You My Every Love Song

You My Every Love Song
Bad Liar



***Oh, hush, my dear, it's been a difficult year


And terrors don't prey on


Innocent victims


Trust me, darling, trust me darling


It's been a loveless year


I'm a man of three fears


Integrity, faith and


Crocodile tears


Trust me, darling, trust me, darling


So look me in the eyes


Tell me what you see


Perfect paradise


Tearing at the seams


I wish I could escape


I don't wanna fake it


Wish I could erase it


Make your heart believe


But I'm a bad liar, bad liar


Now you know


Now you know


That I'm a bad liar, bad liar


Now you know, you're free to go (go)


(Imagine Dragon***)


2019, Fake smile


Langit abu-abu. Suasana mendung ini begitu rapuh. Hari ini aku kembali pulang tepat waktu. Seperti biasa, setelah pulang aku akan mandi dan masuk ke dalam kamar. Keluar hanya untuk minum atau pergi ke toilet. Ibu atau Ayah tidak akan bersusah payah mencari kecuali mereka memerlukanku.


Misalnya, jika ibu tidak masak dia akan menyuruhku untuk membeli makanan untuk santap sore atau malam. Bukan untukku tapi untuk Bang Ruzi dan istrinya. Jika seperti itu aku harus sadar diri dan membeli makanan untuk diriku sendiri.


Langit abu-abu selalu membuat hati menjadi pilu. Atau hanya aku yang merasakannya.


Walau aku berusaha menghalau semua pikirian negatif tentang kedekatan Gina dan Medi. Aku tetap saja terpaksa memikirkan hal itu.


“Nggak akan secepat itulah mereka kenal lalu jadian. Pasti butuh proses. Aku rasa Medi orang yang serius jika menyangkut tentang suatu hubungan. Yah, aku merasa gitu.” Aku berbicara dengan ponselku. Oke mungkin sekarang aku sudah pada tahap sedikit gila.


Aku membuka aplikasi Instagraku dan membuat story iseng, di mana aku merekam sebuah vas kaca dengan bunga plastik berwarna ungu dan suaraku yang menyanyi.


“*bogo sipjiman gakkai gal su eopseo ijen geudae gyeoteul tteonagaya hae


(I miss you but I can’t get closer to you, we need to part ways now)


oerowosseodeon naui memareun geu du nune keugo ttatteuthan sarangeul jueodeon


(You who brought me such an immense warm love for my lonely world and dried eyes)


geudae gyeoteul ije tteonaneun geoseul huhoehaljido moreujiman geudael saranghagi ttaemuniya


(Though I might regret leaving you, it’s because I love you that I do)


geudaemaneul saranghaneun geol ijeul suneun eopsjiman seulpeum soge geudael jiwoyaman hae


(I can’t forget my love for you, but I need to get rid of you and my sadness*)”


Wendy because I Love You


Setelah berhasil mengunggahnya, aku membuka sebuah situs baca online gratis. Dan mulai membaca.


Bagus. (@M_Hardika)


Aku terlonjak dan membenarkan posisi duduk ku. Aku melihat isi pesan yang masuk melalui dm instagramku.


*Hehehe, thanks. \(jawabku singkat*\)


Pasti waktu ngebales wajahnya datar, nggak lagi cengar cengir. (@M_Hardika)


*Kok tau, peramal? \(balasku*\)


*Kamu suka kpop? (@M_Hardika)


Suka. Aku kan ELF dan LOVE \(balasku*\)


*Apaan tuh? (@M_Hardika)


Nama fandom BB sana \(balasku\)


Jepang suka? (@M_Hardika)


Anime, Jpop lumayan tapi cuma tau YUI, One Ok Rock, sama L’arc en Ciel \(balasku\)


Wuih, OP / SAO / AOT apalagi ya? (@M_Hardika*)


*Wah suka anime juga. OP aku suka aku cinta mati sama Luffy. Haikyuu, Kuroko, Tokyo Ghoul \(balasku*\)


Lama tidak ada balasan dari Medi. Sepertinya sudah tidak online lagi. Menatap percakapan random kami saja sudah bikin aku senyum-senyum sendiri. Oke bentar lagi beneran gila. Aku kembali menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur ku yang empuk. Begini saja sudah puas.


Apa iya?


Hari-hari berjalan tanpa drama berarti. Aktifitas bekerja di kantor cenderung kondusif. Masih dengan agenda pulang tepat waktu kadang sedikit terlambat tapi mereka para marketing atau SPV akan meminta izin kepada Pak Har atau aku. Jika kami setuju maka akan kami tunggu tapi tidak hingga malam hari paling lama pukul 5 sore.


Sabtu ini aku akan bertemu dengan the girls. Aku, Dira dan Eve sepertinya Gina mau ikutan katanya ada yang mau dia bicarakan. Aku penasaran. Apakah tentang kedekatannya dengan Medi.


Entahlah.


Aku dan Dira sudah duduk menikmati minuman dan makanan kecil kami. Wanita yang mengikat rambut keriting merah burgundynya itu tampak benar-benar seksi. Bibir merah senada dengan warna rambut di bibirnya yang penuh. Mengenakan kaos ketat lengan panjang berwarna ungu tua dan celana jeans sobek di bagian lututnya. Sedangkan aku santai, membiarkan rambut panjangku terurai hanya ada jepit berwarna hitam sekedar sebagai hiasan. Celana khaki dan baju berwarna hijau army lengan panjang yang kebesaran. Aku suka sekali menggunakan baju oversize. Dapat menyembunyikan tubuh kurusku.


Eve datang bersama Gina. Eve masuk dan memelukku dan Dira bergantian, kemudian memesan makanan dan ikut duduk bergabung dengan kami.


“Jadi?” tanya Dira tanpa basa basi.


“Oh itu. Gini. Ini pertanyaan buat Kana sih. Sorry ya Kan, aku mau nanya boleh ya,” tanya Gina berbelit belit.


“Apaan sih, bikin penasaran aja.” Tumben sekali Eve dengan mata bulat besarnya itu terlihat tidak sabar. Dia antar kami bertiga Eve adalah yang paling kalem. Dia bagaikan air di gurun pasir yang tandus. Aku pasirnya dan Dira adalah hawa panasnya.


“Kamu suka sama Medi?” tanyanya di sambut HAH oleh Dira dan Eve yang seolah tak percaya dengan pertanyaan barusan.


“Memangnya kenapa?” tanyaku cepat sebelum Dira melontarkan kalimat tanya lainnya.


“Iya memangnya kenapa?” tambah Evalia yang duduk di samping Gina. Kini posisinya tidak lagi menghadap Dira tetapi menghadap Gina.


“Aku beberapa hari yang lalu … nembak Medi!” ucapnya. Kali ini tidak kata Hah terlontar dari mulut Dira dan Eve yang sekarang terperangah dalam diam.


“Terus?” aku berusaha setenang mungkin. Sejujurnya skenario ini suda pernah terlintas di dalam otakku tapi tidak menyangka secepat ini.


“Ya, kemarin aku bilang aku suka sama Medi, lalu … aku bilang ‘mungkin' Kana juga suka sama kamu Med’, gitu.” Oke bagaimana aku harus bereaksi atas pernyataannya barusan. Sebuah kalimat di luar skenario ku.


“What!” Dira dan Eve serempak seakan mewakili apa yang tengah aku rasakan saat ini.


“Tenang guys, kan aku bilangnya baru mungkin,” ucapnya tanpa merasa ada yang salah dengan kalimat yang dia lontarkan. Aku hanya dapat tersandar.


“Gina, kata - Mungkin, misalnya, siapa tahu atau apalah istilahnya itu. Kamu nggak punya hak bicara seperti itu ke Medi atau siapapun. Itu privasi! Kita ini bukan abg lagi yah. Masa seperti itu aja masih nggak masuk di otak kamu. Etikanya di mana, Gin!” sedikit terkejut kalimat yang Eve lontarkan tidak ada nada yang berlebihan di sana tapi penekanan terhadap beberapa kata dan raut wajah seriusnya membuatnya tampak menyeramkan juga. Dira mengangguk kuat membenarkan perkataan Eve barusan. Gina diam, aku diam.


“Lalu Medi bilang apa?” tanya Dira kemudian.


“Yah aku bilang, kita coba jalani aja dulu untuk saling mengenal lebih dekat.” Gina memandangku yang juga sedang menatapnya.


Mungkin Gina tidak tahu, hanya sedikit orang yang bisa membaca mimik wajah dan isi otakku yang abstrak. Dua di antaranya sedang berada bersamaku saat ini. Selain beberapa orang ini, memasang wajah seperti tidak terjadi apa-apa adalah hal mudah. Aku terbiasa melakukannya baik itu di rumah atau di kantor.


Poker face, aku ahlinya.


Tapi untuk berbohong aku adalah pembohong yang buruk. Maka dari itu akan lebih baik aku diam dan memasang wajah seperti ini. Agar tidak ada siapa-siapa yang menyakiti diriku.


“Dan Medi setuju!” kalimat terakhir itu membuat bibir ku melengkung ke atas sedikit. Aku tersenyum. Senyum adalah pertahanan diri paling baik untukku


Aku sudah mengantisipasi jenis patah hati seperti ini, tapi mengapa dada ini tiba-tiba sesak. Tenggorokan ini panas, dan kepalaku mendadak pusing. Aku mual..