
Yeah
Found cigarettes in your Fendi coat
Even though you don't even smoke
Always changin' your access codes
Yeah, I can tell you no one knew
Yeah, you've been actin' so conspicuous
You flip it on me, say I think too much
You're movin' different when we makin' love
Baby, tell me, tell me
Who do you love, do you love now?
I wanna know the truth (whoa)
Who do you love, do you love now?
I know it's someone new
You ain't gotta make it easy, where you been sleepin'?
This shit is keepin' me up at night, just admit it
Who do you love, do you love now?
I wanna know, I wanna know who
Now, now, who do you, who do you love, love (yeah)
Now, now, who do you, who do you love now? (Oh)
Now, now, who do you, who do you love, love (yeah)
I wanna know, I wanna know who
(The Chainsmokers)
Minggu ini kami tidak ada jadwal manggung. Tetapi jadwalnya makan malam bersama anggota tim yang sudah bekerja keras mengumpulkan dana. Akhirnya masalah dengan kepala Dinas terkait sudah menemui titik terang karena dibantu oleh beberapa pihak lain yang bersedia menjadi negosiator.
Semua juga berkat para donatur-donatur yang baik, yang cukup antusias membantu agar masla ini cepat menemui jalan keluar.
Hari ini juga aku akan mendengar jawaban Medi tentang kami.
“So, jadwal manggung kita tinggal tiga kali manggung lagi, ya. Nggak kerasa juga sekarang kita cukup populer, ntar boleh nih kita reuni kapan-kapan.” Bang Yuda terlihat sangat baagia begitu juga dengan Dira. Wajahnya cerah sekali. Target kami terpenuhi, sebelum awal tahun. Masalah perizinan sudah beres.
“Belopatan banget sih, Kan.” Medi cepat mengambil tisu mengelap bibirku yang penuh dengan keju. Aku menatapnya tajam, agar berhenti memperlakukan aku demikian hingga masala kami berdua beres. Tapi seperti biasa dia memiliki kemauan lebih besar dari pada aku.
“Medi …!”
Kami semua serempak menoleh ke arah suara berasal. Seorang wanita, aku rasa seumuran denganku. Rambut panjang di gerai bebas menggunakan dress dengan warna biru lembut. Kulitnya kecokelatan, senyumnya sangat manis.
“Tia!” ucap Medi. Membuatku sekali lagi mengamati wanita cantik itu. Berbeda denganku. Dari penampilan saja sudah berbeda. Sudah jelas wanita cantik ini, Mutia.
Mata Medi seolah hendak loncat keluar. ada api tak kasat mata yang tengah terbakar di dalam dadaku. Rasanya panas, melihat ekspresi lembutnya ketika menyapa kembali wanita dengan dress biru lembut yang tidak melepaskan senyumnya yang manis itu.
“Kapan balik?” tanya Gilang.
“Tadi pagi, nggak nyangka ketemu di sini.” Kembali dia menyalami kami satu persatu.
Dari dekat dia terlihat seperti lady sesungguhnya.
“Lagi liburan atau gimana?” tanya Gilang lagi.
“Nggak, uda kelar kuliahku dan dapat tawaran kerja di sini. Karena nyokap maunya aku di sini, ya udah diterima aja.” Senyuman manis itu tidak pernah pergi dari wajahnya.
Hari ini tiba juga, hari di mana wanita dari masa lalu Medi muncul seperti di film-film romantis di bioskop.
“Aku sama Mamah, tadi kita habis bahasin kamu. Yuk samperin Mamah bentar,” ucapnya seraya merangkul lengan pria itu. Aku tidak bisa apa-apa karena kami bukan siapa-siapa. Hanya teman. Setidaknya itu yang ingin kami bahas hari ini.
Medi melirik ke arah ku yang dari tadi mempelajari raut wajahnya baik-baik. Saat pandangan kami bertemu dia pasti tahu, aku tidak suka situasi ini. Aku menunduk dan memandang piring berisi pisang goreng keju yang masih tersisa separuh dan segera ku masukan ke dalam mulutku dengan paksa.
“Hei, pelan-pelan,” ucap Medi segera mengambil air untukku yang tersedak.
Sungguh tidak lucu kebodohanmu ini Kana. Aku diam saja. Kemudian dia pamit sebentar hendak menyapa orang tua wanita itu.
Harusnya bisa saja dia menolak, jika benar dia sudah move on. Hal ini juga membuktikan bahwa dia memang seperti yang ditakutkan Dira dan bang Yuda.
Teman-teman yang lain berencana akan melanjutkan obrolan di tempat lain. Medi kembali bersama Mutia.
“Lo ikut nggak, Kan?” tanya Gilang.
“Eh, mau ke mana?” tanya Mutia yang baru saja bergabung kembali dengan kami.
“Ngopi,” Gilang menjawab.
“Nggak, gue pulang aja. Besok kerja.” Aku merapikan tas .
“Inget yah, besok kita latihan loh.” Bang Yuda mengingatkan, dan aku merespon dengan anggukan saja.
“Aku boleh ikut ngopi bareng kalian?” tanya wanita yang sekarang berdiri di sampingku, dan sudah dapat dibandingkan dengan jelas. Aku dan Mutia benar-benar dua makhluk yang berbeda.
“Boleh, hayuk aja.” Bang Yuda mengiyakan.
Harusnya malam ini aku diantar Medi sekaligus menyelesaikan masalah kami berdua. Tapi, siapa yang sangka masalah sesungguhnya datang dengan wujud nyata dan kini sedang berdiri berdampingan denganku. Medi tidak mengucapkan satu kata pun. Tidak basa-basi menawarkan mengantar pulang atau apalah. Dia diam di sana di samping wanitanya.
Aku rasa aku sudah dapat jawabannya.
“Jangan lupa bawa lirik lagu yang kamu buat. Itu penting Momo udah ribut nunggu spoiler lagu yang kamu buat itu,” ucap bang Yuda. Eve mendekatiku, sepertinya dia berinisiatif setelah terlihat berbisik-bisik dengan Dira di seberang meja. Aku rasa dia akan mengantarku pulang. Mereka ingin memastikan sahabatnya ini baik-baik saja hingga sampai di rumah.
“Wah, kamu buat lagu? Keren!" ucap Mutia memuji, senyum tulusnya bisa membuat jutaan pasang mata jatuh cinta.
“Hehe ..” aku mengeja tawaku.
“Tentang apa kalau boleh tahu?” tanyanya terlihat antusias.
“Wah curang, kita aja belum tau!” protes bang Yuda. Aku melepaskan napas dengan senormal mungkin. Pikiranku kacau sejak wanita ini muncul ditambah gelagat Medi yang membuat aku kecewa.
Mungkin kecewa itu dikarenakan aku terlalu berharap padanya.
Eve memegang tanganku dengan erat, aku tidak tahu alasannya. Tapi, aku sangat berterima kasih atas hal yang dia lakukan saat ini. Aku menatap dengan senyum tipis di wajahku ke arah Mutia yang manis.
“Tentang Pria yang nggak mungkin bisa aku miliki.”