
*Lately you're leaving now
Maybe this is really the end
I'll understand, understand
Even though my heart is breaking
My love, if that's what you want
Lately I'm just crying
It must be hard although I say I'm okay
Don't worry, don't worry
My love you're hiding behind empty words
It hurt, your sorry
Please don't say it
I hate your sorry
It feels like it's the end
wo wo I still love you
wo wo It's not the end of me
Lately you looked sad
Make me worry through the night
I was insensitive, and loved by myself
My love don't even know you would leave
I hope this is a dream and dissolve like bubble
I know I can't bring back your love
I just can't, please come back
Can you hear my heart
Can you see my heart
Yours word, your sorry
Break my heart apart
Gone your sorry
There's no answer when I call
Your last word
wo wo what is sorry?
(**Juniel, english version***)
“Med …”
“Hmm …” tangannya masih berada di wajahku, tatapannya teduh.
“Kita ini sebenarnya apa?” pertama kalinya kau meliat ekspresi ini padanya. Dia tampak sedikit terkejut dengan pertanyaanku barusan.
“Kenapa tiba-tiba …”
“Ayo Kana …” Bang Yuda tiba-tiba muncul membuat pertanyaan Medi berhenti.
“Ohh, ada apa? Kalian butuh waktu berdua?”tanya bang Yuda Kembali.
“Nggak kok, Bang,” jawabku cepat.
“Besok nggak usah jemput aku, abangku mau ngantar ke kantor katanya ada yang mau dia bilang. Minggu depan kita nggak ada jadwal latihan dan manggung sampai masala perizinan selesai. Sampai saat itu berpikirlah Med, kita ini apa?” ucapku dan hendak masuk ke dalam mobil bang Yuda, tetapi ditahan oleh Medi.
“Aku nggak butuh satu minggu untuk menjawab pertanyaan barusan. Saat ini pun aku bisa jawab itu dengan yakin …” aku mengangkat tanganku agar dia berhenti berbicara.
“Please Med, pikirkan baik-baik. Hmm-mm aku mohon,” ucapku padanya saat itu.
\*\*\*
“Tanya sama dia hubungan kalian mau dibawa ke mana? Pastikan sama dia, biar kamu tidak memupuk cinta dan harap yang berlebihan, Kana. Oke.” Eve masih memelukku, kemudian Dira memeluk kami berdua.
Masih teringat dengan jelas ekspresi Medi malam itu, saat aku menanyakan tentang status hubungan kami. Apa yang kami lewati beberapa minggu belakangan ini bukanlah aktivitas sebagai seorang teman. Aku sadar tapi, karena terlalu takut atau terlalu bodoh aku memutuskan untuk membiarkan saja semuanya berjalan apa adanya, sampai akhirnya semua hal tersebut tercium kedua sahabatku, Eve dan Dira.
Mereka kembali menyadarkanku untuk segera bangun dan hadapi kenyataan. Lebih cepat maka sakitnya akan lebih sedikit diterima.
Satu minggu ini kami akan bebas dari latihan dan manggung. Bang Yuda bertekat setelah mendapat banyak dukungan untuk negosiasi dengan Dinas terkait masalah perizinan arus selesai. Pasalnya dana yang kami kumpulkan suda memenuhi target awal. Padahal masih akan ada pemasukan di sisa tiga kali manggung nanti. Tetapi perayaan karena sukses mengumpulkan dana harus kami tunda sampai masala perizinan benar-benar beres.
“Gimana kerjaan?” suaranya memecah lamunanku.
“Baik, kok tumben mau ngantarin aku kerja segala?” tanyaku.
“Kan, abang mau nanya. Kemarin Ibu bilang kamu belakangan suka diantar jemput sama cowok, itu siapa?” tanyanya lagi.
“Waw, Ibu yang bilang gitu?” aku bertanya.
“Iya, kenapa?” Bang Rizal kembali bertanya.
“Ya aneh aja, aku pikir masalah hidupku bukan hal yang patut diperhatikan sama Ibu,” ujarku ringan.
“Hah?” Bang Rizal tampak bingung. Tapi, aku juga tidak menjawab kebingungannya itu.
“Kok kamu bisa mikir gitu si, Kan?” tanya bang Rizal balik.
“Bang, kita sekarang sudah sama-sama dewasa dan sekarang aku paham situasinya. Situasi di mana aku ini bukan prioritas buat Ibu dan Ayah walaupun aku anak perempuan mereka satu-satunya.” Aku tetap fokus memandang ke depan. Bang Rizal diam.
“Sejak kapan, mulai kapan kamu berpikiran seperti ini?” tanyanya lagi.
“Sejak awal, sejak semula dan baru bisa aku jelaskan semuanya setelah lulus kuliah beberapa tahun yang lalu.” Masih menatap jalan ke depan, melihat kepadatan pagi kota Pontianak.
“Itu alasan kenapa kamu seolah memberi jarak dengan Aya dan Ibu, aku dan Ruzi?” kembali dengan pertanyaannya. Entah kenapa setela sekian lama baru kali ini ada seorang anggota keluarga inti yang bertanya kepadaku. Tentang perasaanku.
“Bukan aku yang memberi jarak, Bang. Dinding itu sudah ada sejak awal. Ibu terlalu sayang terhadap Bang Ruzi sehingga tidak terlalu memperdulikan aku. Abang, nggak akan paham. Selamanya nggak akan ngerti perasaan itu.” Aku berusaha agar tidak menangis di depannya. Aku suka menangis tapi tidak kali ini.
“Ya Allah Kana … “ dia menepi. Mobil yang kami kendarai menepi.
“Kana, nggak ada orang tua mana pun yang akan membeda-bedakan anaknya. Buat mereka 2 atau 10 anak kasih sayang akan dibagi rata. Maafkan, abang yang tidak peka terhadap apa yang kamu rasakan selama ini ya, Dek.” Dia mengusap kepalaku untuk pertama kalinya. Aku tidak tahan lagi dan menangis.
\*\*\*
Sebuah pesan masuk,
“I Miss You. Bisa ketemu?” Dari Medi.
Kepalaku yang awalnya sudah merasa sedikit membaik akibat menangis tadi pagi. Kini mendadak kembali sakit, belum lagi drama di kantor. Minggu lalu pergantian Kepala Administrasi dan Kepala Cabang di kantor kami, kali ini kami mendapatkan atasan yang tidak support sama sekali, para marketing kembali meraja lela. Yah, walaupun aku tidak terlalu perduli. Jika waktunya pulang maka aku akan pulang. Jika atasan menelepon maka akan aku angkat dan bilang kalau aku sudah pulang. Besoknya aku akan menerima kelas instropeksi diri yang diajarkan langsung ole kepala administrasiku yang baru ini seharian.
“Kita Ketemu hari Minggu.” Balasku.
Dira sudah memperingatkan Medi bukan tipe pria yang akan muda aku handle. Dan benar adanya, dia keras kepala, sedikit egois dan semaunya. Tapi dia juga penyayang, perhatian dan semua hal yang aku butuhkan untuk diriku ada semuanya pada Medi.
“**Kana Please. Aku nggak bisa menunggu selama itu!” Dari Medi.
“Kamu bisa!” balasku lagi**.
Setelah pesan terakhir yang ku balas, ada psan asuk lagi. Tapi aku memilih untuk tidak membacanya.
Setiap hari Medi mengirimkan pesan, tapi aku memilih untuk tidak membalasnya. Sudah hari ke empat. Suasana di rumah juga sedikit aneh, tebakan ku, bang Rizal pasti bicara sesuatu dengan Ayah dan Ibu tentang pagi itu, tentang percakapan serius kami untuk pertama kalinya. Entahlah, tapi setidaknya setelah meluapkan perasaan pagi itu, ada sedikit kelegaan di dalam hati, salah satu saudaraku tahu apa yang aku rasakan selama ini dan saat ini.
Setelah sedikit bertengkar dengan supervisor marketing akhirnya aku pulang dengan sakit di kepala. Belum juga sakitnya hilang aku meliat Medi duduk di atas motorku, menunggu ku.
“Medi!”
“Kita perlu bicara.”
“Aku sudah bilang, Minggu kita bicara, kenapa masih seperti ini?” ujarku lelah.
“Kita bahas di sini?” Wajah seriusnya itu membuatku lemah. Aku akui, setelah empat hari tidak bertemu, aku tidak menyangka akan merindukannya seperti ini setelah melihat dirinya. Aku melepaskan napas dengan kasar. Aku benar-benar lelah hari ini.
“Ke mana?”
“Rumahku,” jawab Medi.
“Nggak enak sama om.”
“Papa ke luar kota, Maya tidur di rumah temannya.” Dia mendekat ke arah ku, reflek membuatku mundur satu langkah ke belakang.
“Rumah nggak ada siapa-siapa lebih bahaya.” Tampaknya dia sedikit kesal dan maju satu langkah lagi mendekat.
“Atau kamu mau kita bahas di sini?” dia menunduk dan setengah berbisik.
Yah, wajahnya terlihat sedikit kesal. Akhirnya aku setuju untuk bicara di rumahnya. Dalam perjalanan menuju ke rumahnya, aku memikirkan beberapa skenario yang akan terjadi. Tetapi percuma, sekali lagi pria ini sulit ditebak dan susah untuk ditangani.
Medi membawakan ku segelas air mineral yang langsung ku minum hampir setengahnya.
“Kamu kenapa sih, Kan? Aku pikir kita baik-baik aja,” ucapnya memulai pembicaraan yang aku rasa akan panjang ini.
“Dari awal kita nggak baik-baik aja, Med. Kamu tahu perasaan aku ke kamu seperti apa, tapi pura-pura nggak tau. Aku anggap itu cara kamu untuk menolak perasaan aku dengan halus. Oke, aku terima dengan lapang dada. Nyatanya, beberapa minggu ini hubungan kita berjalan dan keluar jalur dari konteks pertemanan. Kita udah jauh melebihi batas seorang teman, Med. Aku nggak mau berharap terlalu tinggi dan akhirnya akan terjatuh lagi. Aku nggak bisa kehilangan teman seperti kamu.” Aku sadar air mataku sudah menggenang. Dia menghela napas dan menggenggam tanganku.
“Aku sudah bilang malam itu, aku nyerah dan kamu menang. Malam itu kita bukan lagi teman Kana, perasaan aku ke kamu sudah melebihi itu …” ujar Medi tertahan.
“Karena itu aku bertanya, Kita ini apa, Med? Dan aku mohon pikirkan jawaban dari pertanyaanku ini baik-baik. Aku nggak mau kamu menyesal dan mengubah jawaban kamu di kemudian hari. Aku nggak mau patah hati yang disebabkan oleh kamu, Medi.” Aku berusaha sekuatnya untuk tidak terisak walau air mata sudah bergulir jatuh ke rahang.
“Kamu pikir aku pria yang mudah bilang cinta dan lalu minta putus di kemudian hari?” tanyanya dengan ekspresi sendu dan ada kesedihan di sana. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum mengeluarkan kalimat final.
“Nggak. Tapi orang-orang di sekitar kamu selalu memperingati aku satu hal yang sama. Bahwa kamu, belum bisa move on 100% dari mantan kamu, Mutia.” Raut wajahnya berubah. Tampak terkejut dia melepaskan pegangan tangan kami. Rasanya aku mau menangis dan pergi melihat raut wajahnya saat ini. Mereka benar, hatinya masih berpaut di sana, di masa lalu.
Aku tiba-tiba berdiri.
“Kana, ini nggak seperti yang kamu pikirkan,” ucapnya menarik tanganku. Medi memelukku secara tiba-tiba erat sekali sehingga membuatku sesak. Dia menghapus air mata yang membasahi pipi.
“Itulah kenapa aku memberimu waktu hingga Minggu nanti. Pikirkan baik-baik.” Aku melepaskan diri dari Medi dan buru-buru menghidupkan mesin motorku sebelum dia kembali menjadi nekat dan melarangku pulang. Percakapan kami tidak akan ada akhirnya. Dia arus bisa memutuskan dan aku suda sepenuhnya bersiap diri menerima.
Aku siap, yah setidaknya aku berpikir begitu.