You Lie To Me

You Lie To Me
Minggat



Acara minggat Chea membuat keluarga Chea uring-uringan karena tak bisa menemukan Chea. Fahmi juga ikutan gelisah saat semua teleponnya gak ada yang diangkat Chea. Mereka khawatir Chea kenapa-kenapa.


"Kemana dia? Dia membuat ku khawatir."


Mami Chea sejak tadi modar mandir gak jelas dan membuat orang pusing saat melihatnya.


"Mami tenang aja. Chea pasti baik-baik aja. Sekarang mami duduk dulu."


Fajar menenangkan sang mami dan mulai mencari cara agar dapat menemukan Chea.


Sedangkan Chea yang sedang terlelap terganggu karena merasa gelisah. Chea terbangun dan menghidupkan ponselnya. Saat ponselnya hidup, banyak sekali panggilan dari mami, ayah, Fajar, tentu saja Fahmi juga.


Tetapi dari semua itu ada satu panggilan yang menurut Chea ganjil. Ririn menelponnya. Suatu hal yang tak biasa jika Ririn menelponnya. Segera Chea menelpon Ririn.


"Hallo Rin. Ada apa?."


"Syukurlah mbak menelpon. Ini lagi ada masalah besar mbak. Acara 5 hari lagi yang di Bali mengalami trouble. Kami gak bisa memutuskan tanpa persetujuan dari mbak."


Chea kaget saat tau jika acara besar di Bali ada masalah.


"Masalah apa?."


"Itu mbak.. mempelai ceweknya kabur."


"Oh kabur... APA! Kok bisa!."


"Yang saya denger mempelai ceweknya itu gak mau dinikahin terus dia kabur deh mbak. Ini gimana ya mbak? semua perlengkapan dan staff udah disana. Kalau acara gagal kita yang rugi besar. Walaupun mereka bakal bayar kerugian tapi kita tetep rugi dari segi materi maupun hal lain. Kami bingung ini mbak. Kami harus bagaimana?."


Chea terduduk sambil memijit kepalanya. Mendadak Chea merasa pusing yang amat.


"Aku juga gak tau.. harus bagaimana."


Chea dan Ririn dalam keheningan karena berfikir untuk mencari jalan keluar.


"Tidak ada jalan lain. Aku bakal ke sana."


"Ha.... mbak mau ke Bali?."


"Mau gimana lagi Rin. Kasihan tim yang udah disana. Lunta lantu gak tau harus bagaimana. Aku bakal ke sana. Kamu siapin tiketnya. Kalau bisa malam ini juga."


"Siap laksanakan mbak."


Chea mematikan sambungan telepon dan segera bersiap-siap untuk ke Bali. Sebelum itu ia merasa telah jahat kepada keluargannya. Yang salah satu kena marah semua.


Chea menghubungi maminya. Pada deringan ketiga diangkat sang mami.


"CHEANA! KAMU GAK LIHAT INI JAM BERAPA HA! KAMU MASIH INGET MAMI? DASAR ANAK GADIS BIKIN SUSAH AJA! DIMANA KAMU!."


Chea menjauhkan ponsel dari telingannya. Suara sang mami begitu menakutkan.


"Maafin Chea mi. Chea baik-baik aja kok. Chea mau ngasih tau jika malam ini Chea bakal ke Bali buat..."


"MAU MINGGAT KAMU HA!"


Fix kuping Chea bisa budeg dadakan denger suara maminya yang aduhai.


"Mi dengerin Chea dulu dong. Ada masalah genting di acara nikahan di Bali. H-5 mempelai wanitannya kabur sedangkan tim dan perlengkapan udah pada ready buat persiapan nikahan. Iya mereka bakal ganti rugi tapi tetep aja kasihan nasib para staff. Makanya Chea akan kesana buat handel langsung mi."


Mami Chea hanya terdiam mendengarkan penjelasan Chea.


"Banyak kasus mempelai wanita kabur karena gak mau nikah. Ini kan alasan utama si wanita minggat. Ya udah. Ini genting kalau menyangkut staff mu. Mami kasih ijin. Tapi habis urusan selesai pulang ke RUMAH!."


Chea meringis saat maminya menekan kata rumah.


"Chea bakal cepet selesaian urusan disana kok mi. Oh ya Chea butuh abang buat ke bandara bentar lagi. "


"Berangkat jam berapa?."


"Nunggu kabar dari Ririn mi. Ini baru jam..10 malam. Pasti masih ada penerbangan jam 12 atau jam 1 nanti."


Terdengar helaan nafas dari sebrang telepon.


"Kamu udah bikin kita semua khawatir karena gak pulang. Sekarang kamu mau pergi ke Bali dadakan. Mami agak khawatir tapi mami tau kamu bisa melindungi diri dari bahaya. Anak mami gak di didik untuk takut. Jaga dirimu baik-baik. Mami gak bisa anter tapi pasti mami bakal jemput kamu nanti. Jangan lupa oleh-oleh."


Tadinya Chea sudah sangat terharu akan ucapan maminya tapi rasa harunya mendadak lenyap saat mebdengar kata oleh-oleh.


"Mami pengen oleh-oleh yang itu. Pokoknya itu."


Maminya langsung mematikan sambungan telepon dan Chea hanya bisa menggeleng. Segera Chea bersiap dan mulai untuk berangkat ke bandara karena Chea sudah mendapatkan apa yang ia mau.


Ririn sudah memesankan tiket pesawat ke Bali dan akan berangkat 2 jam lagi. Chea segera berangkat ke Bandara dengan taksi yang sudah ia pesan terlebih dahulu.


Chea sampai di Bandara dan mendapati Fajar berdiri di dekat mobil yang ia parkirkan di dekat pintu masuk bandara.


Supur taksi membantu Chea mengeluarkan koper dari bagasi dan segera pamit saat Chea sudah membayarnya.


"Mau kabur kemana?."


Chea menyeret kopernya dan mendekati Fajar.


"Ada masalah. Abang udah dengerkan."


Chea berlalu meninggalkan Fajar yang menatap tajam Chea.


"Bisa dengerin omongan abang sebentar gak sih Che. Jangan seperti ini. Mami khawatir sama kamu."


"Chea tau bang."


Fajar mengejar Chea yang menyeret koper masuk ke dalam bandara. Suasana lumayan sepi karena jam sudah menunjukkan jam 11.


"Terus kenapa harus pakek acara minggat segala?."


Chea berhenti dan menatap tajam abangnya.


"Abang tau gak sih kalau acara di Bali batal karena mempelai minggat. Kasihan staff Chea yang lunta lantu gak tau harus gimana. Sebagai bos yang baik Chea bakal ke sana buat urus itu. Harusnya abang mendukung."


Chea kembali menyeret kopernya dan meninggalkan Fajar.


"Bukanya abang gak dukung Che. Tapi ini udah malem. Kan bisa besok perginya."


Kalau besok namanya gak minggat dong.


"Tetep aja gak bisa bang. Kasihan staff Chea."


"Udah lah. Abang gak usah khawatir. Chea bisa jaga diri. Abang pulang sana. Chea pergi."


"KALAU GITU SAMPAI SANA KABARIN ABANG!."


Chea malu mendengar suara lantang Fajar. Banyak yang melihat mereka. Chea menoleh ke belakang dan mengangguk setelahnya melanjutkan acara minggatnya.


Setidaknya gue udah usaha buat jauhin Fahmi. Pergi ke Bali mungkin cuma alibi. Tak ada salahnya membangun usaha WO gue di sana bukan? Batin Chea mulai menyusun rencana.


Chea tersenyum miring saat sudah di dalam pesawat. Setidaknya Chea bakal bisa nenangin perasaannya yang mulai tumbuh untuk Fahmi. Yah setidaknya Chea punya cukup waktu untuk kembali seperti semula.


Chea mengecek kembali ponselnya dan melihat banyak sekali pesan menumpuk dari stafnya yang sedang di Bali. Mungkin bertanya soal nasib mereka.


Selanjutnya Chea menskrol chat yang masuk dan melihat banyak sekali pesan masuk dari nomor orang tak dikenal.


Hanya saja ada nama Fahmi yang terselip diantara chat yang menumpuk.


"Maaf Miss.. tolong matikan ponselnya."


Chea menoleh ke arah pramugari yang tersenyum ramah.


"Ah iya. Maaf."


"Terimakasih miss."


Segera Chea mematikan ponselnya dan melihat luar jendela.


Good bye..


🏵


TBC


🏵