
Chea Pov
Fahmi memang bodoh. Dia sangat bodoh dan sayangnya aku juga idiot.
Harusnya aku tadi tak melakukan hal itu. Menabrakkan diri? Heh itu cuma buat eksperimen saja. Bagaimana rasanya tertabrak ha ha ha.
Banyak berita mengatakan orang bunuh diri dengan menabrakkan dirinya ke mobil atau truk yang sedang melaju di jalanan.
Seberapa besar derita hidup mereka sampai memutuskan bunuh diri?
Ngomong soal masalah, aku juga melakukan hal yang sama dengan mereka. Masalah ku cuma satu.
Rasa bersalah dan kecewa yang tak bisa ku ungkapkan.
Karena hal itulah aku mencoba bunuh diri di depan Fahmi. Aku hanya ingin melepas beban saja.
Iya beban itu.
Tapi saat Fahmi mendorong ku dan dia yang tertabrak membuat ku sadar akan satu hal.
Cinta Fahmi tulus dan aku begitu egois tak memikirkan perasaan Fahmi.
Aku menyesal melakukan hal bodoh itu. Aku sangat menyesal. Sekarang Fahmi berada di ruang operasi setelah mengalami pendarahan di otak.
Ini semua karena ku.
Jika saja aku tak melakukan hal bodoh itu maka hal ini tak akan terjadi.
Jika saja Fahmi tak menyusul ku maka hal ini tak akan terjadi.
Jika saja aku tak begitu bodoh hanya melihat Fahmi tergeletak dijalanan, hal ini tak akan terjadi.
Aku meremas rambut ku dengan kuat. Aku menyesal. Jika Fahmi tak bisa bertahan maka aku akan menyusul dia.
Tanpa sadar di depan ku ada sepasang kaki. Aku mendongak dan melihat Fajar di depan ku.
"Bodoh."
Aku memeluk Fajar dan menangis histeris. Fajar membalas pelukan ku tak kalah eratnya.
Aku memang bodoh.
"Aku pantas mati.."
Aku menumpahkan semua rasa sedih ku di pelukan Fajar.
Fajar mengelus pundakku. Aku merasa sedikit lega tapi hanya sedikit. Aku masih khawatir dengan keadaan Fahmi.
"Sudahlah. Berhenti menangis. Gak guna banget."
Gak berguna? Memang.
Aku melepaskan pelukan ku dan menghapus air mata ku.
"Jangan menangis. Kau tambah jelek. Fahmi akan baik-baik saja."
"Ya. Dia akan baik-baik saja. Pasti."
Aku dengan kasar menghapus jejak air mata yang masih mengalir di kedua pipi ku. Kalau aku lemah maka semua akan tambah kacau.
Aku kembali duduk di tempat ku dan berdoa untuk keselamatan Fahmi. Btw orang tua Fahmi sedang berada di Jepang. Akan pulang malam ini juga kata mereka.
Aku tak perduli akan hal itu. Yang ku pedulikan hanya Fahmi. Aku tak sanggup jika kehilangan orang yang sangat ku cintai lagi.
4 jam berlalu dan keluarlah mereka dari ruang operasi. Aku mengikuti brangkar berisi Fahmi. Tak perduli akan ocehan dokter. Biarkan Fajar yang mengurus akan hal itu.
Fahmi masih tidur akibat obat bius. Itulah yang ku tahu. Keadaannya sudah stabil tapi masih ada resiko tentang kondisinya yang bisa memburuk kapan saja.
Hanya perlu sabar dan berdoa.
Aku duduk di samping brangkar Fahmi sambil memegang tangannya. Aku tak bisa menahan tangis saat tangan Fahmi begitu dingin.
"Aku mohon bangunlah.. Jangan tinggalkan aku."
Aku tak bisa menahan tangisan ku saat melihat perban di kepala Fahmi juga perban di tangan kirinya.
"Bagaimana.. kalau kita menikah nanti? hmmm."
Hening
Hati ku sakit melihat hal ini. Fahmi tak menanggapi ucapan ku. Tapi dokter bilang aku harus sering-sering mengajak Fahmi bicara.
"Ah.. kemarin aku menolak menikah dengan mu. Sekarang malah.. aku yang mengajak mu menikah. Ha ha ha.. leluconku benar-benar buruk."
Aku menggengam tangan Fahmi dengan hati-hati dan menyalurkan kehangatan diriku.
"Hei, apa kau tau bagaimana perasaan ku sekarang Mi?."
Hening
"Aku begitu kacau dan.. kecewa. Sangat kecewa pada diriku sendiri sampai-sampai ingin mati rasanya."
Aku tersenyum getir.
"Andai kau tak datang dan mendorong ku saat itu, mungkin.. kamu yang akan kecewa pada ku."
Aku mengusap tangan Fahmi.
"Seandainya aku yang tertabrak, itu tidak akan memberikan efek pada siapapun bukan. Mereka memang perduli pada ku tapi.."
Aku melepaskan genggaman tangan ku pada tangan Fahmi dan meletakkannya perlahan.
"Aku merasa mereka palsu."
Aku pergi meninggalkan ruangan Fahmi dan melihat kedua orang tua ku berdiri.
"Mami.."
"Kamu baik-baik saja. Mami lega."
Mami menangis memelukku entah karena apa.
Aku melihat Fajar yang sedang memandangku tanpa ekspresi.
"Mami senang kamu baik-baik saja. Mami gak bisa kehilangan kamu Chea."
Lagi-lagi sikap ini.
"Chea baik-baik aja kok mi."
Iya baik di permukaan.
"Anak mami berdiri disini pasti baik-baik saja."
Mami melepaskan pelukannya.
"Mi.. aku mau nyari minum."
"Oh.. kamu pergi sama abang ya. Biar mami lega kalau kamu pergi sama abang."
"Iya mi. Ayo bang."
Aku jalan duluan meninggalkan abang yang menyusul di belakang ku.
Aku jalan terus sampai kata-kata menusuk Fajar terdengar di telinga ku dan membuat ku terpaku.
"Harusnya yang disana itu dirimu bukan Fahmi, iya kan?."
Aku berbalik dan menatap sendu ke arah Fajar.
"Ya."
"Kau memang BODOH CHEA!."
Aku menutup mata saat bentakan Fajar begitu memekakkan telinga ku.
"Aku tau."
"Sampai kapan? Sampai kapan kau akan membuat masalah untuk orang lain. Kali ini Fahmi selamat tapi keadannya belum begitu stabil dan kapan saja bisa kembali kritis."
Aku diam menunduk melihat ke lantai. Tak berani menatap Fajar yang sedang marah-marah.
"Maaf."
"Chea.. kamu memang saudara ku tapi kali ini tindakan mu begitu sembrono."
"Aku tau."
"KALAU KAU TAU TINDAKAN MU ITU BERBAHAYA MAKA BERHENTILAH BERBUAT HAL BODOH!."
Aku tertawa hambar. Ah.. aku memang bodoh.
"Aku tau kali ini tindakan ku begitu bodoh..."
Aku mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"..Jadi jangan urusi kehidupan ku lagi."
Aku berjalan pergi meninggalkan Fajar yang meneriaki nama ku. Aku berlari dengan sekuat tenaga menghindari Fajar.
Aku butuh waktu sendiri untuk merenungkan ini semua.
Sepertinya cuaca hari ini mendukung diriku. Aku menangis dibawah guyuran air hujan.
Aku berada di taman rumah sakit yang seli karena hujan. Aku jatuh terduduk dan menangis.
*Kenapa?
Kenapa harus aku?
Kenapa harus aku yang merasakan sakit hati?
Kenapa bukan orang lain?
Kenapa cinta ku selalu berujung sakit?
Kenapa aku sendirian*?
Karena aku bodoh.
Aku terlalu asik menangis hingga tak sadar jika ada seseorang yang meletakkan payungnya di atas ku.
Dalam kebisingan karena air hujan. Orang itu berkata dengan lirih.
"Jangan sedih."
Saat aku menoleh, orang itu tersenyum dan memberikan payungnya pada ku.
Aku menerima uluran payung itu dan dia segera pergi.
Aku memandang orang itu.
Hery
Terima kasih.
Aku memutuskan untuk segera kembali ke rumah ku dan beristirahat sejenak.
🏵
TBC
🏵