
Chea sudah tanya ke resepsionis tentang ruangan Aji. Ternyata Aji berada di ruangan VVIP. Ulahnya Fajar. Siapa lagi yang bisa naroh si Aji di ruangan itu tanpa kuasa si Fajar.
Chea sudah sampai di depan ruangan Aji tanpa mau mengetuk. Chea bingung nanti di dalam mau ngomong apa. Saat kebingungan masih menyelimuti Chea, tiba-tiba seorang perempuan menghampiri Chea.
"Chea?."
Chea merasa terpanggil dan melihat siapa yang memanggilnya. Terlihat seorang ibu-ibu berdiri tak jauh dari tempat berdirinya.
"Eh tante Dira."
Chea tersenyum saat tau jika Ibu Aji yang menyapanya.
"Udah lama ya Chea."
Chea memeluk tante Dira.
"Iya tan. Udah lama banget."
Mereka melepaskan pelukan dan tersenyum.
"Mau jengukin Aji?."
"Iya tan."
"Terus kenapa berdiri di sini? ayo masuk."
Tante Dira menggiring Chea masuk ke ruang rawat Aji. Terlihat Aji dengan laptop di pangkuannya dan kaget melihat Chea dibelakang ibunya.
"Aji lihat ini siapa yang datang jengukin kamu? ada Chea loh."
Ibunya segera merampas laptop Aji dan menyimpannya di meja yang jauh dari bangkarnya.
"Mah Aji butuh itu laptop buat nyelesain kerjaan Aji ma. Kalau gak selesai ntar Aji rugi besar."
"Gak! fokus sembuh atau milih itu laptop mama banting."
"Serah."
Aji masih tak mau lihat Chea. Aji takut jika Chea cuma kasihan dengannya setelah pengakuan perasaannya.
"Ada Chea yang udah jauh-jauh jengukin kamu jangan dicuekin. Mama mau ke kantor papa kamu. Che, tante tinggal ya."
"Iya tan"
Mama Aji langsung pergi setelah menatap geli Aji yang tampak malu di depan Chea.
Setelah kepergian mama Aji, mereka diselimuti keheningan.
"Che, boleh minta tolong gak?."
Chea menoleh ke arah Aji.
"Apa?."
"Ambilin laptop gue dong."
"Lo lagi sakit kenapa musti kerja?."
"Gak bisa kalau yang ini. Ini proyek gede. Gak bisa main-main gue."
"Kalau udah tau proyek gede ngapain masih nantangin gue? susahkan lo."
Walaupun menggerutu Chea tetap mengambilkan laptop Aji dan menyerahkannya ke Aji.
"Nih."
"Thanks."
Mereka terdiam dan Chea melihat Aji yang dengan tangan kanan terperban masih bisa mengetik dengan lincah diatas keyboard laptop.
"Ji. Kapan lo boleh keluar dari sini?."
"Lusa."
Aji masih fokus tapi di dalam hatinya sudah gugup. Tak pernah ada dalam benaknya dia bisa berada di dalam ruangan cuma berdua dengan Chea. Dalam mimpi pun tak pernah.
"Besok gue kesini lagi gak papa kan?."
Aji menghentikan aktifitasnya dan menatap Chea.
"Maksud lo?."
"Gue salah udah nyanggupi tantangan lo. Harusnya gue dewasa dan lihat gimana ortu lo yang khawatir dan kerjaan lo yang bakal terbengkalai."
"Lo gak usah kek gitu. Gue yang nantangin lo. Soal ortu itu urusan gue. Mereka udah sering lihat gue kayak gini. "
"Sebagian besar karena gue lo di rumah sakit. Gue gak tega lihat gurat kesedihan nyokap lo."
Aji tersenyum dengan perhatian Chea yang mau memperhatikan perasaan mamanya.
"Gak setahun dua tahun lo kenal mama gue. Lo tau sendiri kan mama gue rempong kayak gimana."
Chea terkekeh, dia tau bagaimana sifat mamanya Aji yang super ribet itu.
"Tau sih. Tapi tetep gak enak. Lo gak pernah bilang kalau gue yang selalu buat lo masuk rumah sakit sih. Jadinya gue agak gak enak sama sikap nyokap lo."
"Mama udah tau. Mama nganggap kalau aku yang salah. Kalau menghajar orang pasti bakal dibales. Ini karma buat gue yang selalu nantangin lo."
"Jadi?."
"Gak usah merasa bersalah. Gue disini yang salah. Lo kayak biasanya aja ke gue."
"Gue gak bisa. Apa kita gak bisa temenan Ji?."
Aji terdiam dan menatap Chea tak percaya.
"Lo ngomong apa barusan? kayaknya kuping gue bermasalah."
"Ayo kita temenan."
Aji terdiam dan mencerna semua omongan Chea. Kemudian dia tersenyum.
"Ayo. Siapa takut."
"Ji. Lo temen gue sekarang. Masalah perasaan lo yang.."
"Gue tau kalau ini salah. Gue gak mau terus-terusan berharap sama lo yang gak pernah lihat gue. Gue udah ada cewek dan udah lamar dia. Tinggal pesta pertunangan doang sih yang mau gue gelar besar-besaran."
Chea terdiam setelah mendengar pengakuan dari Aji. Dia tersenyum karena Aji bakal melupakan perasaannya dan bakal tunangan bentar lagi.
"Kalau gitu kenapa gak pakek WO gue."
"Hah?."
"Iya pakek WO gue aja. Kan gue yang dekor acara kemarin lo nantangin gue itu."
"Acara mewah itu hasil dekor WO lo? Serius?."
"Serius. Jangan bilang lo gak tau kalau gue punya usaha WO."
"Gue taunya lo buka usaha doang. Gak tau kalau itu WO. Tapi lo udah nawarin kenapa gak. Lumayan lah sama temen ada potongan."
"Gak ada potongan. Dibaikin dikit nglunjak."
Mereka tertawa bersama. Tanpa mereka sadari ada seorang wanita yang melihat kejadian itu. Dia terkejut dengan perkataan Aji dan wanita itu di dalam.
Dia membuka pintu ruang inap Aji dan yang didalam terkejud akan kehadirannya.
Aji tersenyum hangat melihat wanita yang datang menghampiri mereka.
"Wow cantik bener ni cewek."
Chea tanpa basa-basi langsung mengomentari penampilan cewek itu. Aji yang mendengarnya tersenyum bangga.
"Iya dong. Calon istri gue nih."
Aji menyombongkan pilihannya yang cantik.
"Iya yang mau nikah. Betewe kita belum kenalan. Gue Chea musuh Aji."
Chea mengulurkan tangannya dan disambut si cewek itu dengan senyum yang ramah.
"Olivia kak."
"Eh jangan manggil dia kakak. Bisa besar kepala dia ntar."
Chea yang tak terima langsung memukul luka di tangan Aji. Yang kena pukul meringis.
"Sakit."
"Siapa suruh ngeledek. Gak usah formal gitu. Panggil aja Chea. Anggap aja temen deket."
Olivia tersenyum saat tau jika Chea adalah tipe wanita yang ramah.
"Iya Chea."
"Eh cewek lo udah dateng nih. Gue pulang ya. Gue masih mau ngantor."
"Eh kok gitu. Katanya mau nawarin itu?."
"Kalau itu lo dateng aja ke sini. Ntar gue yang bakal handel acara lo."
Chea menyerahkan kartu namanya ke arah Aji.
"Awas lo gue dateng malah lo nya gak ada. Gue acak-acak kantor lo."
"Berani acak-acak mati lo ditangan gue."
Chea menunjukkan kepalan tangannya di depan Aji. Olivia meringis melihat itu. Olivia tau jika Chea lah yang membuat Aji masuk rumah sakit.
"Cepetan pergi lo. Ganggu."
Chea mendengus dan pamit pergi dari ruangan Aji. Selama menyusuri jalan keluar dari rumah sakit, dia melihat mama Aji datang dari arah berlawanan.
"Loh mau pulang Che?."
"Iya tan. Chea masih harus kerja."
Chea dan mama Aji duduk di bangku yang tersedia.
"Kamu kerja apa Che? kalau tante boleh tau."
"Chea buka usaha WO tan."
"Wah kebetulan tante lagi butuh jasa WO buat acara pertunangannya Aji."
"Oh kalau itu Aji tadi udah ngajuin kok tan. Tinggal lihat konsep-konsep tunangan doang sih tan."
"Wah good job Aji gercep. Tante boleh minta alamat WO kamu? biar enak gitu tante untuk ikut Aji."
"Oh boleh tan. Ini."
Chea menyerahkan kartu namanya.
"Tante bisa datang kapan aja ke Chea. Ntar Chea yang bakal handel acara ini. Khusus buat kalian."
"Oh tante makasih banget ya. Oh maafin tante nahan kamu disini. Kan tadi mau kerja ya?."
"Iya tan. Tapi kan Chea bosnya. Jadi bisa datang kapan aja."
"Eh gak boleh kayak gitu Che. Walaupun kamu bosnya tetep aja harus taat aturan yang kamu buat. Sana kerja. Jangan jadi contoh yang gak baik sama karyawan. Ntar dicontoh karyawan mu loh."
Chea terkekeh dengan nasihat Mama Aji. Mana ada yang berani ngelawan Chea? Cari mati kalau nantangin Chea.
"Iya tan. Chea pamit."
Chea pamit ke mama Aji dan segera pergi dari rumah sakit. Kali ini tujuannya ke kantor. Karena acara lusa butuh perhatian darinya.
🏵
TBC
🏵