
Aku duduk melihat taburan bintang di langit malam yang gelap pekat dengan gelas yang sudah kosong di tangan. Menatap ke satu arah dan berpikir.
“Aku pikir di mana?” Sebuah suara berat yang sudah sangat aku kenal membuatku terpaksa mengalihkan pandangan ke arahnya yang bahkan lebih indah daripada bintang di langit sana. Dia duduk tepat di sebelah ku, pundaknya menyentuh pundak ku, bangku yang kami duduki ini cukup kecil untuk berdua.
“Masalah aku dengan Mutia yang belum selesai dua tahun yang lalu, sekarang sudah selesai. Walau dengan susah payah, karena Mutia keras kepala sama seperti aku. Bagaimana dengan kamu, Kana? Dengan Gilang?’ tanyanya. Aku terkejut kenapa dia membawa Gilang ke dalam pembicaraan kami saat ini.
“Gilang?” tanyaku, ”kenapa dengan Gilang?” Aku memandangnya menunggu jawaban.
“Bukannya kamu sama Gilang lagi pedekate?” Dia menjawab dengan pertanyaan lain. Aku tertawa kecil.
“Nggak, kita cuma teman sama seperti ke Bang Yuda,” jawabku.
“Beneran? Gilang bilang dia suka sama kamu.” Raut wajahnya masih terlihat sangat serius.
“Iya, dia bilang kalau aku sudah siap untuk melupakan, maka dia akan maju. Tapi, bukan artinya kami sedang pedekate. Nggak gitu,” ucapku dengan senyum kecil di ujung bibirku yang tipis.
Dia menatapku lekat dan dalam, tanpa melontarkan kata-kata lain. Kami hanya berpandangan cukup lama. Aku sudah lama tahu, tatapan Medi selalu memabukkan dan membuat terlena. Seperti mantra yang membuatmu mematung dan tak bergerak. Seolah memerintah agar tidak berpaling darinya.
Kenapa aku tidak pernah merasa percaya diri untuk mendapatkan perhatian dan cinta Medi selama ini. Itu karena beberapa alasan yang terbentuk di dalam otakku sendiri. Aku selalu ditinggalkan karena dianggap terlalu banyak menuntut dari pasangan, tapi kemudian aku ditinggalkan kembali karena dianggap terlalu baik dan pengertian. Yang mana pun akan sama saja selama aku tidak menjadi diriku sendiri. Aku jelas bukanlah tipe wanita idamannya, aku jauh dar kata itu.
Pria yang duduk tepat di sebelah ku, pria yang dua tahun lebih tua dariku ini, mungkin aku sudah mulai menyukainya sejak kami pertama kali bertemu. Bertemu di suatu pagi dengan tampangnya yang sangat berantakan dan wajah kesal karena dipaksa bangun dari istirahat paginya oleh aku dan Dira.
Dia dengan jokes tidak masuk akalnya. Dia yang juga terkadang sangat cuek dan tidak peduli dengan orang lain tapi sebenarnya sangat hangat dan lembut juga penuh dengan perhatian. Medi Hardika yang dua tahun lebih tua dariku, Medi Hardika yang membuatku sekali lagi patah hati.
“Aku sayang kamu, Kana!” ucapnya pelan dan lembut, hampir tak terdengar. Seandainya jarak kami tidak sedekat saat ini, mungkin akan sulit mendengar kalimat tadi. Wajahnya mendekat, semakin dekat. Bibirnya sudah menempel di bibirku. Lembut, ini bukan pertama kalinya. Aku masih membuka mataku, jantungku? Jangan ditanyakan lagi. Tangannya yang hangat menyentuh wajahku yang dingin membeku.
Kedua tangan hangatnya sudah berada di wajahku, bibir kami masih saling mengecup mesra. Dia melepaskan perlahan kecupannya. Dahi kami saling menempel kali ini. aku tidak mampu memikirkan apa-apa saat ini. Pikiranku kosong.
“Aku ingin istriku kelak tidak bekerja.”
“Aku ingin kelak tinggal terpisah dan mandiri dari orang tua.”
“Aku ingin waktumu hanya untukku selama kita belum dikarunai anak nanti.”
Aku masih diam tak mampu memikirkan apa-apa. Aku mendengarkan setiap bisikan yang dia ucapkan.
“Ayo menikah, Kana!”
Sesuatu mengalir keluar dari sudut mata, jatuh membasahi pipi dan berakhir di tangannya yang masih berada di wajahku. Aku tidak salah dengar. Jarak kami sangat dekat, wajahnya tepat di depan wajahku, kedua tangannya masih berada di pipiku.
“Ayo menikah, dan menulis kisah kita dari awal lagi.” Dia menarik ku ke dalam peluknya, aku terisak di sana. Bukan sedih tapi entahlah jenis perasaan macam apa ini. Dia menepuk pelan kepalaku untuk membuatku tenang.
“Aku bukan wanita idamanmu,” ucapku.
“Aku tahu,” jawabnya.
“Aku keras kepala,” ucapku.
“Aku juga tahu, dan aku frustrasi menghadapimu,” jawabnya.
“Aku aneh,” ucapku dengan wajah yang basah karena air mata.
“Aku tahu sekali kalau ini,” ucapnya dengan senyum melengkung di kedua ujung bibirnya.
“Aku makannya banyak,” ucapku lagi masih menangis.
“Aku menerima apa pun yang tidak aku suka, karena kamu Kana, bukan wanita lain.”
Kalimat ini ingin rasanya aku rekam dengan ponsel yang sekarang sudah mati karena kehabisan baterai.
\*\*\*
Berkali-kali aku memandang aneh pada pantulan diri di cermin. Dengan rambut yang kini sudah sedikit memanjang dan diikat satu ke atas, meninggalkan beberapa helai terjatuh. Warna perak yang sangat kontras dengan pakaian abu-abu tua yang sedang aku pakai ini terlihat sangat resmi.
Aku duduk diam membisu di tengah kerumunan orang-orang yang berpenampilan sangat cantik hari ini. aku melihat ke arah Eve dan Dira yang duduk di sampingku sembari tersenyum. Aku melihatmu duduk dengan wajah serius tidak jauh dari ku. Tapi, kamu tetap yang paling menarik.
Para orang tua sedang merundingkan sesuatu yang penting. Bapak terlihat santai-santai saja berbeda dengan Bang Rizal yang tampak serius dengan hal ini. Acara utama sudah berlalu beberapa jam yang lalu, aku menunduk melihat jemari yang kini suda tidak sama lagi. Aku tersenyum lalu memandang ke arah pria yang hari ini ketampanannya berkali-kali lipat, dia juga sedang melihat ke arahku dan tersenyum juga.
“Persiapannya tidak sampai satu tahun, Bismillah saja, Insya Allah bisa!” ucap salah satu orang yang dituakan di keluarga Medi yang ikut datang di hari ini. Semua orang tampak antusias, tampak sangat berbahagia tak terkecuali Ibu.
Akhirnya acara selesai, masing-masing sudah duduk di tempat yang berbeda-beda dan kembali berbincang membahas hal lainnya, seputar banjir dan beberapa bencana yang sedang di hadapi warga Indonesia, persoalan politik dan hal-hal ringan lainnya.
Aku, Medi dan teman-teman kami juga duduk memisahkan diri dari para orang tua.
“Medi, sebentar,” ucap Bang Rizal memanggil Medi tiba-tiba.
“Ada apa?” tanyaku penasaran dan cemas.
“Sebentar,” ucap Bang Rizal tersenyum dan mengajak Medi keluar.
“Eh alien, lu tu ya belum ada cerita apa-apa, tiba-tiba lamaran aja kayak gini,” ujar Dira di barengi tatapan aneh dari Eve. Aku hanya bisa mengeja tawaku. Aku tidak bisa beralasan, karena memang segala sesuatunya mendadak dan sesuai keinginan Medi. Malam setelah dia mengajak menikah, dua minggu aku disibukkan dengan pekerjaan akhir di kantor dengan segala keruwetan proses serah terima dengan karyawan yang akan menggantikan aku.
“Ada apaan sih?” tanyaku kepada Medi yang sepertinya sudah selesai dengan Bang Rizal.
“Nggak ada apa-apa, pembicaraan antar lelaki aja,” ucapnya santai tapi tetap membuatku penasaran.
“Makasih ya semua udah nolongin tanpa banyak tanya,” ucap Medi kepada teman-teman kami.
Ternyata kisah kami belum berakhir tapi baru akan dimulai, dengan status baru, dengan harapan dan impian yang baru.
Kamu yang akhir-akhir ini menjadi tokoh utama dalam setiap kisah yang aku tulis. Kamu yang belum lama ini selalu menjadi lagu cinta dan patah hatiku. Kamu yang sudah menjadi istimewa tanpa perlu bersusah payah, karena kamu memang special.
I love You, Med. I really do.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
**Hai,
Terima kasih tak terhingga sudah menemani perjalanan seorang Kana Santika yang tidak percaya diri ini.
Semua orang punya daya tariknya masing-masing jadi jangan menyerah.
Berusaha lah untuk setiap impian yang ingin kalian capai, berusaha, berdoa, dan biarkan semesta bekerja dengan ajaibnya.
Sampai jumpa di cerita Bii selanjutnya ya.
I love you**