You My Every Love Song

You My Every Love Song
This Feeling



Musik dari The Chainsmokers***


2019, Panti Sosial Anggrek


Aku menyiapkan segala sesuatu yang dapat aku kerjakan di sini. Semua orang yang berada di ruangan berukuran 10 x 6 meter ini tampak menikmati peran, tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Di depan, di atas panggung kecil itu sudah ada Rio dan Utami yang memimpin acara. Terlihat tawa cerah tulus yang terpancar dari wajah para Kakek dan Nenek. Aku melihat Dira yang tampak terharu menikmati moment itu. Aku tersenyum dari tempatku berdiri bersama sederetan gelas yang sudah berisi minuman untuk mereka, sang tamu acara.


Eve dan Gina tampak bergabung dengan Anggun dan Jimi yang mendampingi para orang tua itu. Sedangkan yang lain ada yang bersama tim medis yang datang. Merekam semua kejadian dalam agenda rutin ini.


“Ini Boleh diminum, gila panas banget di luar!” aku terkesiap, suara beratnya membuat jantung berdetak lebih keras. Matanya yang kecil tapi teduh. Tubuh tingginya yang tegap dengan belahan rambut di tengah. Apa dia tokoh animasi yang keluar dari dalam manga?


“Kana! Aku lo nanya sama kamu bukan sama cicak di dinding!” tegurnya lagi mendapati aku melamun.


“Heee, boleh kok boleh, minum aja,” ucapku cepat menanggapi. Untung dia bilang cicak di dinding bukan arca.


“Seneng ya, tawa mereka seperti ini saja sudah membuat kita bersyukur beribu kali lipat. Oh iya ini pertama kali kamu ikut acara ini kan?” tanya si pria animasi itu kepadaku. Tidak bisakah dia setela minum pergi dan melakukan kegiatannya yang lain. Jangan di sini terlalu lama. Kamu terlalu indah seperti bulan di langit malam yang gelap. Yah, aku langit malam yang gelap itu.


“Iya yah, kadang suka nggak tau diri jadi manusia. Suka banget lupa bersyukur,” ucapku asal. Aku tidak sadar awalnya dia menatapku setelah kalimat itu terlontar. Tiba-tiba tengkukku meremang, bukan karena ruangan ini horor tapi karena aku sadar dia sedang menatapku dari jarak sedekat itu.


Aku lupa kapan kami pertama kali bertemu. Yang jelas dulu dia tidak setampan ini. Apa karena dulu saat pertama kali bertemu dia baru saja bangun dari tidur dengan rambut yang berantakan dan kaos kusut yang melekat dalam ingatanku. Tidak juga. Setelah pertemuan pertama itu kami masih sering bertemu, memang hanya sebentar-sebentar saja tapi tidak pernah secerah ini. Dia jarang sekali menunjukan senyum sehangat senja itu. Tapi baru saja dia tunjukan, bukan untukku tapi untuk seorang kakek yang menghampirinya. Kakek yang baru saja datang dari dalam asrama untuk bergabung bersama kami di sini. Dengan senyum sehangat senja itu, dia menuntun sang Kakek. Hangat.


Padahal ini hari liburku, kenapa langit harus semendung ini. Aku memandangi dia yang sedang bercengkrama dengan beberapa temannya dan temanku. Aku bersandar pada mobil merah Dira. Menatapnya diam-diam.


“Don’t you dare, Kana. Don’t!” gumamku.


“Yuk, balik!” Dira memang yang terbaik, menyelamatkan diri ini dari kecanduan menikmati tubuh dan wajah pria animasi itu. Kini kepalaku penuh dengan gambaran dirinya.


“Laper nih gue, makan dulu ya.” Dira mulai menyalakan mesin mobilnya. Dira menurunkan kaca mobilnya dan berteriak. Pengeras suara di mesjid manapun akan kalah dengan lengkingan suara si rambut merah burgundy ini.


“Med!! Ikut gue aja hayuk!” perintahnya. Jantungku apakah dia masih berdetak. Aku pikir si kribo ini telah menyelamatkan nyawaku.


“Tapi gue makan dulu!” tambah gadis di sampingku ini. Pria animasi itu melihat ke arahku.


“Oke, aku ikut!” sahutnya cepat dan membuka pintu mobil dan sudah duduk dengan manis di sana.


“Eve … Gin … duluan ya thank you for today. See you lusa!” Dira pamit, aku melambaikan tangan dari dalam mobil.


Bagaimana jika saling memberi love di dunia nyata, Med!


Kami berhenti di sebuah tempat makan yang lumayan ramai pengunjung. Dengan nuansa hijau-hijau yang menambah selera makanmu. Dira selesai memesan makanan, begitu pula dengan Medi dan aku.


“Gimana, Kan? Asyik kan acara seperti tadi. Banyak yang bakal lo dapat hanya dengan sedikit usaha yang lo lakukan.” Aku tahu usaha seperti apa yang Dira lakukan untuk memberi yang terbaik. Aku melihatnya jungkir balik mengumpulkan dana demi memberi yang terbaik untuk mereka di panti sosial itu. Dia berbohong jika bilang usaha yang dia lakukan kecil. Tapi yah, hasil yang di dapat tidak bisa kita bandingkan.


Aku merespon hanya dengan senyum dan anggukan karena makananku sudah ada di depan mata. Dira hanya bisa menggeleng pelan.


“Kana … Kana lo tuh bener-bener alien deh. Dari planet mana sih?” ucap Dira membuatku membulatkan mataku. Apa dia sedang mencoba melucu atau bagaimana. Tidak bisa dia menahan lidahnya yang tajam itu untuk tidak menyebutku ‘alien’, setidaknya jangan sekarang, saat Medi ada di sekitarku.


“Image lo sebagai, lady tuh mana hah? Ini lo ada cowok tampan di depan lo. Makannya yang anggun dikit kenapa sih.” Ya Tuhan, aku hampir mati tersedak dibuatnya. Cepatku seruput es jeruk kecil, untuk mendinginkan otak, hati dan tenggorokan yang tiba-tiba panas karena semburan api yang tak kasat mata yang keluar dari lidah Dira yang terkenal tajam itu. Aku kemudian melirik pria jangkung dengan mata kecil di depanku yang sudah tersenyum kecil, hampir tertawa. Aku mimpi! Tuhan jangan bangunkan aku sekarang, tolong!


Hari ini benar-benar sempurna. Minggu terbaik selama dua tahun terakhir. Dengan kebahagiaan sederhana hari ini aku bisa melanjutkan hidupku untuk beberapa tahun ke depan.


Aku menghempaskan tubuhku di kasur Dira yang empuk.


“Tidur sini?” tanyanya.


“Besok kerja, repot.” Aku membuka ponsel sekali lagi untuk mengecek video terakhir yang aku upload beberapa menit yang lalu. Video cover lagu bersama Eve yang kami lakukan beberapa hari yang lalu. Hanya cuplikan, karena video fullnya sudah aku unggah juga ke cannel Youtube Kami. Lagunya cocok untuk suasana hatiku saat ini. Membuatku senyum-senyum sendiri.


“Cause with you


My life seems brighter and these


are all the things


I wanna say...”


“Kentara banget deh lo, Kan!” Dira berdiri dengan tangan di pinggang. Rambut keriting itu di biarkan begitu saja.


“Maksudnya?” tanyaku heran. Alisku bertemu, aku yakin itu.


“Lo, suka kan sama Medi! Pertama dia tipe lo banget secara visual. Tinggi – putih – mata sipit. Ngaku!” perintahnya. Aku hanya mampu mengedipkan mata berharap bangun dari mimpi sekarang juga.