You My Every Love Song

You My Every Love Song
Comethru



I might lose my mind


Waking when the sun's down


Riding all these highs


Waiting for the comedown


Walk these streets with me


I'm doing decently


Just glad that I can breathe, yeah


I'm trying to realize


It's alright to not be fine on your own


Now I'm shaking, drinking all this coffee


These last few weeks have been exhausting


I'm lost in my imagination


And there's one thing that I need from you


Can you come through, through


Through, yeah


And there's one thing that I need from you


Can you come through?


Ain't got much to do


Too old for my hometown


Went to bed at noon


Couldn't put my phone down


Scrolling patiently


It's all the same to me


Just faces on a screen, yeah


I'm trying to realize


It's alright to not be fine on your own … (Jeremy zucker)


Setelah sukses membawakan empat lagu kami tidak langsung pulang melainkan membahas sisa keseruan tadi. Moment langka yang belum tentu bisa terulang lagi nanti. Aku menghampiri teman-temanku yang lain yang juga ikut datang. Duduk dan ngobrol bersama mereka. Tiba-tiba pundakku ditepuk dari belakang yang otomatis membuatku melihat.


“Yuk,” ajak Medi.


“Oh, ya. Oke!” jawabku kelabakan karena terkejut.


“Aku pamit duluan ya ke sana. Makasih udah datang. Minggu depan datang lagi ya ..” ucapku pamit dengan teman-temanku itu dan mengikuti Medi dari belakang. Punggung yang lebar, tubuh yang tinggi dan wangi, wajah tampan dengan mata kecil dan senyuman sehangat senja yang belakangan ini dapat dengan mudah kutemui.


Aku duduk bergabung dengan teman-teman yang lain, ada Dira, Eve, Jimi, Gilang, Rio, Bang Yuda, dan Gina tentu saja.


“Guys, aku duluan yah, udah malem ni!” ucap Gina pamit saat aku hendak memasukkan pisang goreng keju dengan potongan besar ke dalam mulutku yang kecil itu.


“Oh iya, hati-hati ya, Gin!” jawab Dira dan Gina berlalu pergi. Eve menatap sinis ke arah Dira.


“Nggak boleh gitu!” ucap Eve kemudian.


“Apaan si Eve, lu jangan ngambil alih kemampuan orang buat baca pikiran deh,” ucap Dira sambil terkekeh geli melihat wajah Eve yang terlihat aneh itu. Eve pun tertawa juga, walau aku tidak mengerti apa yang mereka tengah bicarakan. Yang jelas, pisang ini enak sekali.


Medi mengambil selembar tissue dan mengelap bibirku yang penuh dengan keju. Hal ituvtebtu saja menjadi pemandangan aneh buat teman-temanku yang saat ini menatap ke arah kami. Aku, apa yang terjadi padaku. Kenapa Medi melakukan hal itu. Jika dia melakukan hal itu saat Gina masih ada, sudah pasti akan terjadi perang dingin di antara kami. Membayangkannya saja enggan!


Aku menatapnya.


“Pelan-pelan!” ucapnya singkat.


“Aku pulang bareng, Kana. Yang lain ikut Dira yah, motor kamu tinggal rumah Medi aja, Kan. Besok aku bisa jemput lagi pas mau ke rumah Medi,” ujar Bang Yuda dan aku mengangguk-angguk setuju. Medi kembali melempar tatapan misteriusnya, dan aku menanggapinya dengan mengangkat kedua alisku seolah bertanya ‘kenapa?’


“Hati-Hati ya, Bang!” ucap Medi kepada bang Yuda.


“Iya, Med. Gue nyetirnya hati-hati kok. Tenang aja!” tegas bang Yuda.


Dalam perjalanan kami, berbicara tentang minggu depan. Apakah akan bertema atau akan random saja dan mencampurnya dengan request dari follower kami nanti.


“Kita kemarin buat akun khusus Moonlight loh, dan followers nya makin banyak setela malam ini. Ntar, Jimi yang bertugas ngumpulin konten, foto, video dan lain-lain.”


“Wah, asyik banget, Bang. Nanti aku follow!”


Tiba-tiba bang Yuda tertawa renyah.


“Kenapa?” tanyaku bingung.


“Banyak banget tau yang nge-ship kamu sama Medi.” Kembali dia terkekeh.


“Hah, ngeship. Sejak kapan abang tau istilah ini? Lagian apa mereka nggak tau Medi itu udah punya pacar,” ucapku sedikit kesal.


“Loh, kamu belum tau?” tanya bang Yuda misterius.


“Tau apa?”


“Medi sudah putus sama Gina!”


Seperti ada sebuah pohon yang tengah tersambar petir, aku terkejut.


“Hah? Jangan suka bercanda tentang hubungan orang lo. Nggak baik!” ucapku lagi tidak percaya.


“Ya ampun. Bener, dari kemarin malam mereka udah putus, Kan. Gila yah? Baru seminggu kan mereka pacaran?”


“Kanaaa.. jangan melamun!” tegur bang Yuda melihat responku


“Kok mereka putus?” tanyaku tanpa menjawab satupun pertanyaan bang Yuda tadi.


“Katanya sih, hubungan mereka memang baru masa percobaan. Cih, pake masa percobaan segala. Dan akhirnya Gina bilang dia ternyata nggak bisa berhadapan dengan sikap Medi yang keseringan cuek. Gitu!” jelas bang Yuda kemudian.


Aku memang ingat, ucapan Gina yang mengajak Medi untu mencoba pacaran itu. Tapi ini baru seminggu berlalu. Pantas saja dari tadi dia tidak melekatkan dirinya kepada pacarnya itu. Ups, mantan yah artinya sekarang.


Tuhan, maafkan aku yang sudah jahat ini. Senang karena Medi sekarang jomblo. Jadi sekarang aku bebas menghalukan dirinya. Ah, bodohnya diriku ini. Tanpa sadar aku menoyor kepalaku sendiri membuat bang Yuda kembali tertawa renyah.


“Tenang, aku dukung!” ucap bang yuda yang masih tertawa itu.


“Ihh apaan sih!” sahutku.


Sesampainya di rumah, aku langsung beres-beres dan siap untuk tidur. Malam ini hebat sekali, banyak hal yang terjadi. Ah, sebelum lupa aku harus bertanya tentang kondisi om Tyo ke Maya. Tapi chat ku tidak dibalasnya. Akhirnya ku putuskan untuk chat Medi.


Sudah tidur? Om gimana kondisinya? (aku)


Beberapa detik kemudian pesan dibaca oleh Medi.


Belum. Alhamdulillah udah seger tadi. Thanks rebusan jahe dan buburnya (Medi)


Aku tersenyum senang memandang ponsel dan teringat status Medi saat ini.


Kok belum tidur, Kan? (Medi)


***Ini udah mau tidur, kamu? (aku)


Bentar lagi, mau siapin buat latihan besok biar bang Yuda Nggak bawel. (Medi***)


***Jangan kemalaman ya. Besok kayaknya aku ke sana deh, pagi. Mau ambil motor, pengen makan sate. (aku)


Oh oke. Besok aku jemput aja. Kita sarapan bareng. (Medi***)


Hah, ini gimana maksudnya. Tolak? Apa terima? Kana, dia udah jomblo. Hah, oke aku nyerah!


Oke. Night ❤


Aku melempar ponsel setelah terakhir mengirimkan pesan. Tanda hati itu benar-benar norak, Kana. Kamu bodoh. Kenapa juga harus ditambah emot hati itu. Pokoknya udah. Aku nggak mau lihat balasannya hingga besok pagi.


Pendar cahaya redup memberi harap dari sebuah hati yang tengah kehausan. Aku mau kamu, tapi aku takut kehilangan juga. Jadi lebih baik, jalan mana yang harus aku ambil agar kita tetap baik-baik saja hingga nanti.