
Everything's been so messed up here lately
...
I'm a mess for your love, it ain't new
(Babe Rexha)
Dua Tahun sebelumnya, 2017.
Aku merapatkan jaket jeans yang ku kenakan. Udara malam yang dingin hingga rasanya menusuk ke dalam tulang. Lagi, kulihat jam di tangan, memastikan bahwa benar sekarang sudah pukul 11 malam lebih sedikit. Langit sudah gelap, hanya ada bintang malam ini, benar-benar nggak asyik pikirku. kunaiki si merah menyala yang kusam karena belum ku mandikan selama tiga bulan terakhir.
Ku pandangi gedung tempat aku bekerja belum lama ini. Kira-kira tujuh bulan yang lalu, aku di terima di salah satu perusahaan ternama di kota ini bahkan di seluruh Indonesia. Anak perusahaannya cukup banyak. Awalnya melamar di perusahaan ini dikarenakan salah seorang teman di kampus tidak percaya diri jika harus pergi sendiri untuk menyerahkan surat lamaran. Tidak masuk akal. Dan yah, dia ditolak dan aku diterima.
Ku bunyikan klakson di tengah malam buta itu untuk memberi tanda kepada bapak satpam yang tengah berjaga malam.
“Hati-hati, Mbak,” pekiknya saat itu.
Sudah selarut ini, pekerjaan belum juga selesai. Jika tidak ingat masih punya rumah sudah pasti ku teruskan saja pekerjaan yang tidak mungkin ada habisnya itu. Memang, jam bekerja ku terpotong karena aku harus mengikuti kelas di semester akhir ini. Tinggal beberapa bulan lagi dan aku akan mendapatkan gelar sarjana. Jam kerja yang seharusnya di mulai pukul 8 hingga 4 sore itu bertambah dan membengkak menjadi pukul 11 malam kadang aku pulang awal sekitar pukul 9 malam setelah usai kuliah. Tetap saja, aku sudah lupa bagaimana rasanya terpapar sinar matahari sore lengkap dengan ornamen jingga yang menghiasi langit.
Sesampainya di rumah, seperti biasa tidak ada yang berniat menunggu anak gadis satu-satunya di rumah ini pulang, aku langsung mandi dan siap-siap untuk tidur. Setidaknya aku mengharapkan bisa tidur setelah ari yang panjang ini.
Ku tatap nanar neon yang temaram, besok sepertinya harus ku ganti. Air mataku jatuh dari ujung mata, mengalir membasahi pipiku yang chubby. Ku biarkan rambut panjangku tergerai bebas. Kenapa aku bersedih? Apakah aku terlalu kelelahan setela seharian bekerja dan kuliah? Apa karena pasukan bagian tengah tubuh ini yang protes minta asupan? Atau karena dia? Dia yang dari pagi sudah mengirim pesan via whatspp, minta agar bertemu sebelum bekerja. Dia pacar yang belum tiga bulan ini menjalin kasih. Dia yang aku harap adalah yang terakhir untuk hidupku yang berantakan ini. Dia yang tadi pagi resmi menjadi mantan. Yah mantan.
Pukul 7 pagi.
“Ada apa? Tumben?” tanyaku ketika kulihat dia sudah duduk dengan ponsel di tangannya. Wajahnya biasa saja, sepertinya bukan hal mendesak.
“Kita putus aja!” ucapnya singkat, tapi seakan ada petir yang menyambar di dalam hatiku yang panas dan sebentar lagi terbakar. Aku masih mencoba berpikiran jernih dan bertanya.
“Masih pagi, jangan bercanda.” Kami bahkan belum pernah bertengkar sebelumnya.
“Aku serius! Kamu terlalu baik untuk aku. Dan … itu membuatku tidak nyaman!” ucapnya saat itu. Entah seperti rupa melongo ku, apakah terlihat bodoh saat itu? Aku tidak perduli lagi. Alisku berkerut menyatu, aku kebingungan omong kosong apa yang coba dia jelaskan ini.
“Kamu nggak salah. Sudah aku bilang kamu terlalu baik buat aku dan aku …” Tidak selesai dia mengucapkan kalimat yang sudah aku tahu akhirnya itu, aku berdiri, tidak menatap kepadanya.
“Bullshit!” aku pergi meninggalkannya di sana sendirian. Aku berharap dia merasa bersalah, tapi ternyata aku sala dia mengirimkan pesan yang isinya, ”Terima kasih untuk kebersamaan ini. Maaf jika membuat kamu terluka.” Jika tidak ingat ponsel yang aku pegang saat itu hasil menabung yang susah payah aku lakukan, pasti benda itu sudah melayang di dinding dan berserakan.
Lagi, aku mengalami pahitnya patah hati. Aku rasa orang juga bisa mati jika terus-terusan mengalami patah hati, entahlah. Ku peluk bantal besar di sampingku. Ku benamkan seluruhnya wajahku. Aku ingin menangis dan menikmati rasa kecewa dan patah hati ini, entah untuk yang ke berapa kali. Membiarkan dada ini sesak akan pilu yang sudah ku hapal bagaimana rasanya. Aku ingin jadi orang paling bodoh, yang menangisi kemalangan akan patah ati yang berkali-kali ku alami. Beberapa jam saja hingga aku akan tertidur karena terlalu lela untuk berduka. Besok, aku akan baik-baik saja, harus baik-baik saja.
Sengaja, aku tidak berusaha menutupi sembab, dan mata bengkak sehabis menangis semalam dan akhirnya tertidur. Tidak akan ada yang perduli, setidaknya keluargaku begitu. Walaupun mendapat gelar anak bungsu dan perempuan satu-satunya, aku tidak pernah diperlakukan seperti yang orang-orang bilang itu, dimanjakan. Untuk Ibu, Bang Ruzi, abangku yang kedua adalah kesayangannya. Untuk Ayah, Bang Rizal, abangku yang pertama adalah kebanggaannya. Aku? Pelengkap keluarga harmonis ini, setidaknya itu yang aku rasakan selama ini, di usia 23 tahun, aku lebih memilih diam dan tidak protes.
Aku berusaha sekuat tenaga agar takdir tidak mempertemukan ku dengan dia yang kini sudah berpredikat sebagai mantan dan sukses. Tuhan ternyata masih memiliki iba untukku. Dan, benar-benar sehabis gelap terbitlah sedikit cahaya. Sedikit saja sudah cukup untuk hariku yang membosankan ini. Kepala cabang dan tim marketing memiliki acara di luar kantor, jadi mereka tidak akan merecoki atau menghalangiku untuk pulang awal. Pulang awal artinya pulang tepat waktu di mana matahari masih begitu indah untuk dinikmati.
Sore paling indah, walaupun Pontianak panas. Sore ini tetap indah. Ornamen jingga di langit benar-benar sebuah maha karya yang aku rindukan. Sesederhana matahari yang selalu akan tenggelam ketika waktunya, sesederhana itu aku merindukan sore. Biasa bagi mereka, luar biasa untuk ku nikmati.
Ku parkirkan si merah menyala yang kusam itu dengan sembarang di halaman rumah, bukan rumahku. Ku tekan bel tiga kali, tak lama dengan rambut keriting mengembangnya yang berwarna merah burgundy itu wanita yang lebih tua dua tahun dariku itu menatapku dari atas ke bawah setela membuka pintu rumahnya.
“Waw? Something happen to you?” ucap wanita setinggi aku itu dan menyuruhku untuk masuk.
“Really bad?” tanyanya lagi saat kami tiba di kamarnya, kamar Dira, Dira Andita sahabatku. Tanpa prolog atau pembukaan apapun. Dia mengetahui, aku bermasalah.
“Terlihat begitu buruk?” tanyaku balik tanpa menjawab pertanyaannya lebih dulu.
“You’re really a mess, Kan! Seriously!” responnya kemudian duduk berhadapan denganku. Dira seperti sedang mencari jawabannya sendiri, karena dia tahu aku adalah manusia paling aneh dengan atribut senang menyusahkan diri sendiri.
“Putus? Oh don’t tell me, girl!” serunya tiba-tiba. Tanpa perlu susah payah menceritakan kisah sedih yang menyedihkan itu, dia berhasil mendapatkan jawabannya sendiri. Dia mengusap lembut kepalaku. Tidak berusaha benar atau membenarkan apapun, kami saling mentransfer energi positif untuk saling menguatkan. Dira tahu hampir semua kisah menyedihkan yang terjadi. Ada satu lagi, aku rasa setela Dira tahu, Eve pasti akan segera tahu. Tidak perduli badai apa di luar sana, dia pasti datang hanya untuk memelukku erat-erat seakan aku hendak terbang meninggalkan bumi.
Terima kasih Tuhan telah menciptakan dua makhluk ajaib ini. Dira Andita dan Evalia Hasan, malaikat yang sedang melakukan misi sebagai manusia.
“Aku mau jomblo aja, aku capek. Aku bisa mati gara-gara terus-terusan patah hati begini.” Eve sudah datang saat itu bergabung dalam jamuan cerita sedih episode tanpa akhir seorang Kana Santika. Eve masih memelukku, melingkarkan tangannya ke seluruh tubuhku dari samping.
“Sampai?” tanya Dira mengangkat sebelah alisnya, dia tahu aku tidak akan tahan berlama-lama menyandang status jomblo. Memiliki pasangan artinya memiliki satu lagi orang yang memperhatikan dirimu. Mempunyai dunia lain bersama orang yang kamu pilih untuk bersama. Agar bisa di sayangi.
Aku mengangkit kedua bahuku. Dan tersenyum kecut.