
*I promise that you'll never find another like me
I know that I'm a handful, baby, uh
I know I never think before I jump
And you're the kind of guy the ladies want
(And there's a lot of cool chicks out there)
I know that I went psycho on the phone
I never leave well enough alone
And trouble's gonna follow where I go
(And there's a lot of cool chicks out there)
But one of these things is not like the others
Like a rainbow with all of the colors
Baby doll, when it comes to a lover
I promise that you'll never find another like
Me-e-e, ooh-ooh-ooh-ooh
I'm the only one of me
Baby, that's the fun of me
Eeh-eeh-eeh, ooh-ooh-ooh-ooh
You're the only one of you
Baby, that's the fun of you
And I promise that nobody's gonna love you like me-e-e
(**Taylor Swift***)
Minggu sore yang cukup ramai pengunjung di salah satu mall di kota khatulistiwa ini. Si biru dongker sudah terparkir rapi, aku dan Medi berjalan beriringan masuk ke dalam gedung penuh dengan lampu yang terang benderang. Jejeran toko pakaian dengan karyawan yang berdiri di bagian depan toko menyambut pelanggan atau sekedar menawarkan agar siapa saja yang melewati toko mereka bersedia untuk mampir.
“Mau beli apa sih di Mall, minggu gini kan rame banget, Med,” keluhku saat tau bahwa Medi membawaku ke mall ini.
“Nonton,” ucapnya singkat yang membuatku membulatkan mata tidak percaya. Bisa-bisanya pergi nonton mendadak seperti ini
Tiket sudah dibeli, tidak perlu mengantri terlalu lama. Medi membeli beberapa makanan kecil sedangkan aku pamit ke toilet sebentar lalu kembali lagi bersamanya yang sudah membawa sebuah box besar popcorn , dan dua botol mineral tidak dingin.
Nomor urut kami berada di baris ketiga dan agak ke tengah, waktu sudah menunjukan film akan segera dimulai tetapi sepertinya memang tidak banyak lagi yang menonton, mungkin karena film ini sudah cukup lama nangkring di bioskop.
Apakah situasi di dalam bioskop ini alasannya. Tidak banyak orang di sini bahkan di barisan kursi yang kami duduki ini, hanya ada kami berdua saja
Pertengahan film ada sebuah adegan yang cukup sedih untukku sehingga membuat air mataku mengalir. Sebenarnya aku cukup cengeng atau penyedih. Banyak hal-hal sederhana dapat membuatku menangis dengan mudah. Apalagi jika aktor di dalam film sangat baik dalam menjiwai peran mereka. Telapak tangan besar Medi yang dingin tiba-tiba suda berada di pipiku yang basa, aku melihat ke arahnya yang tidak berekspresi apa-apa, yang dia lakukan hanyalah menghapus air mata yang membasahi pipi tembamku. Aku membiarkannya.
Lampu studio suda di hidupkan tanda film sudah selesai. Aku masih sibuk merapikan diri, Medi melihat ke arahku, lagi-lagi dengan wajah tanpa ekspresi apapun.
“Kenapa sih?” tanyaku akhirnya.
“Ini lo film action, bisa-bisanya kamu nangis tersedu-sedu gitu,” ucapnya membuatku otomatis mengerucutkan bibir.
“Sedih gimana lagi,” jawabku membela diri. Karena memang benar, apapun genre filmnya perpisahan, akan tetap menjadi hal yang sulit untuk diterima. Perpisahan karena kematian, perpisahan karena keadaan atau situasi semuanya sama-sama sulit diterima apalagi jika akting para aktor di sana sangat mumpuni. Lagi pula menangis bukan hal yang memalukan untukku.
Menangis adalah bentuk penyaluran emosi yang baik, jauh lebih baik dari pada membiarkan semua terpendam dan akhirnya menyakiti diri sendiri. Maka dari itu aku selalu memberi kebebasan pada diriku untuk menangis, jika sedih, jika marah, atau karena kecewa, menangislah. Menangislah seperlunya hingga hati merasa lega dan terbebas kemudian yakinlah besok akan lebih baik dari hari ini.
Kadang adakalanya ketika hati terasa penuh dan ingin menangis tetapi air mata tidak mampu keluar. hal ini sangat menyakitkan. Kalau aku akan menonton kembali film-film yang mempunyai adegan yang suda pasti membuat mewek. Film india menjadi sala satu rekomendasi terbaik.
Setelah nonton Medi masih mengajakku ke toko buku dan makan malam. Ketika keluar dari mall hari sudah cukup gelap. Parkiran penuh dengan kendaraan pengunjung mall tersebut tapi sepertinya belum terlalu malam untuk mereka, sehingga kondisinya sangat berbeda dengan di dalam mall yang penuh dengan manusia sedangkan parkiran hanya ada kami dan kendaraan-kendaraan itu.
“Besok aku pake ojol aja deh berangkat ke kantor. Nanti jauh loh kamu mutar lagi mau ke kantormu,” ucapku saat kami berjalan menuju si biru dongker.
“Nggak jauh, tenang aja, 7.15 aku jemput.” Wajahnya tetap terlihat tanpa ekspresi. Aku berdiri tepat di belakangnya karena jalan yang kami susuri hanya cukup di lewati satu orang, kiri dan kanan penuh dengan kendaraan.
Tiba-tiba saja Medi berbalik, membuatku terperanjat dan menghentikan langkahku dengan cepat tapi terlambat, aku menabrak dadanya yang bidang.
“Apaan sih Med? Kaget tau!” ucapku seraya memegang kepalaku yang menabrak dadanya itu. Lama dia tidak menjawab mala melihat ke arahku dengan tatapan itu.
Tatapan yang selalu sukses membuatku diam membeku.
Wajahnya kian mendekat, semakin mendekat. Dia menunduk sedikit. Napasnya sudah dapat aku rasakan menerpa wajahku. Saat ini jarak pandang kami hanya beberapa centimeter saja. Lama dia menatap kedua bola mataku ini. Irama detak jantung sudah tidak menentu, mata Medi yang kecil itu kini terlihat sedikit lebih besar dengan jarak pandang seperti ini. Kedua bola matanya yang selalu berhasil menghipnotis itu hitam pekat. Aku bahkan melihat diriku di matanya.
Telapak tangannya yang besar itu menyentuh lembut telinga bagian bawah dan rahang. Dengan wajah tanpa ekspresi itu dia mendekat dan semakin mendekat. Bibir kami menempel, mataku membulat lebar, adegan super cepat itu membuatku tidak bisa melakukan apa-apa, yah aku terhipnotis olehnya.
Aku membeku.
Jemarinya yang berada di sekitar wajahku membuka sedikit bibir kecilku, sehingga kini aku bisa merasakan tarikan kecil dari bibir Medi membuatku menahan napas. Dadaku sakit, jantungku bekerja terlalu keras.
Aku pikir akan berhenti di sana.
Kini tanganya yang satu lagi menarikku mendekat ke arahnya, tubuh kami kini tidak memiliki jarak. Aku menahan napas ketika kecupan manis itu berubah menjadi semakin intens. Ini benar-benar memambukkan tetapi aku harus sadar.
Aku mendorong pelan tubuh Medi agar dia menghentikan aktivitasnya sejenak di bibirku itu. Napasnya terasa panas menerpa wajahku. Setelah bibir kami tidak saling berpaut, dia masi menatapku dengan jarak sedekat itu. Dia menggigit bibir bawahnya dengan napas yang berat tertahan.
“I’m surrender, Kana. You win!” ucapnya.
Aku bingung. Kepalaku masih pusing dengan rentetan adegan super cepat tadi. Apa artinya itu Medi? Apa artinya ciuman tadi? Apa artinya aku menang? Aku tidak bisa berpikiran jernih lagi sekarang.
Jika ini mimpi, tolong bangunkan aku.
Kegembiraan ini juga terlalu menyakitkan, karena kita bukan siapa-siapa.