You Lie To Me

You Lie To Me
So, This Is END?



Fahmi setia menunggu perginya cowok di ruangan Chea. Fahmi tak ingin membuat hatinya tambah cemburu.


Fahmi merasakan ponselnya bergetar karena ada telpon masuk dari anak buahnya dan dengan sigap segera Fahmi mengangkat telepon itu.


"Ada apa?."


"Bos, Fanya itunya mengeluarkan darah bos. Kami panik jadinya kami membawanya ke rumah sakit."


Good. Masalah apa lagi ini? Fanya membuat ini semua tambah rumit. Fahmi memijat pelipisnya karena mendadak pusing dengan masalah Fanya.


"Dimana kalian sekarang?."


"Rumah Sakit Y bos."


"Awasi dia. Saya akan kesana segera."


Fahmi memutuskan sambungan sambungan dengan sepihak. Fahmi kembali menatap pintu ruang rawat inap Chea sekali lagi.


Fahmi segera pergi dari sana saat dirasa dia sia-sia datang kesini tapi Chea sedang sibuk dengan orang lain sekarang.


Tak lama setelah Fahmi pergi, Hery keluar ruangan setelah memeriksa kondisi Chea dan sudah memperbolehkannya pulang dengan paksaan Chea tentunya.


Hery melihat Fahmi dan tau siapa itu Fahmi. Hery tak buta akan kenyataan jika selama ini Chea punya hubungan dengan cowok lain. Tapi Hery tak bisa egois lagi dengan perasaan Chea. Cukup ia melihat kebahagiaan Chea saja.


Lagi pula Chea juga sudah menolaknya tadi. Hery berjalan pergi sambil tersenyum kecut.  Chea tak memberikannya kesempatan untuk kembali menjalin hubungan lebih serius dengannya.


"So, it's end?."


Hery menundukkan kepala pergi dengan suasana hati yang buruk. Toh sekarang atau nanti akan sama saja. Ia tak punya nilai sama sekali di hati Chea.


Sedangkan Chea memandang pintu ruang rawatnya dengan pandangan sedih. Ia tak bermaksud menolak Hery tapi hatinya dan perasaannya menolak untuk menyingkirkan Fahmi yang nyatanya sudah berada di dalam hatinya tanpa bisa ia sadari.


"Apa istimewanya dia? apa baiknya dia? apa bagusnya dia? Kenapa aku bisa suka padanya?."


Chea memandang ke luar jendela yang menampilkan pemandangan langit yang sedang menangis. Seperti suasana hati Chea yang begitu buruk.


Klek


Chea menoleh saat melihat seseorang masuk ke dalam ruangannya. Terlihat Fajar masuk dengan wajah ceria.


"Ada apa?."


Fajar mengecek suhu tubuh Chea dengan menempelkan tangannya ke dahi Chea. Tidak ada suhu panas. Artinya Chea sudah baik seperti semula walaupun lebam di wajahnya masih ketara walaupun sudah memudar.


"I've punished those who hurt you."


Chea memegang tangan Fajar yang ada di dahinya.


"I know. But.. do you punish Fanya?."


Fajar terdiam tapi kepalanya mengangguk menandakan jika mereka menghukumnya.


"Bagaimana kondisinya?."


Fajar melepaskan genggaman tangan Chea dan memeluk Chea.


"Jangan fikirkan dia. Dia jadi urusan Fahmi. Abang tak bisa mengontrol amarah jika Fanya di depan abang. Jika dia muncul di depan abang, sudah pasti ia bakal mati."


Chea harusnya tau akan hal itu. Fajar maupun Fahmi memberikan kelonggaran untuk Fanya. Tapi Chea bukan wanita yang seperti itu. Yang akan melepaskan orang jahat dengan semudah itu.


Bagi Chea, mata dibalas mata. Jadi karena mereka merusak wajah Chea karena perintah Fanya, maka Fanya juga harus merasakan bagaimana wajahnya rusak.


Chea tersenyum miring saat otaknya sudah selesai menyusun siasat balas dendam kepada Fanya. Chea tak akan membuat itu mudah untuk Fanya.


"Dimana Fahmi?."


Fajar melepaskan pelukannya dan memandang Chea heran.


"Bukannya Fahmi kesini tadi?."


"Kapan bang?."


"ck.. Jangan bilang dia kesini tapi gak menemui mu? si Fahmi itu.."


Chea bingung dengan perkataan Fajar tapi tadi sesaat ia melihat siluet Fahmi di pintu. Hanya beberapa detik saja dan setelah itu ia tak melihat bayangan Fahmi.


"Lupakan dia kalau begitu. Chea hari ini pulang."


Fajar mengangkat sebelah kanan alisnya.


"Pulang? emang udah sehat dirimu?."


Fajar memutar mata malas. Chea tak akan pernah mau bertahan di rumah sakit walaupun ia terluka parah.


"Ayo bereskan barang mu."


Tanpa banyak babibu lagi Fajar mengemas semua barang-barang Chea. Saat mereka semua selesai dan Fajar pamit untuk membereskan administrasi, Fahmi masuk ke ruang inap Chea.


Chea sesaat tertegun dengan penampilan Fahmi yang begitu tampan. Tapi segera ia enyahkan fikiran itu.


"Kamu.. mau pulang sekarang?."


"Lihat sendiri kan gue udah siap buat balik."


Sewot. Entah kenapa Chea begitu sensi saat melihat wajah Fahmi. Mungkin karena rindu tapi Chea tak mau mengakuinya.


Tipe malu-malu tapi rindu.


Fahmi mendekat ke Chea dan memegang tangan Chea.


"Aku.. sudah menghukum Fanya."


"Apa yang kau lakukan pada wanita itu?."


Fahmi menatap ke dalam mata Chea.


"Prinsip ku mata dibalas mata. Jantung dibalas dengan jantung. Ia melukai wajah mu maka ku buat wajahnya hancur. Dia depresi saat mengetahui wajahnya hancur dan menolak makan. Akhirnya ia mengalami pendarahan karena stres dan tak ada asupan yang masuk."


Chea sangat senang saat mendengar hal itu. Jadi ia tak perlu lagi repot-repot mengotori tangannya untuk membalas dendam ke Fanya lagi. Ia tak menyangka Fahmi akan membalaskan seperti apa yang ia mau.


"Keguguran? kasihan sekali dia. Alat untuk mengancam mu sudah hilang."


"Itu bukan anak ku. Itu anak orang lain."


"Aku tau."


Chea berbisik pada dirinya sendiri. Fahmi menatap Chea dengan sendu. Apakah ini akan menjadi akhir bagi mereka?


"So, this is the end of our drama so far?."


"You know what the answer is."


Fahmi melepaskan genggaman tangannya. Inilah akhir dari semua drama yang Fahmi dan Chea mainkan.


"Apakah tak ada lagi kesempatan untuk ku?."


"I will never give any chance because in fact we will never be able to be together. This relationship starts from a lie and you also lie to me. So what is an opportunity?."


Fahmi menyerah. Berdebat dengan Chea hanya sia-sia. Chea tak akan pernah mau mengalah.


"Baiklah. Aku berharap semoga kamu bahagia jika aku tak ada lagi disisimu."


Fahmi pergi dari hadapan Chea. Tanpa disadari oleh mereka, Fajar berdiri di balik pintu yang terbuka dan mendengarkan semua pembicaraan mereka. Fajar hanya bisa kasihan dengan Fahmi.


Fahmi berjalan dengan linglung dan tidak bersemangat. Fajar hanya memandang Fahmi dengan kasihan. Segera Fajar masuk untuk menjemput Chea pulang.


Saat masuk ia melihat Chea yang berdiri sambil menangis dalam diam.


"Chea.."


"Aku.. bodoh. Sangat bodoh bukan?."


Fajar memeluk Chea dengan erat.


"Jangan khawatir. Ia akan mengerti akan keputusanmu kali ini."


"Aku bodoh. Aku melakukan dua kesalahan hari ini."


"Jangan menyalahkan dirimu sendir akan sesuatu yang kalian lakukan bersama. Tak ada yang salah disini. Kondisi ini yang membuat kalian seperti ini."


"Sampai akhir nyatanya aku tak akan pernah bahagia. Hery benar. Setelah putus dari Hasan, aku tak akan pernah bisa bahagia."


"Chea.. masih ada aku disini. Aku akan selalu disisimu. Selamanya."


Chea membalas pelukan Fajar dengan tak kalah erat. Chea menutup matanya dan aliran sungai kecil terus mengalir di pipinya. Semua sudah berakhir.


🏵


TBC


🏵