
Ooh whoa, ooh whoa, ooh whoa
You know you love me, I know you care
Just shout whenever and I'll be there
You are my love, you are my heart
And we will never, ever, ever be apart
Are we an item? Girl quit playin'
We're just friends, what are you sayin'
Said there's another, look right in my eyes
My first love, broke my heart for the first time
And I was like baby, baby, baby oh
Like baby, baby, baby no
Like baby, baby, baby oh
I thought you'd always be mine (mine)
Baby, baby, baby oh
Like baby, baby, baby no
Like baby, baby, baby ooh
I thought you'd always be mine
Oh for you, I would have done whatever
And I just can't believe we ain't together
And I wanna play it cool
But I'm losin' you
I'll buy you anything
I'll buy you any ring
And I'm in pieces, baby fix me
And just shake me, 'til you wake me from this bad dream
I'm goin' down, down, down, down
And I can't just believe my first love won't be around
(Justin Bieber)
2019, Rumah Medi
Berkali-kali aku bilang dalam hati bahwa aku baik-baik saja, entah sudah ke berapa kali. Aku takut tiba-tiba kemampuan memasang poker face itu akan menghilang karena hati ini terlalu cemburu. Aku ingin seperti ini saja, pertemanan yang hangat saling bercanda dan kadang menjahili satu dengan yang lainnya. Tapi hati ini terlalu lemah, sudah pasti setelahnya aku akan terbawa perasaan.
Aku terlalu lemah.
“Lo mau beli apaan, Kan?” tanya Maya membubarkan lamunanku.
“Apa yah?” akhirnya aku membeli beberapa makanan ringan yang asin dan mengandung banyak msg itu.
Sampai di rumah Medi aku terkejut, mobil Dira sudah tidak ada. Dira dan Eve juga tidak terlihat. Oh, Gina juga sudah hilang.
“Mana Dira?” tanyaku pada siapa saja yang ada di sana dan mau menanggapi.
“Cewek lo?” tanyaku sambil masuk ke dalam. Rasanya aku ingin memberi pelajaran kepada lidahku sendiri. Aku menyesal bertanya.
“Pulanglah,” ujarnya ketus seraya mengambil kantong plastik yang berisi penuh makanan ringan iu.
“Satu saja. Mulai sekarang sampai projek kita kelar, kamu harus jaga makan dan minum. Suara kamu berharga buat gue. Buat kita!” Sial, hei Medi Hardika kalimat barusan itu bisa membuat aku mati mendadak. Selain patah hati. Mendengar kalimat sejenis ini mampu membuat serangan jantung. Sudahku bilang kan, aku lemah.
Aku hanya mampu menunjukan mimik kesal karena cemilanku dirampas dari genggamanku. Mimik kesal untuk mengalihkan suara jantung yang tiba-tiba saja menjadi begitu kuat berdetak. Aku rasa aku terlambat menyadari, aku sudah jatuh cinta dengannya. Dengan seorang Medi Hardika yang sudah memiliki pacar sekarang. Seorang yang sudah ku ketahui dari awal, pria yang akan sulit untuk dimiliki. Jika bukan karena Gina pun, aku tidak yakin bisa mendapatkan hatinya ~ cintanya.
Maaf, aku telah jatuh cinta padamu.
Setelah membersihkan diri di kamar maya yang dipenuhi poster boyband korea itu. Aku memilih tetap di dalam kamar hingga para lelaki itu pulang dari mesjid. Aku membuka-buka ponsel ada pesan dari Dira yang bilang akan datang lagi sekitar pukul tujuh dan menyuruhku menikmati malam-malam bersama Medi.
Aku hanya bisa tertawa kelu saja menanggapi.
“Aku heran, kok Bang Medi bisa nerima Kak Gina,” ucap Maya setelah keluar dari kamar mandi yang berada dalam kamarnya itu.
“Kenapa memangnya?” tanyaku heran.
“She’s not his type, Kan! Aku tahu tipe cewek abang gue dengan baik. Lagian tu, yang bikin sebel. Dia itu kan pria gagal move on dari mantan pacar. Bayangin setelah dua tahun putus dari Kak Mutia, dia masih ngajakin tu cewek balik sama dia.” Aku mendengarkan.
“Kak Mutia?” tanyaku.
“Nama mantan Bang Medi, mereka pacaran cukup lama, sampai akhirnya dua tahun yang lalu mereka putus, alasannya Kak Mutia nggak siap LDR-an. Tapi Abang masih tetep ngajakin balikkan gitu sampe setahun yang lalu Mama drop dan pikiran serta hati Abang teralih seluruhnya untuk Mama.” Nadanya sedikit bergetar di akhir. Aku mengusap kepalanya lembut. Kami memang seumuran. Hanya beda beberapa bulan saja tapi sudah banyak yang dia lalui. Kehilangan seorang yang menjadi pusat gravitasinya adalah bukan hal yang mudah dilalui.
Perbincangan kami berlanjut, kadang membicarakan Medi, kadang membicarakan pacar Maya yang belum sepenuhnya dapat restu dari si abang. Papanya sudah memberi lampu hijau tapi sepertinya tidak dengan Medi. Alasannya belum jelas kenapa. Dari cerita-cerita Maya aku mengetahui lebih banyak tentang Medi. Aku benar, dia adalah tipe pria penyayang.
Pintu kamar di ketuk dari luar. Maya beranjak dan membuka pintu. Medi dengan baju koko berwarna hitam dan sarung dengan motif hitam serta cokelat itu berdiri di sana. Tuhan tampan sekali makhluk yang sudah memiliki pacar ini. Auranya benar-benar keluar. Menakjubkan.
“Ayo makan dulu!”perintahnya. Aku dan Maya keluar dari dalam kamar. Di meja sudah ada mie goreng yang sepertinya baru saja dibuat oleh om Tyo. Semua sudah rapi menunggu makanan siap. Aku menghampiri pria yang masih berada di dapur.
“Sini Om, biar Kana yang goreng telurnya,” ucapku mengambil alih, pria itu tersenyum lebih lebar.
“Kalau gitu, Om yang buat acar timunnya,” ucapnya kemudian. Aku tersenyum. Medi menghampiri kami di dapur, membawa acar timun yang sudah siap dan beberapa telur yang sudah selesai ku goreng. Kami semua sudah siap menyantap makan malam yang sederhana tapi terasa begitu mewah. Aku selalu suka suasana seperti, kekeluargaan, hangat hingga kadang terlalu menyakitkan jika aku harus teringat dengan apa yang harus aku hadapi di rumah.
Kami jarang melakukan makan malam bersama, semeja seperti ini. Biasanya keluargaku makan di sore hari saat abangku yang kedua itu pulang dari bekerja. Tidak ada aku di ritual makan sore keluarga, karena jadwal pulang kerjaku yang lebih lama. Kecuali jika bang Ruzi juga pulang sedikit malam, maka aku akan menikmati makan malam bersama keluarga.
“Wah, Papa bakal senang nih, apalagi Kana bakal sering ke sini,” ucap Maya dengan mulut sambil mengunyah.
“Kenapa gitu?” tanya bang Yuda.
“Papa tuh suka masak, Kana juga kan suka masak.” Maya mendelik ke arahku dengan senyuman misteriusnya. Aku tertawa.
“Memangnya di rumah kamu sering masak, Nak?” tanya om Tyo.
“Nggak Om, soalnya Ibu nggak kasih izin. Wilayah kekuasaannya,” ucapku lagi.
“Oh, nanti ya, kalau sudah menikah bisa punya wilayah kekuasaan sendiri,” ucap om Tyo dengan senyuman lebar.
“Kalau nikah, kamu bakal terus kerja nggak, Kan?” tanya Maya lagi.
“Tergantung. Tergantung suaminya nanti,” jawabku polos.
“Wuaah, good good..” ucapnya misterius. Aku hanya tersenyum menanggapi.
Semuanya benar, kelak jika saatnya tiba dan aku siap untuk berumah tangga dengan siapapun yang aku anggap mampu mendampingi diri yang sudah aneh sejak lahir dengan semua masa lalu dan kekuranganku. Aku akan menuruti apapun keinginan dia yang menjadi pendampingku kelak demi masa depan kami nanti.
Setelah makan malam, kami akan membicarakan jadwal latihan yang secara singkat sudah disusun oleh bang Yuda dan Dira tadi sore. Lengkap dengan jadwal manggung kami yang pertama di sebuah kafe yang kebetulan pemiliknya adalah teman dekat bang Yuda. Karena visi dan misi band kami sangat jelas untuk apa pendapatan yang kami dapat nanti digunakan, beliau mengizinkan kami manggung setiap hari sabtu malam dari pukul 8 hingga selesai. Gio juga sudah memasukkan nama band kami dalam sebuah agenda promosi miliknya. Relasi Gio sangat banyak bukan tidak mungkin nanti kami bisa mengisi di acara pernikahan atau acara-acara lainnya karena Gio seorang penyiar,dan MC juga sama seperti Rio dan Utami.
Aku berdua saja dengan Medi malam itu di dapur. Aku harap suara detak jantung ini tidak terlalu keras hingga pria yang kini tengah berdiri di sampingku ini tidak mendengarkannya. Sesekali bahu kami bersentuhan. Dia masih menggunakan baju koko yang sangat kontras dengan wajah animasinya itu, tampan sekali. Satu sisi aku ingin melakukan aktifitas mencuci piring ini lebih lama, tapi aku takut jantungku tidak kuat dan tiba-tiba berhenti berdetak karena lelah memompa terlalu kuat.
Harum sabun cuci piring saja tidak bisa melawan aroma parfum Medi. Pria animasi yang wangi. Aku merutuk diri sendiri, bagaimana bisa aku menikmati perasaan ini. Dia pacar temanmu.
Dia bukan milikmu jangan menyulitkan diri sendiri dengan jatuj cinta terlalu lama dengan pria yang kini menatapmu lekat-lekat dari samping. Seolah terhipnotis aku tidak bisa mengabaikan pesonanya.
Sekali lagi, aku rasa aku benar-benar jatuh cinta padanya.