
*All along it was a fever
A cold sweat hot-headed believer
I threw my hands in the air, said, "Show me something"
He said, "If you dare, come a little closer"
Round and around and around and around we go
Oh now, tell me now, tell me now, tell me now you know
Not really sure how to feel about it
Something in the way you move
Makes me feel like I can't live without you
It takes me all the way
I want you to stay
It's not much of a life you're living
It's not just something you take it's given
Round and around and around and around we go
Oh now, tell me now, tell me now, tell me now you know
Not really sure how to feel about it
Something in the way you move
Makes me feel like I can't live without you
It takes me all the way
I want you to stay
(**Rihanna, Mikky Ekko***)
2019, Sebelum perform pertama.
Sekarang semakin perasaan itu besar dan siap membuncah menyuarakan pekikan suara dalam hati. Aku harus memegang diriku erat-erat. Aku benar-benar tidak ingin jatuh atau terbang, bukan karena takut terluka yang mungkin akan mengakibatkan sesuatu hal lebih parah, mungkin.aku tidak ingin kehilangan dia, apapun status kami saat ini, teman, rekan kerja dalam band, sesama panita acara, atau status yang lainnya. Sungguh, biarlah aku menahan sekuat mungkin asal dia tetap berada di sekitar radarku. Aku ingin tinggal, tinggal dalam kenangan yang akan aku buat sebaik mungkin, agar kelak aku mampu berjalan menatap lurus kembali.
Kami sukses merekam sesi latihan terakhir jam di dinding garasi menunjukan pukul lima sore. Kami bersiap-siap, setelah sholat Maghrib nanti kami semua akan turun ke Nineteen Kafe bersama-sama. Kali ini Dira dan Eve akan langsung ke lokasi untuk melihat tempat. Jadi kami akan berangkat dengan mobil bang Yuda.
Aku sudah mengenakan pakaian terbaik. Walau hanya celana jeans yang sobek di bagian lututnya, kaos oversize lengan panjang berwarna biru gelap dengan bordir bulan sabit di bagian dadanya, sesederhana itu.
Kembali aku sibuk membuat rebusan jahe merah untuk om Tyo dan bubur yang tadi juga sudah mulai ku buat.
“Okey, beres. Kencan aja aku batalin nih demi kamu.” Aku melihat ke arah Maya yang tersenyum.
“Demi Papamu dong. Kasihan kalo semuanya pergi.” aku masih menatapnya serius.
“Iya ok. Laksanakan,” ucapnya lagi.
Setelah selesai, aku di antar Maya ke depan dan siap berangkat melaju menuju pertempuran pertama kami.
Dalam bayanganku panggung kami akan seperti panggung kecil biasa. Siapa sangka dekorrnya bahkan menarik. Ada banner bertuliskan nama band kami dan info tentang donasi untuk renovasi panti sosial Anggrek. Tim benar-benar bekerja keras. Dekornya manis sekali seperti Medi malam ini #eh.
Aku tidak melihat Gina dari tadi. Pacarnya mau manggung untuk pertama kalinya, sedikit aneh jika hari ini dia tidak menempel seperti perekat, di mana hari-hari kemarin seakan tak terpisahkan yang sempat membuat bang Yuda sedikit gerah. Kadang bang Yuda mirip sekali dengan Dira yang selalu ceplas-ceplos dalam berbicara. Atau ada dari perkataan kami yang membuatnya marah. Tapi, pasti Medi akan memberitahu kami jika ada, iya kan?
Baru juga dibicarakan, Gina datang dengan pakaian berwarna ungu muda yang lembut. Dia menggunakan riasan wajah, cantik sekali.
“Gugup ya?” tanya Eve yang wajahnya lebi panik dari pada aku yang akan tampil di panggung indah itu.
“Dikit kok.” Kami berpegangan tangan seraya mentransfer energi.
“Hei gilrs,” Sapa Gina yang mendekat ke arah kami.
“Kok kamu biasa aja gini sih, Kan? Nggak put on your make up dikit gitu biar ada rona-rona gitu di wajah,” komentar Gina setela melihat lebih dekat tampilanku malam ini.
“Lipstick cukuplah, nggak suka lebay aku kalo make up kayak badut ntar. Nggak cocok!” jawabku cepat. Tapi memang benar, kalau aku memberi riasan pada wajahku ini jatuhnya malah sangat aneh. Seperti sedang menggunakan topeng. Mungkin kemampuan make up ku memang sejelek itu.
“Kan, dipanggil Bang Yuda,” ucap Dira menghampiri kami setelah terlihat ikut sibuk persiapan tadi. Aku melihat jam di tangan sudah pukul 07.35. Aku melepaskan napas pelan dan pergi menuju anggota band ku plus ada Jimi di sana bersama Rio.
“Fighting!” Terdengar suara Dira dan Eve bersamaan.
Jimi akan bertugas merekam dan memotret kami selama tampil dengan empat lagu nanti sebagai pemanasan sebelum full perform minggu depan. Sedangkan Rio akan jadi Mc dadakan, tugasnya akan berganti-gantian dengan Utami atau Gio nanti meliat jadwal siapa yang kosong pada hari tersebut.
“Oke, jangan tegang kita santai aja. Gila kenapa jadi rame begini sih hari ini.” Sebenarnya yang berbicara terlihat lebih gugup dari kami.
“Lu ngga sadar, Bang. Kalian berempat itu punya jumlah followers yang banyak di sosmed. Lalu kalian bersatu seperti ini, apalagi yang lu harapin bang??” Jimi tertawa renyah, aku tersenyum saja. Benar juga, pikirku. Aku melihat orang-orang yang sudah datang lengkap dengan hidangan di meja-meja mereka
“Ayo berpegangan tangan. Kita berdoa dulu sebelum mulai,” ucap Bang Yuda. Aku meraih jemari yang sudah terjulur ke arahku, pemiliknya adalah Medi. Kami berpandangan dan akhirnya jemari kami berpaut satu dan lainnya. Di sisi lain sudah ada jemari bang Yuda. Kami memulai ritual berdoa sebelum tampil. Walau hanya membawakan empat lagu saja, malam ini juga menjadi awal untuk perjalanan empat bulan ke depan hingga awal tahun baru nanti. Semoga visi misi kami dapat tercapai sesuai target yang sudah ditentukan.
Aku sudah duduk di tempat, lengkap dengan microphone di depanku. Malam ini kafe sangat penuh bahkan pemilik kafe sampai harus mengeluarkan kursi-kursi plastik seadanya agar pelanggan yang sekedar ingin minum dan tidak keberatan di luar dapat duduk dan tetap bisa menikmati permainan kami nanti.
Aku melihat ada beberapa teman yang aku kenal dari sosial media juga datang, aku melambaikan tangan kepada mereka dan tersenyum. Aku melihat ke arah sebelah kiri di mana Medi dengan belahan rambut di tengah itu terlihat begitu manis. Mata kami bertemu aku tersenyum lebar dan mengucapkan satu kata yang membuatnya juga tersenyum, bukan dia tertawa.
“Lapar!” ucapku.
Aku menyisir rambutku yang memang lembut ini dengan jemariku. Kutarik napas panjang ketika Rio sudah siap memperkenalkan kami. Suasana kafe yang sangat romantis dengan lampu-lampu yang di hias pada halaman, dan dinding sangat pas apalagi malam ini bulan bersinar terang. Seperti nama kami.
“Hai .. Hai … Hai. Selamat malam teman-teman semua. Sebelumnya Rio mau ngucapin terima kasih banyak atas support teman-teman sekalian sehingga hari di mana our Moonlight debut di mulai malam ini. Malam ini kita pemanasan dengan empat lagu saja ya and full performance dapat kita nikmatin mulai minggu depan dengan jadwal yang sama yaitu sabtu, pukul 8 malam hingga 10.30. Oh ya, kalian juga bisa request lagu loh, kalian bisa request pada kolom komentar di setiap postingan yang akan kita unggah di hari minggu.
And here they are, Kana Santika, Yuda Hasmi, Gilang Andra Yoga dan Medi Hardika. “
Riuh suara tamu kafe yang bersemangat, sorak sorai dan tepukan tangan membuat sensasi baru yang memang pertama kali aku alami. Detak jantung yang berdegup keancang juga seakan memberi tanda akan dimulai episode baru kehidupanku.