You My Every Love Song

You My Every Love Song
Who Do You Love (II)



Now, now, who do you, who do you love, love (yeah)


Now, now, who do you, who do you love now? (Oh)


Now, now, who do you, who do you love, love (yeah)


I wanna know, I wanna know who


You been actin' so conspicuous


(Who?) You flip it on me, say I think too much


(Who?) Movin' different when we makin' love


(Who?) Baby, tell me, tell me


Who do you love, do you love now?


I wanna know the truth (whoa)


Who do you love, do you love now?


I know it's someone new


You ain't gotta make it easy, where you been sleepin'?


This shit is keepin' me up at night, just admit it


Who do you love, do you love now?


I wanna know, I wanna know who


Now, now, who do you, who do you love, love


Now, now, who do you, who do you love now?


Now, now, who do you, who do you love, love


Now, now, who do you, who do you love now?


You ain't gotta make it easy (hey), where you been sleepin'? (Hey)


This shit is keepin' me up at night, just admit it


Who do you love, do you love now?


I wanna know, I wanna know who


(The Chainsmokers)


“Tentang apa kalau boleh tahu?” tanyanya terlihat antusias.


“Wah curang, kita aja belum tau!” protes bang Yuda. Aku melepaskan napas dengan senormal mungkin. Pikiranku kacau sejak wanita ini muncul, ditambah gelagat Medi yang membuat aku kecewa.


Mungkin kecewa itu dikarenakan aku terlalu berharap padanya.


Eve memegang tanganku dengan erat, aku tidak tahu alasannya. Tapi, aku sangat berterima kasih atas hal yang dia lakukan saat ini. Aku menatap dengan senyum tipis di wajahku ke arah Mutia yang manis.


“Tentang Pria yang nggak mungkin bisa aku miliki.” Aku tersenyum kepadanya dan melirik sengaja ke arah Medi. Wajahnya terlihat sedih. Lihat, ini yang aku takutkan. Perasaan kamu berubah begitu cepat ketika wanita yang tidak bisa kamu lupakan selama dua tahun itu kembali muncul di hadapanmu.


Kamu nggak bisa apa-apa lagi, Medi. Menjadi teman pun sekarang akan sulit untuk kita.


Aku pulang ke rumah dengan berbagai perasaan yang campur aduk. Ibu masih duduk di ruang tengah sedang menonton. Seperti biasa aku akan langsung masuk ke dalam kamar.


“Kamu kenapa, Kan?” tanya Ibu tiba-tiba. Aku berhenti sebentar berpikir.


“Nggak kenapa-kenapa, Bu.” Aku tersenyum dan masuk ke dalam kamar. Aku ingin menangis agar perasaan ini tersalurkan tapi sayang, aku yang cengeng ini tidak mampu menangis saat ini. Setelah membersihkan diri.


Aku menatap kosong langit-langit kamar.


Sejujurnya lagu yang aku buat belumlah selesai. Bahkan aku baru menentukan melodinya saja, liriknya baru satu baris berhasil aku buat. Akhirnya aku memutuskan untuk menuangkan segalanya di dalam lagu ini. Aku ingin sesak ini cepat pergi dan berlalu. Aku ingin merasa bebas. Bebas dari mencintai Medi Hardika.


“You ..


When the stars is calling me but you…


Make everything seems easy but you …”


Setelah pulang kerja, aku langsung menuju ke rumah Medi untuk latihan seperti biasa. Sesampainya di sana Mutia juga sudah berada di sana. Mungkin Dira tahu, makanya dia juga ikut hadir dalam sesi latihan kali ini.


“Gimana?” tanya bang Yuda.


“Rabu deh, Bang,” masih menimbang-nimbang.


“Oke, Rabu ya, soalnya lagu baru dan kita harus kasih spoiler ke Momo biar mereka semangat. Lo juga semangat dong, Kana,” ucap bang Yuda.


“He he ..” lagi aku mengeja tawaku.


Terlihat pemandangan yang sangat indah di sana. Om Tyo tertawa bahagia bersama Mutia. Medi di sisinya. Pahit.


“Hhmm ..


Hmmm Falling apart, don’t be sorry


because of you …”


Aku tidak sadar kedatangan Medi dan Mutia ke garasi saat aku mencoba menyatukan lirik dan melodi yang aku buat tadi malam. Om Tyo membawa segelas besar gray tea hangat di tangannya.


“Kana ..” tegur om Tyo saat aku masih asyik bermain gitar dan menggumamkan lirik lagu. Aku meliat ke arahnya dan melihat ada Mutia dan Medi yang sudah bergabung dengan kami.


“Iya Om,” sahutku.


“Nih, gray tea kesukaan kamu.” Pria dengan senyuman seteduh mentari sore itu mampu membuat hangat dada yang sesak ini. Aku mengambil gelas besar itu dan meminumnya.


“Makasih Om.” Kemudian om Tyo kembali masuk.


“Jadi ini lagunya, yang barusan kamu nyanyiin?” tanya Mutia


“Hmm-mm ?” Aku terkesiap tiba-tiba wanita itu bertanya dan mencoba untuk akrab. Dia memang terlihat seperti itu. Semua orang menyukainya kecuali aku karena alasan pribadi bukan karena dirinya menyebalkan.


“Yang tadi kamu nyanyikan, itu lagu yang


kamu buat untuk nampil nanti?” tanyanya tulus dan antusias. Kenapa mereka tidak membiarkan aku sendiri. Lama-lama aku juga lelah memasang wajah baik-baik saja seperti ini.


Aku mengangguk dan tersenyum seadanya.


“Musiknya manis, tidak seperti lagu sedih atau patah hati, aku jadi penasaran.”


“Aku boleh ya nonton kalian manggung sabtu nanti?” tanyanya kepada Medi kemudian melihat ke arah bang Yuda. Medi menangguk pelan.


“Nggak sekalian nyumbangin lagu?” tanya bang Yuda lagi. Mutia mempunyai suara yang bagus, menurut Dira, Medi sering mengunggah video cover bersama Mutia ketika mereka masih pacaran dulu.


“Boleh?” tanyanya antusias.


“Boleh dong, ya nggak Kana.” Bang Yuda sepertinya terlalu memperhatikan mimik wajahku yang mungkin berubah-ubah ini.


Aku hanya mengangguk sekali lagi dan tersenyum seadanya.


“Yeay, bisa nostalgia kita,” ucapnya kepada Medi.


Oh, please … leave me alone.


Hari-hari aku lewati dengan menahan rasa sakit karena cemburu melihat kemesraan yang tidak sengaja terpancar dari Mutia dan Medi.


Medi berhenti mengirimkan pesan “Selamat malam" sejak Mutia datang. Aku rasa tidak perlu menunggu jawaban darinya lagi. Karena tingkah lakunya sudah bisa menjelaskan segalanya. Tapi aku tidak puas. Kata-kata menyakitkan itu harus keluar sendiri dari dirinya. Agar aku bisa segera melakukan ritual move on ku.


Aku melihat Medi sendirian di dapur. Aku duduk dan memperhatikan punggungnya. Sudah lama kami tidak berduaan seperti ini. Hanya berdua seperti ini.


“Gimana dengan Mutia?” tanyaku tiba-tiba sepertinya membuatnya terkejut.


“Hmm-mm dia ngajak … balikkan!” Sudah aku duga. Pantas mereka lengket satu dengan yang lainnya. Kami berdua diam, wajah Medi tanpa ekspresi. Napasku tertahan, rahangku mengeras.


“Kana … beri aku ..” Aku mengangkat tangan agar dia berhenti berbicara, aku tidak sanggup mendengar kelanjutannya. Aku terlalu lemah untuk itu.


“Nggak apa-apa, aku bisa terima.” Aku menggigit bibir bawah kuat-kuat agar tidak menangis dan beranjak.


“Kana …” Aku terus berjalan keluar, aku takut menangis di sini.


“Kanaaaa…!”


Medi berteriak membuat Mutia masuk untuk melihat, aku berpapasan dengannya di pintu keluar, wajahnya tampak terkejut. Bahkan aku juga tidak pernah melihatnya seperti ini. Mungkin dia merasa bersalah.


Ini salahku.


Dira juga ikut masuk melihat, wajahnya tak kalah panik setelah melihatku.


“Kenapa Med … Kana?” tanya Mutia cemas.


“Maaf, aku buat Medi marah tadi. Kami sedang bercanda.” Aku keluar karena malas dengan pertanyaan selanjutnya.


“Dia nggak pernah seperti itu loh, Kana.” Aku tidak merespon dan langsung mengambil tas dan pamit pulang dengan bang Yuda dan Gilang dengan alasan tidak enak badan.


“Aku antar yah, motor simpan di rumah aja.” Dira terlihat cemas.


“Aku nggak apa-apa. Aku pulang sendiri.” ucapku lembut.


“Aku khawatir, kamu …”


“Percaya aku nggak apa-apa, sepuluh menit lagi telpon aku dan aku sudah sampai di rumah. Oke!”


“Janji, ya,” ucap Dira lagi, aku menagngguk.


Kami bahkan belum menjadi apa-apa tapi kenapa sakitnya seperti ini. Bahkan menangis saja tidak cukup untuk menggambarkan perasaanku saat ini.


Maaf Medi, maafkan aku. Pasti kamu sedang dilanda rasa bersalah. Kamu nggak salah, tapi semua ini salahku. Tolong maafkan aku.