You My Every Love Song

You My Every Love Song
Find You Again



I'll try to pass the night away with somebody new


But they don't have...


(Mark Ronson)


Dan suara Mark Ranson menemani aktifitas hari ini.


2019


“Gak mau tau ya, pokoknya gue minta tolong sama lu, Kana, siapa lagi yang bisa gue mintai tolong selain lu sama Eve!” terdengar suaranya seakan memecahkan gendang telinga dari saluran telepon. Selain cenderung keras, ada sebuah nada penuh harap di sana. Padahal teman-temannya itu banyak. Dira adalah sosok yang super friendly, temannya banyak aku bahkan sampai lupa karena terlalu banyak yang dia kenalkan. Orang yang asyik dengan pikiran terbuka. Selalu bicara apa yang dia pikirkan, dia nggak akan menunggu persetujuan dari kalian, apakah kalian suka atau tidak dengan pendapatnya.


“Iya Oke! Eve datang?” tanyaku kemudian.


“Datang, bareng Gina. Oke ya sampai nanti Alien!” tutupnya. Gina Rahmayanti adalah teman kami juga. Lumayan dekat dengan Eve yang dewasa dan bijak. Bicara tentang Evalia Hasan, sahabatku yang satu ini tipe penyayang, sabar dan cekatan. Teman-temannya juga banyak, Eve sangat cantik dengan rambut ikal menggantung, serasi dengan bentuk wajahnya yang panjang dengan hidung mancung membuatnya semakin terlihat manis. Eve memiliki hobi yang sama denganku, kami suka bernyanyi, kadang kami melakukan cover lagu-lagu yang kami suka dan mengunggahnya di Instagram. Eve sudah punya pacar tapi mereka sedang menjalani hubungan jarak jauh atau LDR.


Ku pandangi layar ponsel yang sudah mati itu. Belakangan aku terlalu jenuh dengan rutinitas di kantor. Pergi pagi dan pulang suda tidak ada matahari begitu saja tanpa drama, tanpa romansa, membosankan. Namun, jika dipikirkan kembali, aku yang sekarang cenderung menghindari suatu hubungan. Aku bukan lagi seorang Kana yang percaya diri tentang cinta. Cinta menjadi hal tersulit melebihi rumus Matematika.


Ada baiknya aku mengikuti saran Dira. Mengisi waktu dengan hal-hal positif seperti dirinya yang memiliki jiwa sosial tinggi. Dira telah aktif menjadi relawan dari sebelum aku mengenalnya bertahun-tahun yang lalu. Dia sering melakukan galang dana untuk panti-panti asuhan. Atau sekedar untuk mengajak anak-anak makan di luar atau bermain di luar panti.


Agenda rutinnya setiap tahun adalah selalu mengunjungi sebuah panti sosial di pinggir kota. Sebuah panti yang di kelola oleh pemerintah setempat tetapi dengan kondisi sangat memprihatinkan. Di sana tinggal sekitar 50an orangtua dengan berbagai kisah pilu yang akan membuat kalian sedih hingga menangis tersedu. Mereka yang akan suka cita menyambut kalian dengan senyum lebar yang membuat hati hangat. Mereka bahkan tidak akan bertanya apa yang kalian bawa, mereka akan bertanya apakah kita akan bermain bersama?


Sebetulnya bukan tidak ingin menebar kebaikan tapi aku terlalu melankolis. Hal-hal seperti itu akan membuatku menangis hingga wajah ini memerah. Jika menangis akan sulit berhenti kecuali aku tertidur. Tapi tidak ada salahnya. Mungkin itu juga akan membuatku bersyukur masih bisa bersama kedua orang tuaku, yang entahlah apakah rasa cintanya sama dengan rasa cinta yang mereka beri untuk putra kesayangan mereka. Aku frustrasi.


Kuparkirkan si merah yang kini sudah mengkilat karena baru tadi pagi aku mandikan, dengan rapi. Kini merahnya menyala sempurna. Aku masuk ke rumah Dira melalui pintu belakang. Ada Tante di sana sedang menyiapkan makanan kecil untuk tamu yang ada di ruang tamu.


“Sayang, dari mana?” tegur Mama Dira yang sering ku sapa dengan Tante itu.


“Makasih, Nak,” ucap Tante dengan senyuman sehangat matahari sore itu. Perlahan kubawa nampan berisi kue-kue tradisional dan beberapa jenis gorengan seperti bakwan dan lumpia masuk ke dalam ruang tamu yang sudah ada beberapa orang di sana termasuk Dira, Eve dan Gina.


“Hai, Kan. Kapan datangnya?” tanya Dira terkejut melihatku masuk dengan membawa nampan. Secepat kilat Eve menuju ke dapur untuk membantu Tante membawa makanan lainnya ke ruang tamu.


"Baru aja kok,” sahutku singkat.


“Udah pada kenal kan?” tanya Dira lagi, aku menatapnya dan mengirim sinyal SOS, please Dira temanmu ini memiliki memori terbatas jangan memberinya pertanyaan sulit, seperti harus mengingat nama orang lain. Dira menerima sinyalku, bola matanya memutar.


“Ini Bang Yuda, Gilang, Medi, Gio, Utami, Rio, Anggun, dan Jimi.” Dira memperkenalkan kami satu-persatu aku hanya senyum dan menyebutkan nama. Waw, aku ingat Medi. Pria dengan mata sipit itu apakah setampan ini? Pikirku.


Diskusi berlanjut tentang agenda tahunan Dira dan teman-temannya itu. Tahun ini mereka akan kembali mengunjungi panti sosial yang memang tiap tahun dia datangi secara khusus. Tidak sekedar makan bersama, atau pemeriksaan kesehatan gratis saja. Mereka akan melakukan sesi bermain dengan para Kakek dan Nenek di sana. Mereka akan tertawa bahagia dan melupakan tentang kesedihannya. Menurutku bagian bermain dan meluangkan waktu dengan mendengar cerita-cerita mereka adalah hal yang cukup penting. Seolah untuk beberapaa saat kita menggantikan peran anak atau cucu mereka.


“Jadi semua beres ya, untuk makanan nyokap sama Kakak gue yang mau handle. Kata mereka kalo kita katering dengan budget minimum begitu nanti makanannya nggak seberapa. Jadi mereka akan urus soal makan berat, minuman dan makanan ringannya. Yang lain sudah oke dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing kan?” tutup diskusi hari itu dengan anggukan dan seruan kata siap dari mereka yang datang.


Semua teman-teman Dira sudah pergi, tinggal kami berempat di ruang tamu. Semua piring kotor dan sisa makanan sudah di bereskan. Kami menikmati sore di ruang tamu.


“Si Medi cakep ya?” ucap Gina tiba-tiba membuat kedua bola mataku hampir meloncat keluar. Tidak ada yang menyadarinya, mungkin. Bagaimana aku tidak terkejut sedari tadi aku memikirkan hal yang sama.


“Iya makin cakep tuh anak. Banyak banget yang naksir. Heran! Tipenya Kana banget tuh dia!” ucap Dira membuatku menatapnya bingung dan cemas. Aku cemas, semakin lama Dira benar-benar menyeramkan, apakah dia bisa membaca isi otak dan isi hati aku.


“Masa sih, Kan? Tapi pacar-pacar Kana nggak seperti Medi. I mean visualnya nggak mendekati.” Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal karena kalimat Gina itu.


“Karena Kana itu Alien!” ucap Dira membuat Eve tersedak karena tertawa.


“Gin, lu harus tau. Kana itu tidak seperti kelihatannya. Dia Alien dari planet lain yang sedang kami pelajari.” Eve melanjutkan tawanya setelah berusaha memasang mimik serius. Gina tidak mengerti. Yah, bukan salahnya. Cuma dua makhluk ini saja yang paling paham tentangku. Aku pun tidak mengerti bagian itu.