You My Every Love Song

You My Every Love Song
Lovers



*We could let our friends crash in the living room


This is our place, we make the call


And I'm highly suspicious that everyone who sees you wants you


I've loved you three summers now, honey, but I want 'em all


Can I go where you go?


Can we always be this close forever and ever?


And ah, take me out, and take me home (forever and ever)


You're my, my, my, my lover


Ladies and gentlemen, will you please stand?


With every guitar string scar on my hand


I take this magnetic force of a man to be my lover


My heart's been borrowed and yours has been blue


All's well that ends well to end up with you


Swear to be overdramatic and true to my lover


And you'll save all your dirtiest jokes for me


And at every table, I'll save you a seat, lover


(**Taylor swift***)


2019, Izin – Request


Lima bulan yang lalu aku sengaja mengambil cuti dua hari, untuk hari ini dan besok. Iya, lima bulan yang lalu. Untuk seorang admin penjualan sepertiku cuti adalah hal yang mahal dan mewah. Belum tentu diizinkan, tapi entah kenapa waktu mengajukan cuti waktu itu aku mendapatkan persetujuan dengan mudah.


Bukan untuk jalan-jalan atau sekedar ke pantai. Cuti biasa aku habiskan di kamar dan membaca seharian atau menonton seharian. Tadi malam Dira bilang ingin ditemani ke Dinas sosial untuk menyerahkan proposal dan surat izin yang diperlukan.


“Sumpah, kenapa sih apa-apa yang urusannya dengan pemerintahan itu, sulit banget.” Wanita yang sedang menyetir itu tetap fokus walau omelannya seperti rentetan petasan di malam tahun baru.


“Tau nggak, kemarin malah lebih parah lagi! Masa mereka mau terima uangnya doang, terus nanti renovasi mereka yang akan urus. Kiranya gue goblok apa percaya gitu aja. Yang ada duit yang kita kumpulin itu bakal di pake buat yang lain sama mereka. Bukannya berprasangka buruk ya, tapi emang keseringan begitu.” Jika kalian dapat melihat api tak kasat mata itu kini tengah menyelimuti Dira.


“Tapi syukur deh, mereka mau nerima proposal kita yang terakhir. Walau tetap dengan keribetan-keribetan yang lain itu,” tambahnya tetap dengan nada yang berapi-api.


Nada dering dari ponselku berbunyi ~ Dejavu dari Nu’est ~


“Halo” sahutku cepat.


“Di mana, beb?” tanya suara di seberang saluran telepon di sana.


“Masih di jalan balik ke rumah Dira. Baru aja kelar urusan di Dinas. Kenapa?” tanyaku lagi sambil mengaktifkan mode loundspeaker sehingga Dira juga dapat mendengar percakapan.


“Bisa anterin ambil buku nggak. Ada yang mau nyumbangin buku nih buat jualan minggu nanti.” Aku melihat ke arah Dira.


“BISA BANGET!” ucap Dira penuh semangat.


“Haha, Oke aku tunggu ya, cinta.” Kemudian saluran telepon terputus.


“Banyak banget, makasih loh. Semoga berkah yah. Rencananya setelah sortir nanti buku ini akan aku jual secara online dan langsung setiap hari minggu pagi di CFD. Bantu sebarin juga ya.” Eve terlihat sangat bersemangat sembari memasukan dus terakhir. Total ada tiga buah dus seukuran dus mie instan berisi buku-buku bekas yang sudah tidak diperlukan lagi oleh sang pemilik. Buku-buku yang akan sangat berharga bagi Eve dan seluruh tim. Setelah mengucapkan terima kasih entah untuk yang ke berapa kali, kami pergi meninggalkan rumah si pemilik buku.


“Entar tim lu siapa aja, Eve? Kalau gue kelar buat kue, gue ke sana deh,” ucap Dira sambil menyetir. Dira adalah seorang pedagang juga dan seorang pastry alias pembuat kue.


“Gue, Jimi sama Anggun sih. Bertiga, buku yang udah disortir di rumah Anggun. Buat di foto nanti sama Jimi,” jawab Eve sambil sibuk mengirim pesan kepada timnya bahwa buku sedang dalam perjalanan ke rumah Anggun.


“Sohib lu kagak lu ajak?” tanya Dira dengan nada menggoda. Sayangnya Eve sedang tidak fokus. Responnya hanya mengerutkan alis dan memandang Dira bingung.


“Gina, Sis. Gina … “ sambung Dira menyikapi kebingungan yang terpancar dari mimik wajah cantik Eve.


“Sialan, lu…” semprotnya direspon gelak tawa dengan suara melengking khas Dira.


“Asyik ya, aku ngapain dong nanti?” tanyaku tiba-tiba.


“Bantuin gue, bantuin Eve jadi pembantu aja deh pokoknya, bantu sana sini gitu.” Aku mengerucutkan bibir membuat Eve dan Dira tertawa.


Aku sungguh iri dengan mereka yang mempunyai hasrat dan keinginan sekuat itu. Aku, entah kapan aku menjadi begitu pesimis dan tidak percaya diri. Kadang aku membenci diriku sendiri yang begitu pengecut akhir-akhir ini. Seingatku aku tidak seperti ini dulu.


Lima belas menit menyetir, tidak jauh dari rumah si pemilik buku tadi kini kami sampai di rumah Anggun. Segera kami menurunkan dus-dus berisi penuh dengan buku-buku yang akan disortir oleh Anggun dan difoto oleh Jimi nanti. Tugas selesai.


“Kita kemana lagi?” tanya Eve setelah kami kembali masuk ke dalam mobil Dira.


“Lu ada acara?” tanya Dira tanpa menjawab pertanyaan Eve sebelumnya.


“Nggak ada,” jawabnya kemudian.


“Tadi Bang Yuda Wa, nyuruh ke rumah Medi,” ucap Dira, Eve berbalik menatapku yang kini juga menatapnya.


“Why?” tanyaku setelah beberapa detik dia tidak bersuara.


“Di sana pasti ada Gina!” ucap Eve seraya mengedip-ngedipkan matanya.


“It’s oke, gue bakal berusaha baik-baik aja kok,” ucapku menyedihkan. Dira dan Eve menertawaiku, bukan bermaksud menjatuhkan mentalku, bukan. Mereka adalah sahabat terbaik dan menyebalkan yang menjadi satu, tidak pernah ada niat jahat apapun dari mereka. Mereka selalu ingin yang terbaik untukku tapi tetap menyerahkan keputusan akhir padaku.


Mau bagaimana lagi, mereka sudah resmi pacaran. Dengan kegiatan kami hingga awal tahun depan intensitas pertemuanku dengan mereka pasti akan naik. Aku harus mulai membiasakan diri dan baik-baik saja. Karena jika tidak, aku juga akan merasa bersalah, menyukai seorang pria yang sudah memiliki pacar dan sialnya, pacarnya adalah temanku juga.


Mobil Dira sudah di parkir rapi. Dari dalam mobil kami dapat melihat Gina yang sedang duduk di garasi samping rumah Medi yang sepertinya dijadikan tempat berkumpul.


“Pas banget, lu datang bawa, Kana!” ucap bang Yuda saat melihat kami muncul.


“Kenapa gitu? Ada perlu apa bang sama Kana?”tanya Dira penasaran seraya duduk, aku dan Eve juga duduk di dekatnya. Lagi, aku menghindari sorot mata Medi yang beberapa kali terakhir saat kami bertemu selalu membuat resah itu.


“Gini, semua udah kumpul ni ya,” ucap bang Yuda memberi isyarat kepada Gilang yang juga ada di sana untuk duduk dan memperhatikannya.


“Rencananya, gue, Gilang dan Medi mau ngeband buat ngumpulin duit untuk rencana kita itu!” jelas bang Yuda ditanggapi super antusias oleh Dira.


“Gila, kece banget!” ucapnya menggebu.


“Makanya, gue aja udah dapat job buat manggung padahal anggotanya belum komplit,” sambungnya kemudian sambil tertawa renyah, di antara kami, bang Yuda lah yang paling tua.


“Lo bukannya udah. Bang Yuda megang drum, Gilang gitar, Medi mah bisa apa aja plus vokal, bukannya udah?” tanya Dira penasaran.


“Tadi Gilang juga bilang gini, tapi gue punya rencana lain. Gue pengen vokalis cewek!”


“Dan, gue mau Kana yang jadi vokalis band kita ini!!” ucapnya membuat beberapa pasang bola mata sepertinya hendak meloncat keluar dari sarangnya. Aku juga begitu. Tiba-tiba pendengaranku memburuk. Aku tidak dengar permintaannya itu barusan. Apa dia tidak salah memintaku jadi vokalis? Pengalaman saja tidak punya. Hobi menyanyi yang hanya salurkan dalam ruang tertutup. Mungkin memang aku mengcover lagu tapi tidak, bukan vokalis. Ini hal serius.


Aku mendadak tuli.