
Chea membuka matanya dan merasa pening. Hal pertama yang Chea lihat adalah tempat yang luas dan gelap. Chea menatap sekelilingnya dan sadar jika kedua tangannya sudah diikat. Chea tersenyum meremehkan ke samping.
"Cuma trik murahan seperti ini lo gunain ke gue? ah lo gampang ditebak banget Fanya."
Fanya mengepalkan tangannya tak terima dengan ejekan Chea. Tapi yang paling tak disangka Chea tau siapa yang mengikatnya.
"Mau lo kayak gimana?."
Fanya keluar dari persembunyiannya di kegelapan ruangan ini.
"Yang lebih berkualitas tentunya."
Fanya yang geram pun menampar Chea. Sakit? tentu.
"Gara-gara lo! keluarga Fahmi mutusin hubungan sama gue! gara-gara lo juga Fahmi ninggalin gue."
"Emang salah lo."
Sekali lagi Fanya menampar Chea.
"Lo yang salah disini. Seumpama lo gak ada, pasti kami bakalan bahagia. Lo harusnya tau gue lagi ngandung anaknya Fahmi."
Chea tersenyum mengejek.
"Setahu gue Fahmi gak suka anak kecil. Sama kayak gue. Dan untuk anak? Dia gak mau punya sekarang. Dan lagi.. Kenapa lo musti pakek kata anak disini? Fahmi mana sudi nyentuh lo."
Lagi-lagi Fanya gagal mempengaruhi Chea dengan kebohongannya.
"Nyatanya sekarang gue hamil."
"Tentunya bukan anak Fahmi."
"Ini anak Fahmi."
"Mana jaminan lo?."
Fanya geram karena kalah telak dan tidak bisa bicara lagi langsung memanggil anak buahnya.
"Lo pukul cewek sialan ini."
Chea dilepaskan dari tali yang mengikatnya tapi hanya sesaat karena digantikan borgol. Chea berdiri dan tak lama kemudian perutnya dipukuli anak buah Fanya. Chea meringis merasakan sakit di daerah perutnya.
"Ternyata lo gak tahan juga ya kalau dipukulin. Gimana kalau lo mati karena dipukulin? bakal seru."
Fanya pun menutup kedua mata Chea dan memberikan perintah kepada anak buahnya untuk memukuli Chea. Fanya pergi dari ruangan itu meninggalkan Chea yang sudah mulai kehilangan kesadaran.
"Bos, gimana kalau sebelum kita bunuh ni cewek, kita cicipin dulu dia. Kulitnya halus bos."
Si bos dari anak buah Fanya pun mengangguk menyetujui. Chea sudah tak bisa melawan karena tubuhnya sakit semua. Chea hanya berharap ada seseorang yang menyelamatkannya.
Saat anak buah Fanya hampir saja mau membuka pakaiannya, terdengar suara tembakan pistol. Chea bersyukur ada yang mau menolongnya disaat seperti ini. Chea sudah pingsan karena tak punya tenaga sedikitpun untuk mempertahankan kesadarannya.
🔰
Chea merasa senang di padang rumput yang luas ini. Dia merasa bebas dan nyaman. Berlarian kesana kemari membuatnya lelah dan bersandar dibawah pohon. Chea merasa ada sesuatu yang kosong tapi entah itu apa. Samar-samar Chea merasa ada seseorang yang memanggil namanya.
Bangunlah.. Aku mencinntai mu.
Cinta? Chea tak percaya akan hal itu lagi. Kemudian terdengar suara yang begitu memilukan ditelinga Chea.
Aku akan ikut kamu mati jika kamu meninggalkan ku. Aku bersumpah atas nama Tuhan. Aku akan menyusulmu.
**** mana yang mau ikut dia mati coba? Chea tak bisa membiarkan seseorang mati karena dirinya lagi.
Cukup Ilya yang mati menyelamatkannya dengan mendonorkan jantungnya dulu. Cukup Ilya saja yang membuat Chea merasa bersalah seumur hidup. Jangan sampai ada orang lain.
Chea memutuskan untuk kembali dengan melewati cahaya putih diujung taman ini. Samar-samar Chea terbangun dari komanya. Fajar yang melihat itu langsung memanggil dokter histeris.
Chea pusing dan tambah pusing dengan suara nyaring Fajar. Dokter dan suster datang dan memeriksa Chea . Fajar sudah sangat bahagia Chea bangun dari komanya.
Dokter selesai memeriksa Chea dan Chea dipindahkan ke ruangan biasa. Fajar sudah duduk disebelah Chea dengan senyum yang tak pernah luntur.
"Ngapain abang senyum kayak gitu?."
Serak. Suara Chea begitu serak. Chea tadi juga melihat beberapa bekas memar keunguan dilengannya. Chea ingat dia mendapatkannya dari Fanya.
"Abang seneng aja lihat kamu sadar."
Fajar memeluk erat Chea. Fajar tak kuasa menahan air matanya.
"Bang.. sakit."
"Maaf. Abang terlalu seneng aja."
"Chea disini udah berapa lama bang?."
Fajar terdiam seketika.
"Kamu udah koma.. 3 bulan Chea. Abang takut. Abang takut kamu ninggalin abang."
Chea bisa merasakan pundaknya basah dengan air mata Fajar.
"Jadi, siapa yang datang menyelamatkan nyawa ku?."
"Tak perduli siapa yang menyelamatkan mu yang penting kamu selamat."
"Itu bukan abang kan?."
Fajar melepaskan pelukannya dan menatap Chea sendu.
"Maafkan aku."
Chea memejamkan matanya.
"Abang.. sudah pernah berjanji tak akan menggunakan senjata itu lagi "
"Tapi.. aku tak bisa mengontrol diriku saat melihatmu hampir diperkosa mereka."
Chea tersenyum masam. Chea hampir saja lupa dengan kenyataan itu.
"Artinya **** itu pantas menerimanya. Tapi jangan langgar janji mu lagi bang."
"Tentu."
Mereka dikagetkan dengan suara pintu yang dibuka kasar. Terlihat Fahmi datang dengan nafas tersengal-sengal.
"Chea.."
Fahmi langsung memeluk Chea dengan kuat saat matanya dengan jelas melihat Chea sadar dari komanya. Fahmi sudah hampir gila menunggu Chea sadar dari komanya.
"Maafkan aku. Maafkan aku Che.."
Fahmi menangis dalam pelukannya. Chea merasakan pundaknya tambah basah. Chea melihat Fajar dan memberikan isyarat untuk meninggalkan mereka. Fajar pun pergi dari ruang inap Chea.
"Lepaskan gue."
Fahmi menuruti ucapan Chea dan melepaskan pelukannya. Fahmi menghapus air matanya dan menatap Chea dengan penuh kerinduan.
"Katakan pada ku, siapa yang melakukan ini? ."
"Lo tau siapa orangnya."
"Chea.. Jangan bilang ini ulah Fanya."
"Ya."
"Untuk apa dia melakukan ini pada mu?."
"Ck.. tentu saja balas dendam akan sakit hatinya. Apa lagi."
Fahmi mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Ia berjanji pada dirinya kan membalas apa yang sudah dilakukan Fanya kepada Chea.
"Kamu selamat dan itu sudah cukup."
Fahmi mengelus pipi Chea dengan sayang.
"Dimana Fanya?."
Elusan tangan Fahmi terhenti.
"Fanya ada di Bali."
"Ckkk.. Apa dia hamil?."
Fahmi mengerutkan alisnya.
"Hamil?."
"Kau tidak tau jika Fanya hamil dan dia bilang itu anak mu?."
Fahmi menatap Chea dengan tatapan kaget.
"Perut Fanya dulu rata.. tidak ada tanda-tanda kalau dia hamil."
"Ckk.. ternyata wanita ular itu masih bisa berbohong."
Fahmi terdiam sesaat dan menggengam tangan Chea. Tiba-tiba ponsel Fahmi bergetar dan menampilkan nama Fanya.
"Aku pergi. Kamu jaga kesehatan ya."
Tanpa tau malu Fahmi mencium kening Chea lama. Fahmi segera pergi untuk mencari Fanya yang tiba-tiba menghilang satu bulan lalu dengan dalih menenangkan diri.
Fajar juga sudah mendengarnya kemudian juga ikutan pergi bersama Fahmi untuk mencari Fanya. Ia akan membuat Fanya memilih mati daripada hidup.
Akan gue buat lo nyesel hidup Fanya.
Ini adalah tekad seorang Kakak dan Kekasih yang ingin membalaskan dendamnya.
🏵
TBC
🏵