You My Every Love Song

You My Every Love Song
You Need To Calm Down



***You are somebody that I don't know


But you're takin' shots at me like it's Patrón


And I'm just like, damn, it's 7 AM


Say it in the street, that's a knock-out


But you say it in a Tweet, that's a cop-out


And I'm just like, "Hey, are you okay?"


And I ain't tryna mess with your self-expression


But I've learned a lesson that stressin' and obsessin' 'bout somebody else is no fun


And snakes and stones never broke my bones


So oh-oh, oh-oh, oh-oh, oh-oh, oh-oh


You need to calm down, you're being too loud


And I'm just like oh-oh, oh-oh, oh-oh, oh-oh, oh-oh (oh)


You need to just stop


Like can you just not step on my gown?


You need to calm down


(Taylor Swift***)


2019, The day after.


Aku duduk di ruang serba abu-abu dengan perasaan campur aduk. Tentu saja aku merasa bersalah karena telah meninggalkan kantor dan rekan kerjaku begitu saja. Tapi apa aku menyesal? Tidak juga.


“Saya tahu, tindakan saya kemarin tidak bijaksana. Tetapi saya katakan sekali lagi Pak, saya tidak menyesal.” Pria bertubuh besar itu hanya tersenyum dan mengangguk.


“Kamu kepingin cuti? refresing mungkin?” ucapnya lemah lembut dan bersahaja. Kepala Cabang ku ini tidak pernah marah tapi ketika marah aku rasa dia akan mengerikan. Bukankah selalu seperti itu. Jika seseorang yang tidak pernah marah seumur hidupnya, tiba-tiba marah maka itu akan sangat menyeramkan. Aku melepaskan napas dengan kasar.


“Saya nggak butuh cuti. Tidak untuk saat ini. Saya cuma butuh pulang tepat waktu setiap harinya. Lembur cukup dilakukan seminggu sebelum kita clossing. Saya rasa itu lebih masuk akal, Pak.” Sekali lagi dia mengangguk dan tersenyum hangat.


Aku kembali ke ruanganku. Semua mata tertuju padaku hari itu termasuk atasan langsungku.


“Tenang, Kan. Si Kardi udah gue SP. Beraninya pas gue nggak ada itu orang. Jangan pikir senior gue nggak berani. Seenaknya nindas anak buah gue.” Kepala Admin ku terlihat berang sekali. Bagaimana tidak, dia memberi kesempatan pada para marketing itu di luar jam kerja agar target mereka dapat terpenuhi tetapi malah mendapat balasan seperti kemarin. Ci Anya sempat chat kepadaku tadi malam, katanya Pak Har marah besar ketika tahu cerita seluruhnya dan marah-marah juga ke Kacab. Bagus pikirku biar jadi pelajaran untuk masa mendatang.


“Hari ini kita pulang tepat waktu ya, Pak,” ucapku kemudian.


“Tentu!” jawab Pak Har tegas sambil tersenyum.


Oh matahari sore yang menyengat menusuk kulit, aku rindu. Setelah peristiwa tadi malam tidak ada yang berani menyuruhku bekerja di luar jam kerja. Entah akan bertahan berapa lama masa-masa indah ini, aku wajib menikmatinya. Tadi pagi si merah menyala bannya bocor jadinya aku berangkat bekerja dengan abang ojek online. Hari ini Dira mengadakan pertemuan, pembubaran panita acara kemarin dan katanya ada yang mau dia sampaikan penting.


Aku sudah menunggu di depan kantor sekitar lima menit yang lalu belum ada tanda-tanda kehadirannya datang menjemput.


Tepat di depanku berdiri, berhenti seorang pria mengendari vespa berwarna biru dongker. Melepas maskernya dan menyerahkan helm kepadaku.


“Aku dapat titah suruh jemput kamu dulu, Kan!” katanya kemudian.


“Brengsek, si Dira” aku membatin memaki sahabatku yang aku sayangi itu.


“Ayo!” ucapnya lagi.


“Aku pakai rok,” ucapku singkat.


“Bukan bisulan kan?” tambahnya, aku ingin mencari pojokan dan menangis di sana.


“Kok aku di jemput kamu, Med?” tanya ku setengah berteriak.


“Dira mau jemput Gio dulu, katanya biar nggak bolak balik. Kebetulan kalau dari rumah aku, ke kantor kamu searah. Ya udah, sekalian angkut." Angkut katanya, sekalian angkut hati aku bang.


“Ooooohh…” aku merespon asal.


Dalam perjalanan menuju tempat janji temu aku berdoa dalam hati agar perjalanan ini jangan cepat berakhir. Selamanya aroma ini akan selalu aku ingat. Punggungnya, indah sekali.


Sesampainya di sebuah kafe, tempat semua panitia acara akan bertemu. Aku melepaskan helm dan memberinya kepada Medi. Merapikan rambut dan poniku asal.dan masuk ke dalam bersama-sama. Sudah kulihat Dira dan lainnya. Sepertinya yang belum datang hanya aku dan Medi saja.


Aku melihat Dira dengan tatapan tajam tapi malah membuatnya tertawa.


“Sini, aku kasih pelukan dulu. Sorry ya kemarin aku nggak bisa nemanin,” ujarnya membuatku menaikan alis ku. Tadi malam ketika aku butuh teman-temanku aku tidak bilang sedang ada masalah. Makanya aku menjadi bingung saat ini.


“Nggak usah kaget, di kehidupan yang lalu temen lu ini DUKUN!” tawanya menggelegar di seluru ruang café, aku dan Eve hanya menggeleng.


“Makanya gue kasih hadiah, suka nggak hadiahnya?” godanya kemudian, aku hanya membulatkan mataku menanggapinya.


“Apaan sih? Roaming nih,” tanya Gina yang duduk di samping Eve.


“Sorry, tidak untuk konsumsi publik.” Sekali lagi tawanya menggelegar.


Sebelum kami membahas sesuatu yang penting itu. Kami harus mengisi perut yang sudah mengeluarkan suara-suara aneh di bawah sana. Sajian khas rumahan memang tidak ada lawannya. Kangkung dengan kuah tauco yang gurih, ikan bakar yang lezat, udang goreng mentega, asam pedas ikan yang segar dan tidak lupa sambal terasi yang menggugah selera.


Aku melirik ke arah pria putih tinggi yang duduk berhadapan denganku. Ternyata sedang melirik juga. Lalu senyum kecilnya itu muncul lagi, cepat ku mengambil ponsel dan melihat pantulan diri dari layarnya yang mati. Perasaan nggak ada yang aneh di wajahku.


“Jadi gini. Setelah acara kemarin aku sama Dira berdiskusi panjang sehari semalam gitu. Jadi aku mau mengajukan ke Dinas sosial untuk membantu dana renovasi ruang rekreasi Panti Sosial Anggrek yang kemarin kita kunjungi. Ruangannya benar-benar sudah tidak layak untuk mereka jadi agak memprihatinkan, sedangkan di sanalah satu-satunya tempat mereka bercengkrama satu dan lainnya. Nah, aku mau minta bantu sekali lagi sama teman-teman yang bersedia untuk membentuk tim sekali lagi agar target pengumpulan dana kita dapat tercapai. Kali ini dana yang kita butuhkan cukup banyak. Jika kalian keberatan juga tidak apa-apa sih, saya tidak memaksa. Bagaimana?” ucap Gio pria berbadan gempal itu serius menunggu respon.


“Untuk perizinan aku akan handle bareng Gio. Sedangkan untuk teknis gimana cara kita ngumpulin itu duit sampai sebelum tahun baru nanti. Belum ada ide. Apakah broadcase ke teman-teman. Atau jualan, atau apalah. Kita belum ada ide sejauh itu. Makanya dengan banyak kepala mungkin idenya akan lebih banyak. Sekali lagi kita berdua nggak maksa. Kita nggak mau ambisi kita ini malah buat kalian nggak enak atau gimana. Jujur-jujuran aja. Santai.” Dira menambahkan. Seperti biasa Dira memang luar bisa. Ambisinya, passionnya terhadap sesuatu yang berbau kegiatan sosial ini selalu membuatku iri dan takjub.


Semua yang menjadi panitia di acara mereka sebelumnya terlihat sangat antusias dengan ide berjualan pakaian bekas layak pakai yang akan mereka kumpulkan dari saudara atau teman-teman yang mau menyumbangkan nya. Berjualan buku-buku yang sudah ingin direlakan juga menjadi salah satu ide yang tercetus. Mereka sangat bersemangat dan antusias. Aku? aku akan membantu mereka sekuat tenaga.


Dira tampak bahagia dengan senyum dan respon yang berapi-api. Membuat dada ini di penuhi kehangatan. Masih banyak orang-orang baik di sekitarku. Aku hanya perlu membuka mata dan meminta mereka untuk tinggal dekat.


Saat akan pulang Gina meminta Medi untuk memberinya tumpangan, karena Eve harus pergi menjemput pacarnya yang datang dari luar kota itu di rumahnya. Aku memperhatikan mimik wajah Medi yang tampak tidak keberatan memberi tumpangan. Sebaliknya mimik waja Dira lah yang seperti sangat-sangat keberatan.


“Lo nggak bisa nebengin gue emang?” tanyaku kepada Dira yang tatapannya sudah seperti pisau itu.


”Kalau nggak bisa gue naik kang ojek aja, nggak apa-apa kok. Santai aja muka lo itu. Kayak mau bunuh orang aja!” lanjutku menambahkan.


“Nebengin lu mah bisa banget kok. Tapi itu …” Mulutnya mengerucut maju. Ekspresinya lucu dengan warna rambut seperti itu.


“Nggak apa-apa kan, Kana?” tanya Gina tiba-tiba mendekat.


“Hah? Harusnya nanya Medi dong, kan dia yang bakal ngasih lo tebengan, Gin.” Aku memiringkan kepalaku bingung.


“Oh, oke Medi uda oke kok! Aku balik duluan ya. Bye gengs.” Gina melengos pergi setelah berpamitan.


Setelah mengantarkan Gio ke sebuah tempat penyiaran radio, karena Gio juga berprofesi sebagai penyiar untuk menyaluran hobi. Dira akan melakukan ritual mengomelnya sepanjang jalan kenangan ini.


“Nggak bisa baca situasi apa si Gina. Sebel!” Mulainya dengan kalimat pendek dan sederhana.


“Yah, dia nggak salah dong!” belaku kemudian.


“Nggak salah memang. Dia itu nggak peka aja!” Aku tertawa terbahak-bahak.


“Lagian aku bisa apa, cuma bisa stay cool. Mengagumi pria animasiku dari jauh sudah cukup.” Aku mengangguk yakin dan tersenyum puas.


“Bullshit!” sahutnya ketus. Aku kembali tertawa.


Aku benar. Dari awal aku sudah mewanti-wanti diri sendiri untuk tidak jatuh cinta dengan seorang Medi Hardika, dengan tinggi 182 cm dan berat badan ideal. Mata kecil dan bibir yang seksi itu aku rasa sangat sulit untuk tidak menyukainya. Akan bersaing dengan berapa banyak wanita aku ini. Tidak, aku tidak sanggup patah hati lagi. Sudah ku bilang aku bisa mati jika terus-terusan merasakan patah hati.


Aku hanya perlu belajar untuk tetap tenang, walau jauh di dalam sana ada yang meraung cemburu. Ketika ‘priamu’ di dekati wanita lain siapa yang tidak cemburu. Tapi sekali lagi, kau hanya sanggup pada tahap memujanya saja jadi berusahalah untuk tetap tenang, Kana.