
*You've been runnin' round, runnin' round, runnin' round throwin' that dirt all on my name
'Cause you knew that I, knew that I, knew that I'd call you up
You've been going round, going round, going round every party in LA
'Cause you knew that I, knew that I, knew that I'd be at one
I know that dress is karma, perfume regret
You got me thinking 'bout when you were mine
And now I'm all up on ya, what you expect
But you're not coming home with me tonight
You just want attention
You don't want my heart
Maybe you just hate the thought of me with someone new
Yeah, you just want attention
I knew from the start
You're just making sure I'm never gettin' over you
(**Attention***)
2019, Cemburu.
“Kan tadi lo yang nanya, mau ngapain buat kegiatan kita itu, terus rada ngambek pas disuruh jadi ‘pembantu’ aja ntar,” ucap Eve sambil menggerakan kedua jemarinya seolah membuat tanda kutip di udara.
Benar juga sih , aku bisa menyanyi tapi di depan orang-orang dengan suara pas-pasan seperti ini. Gimana kalau nanti dilempari telur pas manggung. Otakku mulai berpikir yang tidak-tidak sekarang. Saat ini kami berada di dapur rumah Medi untuk mengambil air.
“Coba aja Kan, gue juga di minta jadi manajer kalian, alah pake manajer segala. Tapi teman-teman bang Yuda itu banyak loh, dan royal jadi kalo bang Yuda bilang ke mereka mau minta tolong apa gitu pasti langsung diusahain sama mereka.” Dira mengambil dua botol air mineral dingin dari dalam kulkas.
Tiba-tiba keluar dari dalam sebuah ruangan seorang pria yang mirip sekali dengan Medi, mungkin jika Medi kelak tua wajahnya akan menyerupai pria ini. Bedanya dari wajahnya yang teduh dan mulai mengeriput itu, sebuah senyum hangat terpancar.
“Hai, Om. Nggak ngajar?” tanya Dira saat meliat pria itu keluar dari kamar melemparkan senyum kepada kami.
“Lagi nggak ada kelas, Nak. Siapa ini?” pria yang di sapa Om ini adala Papanya Medi. Pantas saja wajahnya sangat mirip.
“Ohh, kenalin girls, ini Papanya Medi. Om Tyo.” Dira memperkenalkan aku dan Eve. Kami bersalaman, mencium tangan dan tersenyum.
“Kalian lapar nggak? ayo buat martabak,” ajak pria itu kemudian.
Setelah hampir 30 menit berada di dalam rumah Medi akhirnya kami keluar membawa minum dan martabak yang tadi kami buat bersama om Tyo. Martabak hangat itu di sambut suka cita oleh mereka.
Di rumah ini, Medi hanya tinggal bertiga saja bersama Papa dan adik perempuan yang seusia denganku. Mamanya sudah meninggal satu tahun yang lalu, kanker. Dira pernah cerita kematian Mama Medi membuat luka yang begitu besar bagi keluarga mereka. Karena sang ibu adalah pusat gravitasi bagi seluruh anggota keluarga. Medi sempat harus berhenti bekerja agar fokus dalam menjaga sang ibu. Uang bisa dicari lagi nanti tapi, bisa saja setiap kamu bertemu dengannya di pagi hari dan berangkat kerja menjadi hal terakhir yang bisa kamu lihat dari dia yang kamu sayang.
Pantas saja, entah mengapa. Walau kami sangat jarang berkomunikasi. Aku selalu nyaman berada di dekatnya. Medi itu tipe pria penyayang, aku yakin, di balik wajah datar dan senyum yang kadang muncul dan tidak, ada kasih sayang yang siap dia berikan pada orang yang menjadi pendampingnya kelak. Gina beruntung, dia harus menjaga Medi baik-baik.
“Med, aku mau itu!” ucap Gina manja. Lihatlah kemarahan dan kekesalan yang terpancar dari kedua malaikat penjagaku ini. Reaksi mereka mampu menekan rasa sedih yang selalu keluar dari dalam hati ini. Mereka menggantikanku, sedihku sedikit berkurang. Lagi pula aku harus tahu diri.
“Hmm, Ya Oke!” ucapku singkat. Sorak sorai kedua malaikat penjagaku terdengar menggelitik di telinga. Wajah puas bang Yuda juga sangat lucu. Aku melihat ke arah Dira dan Eve yang bangga atas keberanianku itu.
“Good, garasi ini akan jadi basecamp kita. Mulai hari ini kita resmi berpacaran dalam sebuah nama, eh tapi nama band kita apa?” ucap bang Yuda tetap dengan semangat berkobar diikuti oleh Gilang yang juga tengah berdiri.
“The Moon!”
“Moonlight!”
Semua yang ada di ruangan memandang kami secara bergantian. Baru saja secara bersamaan kami mengucapkan kedua kata yang hampir sama itu.
“Apa kalian di kehidupan yang lalu adalah sepasanag kekasih? Kenapa bisa kompak begitu?” Aku tidak berani memandang ekspresi Gina saat ini, saat bang Yuda menggoda kami.
“Jadi The Moon atau Moonlight? Kita vote aja,” ujar bang Yuda masih antusias.
“Moonlight aja, aku setuju sama pilihan Kana!” ucap Medi yang tadi mengusulkan nama The Moon. Entah kenapa kami bisa memiliki pemikiran sejenis.
“Oh, gentle sekali!” bang Yuda mengangguk-anggukan kepalanya. Medi melihatku dan tersenyum miring dan mengangkat kedua bahunya. Aku tertawa kecil.
“Asyik, Moonlight !!” seru ku kemudian.
Setelah nama band ditentukan kini bang Yuda tampak sibuk mengatur jadwal latihan, secara aku bekerja hingga sore bahkan terkadang malam. Untuk akhir bulan sudah dipastikan aku pulang tengah malam dari kantor tempat bekerja.
“Nah, untuk penghasilan akan kita bagi rata setelah dipotong 50% untuk donasi ya!” ucap bang Yuda yang kini tengah berdiskusi dengan Dira.
“Jatahku untuk donasi semua aja!” ucapku sambil lalu karena sibuk dengan ponsel membaca komen yang ditinggalkan okeh subscriber di channel youtube aku dan Eve.
“Udah imut, baik hati lagi,” goda Gilang tiba-tiba membuat semua mata tertuju padanya. Termasuk mataku juga, ku raih sebuah bola kecil berwarna hijau dekat denganku, refleks ku lemparkan padanya dan dia terkekeh geli melihat reaksiku.
Tubuh tinggi kurus ini di bilang imut, ini semacam jenis ejekan yang super halus. Untungnya dengan wajah oval ini mukaku terlihat tetap chubby walau badanku sangat kurus. Padahal makanku juga sangat banyak. Apa mungkin cacingan? Tapi aku rutin meminum obat cacing setiap dua kali setahun
“Med, anterin aku pulang!” ujar Gina mendekati Medi yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya bersama Gilang.
“Hah? Kan, bawa motor sendiri?” ujar Medi sedikit malas. Aku pura-pura masih sibuk dengan ponsel di tangan dan mata tertuju sepenuhnya ke arah layar.
“Ih, ayolah anterin pulang!” tiba-tiba saja Gina berubah menjadi gadis paling menyebalkan hari ini.
“Kana, temenin ke warung depan sana yuk!” seorang gadis berambut pendek sebahu yang sedikit ikal keluar dari dalam rumah.
“Maya sopan dikit! panggil kakak dong!” ucap Medi cepat.
“Ihh apaan si, Bang aku sama Kana tuh seumuran tauk,” ucapnya merengut.
“Beda dua bulan, seumuran dari mana?” bantah Medi lagi.
Tunggu!!
Dari mana dia tahu aku dan adik perempuannya ini beda dua bulan. Dia tahu aku lahir kapan, begitu?
“Udah, nggak apa-apa gue nggak keberatan. Yuk!” ucapku cepat dan menarik Maya dan kami pergi meninggalkan rumah dengan mengedari motor matik milik Maya.
Aku dan Maya sudah berkenalan melalui Instagram dan twitter sebelumnya. Dan tadi saat membuat martabak bersama papanya dia ikut keluar dan kami ngobrol banyak. Tentu saja hal apa lagi yang membuatku yang malas bersosialisasi ini menjadi dekat dan akrab dengan seseorang selain karena Kpop. Yah, Kpop mempersatukan kita!
Aku memilih menemani Maya, karena tidak tahan dengan cara Gina mencari perhatian di depanku. Apa aku cemburu? Tentu saja. Aku manusia biasa yang tidak bisa mengontrol perasaannya sendiri.