You Lie To Me

You Lie To Me
Cemburu 1



Chea sudah sampai di Bali dan tentu saja sudah dihadapan para staffnya. Chea kasihan melihat mereka yang tadinya sibuk urus ini itu terhenti karena denger acara mereka batal dilangsungkan.


Butuh usaha dan modal besar buat acara ini. Bahkan properti yang dipakai sungguh mahal dan tidak main-main kualitasnya. Maklum ini acara pengusaha batu bara.


"Maaf ya kalian udah repot malah jadinya batal."


"Aduh mbak. Ini bukan salah mbak. Mereka aja yang salah mbak sudah bikin acara ini gagal. "


Ujar Sigit selaku ketua tim untuk acara ini.


"Tetep aja mbak minta maaf ya. Seharusnya mbak konfirm dulu tentang acara ini. Kalian udah susah payah urus ini itu tapi malah batal."


"Gak ada yang tau kalau si pengantin ceweknya bakal minggat mbak. Jadi ini bukan salah mbak. Kami juga maklum kok mbak sama hal kayak beginian. Iya gak semua?."


Pertanyaan Sigit dianggukin semua pasukannya. Chea tersenyum melihat kekompakkan timnya.


"Aku terharu lihat kalian yang kompak gini."


Chea merasakan tasnya bergetar dan segera memeriksanya. Terdapat panggilan masuk dari Ririn.


"Halo Rin. Ada apa?."


"Mbak! mbak belum balik kan dari Bali?."


"Belom. Kenapa?."


"Pengantinnya udah ketangkep mbak eh maksudnya udah ketemu jadinya itu acara jadi. Saya tadi ngasih nomor mbak ke pihak mereka. Jadi pasti ntar lagi mbak dapat telepon dari pihak mereka."


Chea tersenyum lebar ke arah timnya sedangkan mereka merasa aneh dengan senyuman bosnya.


"Guys! Acaranya jadi!."


Semua orang yang denger langsung bersorak senang. Akhirnya kerja keras mereka terbayar dengan terselenggarannya acara ini.


"Oke Rin. Makasih atas infonya. Sekarang kami bakal siap-siap."


"Siap mbak."


Chea mematikan sambungan dan tersenyum bahagia saat mendengar tawa bahagia timnya.


"Guys! ini masih belum fix ya tapi setidaknya acara akan terlaksana 90%."


Ponsel Chea kembali bergetar dan menampilkan nomor tak dikenal. Mungkin yang punya acara. Chea segera mengangkat telepon masuk itu.


"Hallo. Dengan Cheana disini."


"Hallo mbak Chea. Ini saya Reynald yang sewa jasa WO mbak untuk acara pernikahan saya di Bali."


"Iya mas. Ada apa?."


"Saya tau mbak udah denger kabar tentang mempelai saya yang kabur, tapi sekarang saya sudah menjemputnya dan acara pernikahan akan tetep berlangsung sesuai rencana. Tim mbak gak pulang ke Yogyakarta kan?."


"Gak kok mas. Untuk kabar itu saya turut bahagia. Tim saya masih di Bali dan saya juga di Bali sekarang. Jadi intinya saya bakal handel acara mas sampe selesai."


"Oh bagus kalau mbaknya langaung yang handel. Saya sangat berterima kasih untuk kebaikan mbak untuk tidak menarik tim mbak. Saya gak tau harus bagaimana kalau mbak dan tim udah balek. Makasih ya mbak. Hari ini saya akan ikut mbak dan tim menyusun dekorasi. Boleh?."


"Boleh kok mas. Saya tunggu di Hotel Xx  jam 10 siang ini. Kami sudah meluncur ke hotelnya."


"Baik mbak."


Chea mematikan sambungan telepon dan segera menyusul rombongan tim yang sudah duluan.


Chea sebenarnya lelah tapi kalau gak dipantau juga bakalan kacau. Secapek-capeknya Chea bakalan tetep suka dengan profesinya.


-----$$$$$-----


Hari H


Hari ini adalah puncak acara pernikahan klien Chea di Bali. Segalanya sudah tersusun rapi dan begitu sesuai selera keluarga mempelai.


Chea senang dengan hasil dekorasi timnya . Begitu megah tapi simpel dan elegan. Butuh usaha untuk membangun dekorasi ini itu. Ini adalah puncak terakhir acara yaitu resepsi yang dihadiri tamu undangan kurang lebih 5000 orang.


Mempelai wanita menolak keluar dari ruangan pengantin. Chea ingin menggunakan cara menyeret paksa sang mempelai wanita tapi dia ingat dimana posisinya.


"Sigit, kamu udah cek bagian sound system belum?."


Chea melihat wajah Sigit yang tampak lelah. Maklum mereka semua sedang capek.


"Udah mbak. Semua clear. Tinggal keluar aja si mempelai. Tapi ini malah gak mau si pengantin wanitanya. "


Chea melihat ke arah mempelai laki-laki yang berdiri gagah di tengah acara untuk menyambut para tamu sendirian. Baru juga sah menikah beberapa jam yang lalu tapi udah seperti ini.


"Biar dia mbak yang urus. Kamu awasin aja yang lain. Makanan jangan sampai ada yang kosong. Piring kotor atau gelas segera pungut. Itu juga awasin para tamu jangan sampe ada yang neko-neko kayak dulu. Tamu pada bawa perlengkapan kita. Juga jangan sampai ada yang berkelahi. Mbak pergi."


Chea berlalu menuju kamar pengantin wanita. Saat membuka pintu ia disuguhi pemandangan yang luar binasa. Pengantin wanita mencoba kabur.


"Wah wah wah. Lihat siapa yang mau kabur."


Rere sang pengantin wanita kaget saat acara kaburnya terlihat orang lain.


"Lo diem aja deh!."


"Diem? gak mau. Ini acara kawinan mbak loh. Harusnya mbak dampingin suami di acara ini."


"Cih gak sudi!."


Chea hanya melihat Rere yang berusaha melompat dari jendela.


"Mbak tau gak kalau di luar jendela itu ada bodyguard suami mbak?."


Rere kaget dengan pernyataan Chea soal adanya bodyguard.


"Apa?."


"Oh mbak belum tau ya. Saya kasih tau ya. Di luar itu ada 50 orang bodyguard suami mbak. Mbak keluar dari jendela dengan baju yang.. bisa dikatakan berat itu, bakal susah buat lari."


Chea menyeringai sambil menatap Rere.


"Lo boong kan?."


"Terserah mbak mau percaya apa gak. Tapi satu hal yang harus mbak tau jika orang tua mbak terancam bangkrut jika mbak pergi. Saya denger percakapan antara suami mbak dengan sekretarisnya tadi. Jadi pilihan ada ditangan mbak."


Rere terdiam dan langsung terduduk di lantai. Rere merasa dunianya hancur jika orang tuanya hancur.


"Aku harus... bagaimana?."


"Oh mbak cukup keluar dari sini dan ikut suami mbak menyambut tamu."


Rere menatap Chea dengan pandangan menyerah.


"Ayo mbak saya dampingi sampai di halaman acara."


Chea membantu Rere berdiri karena Rere memakai gaun yang berat. Rere pasrah saat digandeng Chea keluar dari ruangan itu dan menuju halaman acara resepsi.


Semua terdiam saat Rere dan Chea masuk ke area acara. Mereka takjub dengan Rere yang cantik dan gaun yang ia pakai. Chea mulai mundur dan membiarkan Rere maju sendiri ke arah suaminya.


"Mbak good banget sumpah bisa bujuk si mempelai."


Entah sejak kapan Sigit sudah berdiri di samping Chea.


"Iya dong."


Acara hari ini begitu lancar sampai-sampai membuat Chea tak peka akan kehadiran Fahmi di acara ini. Fahmi menatap Chea tajam saat melihat interaksinya dengan staff Chea.


Fahmi cemburu? tentu.


🏵


TBC


🏵