
Yo, With that smile K.O.
You wind up my heart
I’m coming to you Take Off
Always I’m okay I can only see you baby
Just you, lady
I mean, you dazzle more than the stars with details
Yo I’m rolling in deadly charm
Don’t worry this is ours
I listen to you every day like a Mixtape
I’ll shout out loud for everyone to sing along
Give you my heart heart
Give you my part part
I want to give you the whole world
Listen (well) you know (me)
No matter who swears at us,
My baby my last love (love love love)
All day thinking of us (us us us)
Listen here our little song is blooming like a flower
We’re walking after hundreds of falls
You know that Don’t worry. Don’t worry.
U got it , U got it , U got it
Don’t be swayed Don’t be swayed Don’t worry Don’t worry baby
No matter what anyone says,
I won’t let you go
They can make noise however they want but
I can only see you, you got it …
(Produce X101 _ U GOT IT)
Seperti sedang di sidang karena melakukan kesalahan yang sangat berat di sinilah aku. Di antara dua sahabat yang sepertinya mencium sesuatu yang mencurigakan. Berada di kamar Dira yang serba puti dengan beberapa ornamen warna ungu menghiasi kamarnya. Mereka berdua duduk menghadapku. Seperti sedang mencari sesuatu di sana di dalam mataku.
Keduanya diam tanpa kata-kata, membuat suasana menjadi lebih mencekam. Mereka mengirimkan pesan padaku pagi tadi agar bertemu lebih dulu sebelum persiapan manggung sabtu malam ini.
Aku saja hampir dibuat penasaran karena tidak ada satu pun dari mereka yang berniat bilang tentang apa pertemuan mendadak ini. Apa tentang diskusi terakhir dengan kepala dinas Dinas Sosial dan Ketenagakerjaan kemarin yang gagal total. Mereka masih dengan tiba-tiba menolak pengajuan proposal yang awalnya diterima tanpa alasan yang jelas. Tapi hal tersebut sudah kami bahas di group chat, dan sepakat malam ini akan kami umumkan kepada penonton yang sebagian besar juga merupakan donatur. Kami juga akan melakukan live di facebook dan instagram untuk memberitahukan situasi yang sedang kami hadapi. Mungkin saja sala satu dari donatur yang menonton memiliki ide bagaimana kami harus terus berjuang untuk visi kami ini, karena jujur saja tidak ada dari kami yang menyerah.
“So …” Dira menaikan alisnya sinis.
“Kamu dan Medi ini ada apa?” tanyanya kemudian dengan tampang sinis dibuat-buat.
“Ya, nggak kenapa-kenapa. Memang kenapa?” tanyaku balik.
“Hah? Nggak kok kami nggak pacaran. Kok bisa mikir gitu?”aku balik bertanya kepadanya yang sekarang membulatkan kedua bola matanya yang suda besar itu.
“Kalian itu udah terlalu sering berdua, apalagi minggu belakangan ini. Pertama, ngantor diantar dan dijemput Medi, trus langsung latihan. Kedua, pulang latihan bang Yuda mau nganterin lu, nggak dibolehin sama Medi. Padahal arah rumah lu sama bang Yuda searah. Ketiga, gesture Medi ke elu itu terlalu, gimana gue nyebutnya ya … intim untuk sekedar teman doang!” Eve memberikan uraian panjang yang membuatku terdiam dan berpikir kembali. Benar juga apalagi kejadian malam itu kembali terlintas dalam ingatanku, kejadian saat Medi menciumku. Dia mengambil ciuman pertamaku.
Iya, ciuman pertama.
Aku sedang menimbang, baiknya kalimat seperti apa yang harus keluar dari mulutku ini. Kedua manusia di hadapanku ini sungguh, manusia sakti. Aku tidak bisa berbohong atau menyembunyikan apapun dari mereka.
Haruskah aku memberitahukan tentang ciuman malam itu. Ciuman yang cukup panas untukku yang pertama kali mengalami kejadian seperti itu.
“Hmm-mm aku sama Medi sampai hari ini masih teman.” Kalimat itu keluar dengan pasti dari mulutku setela lama diam menimbang. Kenyataan pahit itu adalah kenyataannya bahkan setela ciuman malam itu, status kami tidak berubah. Sikapnya saja yang berubah menjadi protektif.
“I tell you ya Kana. Medi itu bukan tipe pria protektif. Dia hanya melakukannya dengan beberapa orang saja, Maya salah satunya, makanya tu anak sampai hari ini belum dapat restu pacaran dari Medi. But, surely gue bisa lihat dengan jelas, bahkan bang Yuda juga ada nyinggung hal ini. Medi itu protektif banget sama kamu. Sampai makan aja diurusi sama dia. Itu aneh kalau kalian cuman teman.” Dira melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya serius.
“Kalian juga protektif sama gue dan kita temenan, kan?” ucapku balik membuat Eve memutar kedua bola matanya.
“Ini beda case. Oke gini, gue tanya satu hal yang sebenarnya kita bertiga udah tau jawabannya. But to make sure I’ll ask you again, lu suka sama Medi? I mean, lu cinta nggak sama Medi?” Eve dan Dira semakin serius. Sewaktu mereka tahu aku menyukai Medi waktu awal pertemuan, mereka tidak seserius ini. Tapi, tiba-tiba saja menjadi pembahasan sangat serius untuk mereka. Aku paham apa yang mereka takutkan, aku tahu karena aku juga sebenarnya sangat takut.
“I do.” Aku menunduk tidak berani melihat kedua sahabatku ini.
“Kana, gue uda pernah peringati lo kan. Medi itu orang yang sulit kamu handle. Dia belum 100% move on dari Mutia, mantannya. Walau sebenarnya gue agak takjub juga sama perilaku dia ke elo. Feel like, dia juga suka sama lo, gitu. Itu yang bahaya,” ucap Dira memegang bahuku pelan.
“Bahaya?” tanyaku bingung.
“Bahaya karena dia bertingkah seolah membalas perasaan lo. Bahaya karena dia tahu lo suka sama dia. Bahaya karena status kalian cuma teman yang menimbulkan resiko, lo akan mendapat dampak sakit lebih besar jika sesuatu yang tidak semestinya terjadi. Paham! “ Eve tampak sangat khawatir sekali.
“Aku tahu. Kalian mau aku gimana?” tanyaku.
“Tanya. Apa sebenarnya kalian ini!” lanjut Eve kemudian memelukku yang suda berkaca-kaca.
“Tanya sama dia hubungan kalian mau dibawa kemana? Pastikan sama dia, biar kamu tidak memupuk cinta dan harap yang berlebihan, Kana. Oke.” Eve masih memelukku, kemudian Dira memeluk kami berdua.
“Jangan khawatir, kamu punya kami.”
\*\*\*
Kami bertiga sampai di rumah Medi. Tampak sibuk Gilang dan bang Yuda sedang berkemas. Sedangkan Medi baru keluar dari dalam rumah dan langsung meliat kami bertiga secara bergantian. Dia mendekati kami dan mengangkat daguku. Yah, dia melakukan itu di depan orang-orang sekarang.
“Kamu habis nangis?” tanyanya raut kekhawatiran muncul dari wajahnya.
“Nggak,” jawabku cepat dan bergabung membantu Gilang yang sedang memasukan beberapa peralatan ke dalam peti.
“Ada apa?” seakan tidak puas, da kembali menanyakan hal tersebut kepada Dira.
“Elah nih bocah, nggak ada apa-apa, Med,” Dira berkilah.
Rencana kami malam ini berjalan lancar dan mendapat berbagai respon dari penonton dan donator tentang kesulitan mendapat izin dari Dinas terkait. Bahkan ada beberapa orang yang merupakan petinggi di beberapa dinas berbeda menawarkan negosiasi bersama. Sungguh masih banyak orang-orang baik di luar sana.
Tampaknya strategi bang Yuda lagi-lagi membuahkan hasil. Sudah dapat dipastikan setelah live malam ini. Masalah tersebut akan viral. Kami sudah buntu, tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi ketidakpastian ini.
“Bentar ya, Kan aku ambil tas dulu ketinggalan di dalam kayaknya,” ucap bang Yuda buru-buru kembali ke dalam saat kami tengah memasukan beberapa barang ke dalam mobilnya. Setelah bang Yuda masuk, Medi muncul.
“Kana, ada apa sih? Kamu ada masalah? Cerita sama aku?” ucapnya lembut, sangat lembut. Telapak tangannya yang besar dan dingin memegang lembut wajahku. Memaksa agar pandangan kami saling bertemu.
Aku melepaskan napas panjang, semua perkataan Eve dan Dira terus saja terlintas di dalam pikiranku. Mereka benar, jika harus menjadi orang bodoh jadilah orang bodoh yang tidak terluka, Kana. Karena aku tahu betul sakitnya akan melebihi dari semua rasa sakit akan patah hati yang selama ini aku alami.
“Med …”
“Hmm …” tangannya masih berada di wajahku, tatapannya teduh.
“Kita ini sebenarnya apa?”