
Hanya ada kami berdua di lorong itu. Medi sedang turun ke bawah menyelesaikan masalah administrasi dan Maya di dalam ruangan menemani Om Tyo.
“Aku dan Medi memang sudah putus. Tepatnya putus secara sepihak karena aku tidak kuat untuk pacaran jarak jauh dengannya. Walau aku masih sangat mencintainya dan aku tahu Medi juga sangat mencintaiku. Setelah itu Medi masih berusaha untuk kembali padaku tapi aku menolak. Kini aku sudah pulang dan akan tinggal di mana pun dia inginkan. Aku akan mendapatkan kembali hati Medi, karena aku yakin perasaannya padaku masih sama seperti dulu.”
Setiap kata yang wanita yang duduk berdampingan denganku ini mengandung rasa percaya diri yang tinggi. Berbeda denganku yang selalu merasa kalah dibandingkan dengannya. Jelas Mutia lebih cantik dan anggun jika dibandingkan denganku yang cuek dan terlampau santai.
Tiba-tiba perkataan Eve beberapa hari lalu terngiang dalam ingatanku, begitu pula perkataan Medi kemarin tentang perasaannya.
Dari awal aku sudah menerima akhir terburuk, entah kenapa tiba-tiba aku ingin berjuang. Aku tersenyum.
“Aku baru empat bulan ini mengenalnya, mengagumi, menyukai setiap selera film kami yang hampir sama. Menyukai setiap kali dia memperlakukanku seperti anak kecil. Selalu duduk berhadapan ketika makan. Mut, Aku cinta sama Medi. Aku yakin ini cinta.” Aku menghela napas setelah yakin mengucapkan kalimat terakhir.
“Dan, semua keputusan akan aku serahkan pada Medi. Karena aku nggak mau kehilangan semua moment berharga kami. Aku masih ingin jadi temannya.” Aku berdiri, pandangan kami saling bertemu, aku tersenyum tulus.
“Dan jika dia milih kamu, maka aku akan berusaha berbahagia untuknya.” Aku masuk meninggalkannya duduk seorang diri di lorong itu.
Sejujurnya setelah melontarkan kalimat tadi, aku merasa bebanku terangkat seluruhnya, apapun itu.
Hari berlalu dengan hal-hal sama lainnya, kondisi Om Tyo semakin membaik. Penampilan terakhir kami besok suda dapat dipastikan. Semua persiapan sudah siap termasuk lagu ciptaanku sendiri.
Mutia? Seperti kata-katanya dia terlihat berjuang untuk mendapatkan hati Medi kembali yang dia yakini masih sama seperti dulu. Sebenarnya aku juga sama sepertinya yakin kalau masih ada Mutia di hatinya tapi aku dilarang untuk berpikiran aneh-aneh hingga waktu yang belum ditentukan. Tapi dia berjanji akan secepatnya.
Saat latihan pun begitu, kini Mutia terlihat sedang berusaha keras merebut perhatian Medi.
“And now your song is on repeat
And I'm dancin' on to your heartbeat
And when you're gone, I feel incomplete
So if you want the truth
I just wanna be part of your symphony
Will you hold me tight and not let go?
Symphony
Like a love song on the radio
Will you hold me tight and not let go?”
(Symphony _ Clean Bandit)
Aku bersenandung seusai latihan. Latihan kali ini tidak terlalu lama karena kami hanya membawakan lima buah lagu termasuk laguku nanti. Karena penampilan ini merupakan penampilan tambahan yang diminta oleh Momo.
“Kan, nanti balik makan dulu yuk,” ajak Gilang mendekat . Aku merasakan tatapan seseorang yang terasa setajam pisau. Aku hanya mengulas senyum ke arah Gilang.
“Nggak deh, Lang, nyokap nunggu di rumah katanya tadi abang aku beliin makan malam. Next time yah,” aku menolak dengan halus dan aku tidak berbohong, baru saja Ibu mengirim pesan agar aku tidak makan di luar karena Bang Rizal tadi mampir dan membawakan sate.
“Oke …” ucapnya lagi.
Sesampainya di rumah dan selesai makan serta beres-beres bersiap akan tidur setelah membaca sebuah buku lama berjudul Hujan Matahari karya Kurniawan Gunadi, aku bersiap untuk tidur. Lalu sebuah pesan masuk.
“Jangan senyum begitu sama cowok lain!” aku membaca pesan dengan raut kesal. Dia benar-benar menyebalkan tapi aku suka.
“Mumpung masih boleh.” Begitu balasku atas pesannya. Dia mengirim emoticon marah aku hanya tertawa.
“Apa urusan dengan Mutia sudah selesai?” Aku sedikit ragu, berulang kali aku mengetik pesan ini lalu ku hapus kembali.
“Sudah. Besok kita bahas, good night, Elsa.”
Jarang sekali dai semanis ini biasanya juga memanggilku alien nyasar atau apalah untuk membuatku kesal.
“Good night, Jack.”
Pada hari terakhir ini, Ibu, Ayah dan seluruh anggota keluargaku ikut datang untuk menonton. Tampak Ibu dan Mamanya Dira asyik bercengkrama. Saat asyik bersenda gurau, Medi menghampiriku.
“Ini yang namanya Medi?” tanya Kak Asti aku membulatkan mataku. Ibu tampak antusias ketika tahu.
“Perkenalkan, saya Medi Hardika yang sering antar jemput Kana,” Medi memperkenalkan diri.
“Kalau Bapak sih sudah kenal,” sahut Bapak menepuk pundak Medi, dia hanya tersenyum.
Di tempat keluargaku duduk juga ada keluarga Dira, Eve, Gina dan Maya.
“Jadi .... teman?” tanya Bang Rizal tiba-tiba, apa-apaan ini. Aku tidak percaya Abangku ini bertanya demikian pada pria yang baru saja memperkenalkan dirinya, tentu saja teman, iya kan.
Medi tersenyum, “Saya serius sama Kana, Bang.”
🎵🎵🎵🎵🎵🎵
*You,
look like the moon in the dark night
Shining every corner in the deepest recesses of my heart
You,
look like a sparkling light of fireworks in the dark night,
giving me colourfull touch in my life.
You,
Yeah … you are really precious to me
*Baby, Don’t be sorry
You are the Only
You are the love in february
You
are the protagonist in my every story
You are my every love song in my lyrics and poem
You,
Yeah … you are really precious to me
*And baby, don’t be sorry
You are the Only
The one I’m gonna marry…
(**YMELS – Kana Santika***)
Pada akhirnya lagu patah hati ini tetap menjadi lagu cinta untuk dia. Dia yang selalu menjadi tokoh utama dari ceritaku. Dia adalah setiap melodi dalam lagu cintaku.
Pria animasi yang aku cintai, Medi.