You My Every Love Song

You My Every Love Song
Comethru (Dua)



I'm trying to realize


It's alright to not be fine on your own


Now I'm shaking, drinking all this coffee


These last few weeks have been exhausting


I'm lost in my imagination


And there's one thing that I need from you


Can you come through, through


Through, yeah


And there's one thing that I need from you


Can you come through, through


Through, yeah


And there's one thing that I need from you


Can you come through?


(Jeremy zucker)


2019, Sate


Beberapa kali aku memastikan bahwa tidak ada yang aneh di wajah ovalku ini. Waktu menunjukan pukul 06.30 pagi. Rasanya hati ini benar-benar tidak tenang setela tadi shubuh aku membuka aplikasi whatsapp dan mendapati pesan Medi yang belum kubaca.


“🙈 see you besok, alien. Mimpi indah. Besok aku jemput pukul 6.30.”


Aku bahkan sudah siap sejak sejam yang lalu. Tidak menggunakan pakaian yang terlalu mencolok karena kami hanya pergi sarapan, makan sate. Akan aneh jika aku berdandan yang heboh. Aku harus tetap berwibawa.


“Kan, Ibu sama abangmu nanti berangkat ke Singkawang ya. Jam 10 gitu!” Tiba-tiba ibu mengejutkan aku yang asik melamun dan menunggu Medi.


“Lo, dadakan banget?” tanyaku.


“Nggak dadakan udah direncanakan dari minggu lalu, kok!” jawab ibu membuatku melepas napas malas.


“Ohh, Kana aja yang baru dikasih tau gitu ya?” tanyaku malas, karena suda tau jawabannya.


“Lupa! Mungkin semingguan di sana. Abang sama kakak iparmu lagi cuti jadi ngajakin ke sana. Kamu jaga rumah yang bener.” Ibu kemudian kembali masuk. Menjadi yang terakhir tau tentang apapun yang terjadi di rumahmu sendiri adalah hal menyebalkan. Tetapi tidak dianggap penting apalagi prioritas lebih menyebalkan.


“Nanti Ibu bawa kunci depan saja. Kamu nanti pergi langsung tutup pintu samping!” teriakan Ibu dari dalam kamarnya dapat aku dengar dengan jelas dan sempurna.


Jangan kan meminta pendapat tentang liburannya di kota Amoy itu, untuk memberitahukan saja, aku menjadi yang terakhir.


“Bisa jaga rumah sendiri kan?” tanya Ayah keluar dari dalam duduk berhadapan denganku.


“Kalau Kana jawab nggak bisa, emang mau batal pergi?” tanyaku kepada ayah yang sedang mencari channel berita kesukaannya itu. Dia hanya tertawa kecil dan tidak menjawab apa pun.


Sekalipun aku tidak bisa, mereka akan tetap pergi. Aku pernah dalam kondisi sakit, demam tinggi hingga kepala rasanya mau pecah sehingga aku izin tidak masuk bekerja padahal sedang sibuk di akhir bulan. Ibu masuk ke kamar, dan menyuruhku untuk membelikan abangku makanan, karena dia, bang Ruzi sedang kelelahan dan lupa membeli makan.


Terdengar suara motor berhenti di depan rumah, segera aku buru-buru hendak keluar.


“Ibu, Kana pergi dulu. Ayah Kana pergi dulu, hati-hati di jalan.” Dan aku meninggalkan rumah dan berlari kecil menuju pria yang menyerupai tokoh animasi itu. Si tinggi bermata sipit, Medi.


“Aku pamit dulu sama orangtuamu.” Medi kemudian masuk dan pamit kepada Ayah yang sedang duduk menonton televisi, dan kemudian kembali menghampiriku yang bersiap mengunci pintu samping.


“Let’s go!” ucapnya seraya tersenyum kecil. Kali ini adalah kali kedua aku duduk di boncengi olehnya. Sebuah pengalaman indah karena harus berhadapan dengan punggungnya yang lebar dan harum tubuhnya yang selalu membuat betah.


Bagaimana caranya agar perjalanan kami ini tidak awkward seperti ini. Mungkin hanya aku yang merasa begini.


“Kemarin tidur jam berapa?” tanyaku setengah berteriak.


“Dua! Makan sate di mana?” Medi menjawab pertanyaan basa-basiku dengan singkat dan kemudian bertanya balik. Suara beratnya ketika sedikit berteriak sungguh lucu.


“GOR aja yuk, sekalian liat anak-anak yang jualan pakaian dan buku,” ajakku berharap dia setuju.


“Oke!” jawabnya singkat dan melaju. Pagi hari di kota ini sedikit sejuk, belum ada matahari yang menyengat. GOR adalah gelanggang olah raga, sebuah area yang digunakan untuk berolah raga seperti lari, memanah, berenang dan lainnya. Di Minggu pagi setiap jalan yang ada di area ini di jadikan ajang berjualan penduduk. Sehingga setelah lelah berolahraga bersama keluarga juga bisa langsung menyantap sarapan khas kota di temapt itu juga. Tidak hanya makanan saja yang di jual. Ada juga yang berjualan pakaian baru, pakaian bekas, sepatu, pernak-pernik aksesoris dan banyak lagi.


Medi memarkirkan si biru dongker dengan rapi, melepaskan helm dari kepalaku dan berjalan di sampingku. Tuhan, kejadian ini bolehkah terjadi setiap hari?


“Makan dulu atau main dulu?” tanyanya seraya menyisir rambutnya dengan jemari. Seperti sedang membawa adik perempuannya saja. Main? Main-main di hatimu gimana?


“Makan! Abis itu main, habis itu makan lagi. Yah?” jawabku semangat. Masa bodoh, Med perut nomor satu. Dia tertawa dan mengacak rambutku dengan gemas.


Sudah dua kali dia seperti ini


Hal ini menyebalkan kemarin, karena dia milik orang lain. Kalau sekarang? Sama saja. Tetap menyebalkan karena dia bukan milikku juga.


“Sate nya dua ya, Bang,” ucap Medi ke abang penjual sate yang tersenyum ramah padanya.


“Komplit, Mas?” tanya abang penjual sate.


“Satu komplit, satu nggak pake daun sop dan mentimun, air mineral dua nggak dingin ya, bang.” Lalu kami mencari meja yang kosong.


“Aku nggak pake daun sop sama mentimun juga, Med!” ucapku padanya.


“Iya, itu buat kamu, Kana.” Dia tersenyum misterius. Dia yang seperti ini sungguh menyebalkan, karena membuat harap itu semakin melambung besar. Aku ingin pertemanan yang manis. Ah sungguh plin-plan.


Kadang aku ingin hubungan yang lebih di antara kami, tapi terkadang aku rasa pertemanan adalah zona yang paling aman dan mudah untuk kucapai. Aku bukan gadis cantik seperti fans fanatik Medi. Dira pernah bilang banyak perempuan cantik yang mengajak Medi jalan, nonton atau sekedar ngopi bareng. Maya bilang, tipe seorang Medi itu wanita bersahaja, tidak pecicilan dan dewasa. Sudah jelaskan, itu bukan aku, aku absurd, abstrak, dan sebuah ketidak jelasan di muka bumi ini sehingga para sahabatku memanggilku dengan sebutan, alien. Medi juga sudah mulai memanggil begitu. Aku pecicilan terkadang tidak dewasa sama sekali, malah aku pikir aku cukup kekanak-kanakan dan egois. Bersahaja? Apa itu? Tidak ada dalam kamusku. Aku adalah manusia yang malas bersosialisasi, bukan introver aku hanya malas. Aku seorang lady with no lady Manner.


“Makasih, Bang.” Medi memberiku sepiring berisi penuh lontong dan sate dengan bumbu kacang dan taburan bawang goreng yang membuat tubuh ini senang.


“Oh ya nanti lagu kita apa, duh banyak yah?” tanyaku dengan mulut penuh dengan lontong.


“Banyak, listnya nanti aku kasih berserta lirik dan lagu sekalian. Makan dulu yang bener.” Kedua alisnya menyatu mengomeliku.


Kebiasaan Medi yang sudah ku tahu adalah dia akan selalu duduk di depanku ketika sedang makan. Awalnya hal ini menyebalkan, tapi karena dia sering seperti ini, hampir setiap kali akan makan bersama dia akan memilih duduk di depanku.


Memperhatikanku saat makan dan tertawa. Apakah aku sebegitu srimulatnya untuk dia saat sedang makan?


Entahlah, jawabannya hanya dia yang tahu dan aku tidak berniat menanyakannya saat ini.