You My Every Love Song

You My Every Love Song
YOU (satu)



Dunia nggak akan berhenti berputar hanya karena kamu sedang patah hati. Dunia nggak akan menunggu kamu bangkit dari kisah sedih percintaanmu.


Tahun baru 2020 kami awali dengan kegiatan positif. Akhirnya setelah hampir empat bulan berjuang mengumpulkan dana agar impian kami dapat terwujud merupakan hal yang melegakan. Melihat senyum mereka yang kini sibuk mengawal proses renovasi ruang rekreasi Panti Sosial Anggrek kami cukup puas dan merasa banyak bersyukur. Pada akhirnya setelah masalah muncul akan selalu ada penyelesaian yang manis di akhir.


Akankah kisahku juga berakhir manis?


Setidaknya aku ingin menjadi kami yang seperti semula. Aku tahu itu tidak mungkin.


Aku tersenyum melihatnya dari jarak yang tidak begitu jauh, berdampingan dengan wanita yang sangat serasi berada di sampingnya kini.


“Makan dulu, Kan,” ajak Dira setelah prosesi serah terima selesai.


“Ntar, duluan aja,” ucapku dan Dira berlalu masuk ke dalam melanjutkan kegiatan yang tersisa.


Gilang menghampiriku memberikan minuman dingin, “Udah dong patah hatinya, kalau sedih terus lo nggak bisa lihat orang lain yang mungkin sayang sama lo.” Dia menegak habis minuman dingin yang ada di tangannya itu. Aku melihatnya dan tertawa kecil sambil juga meminum minuman dingin yang tadi dia berikan.


“Tau dari mana gue masih sedih?” tanyaku dengan semburat senyum kepadanya.


“Hm, Good kalau udah nggak.” Dia tersenyum misterius. Gilang adalah pria humoris yang menyenangkan, kadang tidak bisa membaca situasi dan terkadang terlalu sensitif.


“Ih apaan sih, senyum-senyum gitu,” ucapku cemberut.


“Kana.” Gilang memandang lurus tepat di kedua bola mataku, memegang kedua bahuku.


“Aku serius. Kalau kamu udah siap. Aku akan maju.” Tidak ada tanda dia sedang bercanda atau sedang menggodaku. Aku menghela napas dan menepuk tangannya pelan.


“Thanks ya, Lang.”


Aku diam selama perjalanan pulang menuju rumah. Setiap kata yang Gilang ucapkan cukup membuat aku berpikir. Bukan karena aku ingin mencoba membuka hati untuknya. Tidak, tidak secepat itu. Aku hanya berpikir, kata-katanya benar, jika terus bersedih karena patah hati, aku tidak bisa melihat orang lain yang mungkin meminta kesempatan yang sama.


Sebuah pesan masuk.


“Aku ingin bicara. Please Kana jangan menghindar dari aku.” Dari Medi.


Aku menghela napas yang rupanya diamati oleh Dira.


“Kenapa lagi, Kan? Tanyanya penasaran.


“Medi ngajak ketemu, ingin bicara,” jawabku pelan.


“Bicaralah dengannya, kalian tidak pernah melakukan percakapan serius tentang kalian. Kasih dia kesempatan menjelaskan. Toh tidak akan merugikan siapa-siapa. Apapun isi percakapan kalian nanti, apapun hasilnya nanti lo udah nerima yang terburuk, iya kan?”


Benar, aku dan Medi tidak pernah menyelesaikan percakapan kami.


“Apa masih perlu?” tanyaku lagi.


“Kalau lo nggak mau dia ngerasa bersalah terus, beri dia kesempatan.”


Lama kulihat isi pesan Medi di balik layar ponsel. Menimbang dan berpikir baiknya bagaimana. Sekali lagi aku menghela napas panjang dan berat. Pelan aku membalas pesannya itu.


Yah, ini yang terakhir.


Hari ini aku janjian makan siang dengan Medi, dengan agenda mendengarkan apapun yang akan dia bicarakan nanti. Tanpa interupsi dan tanpa gangguan. Aku sudah minta izin untuk pulang setengah hari dengan alasan ada urusan. Lagi pula penggantiku sudah ada dan sudah cukup paham tentang pekerjaannya nanti.


Kami janjian di salah satu cafe yang tidak terlalu jauh dari kantorku. 30 menit sudah berlalu tapi dia tidak muncul juga. Aku mencoba menelponnya tetapi tidak diangkat dan tidak lama dia menelpon balik.


“Halo, di mana ? Aku uda nunggu 30 menit loh,” tanyaku padanya.


“Hhah? Rumah Sakit mana?”


Tidak lama setelah telepon ditutup, aku bergegeas menuju Rumah sakit yang tadi Medi bilang. Suaranya bergetar dan terdengar takut. Setelah, cepat aku mencari keberadaannya, aku melihatnya tersandar lemah di dinding lorong rumah sakit. aku menghampirinya.


“Med, Om gimana?” Ketika melihatku, Medi langsung menarikku ke dalam pelukannya. Wajahnya dia sembunyikan membenam di leherku. Aku membelai lembut rambutnya. Pelukannya semakin erat.


Medi tidak mau melepaskan tanganku. Dia menggenggam erat jemariku.


“Maya mana?” tanyaku memecah keheningan di antara kami.


“Belum tahu, baru kamu yang aku kasih tahu. Tunggu aku tenang dulu. Aku cuma punya Papa sekarang, aku takut, Kan. Takut tiba-tiba dia harus …” ucapnya terhenti.


“Shhh … Om pasti baik-baik aja kok,” ucapku memenangkannya yang masih belum mau melepaskan tanganku.


“Hmm. Mutia?” tanyaku ragu-ragu. Dia menoleh ke arahku, memaksaku menghadap padanya.


“Kenapa semua hal kamu kaitkan dengan dia?” belum sempat aku menjawab Medi sudah menyentuh bibirku dengan jari telunjuknya.


“Aku sama Mutia, nggak ada apa-apa. Kami tidak balik pacaran lagi seperti yang otak kamu pikirkan selama minggu terakhir ini. Kamu itu buat aku frustrasi tau? Nggak pernah mau dengerin kalau aku mau bilang sesuatu. Selalu menghindar, lari…” Aku mengerjap dan mengalihkan pandangan ke bawah di mana jemari kami masih berpaut di sana.


“Lihat aku!” ucapnya lagi tapi tidak aku indahkan, masih saja ku pandangi jemari kami itu.


“Kana, aku nggak suka kamu dekat dengan Gilang, atau pria manapun.”


“Aku bukan milik siapa-siapa!” ucapku tajam dan memandang lurus kepadanya.


“Aku tahu … Aku tahu,” Dia menghela napas dan gantian kini dia yang memandang jemari yang masih bertaut.


“Kasih aku waktu, sampai kondisi Papa membaik dan seperti sedia kala. Aku akan beresin masalah aku sama Mutia yang masih belum selesai. Sampai saat itu tolong, buang pikiran kamu yang udah cukup aneh itu jauh-jauh kalau aku dan Mutia ada apa-apanya. Kana kamu nggak bisa lihat apa, kalau aku itu suka sama kamu?”


Aku membulatkan mataku. Lagi-lagi jantungku tidak bersahabat.


“Maaf, Bapak sudah bisa dijenguk.” Seorang petugas tiba-tiba menghampiri kami berdua yang saling melempar tatapan. Kami menghentikan percakapan yang cukup membuat kepalaku pusing dan melihat kondisi Om Tyo di dalam.


Wajahnya masih pucat tapi sepertinya sudah tidak apa-apa. Kata Dokter Om Tyo kelelahan karena aktifitasnya yang terlalu padat itu. Selain masih aktif menjadi Dosen, Om Tyo juga aktif dalam kegiatan berorganisasi lainnya.


“Papa … Kok aku baru di kasih tahu sih,” rengek Maya ketika melihat sang Ayah yang sedang terbaring lemah.


“Ya percuma kalau tahu duluan kalau bisanya buat Abangnya makin panik begitu. Makasih Mutia sudah ikut datang,” ucap Om Tyo dengan senyum di wajah pucatnya itu.


“Iya tadi Kak Mutia datang ke rumah waktu Abang bilang Papa masuk rumah sakit, jadi ya sekalian. Terus kok Kana udah di sini lebih dulu?" tanya Maya polos.


Aku senang menjadi orang pertama yang tahu tentang masalah yang terjadi pada pria yang sangat aku sukai itu. Aku senang menjadi yang pertama. Aku melirik ke arah Mutia yang juga menatap kepadaku seperti menunggu jawaban dari pertanyaan Maya yang mungkin saja saat ini membuatnya juga bertanya-tanya.


“Aku yang nelpon,” ucap Medi singkat.


“Makasih ya, Nak. Sudah bantu nenangin Medi. Biar begitu anaknya panikkan,” ucap Om Tyo sambil tertawa renyah diikuti oleh Maya. Aku tersenyum saja.


“Sama-sama, Om cepat pulih biar anaknya nggak panik kayak tadi,” godaku disambut gelak tawa dari Om Tyo.


“Kapan boleh pulang, Nak?” Om Tyo bertanya kepada Medi.


“Besok juga udah boleh pulang tapi, harus istirahat. Kalau Papa masih bandel mending di rumah sakit aja.” Medi memperingatkan sang Ayah yang tampak pasrah dengan apa saja keputusan dari Putra satu-satunya itu.