You My Every Love Song

You My Every Love Song
Woman Like Me



I always say what I'm feeling


I was born without a zip on my mouth


Sometimes I don't even mean it


It takes a little while to figure me out


I like my coffee with two sugars in it


High heels and my jewelry dripping


Drink and I get all fired up (hey, hey, hey)


Insecure but I'm working with it


Many things that I could get rid of


Ain't about to give it up


I made a few mistakes, I regret it nightly


I broke a couple hearts that I wear on my sleeve


My momma always said, "Girl, you're trouble" and


And now I wonder, could you fall for a woman like me


And every time we touch, boy, you make me feel weak


I can tell you're shy and I think you're so sweet


Spending every night under covers and


Still I wonder, could you fall for a woman like me (a woman)


Woman like me, like a woman like me


La-la-la woman like me, like a woman like me (a woman)


La-la-la woman like me, like a woman like me


And baby, just be mine for the weekend


We can get a takeaway and sit on the couch


Or we could just go out for the evening


Hopefully end up with you kissing my mouth, ayy, ay


(Little Mix)


“Yeay …


Terima kasih sudah hadir pada penampilan terakhir kami malam ini. Terima kasih kami ucapkan kepada semua pengunjung setia Nineteen, terima kasih juga kepada para donatur, terima kasih untuk dukungan atas masalah tempo hari yang alhamdulillah udah kelar, dan terima kasih kepada Momo, we love you guys. Jangan lupa minggu depan, kita akan nampil sebagai perpisahan dan pembubaran Moonlight yang memang dibentuk dengan visi dan misi menggalang dana. Jangan sedih minggu depan kita juga akan menampilkan prosesi serah terima yang akan kita lakukan minggu ini bersama dengan pihak-pihak terkait, jadi doakan lancar ya guys.


Dan,


yang paling spesial dari minggu depan di mana kalian wajib datang adalah Janji gue buat ngebawain lagu hasil ciptaan sendiri yang akan di tampilkan minggu depan. So don’t miss it yah …”


Ucapku menutup penampilan terakhir kami di tahun 2019 ini. Puas, bahagia, haru, dan lega. Akhirnya kami dapat mewujudkan misi kami bersama.


Hari ini Mutia datang, dengan dress selutut berwarna cokelat tua dengan motif bunga yang manis. Rambutnya di kuncir satu.


“Kak Kana, kamu keren banget boleh kita foto bareng nggak, please.” Seorang gadis dengan tampilan lucu dan imut menghampiriku.


“Aku aja, apaaa… semua geng Moonlight?” godaku padanya.


“BOLEH KAK?” tanyanya antusias. Aku mengangguk kuat dengan senyum yang sangat lebar.


Aku berdiri paling depan, Medi di sampingku, hari ini aku menggunakan kaos oversize lengan panjang berwarna abu-abu muda dan jeans berwarna abu-abu lebih tua, tidak menggunakan lipstik merah seperti kebiasaanku, kali ini aku menggunakan warna lebih lembut. Membuat tampilan yang sedikit pucat tapi tetap elegant. Mungkin karena warna rambutku yang senada dengan pakaianku malam ini.


“Makasih, Kakak-Kakak semua. Kak Kana kalau begini mana bisa kita sebut alien. Lebih mirip putri es gitu .. pas deh Kak Medi Pangeran es dan Kak Kana Putrinya, cocok!” ucap sala satu wanita yang tadi berfoto dengan kami.


“Semacam Elsa dan Jack Frost gitu ya?” godaku pada mereka dengan santai.


“Eh iya, cocok!” seru mereka dengan semangat yang aku tanggapi dengan tawa yang riang dan ringan. Mutia suda bergabung dengan kami sedari tadi. Aneh, dia tidak menyapaku seperti biasanya. Aku menyapanya duluan, dia balik menyapa dengan sopan tapi ada yang berbeda entah apa.


Aku melihat Mutia dan Medi yang menjauhi meja dan berbicara berdua. Apakah masih sakit melihatnya? Tentu saja, tidak ada rasa sakit yang bisa sembuh secara instan, semuanya berproses, bertahap dan harus tegar.


“Nggak usah dilihatin!” tegur Dira tiba-tiba.


“Aku antar ya nanti,” ucapnya lagi.


“Nggak usah, aku naik ojol aja,” sahutku.


“Yakin, lo?” tanya Dira merasa tak yakin. Aku tersenyum lebar.


“Yakin! Aku mau ke toilet dulu habis itu balik ya.” Dan aku melengos pergi menuju kamar mandi. Setelah selesai dan hendak menuju meja kami, aku meliat Mutia dan Medi dari kejauhan sedang berbicara dan tampak sangat serius.


Tentu saja pembicaraannya tidak sampai terdengar oleh telingaku. Tiba-tiba tubuhku menegang. Aku melihat Mutia melingkarkan tangannya merangkul Medi, dia tidak menolak, tentu saja tidak.


Cepat aku berbalik, tidak ingin menyakiti diri sendiri dengan pengandaian dan harapan lain. Melepaskan napas dan menepuk wajah agar tersadar. Aku mengambil tas dan ponsel segera memesan ojol untuk menjemputku di saat Dira dan yang lain sedang asyik di meja lain. Aku pamit dan buru-buru pulang dengan alasan Ibu sudah menunggu.


Seberapa kuat aku menghalau ingatan ketika Mutia merangkul Medi dengan mesra itu, tentu saja ingatan itu tidak mudah pergi. jalanan kota Pontianak sudah mulai sepi.


“Bang, kalau aku teriak boleh nggak?” ucapku setengah berteriak di balik punggung Abang ojek online.


“Boleh, Mbak, lepasin aja Mbak …” ucapnya semangat. Aku berteriak sekeras mungkin diikuti oleh Abang ojek yang membawaku pulang, sungguh lucu dan miris.


Aku pulang dan Abangku sudah menunggu. Sejak jatuh sakit kemarin, tiba-tiba saja suasana jadi lebih hangat dan nyaman, aku merasakan sedikit perhatian yang aku butuhkan. Tidak menginginkan perubahan yang besar, cukup perhatian yang realistis. Kecil tapi hangat. Hal ini juga membuatku lebih cepat pulih dari rasa sakit yang aku alami. Terdengar tidak masuk akal tapi beginilah perasaanku


Pada awalnya aku berpikir akan mengambil kuliah S2 di luar kota sehingga dapat melarikan diri dari rasa sakit karena patah hati tapi, ternyata aku juga tidak ingin berpisah terlalu lama dengan keluarga dan sahabatku.


Akhirnya aku memutuskan setelah selesai urusan dengan pekerjaan, aku akan pergi jalan-jalan dengan uang tabungan yang sebenarnya sudah kusisihkan sejak awal tapi tidak sempat digunakan karena kesibukan dalam bekerja itu sendiri.


Minggu depan kami mengosongkan jadwal latihan karena penampilan nanti kami hanya akan membawakan lagu yang direquest oleh Momo dari semua penampilan kami yang lalu. Dan penampilan soloku yang membawakan lagu ciptaan sendiri. Awalnya ingin membawakan bersama yang lain, tapi tercetus begitu saja aku ingin lagu ini dibawakan solo.


“I knew I loved you then


But you'd never know


'Cause I played it cool when I was scared of letting go


I know I needed you


But I never showed


But I wanna stay with you until we're grey and old


Just say you won't let go


Just say you won't let go


I'll wake you up with some breakfast in bed


I'll bring you coffee with a kiss on your head


And I'll take the kids to school


Wave them goodbye


And I'll thank my lucky stars for that night


(Say You Won’t Let Go – James Arthur)


Aku bersenandung sebelum tidur seraya berdoa jangan membiarkanku bermimpi malam ini. Aku hanya ingin tidur dan melupakanmu sejenak.