You My Every Love Song

You My Every Love Song
I'm So Tired



~ I'm so tired of love songs, tired of love songs


Tired of love songs, tired of love


Just wanna go home, wanna go home


Wanna go home, whoa


So tired of love songs, tired of love songs


Tired of love songs, tired of love


Just wanna go home, wanna go home


Wanna go home, whoa


Party


Trying my best to meet somebody


But everybody around me's fallin' in love to our song


I, I, oh I, yeah


Hate it


Taking the shot 'cause I can't take it


But I don't think they make anything that strong


So I hold on


I, I, oh I, yeah


I'm so tired of love songs, tired of love songs


Tired of love songs, tired of love


Just wanna go home, wanna go home


Wanna go home, whoa


So tired of love songs, tired of love songs


Tired of love songs, tired of love


Just wanna go home, wanna go home


Wanna go home, whoa


(LAUV, Troye Sivan)


2019. Masih di rumah Medi.


Wahai hati dan jantungku yang sehat, bertahanlah.


Aku dan Medi bergabung dengan bang Yuda, Gilang, Maya dan bahkan om Tyo juga ikutan duduk santai di garasi samping rumahnya. Maya sedari tadi sore bersikap sedikit aneh. Tingka lakunya mendadak misterius.


“Jadi, jadwal latihan kita akan dimulai besok ya. Setiap pukul lima sore hingga kelar. Kalau lu balik sekitar pukul 9 or 10 gitu masalah nggak, Kan?” tanya bang Yuda.


“Nggak kok, santai.” Aku mencatat jadwal di note yang ada di ponselku.


“Hari minggu kalau kita nggak ada job tambahan kita akan latihan dari pukul 10 sampe teler. Tapi, kalau lu pada punya acara, ya, nggak apa-apa, kita akan latihan dengan anggota yang ada aja. Ini nggak mengikat tapi … tetap harus jadi prioritas kalian. Oke!” tegas bang Yuda lagi.


“Job tetap kita adalah manggung di Nineteen Cafe setiap malam minggu dari jam 8 malam sampe jam 10 malam. Untuk malam minggu ini, kita disuruh nyoba dulu biar nggak kaget sama formasi baru ini, sekitar 3 - 4 lagu cukup untuk yang pertama. Nah, minggu depan baru full kita manggung. Sip?” bang Yuda menjelaskan dengan santai tapi tetap jelas. Menjadi bagian dari suatu formasi band adalah pengalaman pertama buatku. Semoga aku bisa memberi yang terbaik agar tidak membuat malu anggota yang lain, yang tentu saja sudah berpengalaman.


“Besok aku masih cuti, bang. Jadi kalau mau lebih awal aku bisa aja,” ujarku teringat bahwa besok aku masih cuti.


“Mantap tuh, boleh, gue bisa nih pukul 11 gitu yah, gimana?” bang Yuda bertanya kepada Medi si pemilik rumah. Karena nanti kami akan latihan setiap hari di garasi ini. Setiap hari aku akan ke rumah Medi. Setiap hari aku akan bertemu Medi.


“Gue sih oke, baru mulai kerja bulan depan gue. Gilang?” jawab Medi dan mengalihkan pertanyaan kepada Gilang.


“Oke sih selalu oke. Pengusaha mah bebas.” Gilang adalah pemilik sebuah photo studio di kota ini. Tidak terlalu besar tapi usaha yang dia rintis sejak selesai kuliah dulu itu kini bahkan sudah memiliki beberapa karyawan.


Sedangkan bang Yuda, adalah seorang mantan pegawai bank yang kini sudah memantapkan hatinya di bidang kuliner. Dia membuka beberapa food stand di wilayah kota Pontianak ini. Usahanya cukup laris sehingga sudah memiliki beberapa cabang. Kalau Medi, setahun yang lalu berhenti dari pekerjaan lamanya di sebuah perusahaan jual beli rumah demi merawat sang ibu. Katanya, bulan depan akan mulai bekerja lagi di sebuah perusahaan perkebunan sebagai kepala HRD.


“Nah, besok kita akan mulai latihan dengan lagu-lagu yang sudah gue pilih baik-baik. Pertama, Padi – semua tak sama. Kedua, Potret – mungkin. Ketiga, Sam smith – I’m not the only one dan terakhir, Katy Perry – Thinking of You. Jadi 2 Indonesia dan 2 lagi luar. Oke?” kami semua mengangguk pelan dengan pikiran masing-masing.


Cahaya lampu dari mobil Dira membuat mata sedikit silau. Dia memarkirkan mobil merahnya dengan rapi. Dia mengikat rambut merah burgundy nya itu menjadi satu, dan sudah berganti pakaian. Dia tersenyum sambil memberikan kantong berisi es sari kacang dan es lemon tea kepada kami.


Cepat aku mengambil salah satunya dari atas meja, kemudian kaku. Aku melihat ke arah Medi yang ternyata juga melihat ke arah ku. Apa minum saja aku harus minta izin kepadanya?


“Kenapa?” tanya Dira.


“Boleh?” tanyaku pelan ke arah Medi, dia memiringkan kepalanya seperti menimbang sesuatu.


“Hah, sejak kapan Kana Santika minum aja kudu izin?” Dira menggoda.


“Sejak dia jadi vokalis gue!” ucap Medi kemudian.


“Harusnya, VOKALIS KAMI, Med,” sindir Dira. Medi menganggukkan kepalanya dengan malas.


“Jadi?” tanyaku menunggu persetujuan.


“Lemon tea boleh, tapi buang es nya, tambah airnya dikit. Biar nggak kemanisan dan biar nggak terlalu dingin,” perintahnya.


“Buset!!” ucap Dira dan bang Yuda serempak. Maya terkekeh geli dan aku masuk ke dalam melaksanakan perintah. Kalau udah bucin ya gitu. Apa-apa harus diikutin biar oknumnya senang.


Kami bercengkrama, masih dengan bahasan seputar jadwal latihan dan konsep manggung kami nanti. Walaupun tujuan dari band ini dibentuk untuk mengumpulkan dana agar tujuan kami tercapai. Bang Yuda tentu tidak ingin band ini jalan dengan konsep seadanya dan asal jalan. Dia ingin kami membuat memori yang indah. Agar kelak ketika tujuan kami tercapai, perjalanan ke belakang dapat menjadi kenangan berharga dan membuat kami bangga ke depannya.


Dira mengajakku pulang karena sudah cukup malam. Pergi dari siang dan belum pulang ke rumah. Ah, aku lupa, jika tidak di telepon berarti semua aman-aman saja di rumah.


Sedih. Kenapa hati ini seakan tidak rela berpisah. Oh jangan terlalu mendramatisasi sesuatu dong, Kan. Ingat dia punya orang. Punya temanmu.


pagi datang, hari kedua cuti yang baru pertama kali kulewati dengan kesibukan selain malas-malasan di rumah.


Aku hanya berharap, lama kelamaan perasaan ini akan surut dan hilang. Jika terus melawan akan berdampak sebaliknya. Dengan intensitas pertemuan kami yang dari sering bertemu menjadi setiap hari akan bertemu di rumahnya pula, aku harus benar-benar mengontrol perasaan ini.


Aku duduk seorang diri di garasi rumah Medi. Motor aku parkirkan rapi di depan. Memang lebih awal dari waktu kami janjian. Om Tyo tadi pamit untuk pergi mengisi kelas. Maya pergi ke rumah temannya yang masih tinggal satu komplek. Gilang dan bang Yuda belum datang. Sedangkan Medi, tadi om bilang pergi dengan Gina.


“Pagi-pagi aja sudah pacaran!” aku berbicara sendiri. Ah, aku berbicara dengan semut yang sedang berbaris sambil membawa remah-remah roti. Aku mengambil gitar dan membuka Instagram demi membunuh rasa bosan dan cemburu yang tiba-tiba membuat sesak hati.


Dan menyalakan live.


“Hai… pagi … aku mau ngasih info penting nih, hehehe belagu banget ya. Jadi mulai sabtu nanti kalian bisa nonton live band aku dan teman-temanku loh di Nineteen café setiap pukul 8 sampai beres! Kita udah nentuin nama dong. Du du du du du ~ Moonlight~ yeay..


Jadi kalian bisa menyaksikan Moonlight mulai sabtu ini ya. Tetap dukung kami karena semua ini untuk tujuan yang baik aamiin.


Hmm, btw lagi gabut nih, sambil nunggu anggota lain datang buat latihan. Temenin Kana latihan bentar ya.


Kana, nggak terlalu pinter main gitar tapi kita coba ya…


Kalian tau Getsunova?


Mungkin sedikit banget yang tahu tapi ada satu lagi dari mereka yang aku suka banget judulnya Fake Protagonist. I love this song.”


Aku memulai live pertamaku setelah beberapa bulan tidak melakukannya. Aku menyiapkan lirik dan diri. Sudah banyak yang bergabung. Termasuk Eve dan Dira yang sedang bersorak sorai di kolom komentar sana.


“*Oh I know, That I am not the main in your show


No matter how much that i have tried


I could never change your mind


I’m aware


That i could never even compare


With someone that you have in your heart


Just a friend who care from a far in the dark


Cause I can’t replace the space you save for someone


Can’t replace the place that I wasn’t given


But can I pretend to fake that part


The light in the dark when you couldn’t see


I’ll write up the star the night you lonely


I can be right there


And shortly I’ll disappear


Tell me, I’m always here


Just to love you* …”


Aku menyanyikan lagu hingga selesai responnya cukup baik padahal aku memainkan gitar dengan terbata-bata. Aku membaca satu persatu komentar. Ada satu komentar yang membuatku tercengang dan kaku.


“Jangan nangis, aku datang!” @M_Hardika


Setelah membaca komentar tersebut aku langsung pamit dan mematikan instagramku. Orang gila. Bodoh! Kenapa dia harus begitu.


Mungkin aku saja yang terlalu terbawa perasaan karena menyukainya sedangkan dia tidak. Mungkin dia hanya bercanda sembari menanggapi komentar lain yang ada saat itu. Mungkin aku terlalu berharap. Menjadi orang munafik yang berpura-pura baik-baik saja tapi berharap dimengerti karena menyukai pria yang telah dimiliki orang lain.


Aku yang terburuk.


“Kirain sudah banjir tadi!” tiba-tiba suara berat membangunkan aku dari keterpurukan karena mengasihani diri sendiri.


“Loh.” Aku heran baru saja dia memberi komentar di live tadi. Kira-kira baru 10 menit yang lalu.


“Udah lama ya? Udah sarapan?” aku mengerucutkan bibir. Dia menaruh kedua tangannya di pinggang, berdiri di depanku yang duduk di lantai berlapis karpet berwarna kuning kunyit dengan motif kotak-kotak. Dia menaikkan kedua alisnya yang tebal itu. Lagi-lagi aku terhipnotis. Jika dia sudah memandangku seperti ini. Aku hanya bisa menatapnya balik. Diam membisu.


Kenapa kamu jahat begini, Med. Aku bisa makin cinta sama kamu yang seperti ini. Jangan perhatian kepadaku. Biarkan saja aku sendiri. Jangan memberi kebaikan yang akan aku salah artikan ini.


Aku mungkin mulai lelah menolak kenyataan bahwa benar, kamu sudah ada di hatiku.