
***I call you one time, two time, three time
I can't wait no more
Your fingers through my hair, that's on my mind
I know it's been a minute since you walked right through that door
But I still think about you all the time
I don't know, I don't know
How I'm gonna make it out
I don't know, I don't know
Now you got me sayin'
Fxxx, I'm lonely, I'm lonely, I'm lonely as
Fxxx, come hold me, come hold me, come hold me
It's been me myself and why
Did you go? Did you go?
Oh, fxxx, I'm lonely, I'm lonely, I'm lonely, lonely, I
-- (Lauv***)
2019. Kantor.
Seteah gelap terbitlah terang. Apakah ungkapan ini berlaku sebaliknya. Setelah hari-hari indah kemarin, aku takut hari ini akan sama menyebalkannya seperti satu minggu sebelumnya.
Setelah rapi dengan celana kain formal berwarna cokelat dan kemeja lengan panjang berwarna cokelat muda aku keluar dari pertapaan alias kamar. Rambut panjang lurus ini ku ikat satu menyisakan poni tipis. Scraft indah berwarna cokelat tua senada dengan warna celana ku ikat menyerupai pita pada kerah kemejaku.
Aku menuju dapur, suda senang karena ada cake nanas kesukaanku.
“Abangmu belum makan kuenya!” seru Ibu dengan punggung membelakangi ku. Aku mematung. Kue itu belum sempat ku sentuh. Napsu makanku hilang tiba-tiba. Aku pamit dan berangkat ke kantor.
Selalu saja seperti itu. Bukannya drama, tetapi ibu memang selalu begitu. Kue itu masih setengah loyang lagi. Apa perlu dia mengucapkan kata-kata seperti tadi, seolah aku akan mengurangi jatah untuk anak laki-lakinya itu. Tidak mungkin juga aku akan menghabiskan kue itu sekaligus. Aku lupa, aku bukan prioritas.
Akhirnya aku berangkat ke kantor dengan perasaan kesal yang menempel. Jika perasaan sudah tidak enak sedari pagi, hal tersebut bisa merusak mood ku seharian. Aku mampir sebentar untuk membeli kembang tahu sebagai sarapan, pengganti cake nanas yang gagal aku cicipi itu..
Dari pagi kerjaan sudah seperti omongan tetangga yang tidak ada habisnya. Aku bekerja sebagai staff administrasi, dengan sebutan admin billing atau admin penjualan. Tugasku adalah membuka surat jalan dan faktur serta invoice untuk konsumen yang sudah berhasil melakukan transaksi dengan marketing. Demi para konsumen yang sangat menanti kendaraannya dapat dibawa pulang aku melewatkan makan siangku tapi, aku juga ingin pulang lebih awal hari ini. Perusahaan tempatku bekerja bergerak di bidang otomotif, jual beli kendaraan baru.
Ternyata semua harap itu hanya tinggal angan belaka. Jam di dinding berwarna putih sudah menunjukan pukul 18.30. aku beranjak dari kursi hendak membeli makan, aku belum mengisi perut dari siang tadi hanya semangkuk kembang tahu di pagi hari dan sebungkus Taro.
“Bukain ini dulu!” ucap Dodi salah satu marketing di perusahaan tempat aku bekerja dari depan pintu menghalangiku untuk keluar ruangan. Di ruangan ada Ci Anya, Bima, dan Risa. Kebetulan atasanku sudah keluar lebih dulu untuk makan malam bersama istrinya baru kemudian kembali ke kantor..
“Bentar, aku beli makan di samping dulu,” ucapku malas dan berusaha menyingkir
“Jangan dong!” ucapnya memaksa.
“Ya udah. Lu yang beliin gue makan!” Aku berbalik dan kembali duduk menunggu responnya. Kemudian seorang marketing lagi masuk menyerahkan dokumen untuk aku kerjakan.
“Gila ya jam segini masih suruh orang kerja, nggak ada inisiatif beliin makan or apa gitu?” sindirku setelah mendapati respon pasif dari Dodi.
“Belinya pake duet gue kok!” ucapku sinis.
“Untung kamu perempuan ya, kalau nggak udah aku tinju kamu!” ucap marketing yang baru saja masuk itu dingin. Aku tahu itu bukan nada orang yang tengah bercanda. Aku berdiri tiba-tiba membuat kursiku jatuh ke lantai. Emosiku sudah sampai di ubun-ubun, aku tidak tahan lagi. Sedari siang aku belum makan hanya untuk mengerjakan dokumen mereka agar bisa melakukan serah terima dengan konsumen. Mereka pikir aku robot yang nggak punya perasaan atau bagaimana sih.
“Oh gitu. Ya udah tinju sini!! BERANI APA?” tantangku. Ci Anya langsung memegang tubuh tinggiku. Sedangkan Risa ketakutan di mejanya. Bima berdiri marah membelaku.
“Jangan bicara asal ya, Pak! Saya adukan ke atasan nanti.” Bima mengancam marketing yang katanya ingin meninjuku itu. Aku menghembuskan napas dengan kasar. Menarik raselku yang ikut terjatuh bersama kursi.
“Biar kalian puas, gue pulang. Aduin aja ke Bos biar diSP or dipecat sekalian gue!” aku melengos pergi dengan marah. Sebagian marketing yang ada di ruang sebelah karena masih melakukan meeting menahanku pergi dalam keadaan marah.
“Sabar Mbak Kana, jangan emosi,” ucap salah satu marketing.
“Apa-apan kamu!” Terlihat supervisor mereka marah kepada marketing yang tadi mengancamku itu.
Aku tepiskan tangan mereka. Aku muak.
Aku menangis sepanjang jalan seperti orang bodoh. Kekesalan selama bertahun-tahun dengan sistem kerja yang seperti itu ternyata bisa meledak juga. Teleponku tidak berhenti berdering sedari tadi. Aku tidak perduli. Aku menelpon Dira menanyakan dia di mana, ternyata sedang makan malam bersama keluarganya. Kemudian aku menelpon Evalia ternyata dia sedang bersama pacarnya yang baru saja datang dari luar kota itu.
Malam itu, aku benar-benar merasa seorang diri saja di dunia ini. Kendaraan yang lalu lalang.
Orang-orang yang sadar lalu melihatku menangis di atas motor. Aku tidak perduli.
Aku kesepian. Aku sendirian.