
~ *Even though we both know we're liars and we start each other's fires
We just know that we'll be all right
Even though we're kicked out the party 'cause we both hate everybody
We're the ones they wanna be like
So don't let me down
Keep me in trouble
Born to be wild
Out in the jungle
And I don't wanna be somebody without your body close to me
And if it wasn't you, I wouldn't want anybody close to me (yeah, yeah)
'Cause I'm an animal, animal-al, like animal, like you
And I don't wanna be somebody without your body close to me (whoo)
You can never come too close for comfort
I had to cut my * off, she bein' stubborn (stubborn)
I make it known I with you, not undercover ('cover)
And when I jump in, I'm burnin' rubber (yeah, skrrt)
Iced out body, didn't go to college (yeah, yeah)
Price tag poppin', then you on a private (then you on a)
Don't say "sorry, " everyone's watchin' (everyone)
When you're where I am, everything's timeless (yeah, yeah)
And I don't wanna be somebody without your body close to me
And if it wasn't you, I wouldn't want anybody close to me (yeah, yeah)
'Cause I'm an animal, animal-al, like animal, like you
And I don't wanna be somebody without your body close to me (whoo)
Close to me
Close to me
(**Ellie Goulding, Diplo***)
2019. Practice
Suasana pagi di komplek perumahan Medi ini sangat sepi. Karena rata-rata yang tinggal di sini adalah Dosen sama seperti ayah Medi, om Tyo. Jadi pukul 9.30 seperti ini sudah sepi, dan akan menjadi ramai kembali saat sore hari ketika orang-orang sudah pulang dari beraktifitas.
“Nih, bubur. Sarapan dulu!” Medi keluar dari dalam membawa dua mangkuk bubur dan duduk berhadapan denganku. Aku heran, kenapa dia suka sekali mengambil posisi ini. Duduk di depanku ketika kami sedang makan. Ah, mungkin hanya kebetulan.
“Jangan suka ngeskip sarapan! Jangan suka pilih-pilih makan!” ucapnya lagi seraya menyuap sesendok penuh bubur masuk ke dalam mulutnya. Bibir Medi bergerak-gerak lucu ketika sedang mengunyah.
“Aku, nggak bilang apa-apa, kok!” protesku mengambil mangkuk berisi bubur dan mulai memakannya. Yah, aku tidak terlalu suka bubur. Ketika sarapan aku akan lebih memilih nasi uduk atau nasi kuning. Sarapan kelas berat semua.
“Semua terbaca jelas dari mimik wajahmu,” ucapnya lagi.
“Yang bisa baca mimik wajah aku cuma dikit, Dira sama Eve doang tauk!” aku mengernyit kesal.
“Mulai hari ini tambahkan aku dalam daftar!” ucap Medi seraya mengambil segelas kopi susu yang tadi dia bawa bersama dengan bubur. Dia menatapku dari balik gelas, kedua alis matanya naik, dia melempar senyum aneh setelah menyeruput kopi susu. Senyum yang seakan menggoda.
Sial!! Aku terlalu melebih-lebihkan.
Baru kali ini aku berharap bang Yuda, Gilang atau siapapun itu datang secepatnya. Agar pikiran-pikiran aneh yang merayap dan memakan otak warasku segera hilang. Kami sudah selesai sarapan saat ini. Aku tidak akan mengulangi kebodohan berbicara tentang Gina, pacarnya. Medi mengambil gitar yang tersandar di dinding dan memetikkan senarnya perlahan.
“Ayo latihan!” ucapnya, dan aku mengangguk.
“Mungkin, yah,” ucapku kemudian. Medi mengangguk dan mulai memainkan melodi yang sayu dan indah. Kami saling berhadapan. Dekat, sangat dekat. Detak jantung ini menggila. Aku memang sudah gila, sejak aku tak malu lagi mengakui pada diri ini. Bahwa perasaan terhadap pria yang tengah serius dengan gitarnya itu bukan lagi sekedar kekaguman belaka. Aku menyukainya, mencintainya, mungkin.
“Mungkin
Aku bisa bercinta dengan kamu
Kendati kata-katamu selalu
Melukaiku
Mungkin
Kumau memaafkanmu kembali
Demi cinta yang ada di hatiku
Meloloskanmu
Dari kata pisah
Mungkin sang fajar
Dan sayap-sayap burung patah
Menyaksikan kita berseteru
Selalu tak pernah damai
Mungkin cintaku
Terlalu kuat dan menutupi
Jiwa yang dendam akan kerasmu
Sehingga kita bersama
Mungkin … "
Medi merekam saat kami latihan agar dapat melihat dan mendengarkan kembali hasil latihan barusan. Itulah kenapa aku harus duduk berhadapan dengannya walau bukan sedang makan. Untung saja masih bisa fokus bernyanyi, tapi aku rasa banyak nada yang goyang tadi.
Wajahnya serius. Menyebalkan sekali, setelah membuatku hampir sesak dan sulit bernapas, dia malah sangat serius melihat hasil rekaman tadi.
“Bagus, sih walau ada beberapa nada yang goyang di akhir. Perhatikan lagi ya!” ujar Medi masih dengan wajah seriusnya
“Jangan gugup,” ujarnya pendek.
Aku tidak merespon, aku bingung harus menyangkal seperti apa. Tapi memang seperti itu adanya. Aku gugup. Berdua saja dengannya saja sudah cukup membuat frustrasi. Ditambah harus bernyanyi di depannya. Aku yakin saat mataku fokus menatap layar ponsel karena harus melihat lirik lagu sebagai pengalihan, bukan karena belum hapal liriknya, dia pasti melemparkan tatapan mistisnya itu. Kalau mata kami saling bertemu, sudah pasti aku akan terhipnotis kembali.
Aku harus waspada.
Kami mengulang beberapa kali menyanyikan lagu Mungkin dari Potret, hingga pria yang menggunakan kaos lengan pendek berwarna putih yang seakan menyatu dengan kulitnya yang juga bening itu puas.
Setelah selesai menyanyi, dia akan melihat hasil rekaman video kami. Dia melirik ke arahku yang sedang asyik menatapnya. Hampir saja jantungku pindah tempat!
Kemudian tiba-tiba dia masuk ke dalam dan tidak lama keluar membawa dua botol mineral yang tidak dingin.
“Minum, jangan lupa minum yang banyak!” ucapnya.
Tuhan, aku mau satu yang seperti ini.
Sesekali Medi bersenandung menyanyikan lagu yang sama. Suara beratnya benar-benar teduh dan nyaman.
“Wuidih, sudah mulai aja nih” ujar bang Yuda yang baru saja datang.
“Dari jam berapa, Kan?” tanya pria yang berbeda lima tahun denganku itu.
“Jam 9 lewat dikit!” jawabku sambil tersenyum.
“Tadi nge-live di sini? Sendirian? Baru tau kamu bisa main gitar juga.” Rentetan pertanyaan yang bingung harus aku jawab yang mana lebih dulu. Pria itu duduk, membuka ransel yang dibawanya tadi dan mengeluarkan laptop dari sana.
“Iya, habisnya gabut. Belajarnya udah lama sih jadi agak lupa-lupa gitu, Bang. Jarinya aja sampe sakit.” aku tertawa kecil.
“Kalau mau belajar lagi? nanti aku ajarin!” Kalimat barusan mengandung komposisi yang tidak baik untuk kesehatan hati dan jantung ini. Aku hanya melihat ke arahnya dan tersenyum lebar. Tidak ingin merespon apa-apa. Aku takut terbawa perasaan. sudah cukup kegilaan hari ini.
“Bang, sekali-kali nanti habis kita berhasil perform dengan selamat, kita nge-live di Instagram siapa gitu salah satu anggota aja. Nanti kita info dulu di twitter biar rame. Jadi kan, nanti banyak yang kenal kita, nah kalo udah banyak yang kenal, akan lebih mudah ke depannya untuk ngajak orang-orang buat bantu donasi,” ucapku serius.
“Boleh, kok. Aku sih oke aja.” Bang Yuda menanggapi tak kalah serius.
“Dengan selamat? Kita mau perform apa perang sih, Kan?” ujar Medi seraya mengacak-ngacak rambut pendekku dengan gemas. Aku hanya bisa mengerucutkan bibir dan menatapnya kesal. Tidak kesal dalam arti sesungguhnya.
Kenapa saat seperti ini kita menjadi lebih dekat. Kenapa tidak waktu itu, saat kamu belum di miliki siapa-siapa, mungkin ceritanya akan berbeda. Atau mungkin sama saja, malah lebih buruk. Untukku saat ini, yang mana akan sama saja. Aku sendirian di sini, menikmati perasaan ini. Mungkin benar kata Kak Fiersa, kita adalah rasa yang tepat, di waktu yang salah.
Kedekatan kita ini, kadang membuatku merasa tidak nyaman. Bukan karena kamu. Tapi, karena aku terlalu takut terbuai dan akhirnya kembali terluka. Setiap hari aku merapal mantra agar kau mendekat ke arahku. Tapi, ketika mantranya mulai bekerja aku merasa kelelahan. Lelah menghadapi riuh dalam hati yang terlonjak kegirangan karena kau berada di sekitar radarku.
Hentikan.
Tapi, aku terlalu candu. Candu akan hadirmu.
Maaf!