You My Every Love Song

You My Every Love Song
Here with Me (II)



I think I see your face in every place that I go


I try to hide it, but I know that it's gonna show


Every single night, I find it harder to sleep


'Cause I need you here with me


Everyday


You're saying the words that I want you to say


There's a pain in my heart and it won't go away


Now I know I'm falling in deep


'Cause I need you here with me


Every day


You're saying the words that I want you to say


There's a pain in my heart and it won't go away


Now I know I'm falling in deep


'Cause I need you here with me


Can I tell you something just between you and me?


When I hear your voice, I know I'm finally free


Every single word is perfect as it can be


'Cause I need you here with me (Marshmallow)


Akhirnya perjalanan kami hampir mendekati akhir. Uang yang di kumpulkan juga hampir memenuhi target. Memang benar diakui oleh para anggota panitia, penyumbang terbesar adalah tim Moonlight. Karena bekerja sangat keras dalam mengumpulkan dana. Kami tampil setiap sabtu malam, latihan setiap hari dan belakangan ini Moonlight menerima banyak tawaran tambahan seperti menjadi wedding singer di beberapa hari minggu terakhir di mana upah yang di dapat tidak sedikit.


Jumlah followers Moonlight saja dalam kurun waktu tiga bulan ini sudah menjejaki angka ribuan. Tentu di luar ekspektasi. Mereka yang menyukai Moonlight menyebut diri mereka sebagai Momo.


Momo juga sudah biasa memanggiku dengan sebutan “Alien” gara-gara setiap mengunggah gambar yang diambil saat tampil atau saat di luar panggung, captionnya selalu saja di mulai dengan kata alien. Saat kami melakukan live banyak yang bertanya kenapa aku, vokalis Moonlight di sebut alien saat itu Medi yang menjawab.


“Jangan percaya tampilan, lucu dan imutnya ketika bernyanyi. Atau tampilan sedih yang melankolis. Kalian tertipu dia alien yang sedang mengamati manusia. Hati-hati!” Medi mengucapkan kalimat tersebut setelah hampir 30 menit tidak mengeluarkan sepatah kata pun saat live di mulai. Wajahnya serius saat membicarakan tentang “alien” ini. Sotak saja, Momo langsung ribut dan menggunakan hastag #KanaSangAlien di seluruh media sosial, memang tidak sampai trending tapi cukup membuat orang-orang pada penasaran dan akhirnya juga mengikuti kami di sosial media.


Kami beruntung, group dengan vokalis amatiran seperti ku ini cukup berhasil dengan tujuan awal kami yaitu mengumpulkan dana.


“My mother said I'm too romantic


She said, "You're dancing in the movies"


I almost started to believe her


Then I saw you and I knew


Maybe it's 'cause I got a little bit older


Maybe it's all that I've been through


I'd like to think it's how you lean on my shoulder


And how I see myself with you


I don't say a word


But still, you take my breath and steal the things I know


Fire on fire would normally kill us


With this much desire, together, we're winners


They say that we're out of control and some say we're sinners


But don't let them ruin our beautiful rhythms


'Cause when you unfold me and tell me you love me


And look in my eyes


You are perfection, my only direction


It's fire on fire, mm


It's fire on fire …”


(SAM SMITH – Fire on Fire)


Minggu ke sebelas menjadi vokalis Moonlight, semua berjalan sangat baik. Latihan setiap hari kecuali akhir bulan karena aku sibuk di kantor. Kalau jadwal manggung bertepatan dengan akhir bulan maka kami akan off atau jadwal manggung akan diundur keesokan harinya yaitu minggu.


Semua sudah disusun oleh bang Yuda jauh-jauh hari bahkan sebelum jadwal manggung pertama kami kemarin.


Lalu bagaimana hubunganku dengan Medi?


Baik, hubungan kami sangat baik. Kami tetap menjadi teman. Setiap akhir bulan di mana aku pasti pulang kerja tengah malam yaitu pukul satu dini hari, dia akan bersikeras menjemput dan mengantarkanku pulang hari itu.


Teman yang manis.


Selebihnya tidak ada. Kami masih menjadi teman dan walaupun harapan melambung tinggi di hati. Aku tidak ingin buru-buru memutuskan apakah hubungan kami akan melebihi batasan seorang teman.


“Frustrasi gue! Dana kita itu tinggal dikit lagi capai target. Eh malah orang-orang dinasnya yang bertingkah!” ucap Dira pada siang hari yang panas, tak kalah panas dengan suasana hati kami saat itu. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja Dira dan Gio mendapatkan panggilan dari kepala Dinas Sosial dan Ketenagakerjaan agar dapat bertemu sesegera mungkin.


Setelah sampai di sana Dira dan Gio mendapat kabar tidak menyenangkan. Pasalnya, tiba-tiba saja proposal yang awalnya sudah disetujui itu tidak dapat dijalankan dengan alasan tidak pasti. Mulai dari pengerjaan oleh pihak luar, dan biaya yang di nilai terlalu besar. Tidak masuk akal, bukankah kami yang mencari dana, jika tidak masalah jika itu terlalu besar atau tidak. Pengerjaan oleh pihak luar, padahal dari awal sudah disetujui pengerjaan ronovasi akan dilakukan oleh pihak yang sudah kami sepakati bersama.


Bagaimana kami tidak berang. Membayangkan raut wajah kecewa nenek dan kakek di sana saja sudah cukup membuat pilu.


Ketika terakhir kali mengunjungi mereka saat melihat lokasi ruangan yang akan diperbaiki, mereka terlihat antusias dan semangat menanyakan perkembangan. Tidak berhenti mereka berdoa agar usaha kami lancar.


Sedih rasanya. Dira masih tetap saja emosi. Gio hanya terduduk lemah di sofa merah rumah Dira. Sedangkan yang lain sibuk dengan pikiran masing-masing.


“Gini, mending kita balik dulu tenangin diri. Besok gue temanin ke sana lagi buat diskusi, siapa tahu kali ini ada jalan tengahnya,” ucap bang Yuda yang sepertinya di setujui oleh yang lain.


“Aku antar ya,” ucap Medi ketika sudah berada di luar rumah Dira.


“Kan, bawa motor,” sahutku masih tidak bersemangat.


“Tinggal aja, besok aku antar ke kantor,” ucap Medi lagi saat kami berjalan beriringan menuju rumahnya.


“Nggak usahlah, repot kamu, kasihan,” jawabku lagi sambil mendongak melihat wajahnya dari samping. Jantungku tiba-tiba berdetak tidak normal, cepat-cepat aku alihkan pandangan dari pemandangan tampak samping wajah Medi yang sangat tidak sehat untuk jantung ini.


“Kita makan dulu,” ucapnya seolah membujuk.


“Udah kenyang,” jawabku seadanya. Sejujurnya aku senang situasi tarik-ulur ini.


“Kana.” Dia berhenti berjalan dan memandangku lekat. Selain tampak samping wajahnya, tatapan seperti ini juga tidak sehat.


“Iyaaa… Okee … ish.” Aku berjalan mengentak-entakkan kaki seolah kesal, padahal dalam hati riang.


Maaf Medi, aku suka bermain seperti ini karena kita teman, bukan. Walau ada tempat khusus untukmu di hatiku, bukan berarti aku ingin segera menjadi milikmu. Aku menyukai ini, aku menyebutnya proses untuk kita. Jika saat ini belum ada apa-apa di hatimu untukku, maka dalam proses ini aku akan berusaha membuatnya ada, semoga.