
Can I tell you something just between you and me?
When I hear your voice, I know I'm finally free
Every single word is perfect as it can be
And I need you here with me
When you lift me up, I know that I'll never fall
I can speak to you by saying nothing at all
Every single time, I find it harder to breathe
'Cause I need you here with me
Every day
You're saying the words that I want you to say
There's a pain in my heart and it won't go away
Now I know I'm falling in deep
'Cause I need you here with me
Every day
You're saying the words that I want you to say
There's a pain in my heart and it won't go away
Now I know I'm falling in deep
'Cause I need you here with me
I think I see your face in every place that I go
I try to hide it, but I know that it's gonna show
Every single night, I find it harder to sleep
'Cause I need you here with me (Marshmallow)
Susana pagi di area ini sangat ramai, padahal hari ini adalah hari libur tapi pukul 7 sudah penuh dengan orang-orang yang berniat olah raga atau sekedar jalan-jalan sambil menikmati jajanan lokal.
Walaupun masih tergolong pagi, tapi hari ini sangat cerah, langit biru, awan putih lengkap dengan sinar mentari yang menyilaukan. Kami berjalan beriringan. Tinggiku hanya sampai sebahu Medi, pria ini memang tinggi aku pikir tingginya kira-kira sekitar 183 cm lebih.
“WOOOH, apa-apaan ini!” seru Dira ketika melihat kedatanganku. Aku hanya bisa tertawa melihat reaksi berlebihan Dira.
“Kok nggak gabung sama yang jualan buku?” tanyaku pada Dira yang baru saja selesai melayani pembeli.
“Tadi nggak ada yang kosong, minggu depan udah disediain sih buat dua tempat gitu,” ucapnya lagi.
“Aku mau nyamperin Eve sebentar,” ucapku kemudian.
“Kenapa gitu?” tanya Medi cepat dengan wajah bingung.
“Dia cuma bentar, iya kan, Kana. Udah buruan sana cepat balik ke sini lagi. Lu di sini sama gue.” Dira membulatkan matanya ke arah Medi yang mengangkat kedua bahunya masih tidak mengerti. Kemudian aku mulai berjalan menuju lapak Eve dan teman-teman lain yang sedang berjualan buku-buku.
Dari kejauhan aku sudah meliat gadis yang mengenakan celana khaki dan kaos polos berwarna cokelat tua. Gina juga ada di sana.
“Hei, satenya uda?” ucap Eve ketika melihatku datang. Eve memelukku dan mengajakku lebi mendekat lagi.
“Hai Gin,” sapaku.
“Hei, mana Medi?” tanyanya langsung. Waw!
“Kok nanya Medi?” tanya Eve yang bingung.
“Loh, kamu ke sini sama Medi kan? Soalnya tadi malam aku ngajakin buat ikut ke sini, tapi dia bilang mau pergi sama kamu, Kan. Gitu Eve.” Dia merapikan rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai indah. Aku rindu rambut panjangku.
“Oh, iya ada tuh di tempat Dira.” Aku menghindari menatap mana Gina.
“Tenang Eve aku sama Medi udah Putus kok. Kita pisah baik-baik. Oh iya, gue peringatin lu ya, Kan. Medi itu nggak seperti yang kamu pikirkan,” ucapnya penuh tanda tanya dan misterius membuat Eve membulatkan matanya yang memang sudah besar itu.
“Maksudnya?” tanyaku penasaran, dia tidak seperti yang aku pikirkan? Apa dia benar-benar tokoh animasi? Atau dia alien yang sedang menyamar? Atau gimana?
“Dia itu sedikit ‘nakal’,” ucap Gina mengedipkan sebelah matanya misterius.
“Nakal gimana?” tanyaku lagi tambah penasaran.
“Nggak gimana-gimana!” suara berat itu mengejutkan kami bertiga yang sedang asyik membicarakan Medi.
“Kok ke sini?” tanyaku kepadanya.
“Lama!” jawabnya ketus.
“Lagi ngobrolin apaa sih, pake nakal-nakal segala. Kalo gue uda kenal ni anak luar dalem, kalau mau konsul, biayanya murah kok!” ucap Dira dengan nada yang dibuat-buat membuat kami semua tertawa. Tentu saja Dira mengenal Medi sejak mereka kanak-kanak, Medi suda seperti adik laki-laki untuknya. Dira memiliki 2 orang adik dan seorang kakak yang sudah menikah dan tinggal di luar kota. Adik bungsunya yang laki-laki adalah sahabat Medi yang sekarang sedang bekerja di luar kota juga.
“Eh, gue belum makan nih, bisa ditinggal nggak lapak kalian, yuk makan dulu,” ajak Dira.
“Bukannya Kana sama Medi uda makan?” tanya Gina. Aku mengangguk.
“Gue ngikut aja, kalau dia pasti makan lagi.” Medi menyeringai puas memandangku yang sudah memasang wajah masa bodoh. Tawa keluar dari suara Dira yang melengking.
“Bagus deh lu udah mulai paham dia, Med.” Masih dengan tawanya yang menggelegar itu. Dira aja nggak tau atau sudah tau kalau Medi sekarang masuk daftar manusia yang tidak bisa aku ajak berpura-pura. Karena dia dapat melihat jelas ke dalam diriku. Aku mulai merasakan hal itu. Dia mengetahui tentangku.
Akhirnya kami pergi makan tidak jauh dari lapak jualan buku Eve dan timnya. Aku memilih menu mie sagu yang porsinya tidak terlalu banyak. Ternyata porsinya sangat sedikit, napsu makan yang besar ini memang membuatku terlihat aneh. Karena memiliki tubuh yang kurus tetapi terkenal dengan porsi makan yang tidak main-main. Dulu aku sempat ikut lomba makan cepat ramen dengan porsi sangat besar di pembukaan sebuah resto jepang di Pontianak. Awalnya banyak yang meremehkan aku, tapi nyatanya ku menang juara dua. Luar biasa bukan? Itu pencapaian yang cukup hebat.
Medi tiba-tiba menyodorkan mangkuknya yang masih penuh dengan mie sagu goreng. Aku menatapnya yang berada di depanku.
“Habiskan!” ucapnya setengah memerintah. Aku mengerucutkan bibir.
“Nanti aku beliin buku, satu.” Aku benar-benar tidak tahan untuk tidak tertawa. Medi benar-benar memperlakukan aku seperti adik kecilnya yang harus selalu dia perhatikan dan beri umpan agar mau mengerjakan yang dia mau. Namun, aku rasa tidak masalah, apapun tidak masalah sekarang asal kami baik-baik saja saat ini.
Aku menarik mangkuk berisi mie sagu goreng yang baru dia makan sekitar empat suap saja itu. Mungkin yang lain tidak memperhatikan karena sepertinya mereka sedang asyik membicarakan jenis-jenis pembeli yang membeli barang jualan mereka. Banyak jenis pembeli yang mereka hadapi.
Sekali lagi, apa pun kita aku tidak akan mempermasalahkannya sekarang. Selama kita baik-baik saja. Selama kamu tetap seperti ini. Bercerita, bercanda dan saling mengejek satu dengan yang lain. Kehangatan yang sangat aku sukai ini, jangan cepat berlalu. Kamu sangat berharga untukku.