You My Every Love Song

You My Every Love Song
Blue skies



We've been waiting, anticipating change coming our way


You're my baby through the bad lights to the greater days


I know that something good is waiting just around the corner


There's a new day dawning, there's a new life for us


Got to keep on holding on for just a little longer I know


But that it's gonna be blue skies for you and I


We'll step out of the shadows and walk into the light


Yeah it's gonna be blue skies for you and I


But my heart beats slow as the storm carries on up high


And the clouds roll by


I can feel it, it's a comet, fast and fierce and wild


I can see it every time I look into those eyes


Tell me is it really gonna storm again


Will the sky turn dark, will the rain begin?


I wanna be with you wherever lightning strikes cause I know


That it's gonna be blue skies for you and I


We'll step out of the shadows and walk into the light


Yeah it's gonna be blue skies for you and I


But my heart beats slow as the storm carries on up high


And the clouds roll by


And the clouds roll by


I couldn't stand the rain for one more day


I know we can make it go away


Can you feel it?


Like a fever, burning till it breaks


Blue skies for you and I


We'll step out of the shadows and walk into the light


Yeah it's gonna be blue skies for you and I


But my heart beats slow as the storm carries on up high


And the clouds roll by


(Lenka)


2019, 6 jam sebelum tampil.


Setelah pulang dari kantor pukul 12 siang tadi, aku buru-buru pulang dan menyiapkan pakaian yang akan aku pakai nanti malam. Sedangkan sekarang, aku juga harus buru-buru kumpul di rumah Medi. Bang Yuda bilang akan latihan satu kali lagi sebelum istirahat hingga waktu kami tiba untuk penampilan perdana “Moonlight”.


“Bu, Kana pulangnya malam ya. Mau nampil,” ucapku sambil sibuk mengikat tali sepatu.


“Asal bawa kunci aja.” Sudah kubilang, kehidupanku bukan hal menarik bagi orang-orang di rumah ini.


Namun, belakangan ini entah kenapa abangku yang tertua sering sekali mengirim pesan, hanya sekedar menanyakan kabar dan kesibukanku. Karena dia bertanya maka aku menjawab yang ditanyakan termasuk kegiatanku baru-baru ini. Terlihat dia sangat antusias bahkan menyuruhku mengirim video saat aku bernyanyi atau latihan. Istrinya juga sangat sering mengirim pesan, kadang tiba-tiba ada kiriman makanan saat jam makan siang dikantor darinya.


Ketika dia berkunjung ke rumah di hari libur dan aku ada di rumah dia akan sibuk bertanya tentang pekerjaanku apakah baik atau sekedar bertanya tentang kegiatan penggalangan dana. Sebelumnya jangan di tanya. Aku akan ada di kamar dan tidak akan ada yang mencariku. Entah apa yang merasukinya.


Aku melaju kencang dengan motor kesayangan hasil menabung selama dua tahun ini menuju rumah Medi, base camp kami. Rumahku dengan Medi sebenarnya tidak terlalu jauh hanya butuh 10 menit berkendara dengan motor dan kini aku sampai di depan rumahnya. Tumben sekali, biasanya ketika sampai wajah pertama yang aku lihat adalah wajah Gina. Kami hanya latihan selama tiga hari berturut-turut. Untung saja aku sudah menguasai keempat lagu yang kelak akan kami bawakan.


Langsung saja aku masuk menuju kamar Maya, meletakkan tas berisi pakaian yang kelak akan aku pakai. Aku lupa aku belum makan siang karena buru-buru kemari. Karena belum ada satupun yang datang, aku pikir akan pergi membeli makan siang. Saat itu aku melihat om Tyo yang lesu duduk di ruang tamu.


“Om sakit?” tanyaku mendekat.


“Kapan datang, Nak? Nggak hanya pusing sedikit dan sepertinya masuk angin. Kamu mau pergi lagi?” ujar om Tyo yang masih duduk di sana. Wajah lesunya tetap saja bersahaja.


“Masuk angin? mau Kana buatin rebusan jahe merah, Om? Biasanya kalo masuk angin Kana buat itu. Mau ya?” tanyaku lagi. Dia tersenyum dan mengangguk pelan. Aku masuk ke dapur dan mulai membuat rebusan jahe merah sekalian juga buat diriku sendiri.


“Lagi ngapain? Ni makan siang.” Suara berat yang sudah tidak asing lagi bagi pendengaranku. Setiap hari kini aku harus mendengar suaranya yang berat dan memanjakan telinga. Aku melihat ke arah suara datang.


“Rebusan jahe merah, buat Om. Sepertinya nggak enak badan,” ucapku menyodorkan segelas besar rebusan jahe hangat.


“Kok, Papa nggak bilang,” ujarnya seketika menjadi panik dan hendak ke luar melihat kondisi sang ayah.


“Hei, ini dibawa sekalian. Ngobrolnya yang santai aja,” ucapku mengingatkan.


“Oke, itu dimakan.” Medi berlalu setelah memberikan bungkusan plastik putih susu yang berisi kotak bento. Di dalamnya sudah ada sushi kesukaanku dan salad. Hmm, semua ini adalah makanan kesukaanku.


Setelah makan dengan cepat di dapur, aku bergabung dengan Medi dan om Tyo yang sudah menghabiskan segelas besar rebusan air jahe merah yang hangat. Aku tersenyum senang.


“Om, istirahat gih. Nanti sebelum pergi Kana buatin lagi. Jadi bisa Om minum nanti pas mau tidur.” Sedikit khawatir karena tidak terbiasa melihat om Tyo yang energik itu terlihat lemah dan lesu.


“Iya, makasih ya, Nak. Om masuk dan istirahat dulu. Papa masuk ya, Med,” ucap om Tyo pamit dan masuk ke dalam kamarnya. Aku melihatnya menghilang di balik pintu berwarna abu-abu tua itu. Lalu ku alihkan pandanganku ke Medi yang masih menatap pintu abu-abu yang kini sudah tertutup.


“Nggak usah khawatir,” ucapku mencoba menenangkannya yang terlihat sedikit cemas. Dia melihat ke arahku, mata sipitnya itu terlihat lebih kecil sekarang. Aku mengerti kenapa dia khawatir. Sekarang dia hanya punya om Tyo dan Maya. Tentu dia ingin menjaganya mereka dengan baik.


“Thanks ya, Kan.”


Senyumannya barusan telah mengambil sebagian kenangan buruk tentang betapa menyakitkannya jatuh cinta. Tentang betapa menyedihkannya putus cinta dan tentang pengalaman pahit yang pernah terjadi dalam perjalanan cinta seorang Kana Santika. Senyumannya menghapus sebagian dari yang terburuk dan menggantinya dengan senyum setenang cahaya bulan di langit malam yang gelap itu.


Senyuman yang pertama kali aku lihat. Hangat merayap masuk ke dalam relung hati yang mendingin. Membuka sebuah pintu bernama harap. Sebuah pintu yang tak semestinya berani kubuka begitu saja.


Aku terbuai dan jatuh pada perangkap seorang Medi Hardika.