
Chea tertawa sinis ke arah Fanya. Candaan Fanya sudah basi menurutnya. Hal seperti itu seharusnya sudah dianggap cuma masa lalu.
"Maafin gue Fanya. Gue gak bisa nahan rasa pengen ketawa gue."
Chea memegang perutnya yang terasa sakit karena terlalu keras tertawa. Tangan kirinya menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya.
Fanya mengepalkan tangannya ketika melihat reaksi Chea yang diluar ekspektasi nya. Tadinya Fanya pikir Chea bakal kaget dan menyuruhnya untuk melupakan hal itu. Tapi nyatanya, Chea tertawa atas perkataannya.
"Ada yang lucu dari perkataan gue?."
Chea meredakan tertawanya dan mulai menunjukkan wajah datar kembali.
"Lucu banget. Kalau memang lo tunangannya Fahmi, dari kapan?."
"Kami dari kecil sudah berteman dan Fahmi berjanji menikahi ku."
Chea bertepuk tangan dan tertawa mengejek ke arah Fanya.
"Masa lalu itu tuan putri. Fahmi pasti udah lupa sama itu."
Kini giliran Fanya yang tertawa sinis ke arah Chea.
"Dia ingat. Tapi dia bakal nikahin gue setelah mutusin lo."
Chea menganggukkan kepalanya tanda mengerti ucapan Fanya.
"Gimana kalau kita buktikan?."
Chea menatap sinis Fanya.
"Maksud lo?."
"Kita lihat saja nanti."
Chea berdiri dan berjalan pergi meninggalkan Fanya yang menatapnya sinis dan heran. Chea punya rencana untuk ucapan Fanya barusan.
Chea segera pergi dan menuju ke arah rumahnya. Hari ini Chea ingin tidur. Chea tau kalau sejak tadi Fahmi menerornya dengan telepon dan pesan masuk yang selalu ia abaikan.
Chea menatap mobil yang terparkir di depan rumahnya. Dari plat dan body mobil Chea tau jika itu mobil Fahmi. Chea segera turun dari mobil dan melangkah memasuki halaman rumahnya. Fahmi yang melihat Chea berjalan masuk ke area rumah tersenyum. Penantian selama satu jamnya tak sia-sia.
"Chea.. Kamu.."
"Pulanglah."
Fahmi melangkah mendekat ke Chea tapi tatapan Chea mengatakan jika Fahmi tetap ditempat.
"Aku menunggu mu disini sudah lama Che. Aku ingin kita bicara."
Chea berhenti di depan pintu dan menatap Fahmi.
"Bicaralah."
Fahmi tersenyum saat mendengar persetujuan Chea untuk bicara.
"Kamu dari mana?."
"Kafe."
"Kamu sudah makan?."
"Sudah."
"Kamu lelah?."
"Iya. Jika cuma hal biasa seperti ini yang mau kau bicarakan, mending tak usah bicara saja."
Chea menatap dingin ke arah Fahmi.dan membuat Fahmi gelagaban.
"Tidak.. maksud ku kita harus bicara. Maaf kalau menurut mu tidak penting. Apa aku ada salah atau berbuat sesuatu yang kamu gak suka?."
Chea terdiam menatap Fahmi. Yabg ditatap salah tingkah dan berfikir yang tidak-tidak.
"Ada."
Fahmi kaget dengan jawaban Chea.
"Apa? kapan?."
"Baru-baru ini. Aku mendengar sesuatu yang tak pernah ku duga. Mau dengar?."
"Iya. Katakan biar aku bisa memperbaikinnya."
Chea terdiam beberapa saat sebelum mengatakan hal yang menyakitkan untuk Fahmi.
"You lie to me."
"Lie? kapan Che? aku selalu jujur pada mu."
"Iya."
Fahmi uring-uringan dalam fikirannya saat mendengar tuduhan Chea jika ia berbohong.
"Aku mengira hubungan ini beneran ternyata ada sesuatu ya."
"Apa maksud mu?."
Chea tersenyum sinis ke arah Fahmi.
"Apa aku harus mengingatkan kata-kata anda sendiri tuan Fahmi?."
"Apa maksud mu?."
"Baiklah jika kamu memaksa."
Fahmi menunggu dengan penasaran kata-kata apa yang pernah ia ucapkan sampai membuat Chea berubah seperti ini.
"Ah lo gak bakal nyangka gue bisa manfaatin itu cewek sampai sejauh ini. Apalagi dia bego gak sadar gue manfaatin."
Fahmi terdiam saat mendengar perkataan Chea. Itu adalah kata-kata yang ia ucapkan saat bersama Fanya. Fahmi merasa tubuhnya mendadak lemas. Dia tak pernah menyangka jika perubahan sikap Chea karena ucapannya.
"Ah.. itu.. aku ucapkan tidak sengaja. iya tidak sengaja."
Chea hanya menatap Fahmi dengan pandangan malas dan muak.
"Chea, katakan sesuatu. Hubungan kita.. gak akan berakhir kan? aku khilaf Chea. Maafkan aku."
Fahmi merasa jantungnya seperti diremas kencang saat melihat reaksi Chea. Fahmi merasa kali ini akan sulit untuknya tetap meraih Chea. Fahmi maju dan memeluk Chea.
"Maafkan aku. Aku khilaf Che."
"Tidak akan ada kesempatan kedua."
Dengan sekali hentakan pelukan Fahmi terlepas dari tubuh Chea.
"Apa..apa.. apa maksud mu? Aku tak mau."
Fahmi berusaha memegang tangan Chea tapi sudah ditepis Chea dengan kasar.
"Kita berakhir. Aku ingin hubungan ini berakhir."
"Jangan ucapkan itu. Aku minta maaf Chea. Aku mohon maafkan aku."
Fahmi jatuh dalam posisi berlutut. Entah sejak kapan tapi Fahmi sudah menangis. Entah sejak kapan juga Fahmi mulai mencintai Chea. Ia sadar saat Chea menghindarinya. Ia tak suka diperlakukan seperti itu. Fahmi sadar jika rasa memanfaatkannya sudah berganti rasa cinta.
"Akan ku lakukan semua yang kamu mau tapi jangan tinggalkan aku."
Chea hanya terdiam tanpa kata saat melihat adegan itu.
"Maafkan aku. Tapi rasanya sudah muak untuk mendengarkan bualan mu lagi."
Chea segera masuk ke dalam rumah dan menutupnya dengan keras. Fahmi yang sadar akan hal itu segera menggedor-gedor pintu rumah Chea.
"CHEA! CHEANA! Jangan seperti ini. Maafkan aku. Chea maafkan aku. Aku.. khilaf."
Sedangkan Chea sudah berdiri di belakang pintu dengan pintu dengan air mata yang mengalir.
"Maafkan aku Chea."
Suara gedoran pintu melemah dan suara Fahmi juga melemah. Tapi tergantikan suara tangisan Fahmi yang memilukan untuk Chea.
Chea merasa hancur saat mendengarnya. Chea merosot ke bawah dan terduduk menyender pada pintu.
"Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku Chea. Jangan tinggalkan aku."
Chea menutup kedua kedua telinganya agar tak mendengar suara Fahmi yang memilukan di telingannya.
Tanpa Chea sadari hal itu tak luput dari pandangan Fajar yang berdiri tak jauh dari posisi Chea.
Fajar segera berjalan ke arah Chea dan segera memeluknya. Fajar dapat merasakan rasa sakit Chea.
Chea yang sadar jika itu Fajar yang memeluknya tak kuasa menahan tangisannya. Chea menangis. Untuk pertama kalinnya Fajar melihat Chea yang rapuh.
Fajar mendengar suara Fahmi yang juga menangis di depan pintu. Fahmi menangis untuk hal yang sangat berharga yang sekarang hilang karena kebodohannya.
Fajar membenci Fahmi setelah mengetahui kenyataan itu. Sungguh Fajar ingin menghajar Fahmi yang hanya memanfaatkan Chea. Tapi untuk sekarang Fajar akan fokus dengan Chea.
Fajar mengelus punggung Chea dengan sayang. Tangisan Chea sangat memilukan ditelinganya. Semua begitu nenyedihkan malam ini menurut Fajar.
🏵
TBC
🏵