
*I guess I could try hypnotherapy
I gotta rewire this brain
'Cause I can't even go on the internet
Without even checking your name
I tell myself, tell myself, tell myself, "Draw the line"
And I do, I do
But once in a while, I trip up, and I cross the line
I think of you
Two years, and just like that
My head still takes me back
Thought it was done
But I guess it's never really over
Oh, we were such a mess
But wasn't it the best?
Thought it was done
But I guess it's never really over
Just because it's over doesn't mean it's really over
And if I think it over, maybe you'll be comin' over again
And I'll have to get over you all over again
Just because it's over doesn't mean it's really over
And if I think it over, maybe you'll be comin' over again
And I'll have to get over you all over again
Right through you and I
Can't keep going back
I guess it's never really over, hey ..
(**Katy Perry***)
“Hai…
Aku mau minta maaf sebesar-besarnya kepada Momo yang udah datang malam minggu tadi. Maaf ya, Kana lagi sakit jadi harus istirahat total. Atau kalian semua pada bahagia karena vokalisnya diganti sama Medi, hayo ngaku …
Tapi, sekarang Kana udah baikan jadi besok Kana udah bisa latihan untuk penampilan terakhir minggu depan. Bisa dibilang minggu depan itu penampilan terakhir Moonlight ya, karena minggu satunya lagi kami hanya akan membawakan beberapa lagu dan akan melakukan prosesi penutupan penggalangan dana untuk Panti Sosial Anggrek.
Jadi, tunggu dan tetap dukung Moonlight yah. Oh Ya, di acara penutupan nanti kami akan membawakan lagu yang aku buat loh. Aku kasih spoiler judulnya aja yah …
Judulnya adalah ‘ YOU’” aku menutup live singkat di instagram dengan heart sign seperti para kpopers yang aku cintai itu.
Aku duduk bersandar, masih berada di kamar asyik dengan ponsel sampai akhirnya Kak Asti mengetuk pintu kamar da mengajakku untuk pergi. kami janjian hari ini. Aku, Kak Asti dan Ibu akan pergi ke belanja, makan dan ke salon.
Sejujurnya hal ini baru untukku, selama ini aku selalu menjauh dari keluarga karena aku pikir Ibu terlalu pilih kasih. Mungkin benar, Ibu lebih sayang Bang Ruzi tapi bukan berarti tidak sayang padaku juga. Setidaknya aku akan merubah pola pikirku sedikit
“Abangmu bilang kamu pengen resign dari pekerjaanmu?” tanya Ibu tiba-tiba di dalam mobil. Aku hanya mengangguk pelan.
“Kalau mau berhenti ya berhenti saja, kalau perlu besok langsung ajukan jika suasana di sana tidak lagi mengenakkan untuk kerja,” ucapnya lagi. Aku tersenyum kecil. Baru kali ini aku merasa didukung oleh keluarga, terutama oleh Ibu.
Kami menuju pusat belanja. Ibu sibuk memilih pakaian dan sandal untuknya, sedangkan aku kabur menuju toko buku untuk membeli buku. Mumpung disponsori oleh Bang Rizal.
Setelah puas berbelanja dan bercerita panjang lebar, mulai dari pekerjaan, tetangga, keluarga sampai panci saja jadi bahan obrolan Ibu dan Kak Asti. Benar-benar seru. Kami akhirnya memutuskan makan di salah satu restoran dekat tepat kami berbelanja. Kemudian menuju salon langganan Kak Asti.
“Yang ini aja ya, Bu,” tanyaku semangat.
“Yakin kamu, Kana?” tanya Kak Asti terlihat tidak yakin. Aku mengangguk puas.
“Boleh, tapi baiknya rambutnya dimodelin dikit, kayak gini.” Ibu menunjuk salah satu gambar dengan model rambut yang menurutku cukup bagus.
Setelah selesai, Kak Asti mengantarkan aku da Ibu pulang. Hari ini luar biasa hebat. Seolah seluru tenagaku kembali terisi. Aku sedih, ya aku masih sedih tapi aku akan baik-baik saja.
Aku sudah selesai menulis surat pengunduran diri. Aku mantap melepas pekerjaan yang cukup banyak memberikan ilmu dan pendidikan mental untuk diriku sendiri. Aku membayangkan raut wajah terkejut rekan-rekan kerjaku nanti. Setela selesai menulis surat pengunduran diri, aku suda menyiapkan semua perlengkapan untuk merekam demo lagu yang akan aku bawakan. Sebua lagu yang aku buat untuk Medi, yah untuk dia.
***
Benar saja, Kepala Cabang dan Kepala Administrasi cukup terkejut. Mereka mencoba menahan atau meminta aku mempertimbangkan keputusanku ini. Tapi, percuma keputusanku sudah final dan tidak bisa diganggu gugat. Setelah kejadian ini barulah mereka menyatakan akan memperbaiki sistem kerja agar menjadi lebih baik dan nyaman. Tidak ada yang salah dengan sistem kerjanya menurutku, karena masalah sbenarnya terletak pada personal masing-masing. Jika tidak mampu menghargai orang lain, maka hal tersebut tentu akan sulit.
Semua rekan-rekan administrasi juga sangat terkejut mendengar kabar pengunduran diriku yang disertai perubahan penampilan ekstrim yang terjadi pada diriku. Tapi mereka mendukung, karena merekalah yang paling tahu tekanan jenis apa yang harus kami lewati ini. Maka ini adala yang terbaik. Waktuku satu bulan hingga benar-benar berhenti dari pekerjaan ini.
Aku memarkirkan motor dengan rapi dan masuk ke dalam rumah Medi yang tampak sepi, belum ada yang datang. Tadi Dira sempat bilang sebaiknya ke rumahnya lebih dulu, dan dia akan menemaniku ke rumah Medi. Aku yakin, walau masih tidak baik-baik saja, setidaknya aku akan berusaha baik-baik saja.
“Eh buset, gue kira siapa!” Tiba-tiba suara cempreng mengagetkanku yang sedang membaca berita melalui ponsel.
“Ini, lo Kana. Gila … keren banget sihh!!!!” ucapnya lagi dan terduduk di hadapanku.
“Kana!” Haah, suara berat yang dulu membuat rindu kin terdengar pilu.
“Hmm-mm,” jawabku dengan semburat senyum di wajah.
Lama dia menatapku, tatapan aneh yang meneduhkan hati. Aku tidak akan boong. Aku memang merindukan semua yang Medi pernah berikan. Tatapannya, senyumannya, omelannya, candanya, sentuhannya, dan ciumannya.
“Wuidih, penutupan vokalis kita canggih amat,” ucap Gilang kemudian mengacak rambut pendekku. Aku tertawa ringan.
“Iya dong, kece nggak?” tanyaku sambil menaik turunkan alis.
Suasana langsung heboh ketika Bang Yuda dan Dira ikut bergabung bersama kami. Aku merasakan tatapan mata Medi yang tidak lepas dariku. Berhenti khawatir, Med, aku baik-baik saja nantinya jangan cemas.
“I'm going under and this time I fear there's no one to save me
This all or nothing really got a way of driving me crazy
I need somebody to heal
Somebody to know
Somebody to have
Somebody to hold
It's easy to say
But it's never the same
I guess I kinda liked the way you numbed all the pain
Now the day bleeds
Into nightfall
And you're not here
To get me through it all
I let my guard down
And then you pulled the rug
I was getting kinda used to being someone you loved
I'm going under and this time I fear there's no one to turn to
This all or nothing way of loving got me sleeping without you
Now, I need somebody to know
Somebody to heal
Somebody to have
Just to know how it feels
It's easy to say but it's never the same
I guess I kinda liked the way you helped me escape
Now the day bleeds
Into nightfall
And you're not here
To get me through it all
I let my guard down
And then you pulled the rug
I was getting kinda used to being someone you loved
(Someone You Loved _ Lewis Capaldi)
“Gila kenapa jadi sedih banget gini covernya?” ujar Bang Yuda setelah latihan berakhir dengan lagu someone you loved dari Lewis Capaldi.
“Lah, lagunya kan sedih,” ucapku lagi.
“Hampir netes air mata gue, sialan si Kana mentang-mentang rambut baru, ayuk makan nasi goreng sebelum balik,” ucap Bang Yuda lagi.
“Hebat banget bisa sampai ke nasi goreng segala,” Aku dan Dira menggelengkan kepala kami.
Setelah selesai latihan, kami memutuskan untuk makan di temapt makan pinggir jalan dekat dengan rumah Medi. Memesan nasi goreng dua porsi untuk diriku sendiri.
“Laper apa marah?” goda Dira.
“Laper, uda nggak marah tinggal sebulan ini,” ucapku santai.
“Sebulan?” tanya Medi penasaran, dia duduk di hadapanku, seperti biasa.
“Iya, jadi tadi aku ngajukan surat pengunduran diri, gitu, hebo di kantor,” ucapku normal.
“Wah, akhirnya, bagus deh dari pada stress terus tiap hari,” ucap Medi dan aku mengangguk dengan mata berbinar ketika melihat nasi goreng yang tampak enak ini. Aku melihat lengkung kecil di ujung bibirnya. Aku merasa lega, setelah melihat kerutan di dahinya kini sebuah senyum tampak juga.
“Pacar lo mana, Med? Kemarin aja ngintilin mulu sampe Momo pada kepo siapa tu siapa tuh?” Oh Gilang andai kau lihat wajah Medi yang memerah menahan marah dan seolah siap melemparkan gelas ke arahmu, aku yakin kau tak akan selahap itu makan nasi goreng ini.
“Emang udah balikkan?” tanya Maya. Kenapa Maya menanyakannya, harusnya dia yang lebih tahu.
“Nggak, kita nggak balikkan!” ucapnya tegas.
“Belum balikkan,” ucapku dan aku langsung menyadari perubahan wajahnya yang seolah hendak marah itu.
“MAAF .. MAAF please jangan marah, ayo kita makan aja jangan bahas lagi oke oke oke…” bujukku dengan nada memohon dengan sangat yang terdengar lucu sehingga membuat Bang Yuda tertawa sampai tersedak. Aku melihat ke arahnya yang melepaskan napas dengan kasar dan mengangguk tanda setuju.
“Senyum dong,” godaku seraya menyentuh tangannya yang putih. Dia memandangku lekat, aku tidak menghindarinya dan dia tersenyum.
Aku cukup puas.
Kamu seperti cahaya bulan di langit malam yang gelap. Menerangi setiap sudut dalam relung hati yang terdalam. Kamu seperti kilau cahaya kembang api di langit malam yang gelap, memberi sentuhan warna dalam hidupku yang kelam. Kamu, iya kamu benar-benar sungguh berharga untukku. Kamu adalah semua protagonis dalam kisah fiksiku. Kamu adalah semua lagu cinta dalam lirik dan sajakku.
Aku cinta kamu, Medi.