You My Every Love Song

You My Every Love Song
Best Friends



***Let’s not fall in love, we don’t know each other very well yet


Actually, I’m a little scared, I’m sorry


Let’s not make promises, you never know when tomorrow comes


But I really mean it when I say I like you


Don’t ask me anything


I can’t give you an answer


We’re so happy as we are right now


Don’t try to have me


Let’s just stay like this


You’re making it more painful, why?


Goodbyes after our frequent meet-ups


Repetition of broken hearts


I can’t find a purpose in these foolish feelings


A mistake with the mask of love


All the feelings are the same now


But in this moment, I want you to stay


(Big Bang***)


2019, Pupus


“Kita nge-cover lagunya, one soot aja yuk, nggak usah pakai edit,” ajakku.


“Boleh, mau lagu apa jadinya?” tanya Eve pagi itu di rumahnya. Pukul 7 pagi aku sudah bertamu di rumahnya untuk melakukan rutinitas kami mengcover lagu. Untuk Eve ini adalah aktifitas menyenangkan, dan untukku juga menyenangkan karena melakukannya dengan sahabat.


“Pupus-Dewa,” ucapku singkat. Dia menatapku dan aku menatapnya. Kami saling menatap lama.


“Oke!” jawabnya singkat.


Kami memulai persiapan dengan singkat. Rekamannya harus sukses dengan sekali ambil karena akan kami unggah mentah tanpa edit tanpa filter.


“Setelah selesai, sebelum ke rumah Dira temanin ke salon dulu ya,” pintaku.


“Ngapain?”


“Nanti juga tahu,” aku mengedipkan mata menggoda sahabatku itu.


‘Aku persembahkan hidupku untukmu


Telah ku relakan hatiku padamu


Namun kau masih bisu diam seribu bahasa


Dan hati kecilku bicara ~~


Baru ku sadari cintaku bertepuk sebelah tangan


Kau buat remuk seluruh hatiku


Hmmm ~~ ‘


(pupus)


“Gila sih, kalau Dira lihat bisa di bakar hidup-hidup lo!” ucap Evalia ketika melihat perubahan drastis yang aku lakukan pada diriku. Matanya bergetar tidak percaya sedangkan aku merasa puas dengan hasil karya ini. Aku terlahir kembali. Luka atas patah hati itu sudah hilang bersama perubahan yang terjadi padaku. Kana Santika yang baru. Aku tersenyum menatap pantulan diri di cermin.


Ketika hampir sampai, aku melihat motor Medi terparkir di sana. Aku melihat mereka. Medi dan Gina yang suda resmi berpacaran.


“Sial, kenapa harus ketemu sih!” Eve mewakiliku memaki situasi yang tengah kami hadapi saat ini.


Eve sudah berdiri di depan pintu dan aku mengikutinya dari belakang.


“ASTAGA KANAA!!!” pekiknya menggelegar membuat Tante yang berada di ruang tengah langsung keluar karena terkejut, anak gadisnya itu berteriak di tengah hari yang panas itu. Aku menatap Eve.


“Ya Ampun, Kana! Ke mana perginya rambut panjang kamu yang bagus itu, Nak?” Tante muncul setelah teriakan putrinya tadi langsung berjalan ke arah ku dan membalik-balik tubuhku seakan tidak percaya.


Ah, di sana ada Medi dan Gina juga yang tampak terkejut entah terkejut karena penampilan baruku atau terkejut karena teriakan Dira yang serupa singa itu. Dira masih shock, mematung di sana, tampak Eve mencoba membuatnya tenang dengan menepuk pelan punggungnya. Aku menyelipkan rambut ke belakang telingaku.


Rambut panjang hampir sepinggang itu kini tinggal kenangan. Mbak di salon tadi telah melakukan pekerjaan hebat dengan memotongnya hingga sependek ini, sebahuku, lebih pendek sedikit lagi.


Belum sempat sumpah serapah keluar dari mulut Dira tante membawaku masuk ke dalam.


“Persis, tadi gue juga bilang hati-hati nanti dibakar sama Dira,” jawab Evalia.


“Nggapain ke sini, Gin?” tanya Eve kemudian, mencoba mengalihkan kemarahan Dira dan memuaskan rasa penasarannya mungkin.


“Oh, tadi aku mau ngajak Medi nonton Kfest. Trus tiba-tiba inget kalo Dira jual tiket masuknya dan kalian juga pergi, kan?” Aku sungguh tidak paham dengan jalan pikiran Gina.


“Kita nggak mau bareng sama kalian!” tukas Evalia membuatku terkejut.


“Eh, kenapa?” tanya Gina polos.


“Ngapain jalan sama orang yang lagi kasmaran. Kalau kita ketemu di sana ya itu nasib, beda lagi.” Wah, sejak kapan Eve menjadi seperti ini. Terima kasih banyak kawan aku berhutang budi. Entah budi yang ke berapa.


“Hmm, ya udah kita duluan ya sampai ketemu di sana ya,” ucapnya lagi. Semoga tidak bertemu doaku dalam hati.


“Tante, Om, Kana kami pergi ya.” Aku mengangguk ketika pandangan mata kami bertemu.


“Oh iya, hati-hati ya Med.”


Keluarga Medi dan keluarga Dira lumayan dekat. Menurut Dira, waktu Medi dan adik perempuannya masih kecil mereka selalu di titipkan ke rumah Dira karena kedua orang tuanya adalah seorang Dosen. Rumah mereka juga hanya berbeda satu blok.


“Kita jadi pergi, heiii alien jelek!” ujar Dira seraya melingkarkan lengannya ke leher ku.


“Sakit, singaaa!” pekikku.


“Diraaa!!” Tante memukul pelan lengannya yang menjepit leherku yang kecil.


“Jadi dong! Kfast ini cuma setahun sekali tahu! Aku mau makan, mau foto, mau masuk rumah hantu, mau lihat cover dance di sana,” ujarku seraya mengerucutkan bibir.


“Iya oke tuan putri. Lo bebas nyuruh gue apa aja hari ini.” Dira masuk ke kamarnya. “Ih masih sebel gue sama rambut pendeknya itu!” ujarnya sambil lalu. Aku hanya tersenyum.


Tuhan, terima kasih sudah mengirim dua makhluk ajaib ini di kehidupan aku. Mereka adalah kakak perempuan, teman debat, teman makan, teman berbagi mimpi dan sahabat.


Tiba di tempat acara kami langsung bertemu dengan Rio dan Utami yang menjadi MC di acara cover song and dance. Mereka tengah beristirahat dan akan mulai lagi dalam 30 menit. Padahal bertemu Utami hanya pada saat di acara Panti kemarin. Tapi jika topiknya Kpop dan oppa-oppa tampan, kami akan menjadi saudara sekandung.


Kami melihat kerumunan di tengah tempat acara ternyata ada yang melakukan latihan dance cover, Ko Ko Bop ~ Exo. Tanpa di perintah tubuh ini bergerak sendiri, bersama Utami kami menikmati alunan tempo yang memabukkan. Dira, Eve dan Rio hanya melihat dari belakang kami.


Musiknya berlanjut menjadi sedikit ballad tapi tetap dengan tema dance Vixx~Error. Wah aku suka sekali lagu ini. Secara sadar aku semakin melarutkan diri dalam tempo. Mengikuti gerak para penari yang menghayati setiap gerak.


“Hai!” aku tahu suara siapa itu. Sepertinya itu Gina. Tapi aku tidak peduli masih dengan Utami kami berdansa menggerakan tubuh kami mengikuti alunan musik. Kami menjadi tergila-gila dengan lagu ini.


“Itu Kana?” tanya Gina. Aku masih bisa mendengar suaranya. Tolong jangan urusi aku. Pacaran saja kalian berdua.


“Sumpah asyik banget. Ayo kita maju!” Utami menarik tanganku dan kami maju bersama ke depan di mana sudah banyak orang yang berdansa. Aku mengikutinya, melihat ke belakang. Ada Medi dengan wajah datar nya itu, masih tampan seperti tokoh dalam animasi. Aku melambaikan tangan ke arah Dira dan Eve. Dira hanya mengangguk saja. Sedangkan Eve tersenyum. Mereka sudah biasa dengan tingkah random sahabatnya ini.


Rambut pendek ku bergerak mengikuti gerak tubuh yang acak. Biarkan aku melupakan sejenak tentang kamu.


Setelah lagu selesai di putar aku kembali pada kedua sahabatku. Gina dan Medi masih di sana.


“Seruu!!” ujar Utami ketika kami mendekat.


“Keliatan anak party banget sih,” ucap Rio tertawa.


“Bukan wee, kita anak Kpop…” seru Utami sekali lagi di sambut gelak tawa semua orang. Kecuali Medi. Sedari di rumah Dira aku menghindari sorot matanya yang kecil itu. Aku takut memandangnya. Takut dengan pendapatnya tentang sebuah kata ‘mungkin’ yang terlanjur terucap dari lidah Gina yang tak beretika.


“Laper!”


“Super random, ya udah hayuk kita cari makan.” Eve memeluk lenganku dan mulai berjalan mencari makanan. Tidak tahu apa motifnya, kenapa Gina masih mengikuti kami. Apa yang hendak dia buktikan sebenarnya.


Kami memilih sebuah stand makanan yang menyediakan tempat duduk dan meja. Segera setelah memesan dan bayar kami duduk dengan manis. Lagi-lagi aku terheran-heran, nasib apa yang tengah bermain denganku. Medi duduk tepat di hadapanku. Kali ini bagaimana aku menghindarinya.


“Aku nggak nyangka lo, Kana suka dance,” ucap Gina tiba-tiba.


“Aku suka Kpop!” jawabku.


“Jepang suka juga nggak, Medi doyan banget animasi,” aku rasa dia sengaja mengucapkan kalimat ini. Mau tidak mau aku melihat ke arah orang yang sedang jadi topik pembicaraan.


“SAO, OP, apalagi?” tanyaku berusaha sesantai mungkin.


“AOT, Naruto…” ucapnya singkat. Aku tertawa kecil.


“Aku nggak suka lo SAO itu.” Tuhan aku terkejut dengan lidahku yang tiba-tiba lancar berbicara apa ini kekuatan dari Bulan.


“Kenapa gitu?” alisnya yang tebal itu bertemu.


“Nggak suka Asuna, jangan tanya kenapa, aku nggak tau!’ ucapku lagi, ada senyum di sana. Medi menggeleng pelan dan tersenyum.


Apa aku sudah membuat kedua sahabatku bangga karena mampu bersikap biasa saja. Ini pasti gara-gara aku memotong rambutku.


Kami berbicara dengan normal seperti biasanya. Aku tertawa seperti biasa tidak berusaha menjaga image apapun. Makan dengan no lady manner yang selalu berhasil membuat mata Dira seakan keluar dari tempatnya.


Aku Kana Santika, aku baik-baik saja ternyata setelah patah hati sekali lagi, aku masih mampu untuk hidup.