You Lie To Me

You Lie To Me
Pertunangan



Dari awal Chea tau jika ia memang tak akan pernah bisa bahagia. Karena itulah Chea tak suka menjalin hubungan dengan lawan jenis.


Chea sering kecewa saat menjalin hubungan dengan si bangs*t mantannya itu yang kini udah nikah. Dari hal itu Chea percaya jika jarang ada cowok tulus.


Chea berada di rumah utama dengan ketegangan yang sedang menyelimuti mereka semua.


"Apa maksud mu Chea? pembatalan pernikahan? Omong kosong apa ini?."


Mami Chea sudah diujung kesabaran menghadapi tingkah anak perempuannya yang kelewat keterlaluan. Pembatalan pernikahan? Bahkan persiapan sudah masuk 50%. Apa Chea gila!.


"Tenang Mi.. Chea pasti ada alasan dibalik keputusannya ini."


Sang Ayah menenangkan mami yang memegang kepalanya. Chea menunduk merasa bersalah. Fajar hanya diam melihat hal itu. Dia tau apa alasan dibalik Chea melakukan ini.


"Maafkan Chea. Tapi ini keputusan Chea."


"Ayah bakal ikutin mau Chea."


"Ayah!."


Mami shock mendengar keputusan suaminya.


"Kita harus maklumi keputusan Chea. Ini hidupnya. Kita hanya bisa mendukung dan memberikan saran saja Mi. Tinggal bagaimana keputusan Chea diakhirnya."


Sang Ayah memberikan pengertian akan bagaimana sikap Chea selama ini. Sang mami menatap Chea dan gantian menatap Fajar.


"Jika ini memang mau kamu, mami ikut."


Chea tersenyum dan langsung memeluk sang mami. Sang ayahpun ikut memeluk keduanya dan diikuti Fajar juga. Chea bersyukur memiliki keluarga yang begitu peduli padanya. Dia punya segalanya. Dia tak butuh Fahmi.


🔰


Chea sedang berbaring di dalam kamarnya. Untuk pertama kalinya Chea meneteskan air matanya untuk seseorang yang membuat ia terluka. Chea menatap langit-langit kamarnya tapi fikirannya entah dimana.


"Akhirnya.."


Chea memejamkan matanya dan saat itulah air matanya jatuh. Chea tak tau kenapa tapi ia ingin menangis sekali ini. Ya sekali ini.


"Jangan ditahan. Lepaskan saja."


Chea kaget dengan suara Fajar. Ia tak menyadari jika kembarannya bisa masuk kamarnya tanpa Chea sadari. Chea duduk dan melihat tatapan Fajar padanya.


"Jangan.."


Air mata Chea semakin deras keluar tanpa suara. Fajar maju dan mendekap Chea dalam pelukannya. Chea merasa ada seseorang yang benar-benar perduli padanya.


"Semua akan baik-baik saja."


Chea menangis tanpa suara dan membalas pelukan sang kakak. Hangat.


"Hurt."


"Dimana yang sakit?."


"Hati ku.. begitu sakit."


Fajar mengelus rambut Chea dengan sayang.


"Lupakan."


"Aku mau begitu tapi rasanya adegan itu terulang-ulang di fikiran ku."


"Tenanglah. Ada aku disini. Bersama mu."


"Aku tau."


Chea mengeratkan pelukannya. Fajar setia mengelus rambut Chea dan membuatnya nyaman.


Malam semakin larut dengan kesedihan menyelimuti suasana hati Chea. Fajar diam bukan berarti akan membiarkan ini semua berlalu dengan baik-baik saja untuk Fahmi. Chea tertidur di dalam dekapan Fajar.


Adiknya jarang menangis seperti ini. Fajar takut jika hal ini membuat Chea sedih. Fajar lebih suka melihat Chea yang kasar dan Ceria daripada Chea yang bersikap dingin seperti ini.


Fajar membaringkan Chea hati-hati agar tak terbangun lalu menyelimutinya. Fajar mengecup dahi Chea dan pergi dari kamar itu.


🔰


Sesuai rencana Fahmi, hari ini adalah hari pertunangan antara dia dan Chea. Nyatanya sang tunangan sudah berganti. Fahmi muram selama acara karena melihat keluarga Chea yang menatapnya benci. Apalagi Fajar, begitu menunjukkan raut wajah permusuhan. Chea? gadis itu entah dimana sekarang.


Keluarga Fahmi malu dengan keluarga Chea tentunya. Tapi mereka tidak bisa menghakimi Fahmi begitu saja. Pasti ada alasan dibalik itu semua.


Fahmi berusaha menghubungi Chea tapi tak tersambung sejak tadi. Fahmi merasa khawatir dengan keadaan Chea. Jarang Chea mengabaikan telepon masuk. Fahmi segera pergi tanpa pamit dengan orang-orang disana.


Fahmi menyetir mobilnya dengan fikiran kalut. Dia harus berfikir dimana Chea berada. Kantor? lupakan kalau itu. Jadwal Chea! Dia harus mencari jadwal Chea dari Ririn. Asisten Chea. Segera Fahmi banting stir ke kantor Chea dengan kecepatan yang wow.


Fahmi sudah sampai dan kaget saat melihat Chea disana bersama Fanya. Fahmi ingin melihat ini dulu baru kesana. Fahmi menurunkan kaca mobil sedikit untuk mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Dimana Fahmi?."


Fahmi dapat melihat Fanya marah kepada Chea.


"Dia pergi dan itu pasti karena mu."


Fanya menunjuk kearah Chea.


"Nona Fanya yang terhormat. Sebaiknya anda berfikir ratusan kali. Kalaupun Fahmi mu kesini pasti sudah gue usir."


Chea melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Fanya dengan pandangan datar.


"Bullshit!."


"You can believe that."


"Tak akan pernah gue percaya dengan lo."


"Gue juga gak akan percaya sama lo!."


"Lo..!."


Chea cuma mengedikkan bahu acuh. Fanya segera pergi dari sana dengan marah. Dia jadi tontonan orang banyak dan dia malu. Chea segera berbalik akan masuk ke dalam kantor tapi melirik mobil yang terparkir tak jauh dari sini. Dia tau jika itu mobil Fahmi tapi Chea acuh dan tetap masuk ke kantor.


Fahmi mati kutu saat Chea meliriknya dengan tajam. Chea tau jika Fahmi disitu dan Fahmi tak tau harus bagaimana. Apa yang harus ia lakukan sekarang?


Fahmi memutuskan turun dari mobil dan menghampiri Chea yang berdiri di depan pintu masuk kantor.


"Chea.."


Chea menatap datar Fahmi.


"Che.. kita harus bicara."


"Bukankah kita sudah bicara."


"Tidak disini."


Chea tampak berfikir dan langsung pergi.


"Mari."


Fahmi mengikuti langkah Chea dan mereka tiba di ruangan Chea.


"Silahkan duduk."


"Chea.."


Chea duduk dengan tenang dan Fahmi terpaksa duduk.


"Katakan."


Fahmi mengambil nafas panjang. Menyiapkan mental.


"Maafkan aku."


"For what?."


Fahmi terdiam sesaat. Tangannya sudah berkeringat. Ia agak takut jika Chea meninggalkannya.


"Anu.. itu.."


Chea muak dengan omong kosong Fahmi.


"Waktu anda 10 menit dari sekarang. Berbicara atau tidak itu hak anda."


Fahmi menatap Chea dengan tatapan sedih. Chea kembali bersikap formal.


"Aku mau mengaku soal ini. Bagaimana aku bisa berakhir bertunangan dengan Fanya dan tak memberikan mu penjelasan apapun setelah hari itu."


"Lanjutkan."


"Fanya mengancamku. Waktu itu aku ingin sekali mengakhiri permainan Fanya tapi ia mengancamku."


"Apa ancaman Fanya?."


"Jika kamu mendengar itu pasti kamu akan meninggalkan ku."


"Apa itu soal anda memanfaatkan saya..?."


🏵


TBC


🏵