You My Every Love Song

You My Every Love Song
Never Really Over



*I'm losing my self-control


Yeah, you're starting to trickle back in


But I don't wanna fall down the rabbit hole


Cross my heart, I won't do it again


I tell myself, tell myself, tell myself, "Draw the line"


And I do, I do


But once in a while, I trip up, and I cross the line


And I think of you


Two years, and just like that


My head still takes me back


Thought it was done


But I guess it's never really over


Oh, we were such a mess


But wasn't it the best?


Thought it was done


But I guess it's never really over


Just because it's over doesn't mean it's really over


And if I think it over, maybe you'll be comin' over again


And I'll have to get over you all over again


Just because it's over doesn't mean it's really over


And if I think it over, maybe you'll be comin' over again


And I'll have to get over you all over again ..


(**Katy Perry***)


Aku menangis terisak tanpa suara. Rasanya sakit, lebih sakit dari yang sudah-sudah. Semua rasa sakit hati akibat patah hati yang aku alami selama ini tidak akan sebanding dengan rasa sakit kali ini. Dada ini sesak. Aku ingin berteriak tapi tidak bisa. Aku hanya bisa menangis tanpa suara. Suara ini tidak mau keluar.


“Kana, Kana … “ aku mendengar samar suara Ibu. Tapi mataku tidak mampu terbuka.


“Ya Allah, panas banget!”


“Ruzi, Ruzi …” suaranya kini terdengar jelas tapi tetap saja mataku tidak bisa terbuka, seperti ada lem. Kepala ini sakit sekali.


“Kan, bisa dengar suara Abang?” Aku mengangguk untuk merespon bahwa aku mendengarnya.


“Coba cek dulu panasnya.” Terdengar suara Kak Sarah di sana. Kemudian sakit di kepalaku semakin menjadi dan aku tidak mendengar suara apa pun.


***


“Dikit lagi, Kan,” ucapnya lembut. Aku menggeleng lemah.


“Ibu bilang tadi malam kamu terlihat berantakan sekali, lalu tadi pagi malah demam tinggi begini,” suaranya kecil seperti tubuhnya.


“Kak Asti nggak kerja?” tanyaku padanya.


“Ih apaan si demam doang,’ gerutuku.


“Kan, kamu nggak pernah gini. Sampe drop begini. Makanya Ibu sampe khawatir.” Benar juga selama ini sakit pun aku tidak pernah bilang, malah berpikir kalau bilang akan percuma. Ternyata, Ibu sama Ayah tidak seperti yang aku pikirkan selama ini. Kedua saudaraku juga. Aku salah.


Selama ini aku pikir Ibu bahkan tidak perduli aku sudah makan atau belum. Tidak akan khawatir walau aku pulang malam, tidak akan cemas walau aku sakit. Bodohnya aku berasumsi seperti itu terhadap mereka. Mungkin benar kata Bang Rizal aku lah yang membuat jarak.


“Yah, Bang Yuda?” sahutku menjawab dering telepon dari bang Yuda.


“Kan, lo sakit? Dira bilang lo sakit. jadi nggak bisa latihan untuk sementara.” Bang Yuda.


“Iyah nih Bang gue demam,” jawabku lemah.


“Ya udah istirahat deh, kalau masih sakit nanti Medi aja yang gantiin lo jadi vokalis.” Kenapa harus menyebut namanya.


“Kana.” Napasku tertahan sejenak. Jantungku seakan berhenti berdetak sebentar. Suara berat yang tidak ingin aku dengar untuk sementara waktu.


“Aku ke rumah yah.” Suaranya lembut sekali membuatku tanpa sadar mengeluarkan air mata lagi. Aku rasa mataku sudah cukup bengkak. Aku rasa tidak akan bisa menangis lagi setelah semalam menangis hingga demam.


“Jangan,” ucapku singkat, menahan suara agar tidak terdengar seperti sedang menangis.


“Jangan nangis. Maafin aku yang nggak tegas ini. Kana …” Medi kenapa kamu harus menyiksa diri sendiri seperti itu. Ini bukan salah kamu.


“Please, jangan nyalahin diri sendiri. Berikan aku waktu istirahat. Hmm?” jawabku lemah. Aku memohon Medi.


“Oke, cepat sembuh Kana.” Aku menutup saluran telepon. Rasanya dadaku kembali panas jika harus mengingat dia. Rasanya aku tidak pernah menyukai seseorang sedalam ini. Sehebat ini, hingga sakitnya pun terasa luar biasa memilukan.


Sore hari saat kedua saudaraku sudah pulang kerja. Panasku sudah turun dan normal. Hanya saja karena suasana hati selera makanku belum kembali seperti sedia kala. Dulu, jika mengalami patah hati atau putus cinta, selera makanku tidak pernah berubah.


Saat bang Rizal membawa semua makanan yang aku suka, aku bahkan tidak selera melihatnya. Tapi agar dia tidak terlalu khawatir dan mencetuskan ide untuk ke rumah sakit, aku makan sedikit.


Tak lama Dira dan Eve datang, kami bicara di kamar.


“Kamu tahu, tadi malam ~ dia yang tidak boleh disebut namanya~ itu memperlihatkan emosi yang sangat jarang dia keluarkan. Mutia sampai ketakutan setengah mati. Setelah kamu pamit, Bang Yuda masuk ke dalam dan menenangkan Medi yang sangat-sangat gusar. Dia marah. Dia terlihat kesal dan sedih. Aku saja sampai tidak ingin masuk melihatnya,” ucap Dira serius.


“Apa sih yang kalian bicarakan tadi malam itu? Sampai-sampai dia emosi sebegitunya,” tanya Dira kemudian. Aku hanya melepaskan napas dan mengangkat bahu dengan lemah.


“Kenapa dia harus marah? Kenapa juga harus kesal?” Aku bergumam dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban dari kedua sahabatku ini. Mereka terlihat khawatir.


“Kan, dari semua sejarah patah hati lo, ini yang terparah. Sampai sakit segala.” Dira membelai rambut pendekku yang acak-acakan itu.


“Jawab deh, kamu nggak mau berjuang buat dapetin Medi?” terus terang aku terkejut dengan pertanyaan Eve. Bahkan Dira membulatkan matanya.


“Well, gue nggak kenal Medi. Tapi menurut gue dia suka sama lo, Kan!” ucapnya lagi semakin membulatkan mata Dira.


“Gesturnya beda, tatapan matanya beda, lalu kemarahannya. Mungkin lo nggak sadar ya beberapa kali dia menunjukan rasa cemburunya secara terang-terangan. Bahkan seorang Jimi yang cuek dan self concern itu bisa bilang. ‘Si tetot ama Kana udah jadian yah, gila cemburuan banget.’ Gitu,” ucap Eve dengan mimik yang lucu membuatku hampir tertawa.


“Kenapa harus tetot sih?”protes Dira.


“Bocah, dari sekian banyak kata kenapa itu yang diprotes?” ucap Eve.


“Habisnya …” sambung Dira.


Adu diam dengan pikiran yang berkecamuk. Awalnya aku pikir kami sudah saling menyukai satu sama lain. Tapi ketika Mutia kembali hadir di kehidupan Medi aku merasa cukup tahu diri. Aku mau segera bangun dari mimpi yang membuatku melayang tinggi, pada akirnya aku terjatu juga dan rasanya sangat menyakitkan.


“Aku udah terlanjur, nyerah. Aku … terlalu sakit sekarang. Ketika Mutia balik aku ngerasa apa-apa memang berbeda. Aku nggak percaya diri untuk menangin hati Medi. Aku … terlalu pengecut untuk berjuang. Terlalu … takut untuk kembali memulai.”


Eve tiba-tiba memelukku, merasa menyesal telah bertanya. Aku menatap Dira yang suda berkaca-kaca. Dalam sejarah sesi curahan hati selama ini, Dira tidak pernah emosional. Dia selalu jadi pihak yang kuat dan menguatkan.


“Beri aku waktu tiga hari. Setelahnya aku akan berjuang untuk dua minggu kebersamaan kami yang tersisa. Hingga hari penutupan kegiatan kita, hari pembubaran Moonlight. Lalu setelahnya aku akan berusaha sekuat mungkin menghindar dari dia.”


“We love you, Kana always do.” Kini Dira bergabung dengan Eve merangkulku. Mereka berdua menangis. Sedangkan aku menenangkan mereka.


Waktu akan membantumu menyeleksi. Baik itu teman, sahabat dan kekasih. Waktu juga akan mengobati lukamu sedkit demi sedikit. Berikan dirimu waktu maka percayalah sekali lagi, kamu akan baik-baik saja.