gue takut sendirian," suara itu terus keluar dari mulut Aletta, dengan matanya yang terpejam, dan berhasil membuat Arvin semakin frustasi.
Ia menyesali perbuatannya, seharusnya sejak tadi ia tidak harus mendengarkan permintaan Aletta, seharusnya ia memaksa untuk membawa gadis itu ke rumah sakit, bukan malah seperti sekarang. Badan Aletta benar-benar di atas suhu normal saat ini.
Arvin berjalan dan duduk di samping gadis itu, tangannya mengambil kain kompresan yang sempat ia taruh di dahi Aletta. Namun, hal itu tak juga membuat demamnya turun.
"Al, gue di sini! Lo gak perlu takut!" bisik Arvin, tepat di telinga Aletta, dengan harapan gadis itu akan mendengarnya dan segera bangun.
"Aletta, gue bakal ada di sini! Lo gak bakal kedinginan lagi!" lanjutnya tetap berbisik.
Tapi tak juga ada tanda-tanda Aletta mau membuka matanya. Arvin kembali berdiri untuk mengambil ponselnya. Ia harus melakukan sesuatu, ia takut jika keadaan Aletta justru akan semakin memburuk.
Tangannya gemetar saat ingin menghubungi ayah dan ibunya. Ia takut jika mereka semua datang kesini dan membuat Aletta kecewa padanya.
Suasana malam terasa semakin mencekam, dan ruangan itu hanya diisi oleh keheningan yang terputus-putus oleh suara Aletta yang sesekali berbisik dalam tidurnya. Terkadang, suara jam dinding yang berdentang pelan menjadi satu-satunya pengingat bahwa waktu terus berjalan.
Akhirnya, entah dapat suratan dari mana, Arvin membuka aplikasi yang tahu segalanya, ia mengetikkan sesuatu disana, hingga hasilnya muncul. Namun, baru saja membaca artikel itu, kening Arvin sudah bercucuran keringat.
Dia menatap Aletta dengan tidak yakin, suhu tubuh gadis itu semakin panas. Susah payah pula Arvin meneguk salivanya sendiri. Tapi, tidak ada cara lain, ia akan mencoba cara ini, meskipun Aletta akan memarahinya habis-habisan.
Laki-laki itu dengan cepat melepas kaos oblong yang ia kenakan. Matanya masih menatap punggung Aletta yang tertidur miring.
"Tahan Arvin, lo harus cari cara lain, skin to skin contact bukanlah cara satu-satunya! Tapi Alettaā¦" Arvin berhasil dibuat bimbang oleh pikirannya sendiri.
"Dia istri lo, lo punya hak sepenuhnya atas dia!" Arvin mencoba memperkuat tekadnya. Tanpa permisi, ia juga melepas seluruh atasan Aletta, membuat jantungnya berdegup kencang saat melihat badan Aletta yang hanya tersisa bra.
"Jauhin pikiran kotor lo, dia lagi sakit, bego!" gumam Arvin.
Dengan tekad yang kuat, Arvin memeluk tubuh Aletta, membiarkan kedua kulit itu bersentuhan, dan menutupinya dengan selimut tebal.
"Maaf, Al, kalau lo bakal kaget besok pagi, ini semua demi kesehatan lo! Dan gue gak lihat apa-apa kok, beneran!" celoteh Arvin tanpa melepas pelukannya. Ia benar-benar menutup matanya dengan rapat.
...***...
Sinar matahari mulai masuk melewati celah-celah di kamar yang penuh keheningan itu, bersamaan dengan tubuh Aletta yang menggeliat karena tidak nyaman. Gadis itu merasakan tubuhnya sangat lengket dan sesak. Membuatnya secara perlahan membuka kedua matanya matanya.
Namun, Mata itu langsung membulat sempurna, saat melihat wajah Arvin yang sangat dekat dengannya. Tanpa izin, ia langsung mendorong tubuh suaminya itu, dan berteriak histeris saat menyadari tubuhnya yang tak memakai baju.
"Lo kenapa sih Al, pagi-pagi udah teriak!" gumam Arvin dengan suaranya yang serak, dengan tangan bergerak mengucek matanya yang masih terasa berat akibat mengantuk.
"Lo apain gue, brengsek!" pekik Aletta yang langsung berdiri dan menutup tubuhnya dengan selimut.
Arvin yang baru menyadari itu segera berdiri, dengan wajah yang panik.
"Lo bilang, lo gak bakal nyentuh gue! Tapi ini apa Arvin?" teriak Gadis itu, matanya tak lagi mampu menampung air mata.
"Dengerin gue dulu, gue gak nyentuh lo! Gue cuma..." Arvin terhenti saat Aletta memotong pembicaraannya.
"Cuma apa?"
Dengan mata yang masih berkaca-kaca, gadis itu mulai membaca Artikel yang membahas metode skin to skin contact, sebagai cara menurunkan demam dengan cepat, terutama pada pasien yang tidak merespons obat demam.
Aletta mendongak, menatap tajam Arvin yang tengah kembali memakai kaosnya. Sedangkan gadis itu menarik selimutnya lebih rapat untuk menutupi badannya yang hanya terisa bra.
"Lo beneran gak ngapain-ngapain gue kan?"
Arvin mendengus kesal, laki-laki itu beranjak dari atas kasur dan mendekati istrinya. " Emang, sekarang apa yang lo rasain?"
"Nggak ada." gumam Aletta dengan menggeleng mantap. Karena memang itu kenyataannya.
"Yaudah, gue beneran gak ngapa-ngapain lo, Kecuali meluk!"
"Lo juga nggak lihat apa-apa kan?" Tanya Aletta lagi, kali ini tatapannya penuh selidik. sebenarnya ia sangat malu, tapi ia mencoba menetralisir semua rasa itu.
"Ada, dikit!" jawab arvin dengan nada bercanda.
"Arvin!" teriak Aletta,dengan suaranya yang menggelegar memenuhi gendang telinga laki-laki di hadapannya. Dan dengan cepat pula, Arvin menutup kedua telinganya yang rasanya mau pecah.
"Nggak-nggak, gue bercanda!"
"Yaudah sono, ganti baju! Dari kemaren lo gak ganti baju, ntar demam lagi. Mau lo gue peluk kayak semalem!" lanjutnya dengan tegas.
Aletta tak menjawab, dia segera bergerak menuju kamar mandi untuk mengganti bajunya, sedangkan Arvin sendiri berjalan keluar ruangan dan langsung mengelus dada dengan nafas lega.
Selang beberapa menit Aletta sudah kembali duduk di atas sofa dengan tatapan kosong ke arah depan. Bahkan ia tak memakan sesuap pun bubur yang sempat Arvin belikan. Membuat laki-laki itu kembali duduk di sampingnya dengan rasa khawatir yang tak terbendung.
"Lo masih sakit?" tanyanya penuh perhatian. Melihat wajah pucat di hadapannya itu turut membuat hatinya memberat
Aletta menoleh, dan menggeleng pelan. "Sorry ya Vin, yang soal tadi, dan makasih, makasih udah nolongin gue kemaren."
Arvin mengangguk dengan senyum lembut, tetapi ada satu hal yang terbesit dalam benaknya. Dia berdiri perlahan, mengambil sebuah foto dari dalam laci, lalu mengurutkannya ke Aletta. "Ini punya lo, kan?"
Aletta menerima foto itu dan mengangguk. Netranya terus tertuju pada dua gadis yang tengah tersenyum lebar dan saling merangkul dalam foto itu.
"Cantik ya mereka?" tanya Aletta dengan tawa kecil, tapi tak sedikitpun pandangannya teralihkan.
"Itu lo kan Al?"
Arvin bertanya dengan hati-hati, sejak lama foto itu terus memenuhi pikirannya, dengan membawa banyak pertanyaan. Dan sekarang, dia merasa inilah saat yang tepat untuk mencari jawaban.
"Iya, yang ini gue! Polos banget kan? Gak kayak sekarang," kata Aletta dengan senyum tipis.
Bukannya membuat tenang, jawaban Aletta justru semakin membuat Arvin dilanda kebingungan. "Maksudnya? Kalau ini lo, terus dia siapa? Gak mungkin Sella, kan?"
Aletta semakin mengeraskan tawanya, tapi tawanya hanya semakin menambah misteri. Arvin merasa rasa bingungnya semakin dalam, terutama saat matanya berhasil menangkap ekspresi hampa diwajah istrinya.
"Lo mau tau, siapa dia?" jawabnya, kali ini dengan menoleh menatap Arvin sepenuhnya.
Arvin mengangguk, dengan rasa penasaran yang semakin memuncak. Membuat gadis itu kembali membuka mulutnya untuk kembali bersuara.
"Dia adalah gadis malang, yang lebih memilih kembali ke pangkuan Tuhan untuk menyatu dengan alam, dan meninggalkan gadis bodoh ini sendirian.