You Lie To Me

You Lie To Me
Reuni



Acara tasyakuran yang menggunakan jasa WO nya begitu megah pada hari ini. Terlihat banyak tamu undangan yang punya kedudukan dalam pemerintahan berlalu lalang. Tamu undangan yang hampir 2000 membuat Chea pusing karena banyaknya orang.


Chea termasuk orang yang tak suka keramaian makanya sekarang dia di ujung menunggu Ipul yang sedang sibuk kesana kemari. Bagaimana tidak kesana kemari jika ada-ada aja yang butuh perhatian Ipul. Harusnya itu tugasnya Chea tapi karena dia sedang lelah dan belum tidur jadi diganti Ipul.


Chea melirik teman seangkatannya yang sekarang sudah duduk di kursi kepemerintahan sedang menuju ke arahnya.


"Jadi lo yang megang kendali acara ini?."


Wisnu duduk di sebelah Chea.


"Lo bisa lihat sendirikan ini WO gue. Jadi gue lah yang megang ini acara. Kenapa? Suka ma dekorasinya?."


"Suka sih. Karena itu gue mau nyewa jasa WO lo. Bisa kan?."


"Bentar deh Nu. Lu mau ada acara apaan?."


"Tunangan."


"Ma cewek?."


"Genderuwo Che."


Wisnu memplototi Chea dengan gemas. Punya temen kok ya aneh. Nanya tunangan ma cwek apa bukan lagi. Minta di sleding nih bocah.


"Kan gue cuma nanya Nu. Mana cewek lo?."


"Capek. Habis muntah tadi."


Chea langsung melotot tak percaya mendengar perkataan Wisnu.


"Eh setan! lo buntingin anak orang?"


Suara Chea lumayan keras dan mendapat lirikan orang-orang sekitarnya. Wisnu segera membekap mulut Chea.


"Kalau punya mulut kok kayak minta digiling ya. Ya kali gue hamilin anak orang. Gue pejabat Che, apa kata masyarakat nantinya tentang gue ha."


Ghea memukul lengan Wisnu keras dan yang dipukul meringis kesakitan.


"Bau banget tangan lu Nu. Habis ngapain?."


"Toilet."


Wisnu berujar sambil tersenyum lebar. Mengejek maksudnya.


"Bau!"


Chea hampir saja melayangkan tangannya ke lengan Wisnu tapi terhenti karena melihat Hasan dan Susan menuju ke arah mereka. Wisnu melihat perubahan mood Chea dan melihat Hasan dan Susan yang dengan tidak tau malu bergandengan. Wisnu tau bagaimana kisah mereka bertiga. Wisnu adalah saksi masa kandasnya hubungan Ghea dan Hasan dulu.


"Hai Wisnu. Chea."


Susan sungguh tidak tau malu tersenyum ke arah Chea dan Wisnu. Chea tak tersenyum dan menampilkan wajah dingin sedangkan Wisnu tersenyum kecil.


Pawang dimana pawang Chea?


"Kalian kenapa disini?."


Wisnu hanya mau mencairkan suasana mencekam ini saja. Sebenarnya Wisnu itu sebelas dua belas dengan Chea. Sebentar lagi bakal ada drama.


"Kami diundang Tante Je karena kami kenal dengan beliau. Langganan butik Susan."


Chea tetap berwajah datar dan Wisnu tak tau harus bagaimana lagi. Tak sengaja Wisnu melihat Fajar yang celingukan mencari seseorang. Pastinya Chea. Mana ada orang selain Chea yang di prioritaskan Fajar. Batin Wisnu berkata benar.


"Fajar!."


Fajar merasa terpanggil dan tersenyum saat Wisnu melambai ke arahnya. Fajar segera datang ke arah kumpulan itu. Fajar memperhatikan wajah Chea yang dingin dan melihat penyebabnya tak jauh dari sana.


"Wisnu! Lo masih hidup nyet."


"Kampret lo Jar. Tentu lah. Gini-gini gue udah jadi pejabat daerah."


"Congrats. Betewe gue denger lo bakal tunangan ya?."


Wisnu merangkul pundak Fajar dengan gaya mesra. Biasa temen lembek.


"Nah itu lo tau."


"Sama cewek?."


"Genderuwo. Ya sama cewek lah. Ya kali sama genderuwo. Gak kakak gak adek sama aja."


Chea terkekeh karena perkataan mereka.


Chea segera merangkul tangan kanan Fajar.


"Bang, ngapain ke sini?."


"Nyariin lo bebek. Lu gak bisa di telpon. Itu gunanya ponsel lu apaan ha!. Mau bikin gue serangan jantung terus mati gitu. Dasar adek durhaka."


Fajar langsung menjewer telinga Chea dan membuat Chea meringis kesakitan.


"Sakit bang."


"Biarin. Mana ponsel lo? Siniin."


Chea menyerahkan ponsel di tas yang dia selalu bawa-bawa. Untuk keperluan yang mendesak dan banyak barang berharga di dalamnya.


"*****. Mode Silent. Lihat ini. Gue udah telpon lo 59 kali peak."


Fajar memperlihatkan bekas panggilan tak terjawab ke depan muka Chea.


"Ya elah bang. Selow kali. Kan abang udah tau Chea lagi ada acara."


"tapi setidaknya hubungin abang atau mami atau ayah peak. Lu bikin kita khawatir."


"E cie Fajar khawatirin Chea."


Wisnu menggoda Fajar. Kalian tidak tau jika Fajar susah mengekspresikan perasaannya dengan baik. Wisnu tau itu dan dia peka.


"Bangke lo. Kapan acara tunangan lo?."


"Nunggu adek lo setuju."


"Ha?."


"Ohhhhh. Betewe tanggal berapa kira-kira nyet?."


"Seminggu lagi tunangan kalau Chea nyanggupin terus 2 minggu lanjut acara akad."


"***** cepet banget."


Fajar memukul lengan kiri Wisnu.


"Lu gak ngelindur kan Nu?."


Hasan sampai melongo tak percaya dengan rencana Wisnu.


"lu gak hamilin anak orang kan Nu?."


Giliran Chea yang merasa aneh dengan rencana Wisnu yang terkesan mendadak.


"Gue punya malu gak kayak kalian pada kagak punya malu."


Chea memukul kepala Wisnu dengan tumpukan kertas laporan yang tebal dilanjut dengan Fajar yang menepuk punggung Wisnu.


"Gue mati. Gue berakhir kalau deket si kembar. Kamvret emang. Dipukulin mulu."


Wisnu mengelus kepala dan punggungnya. Semua itu membuatnya seperti monyet.


"Lu gila ya Nu. Cewek lo udah bunting duluan sampe lo ngebet nikah?."


Chea memandang Wisnu dengan tatapan tak percaya dan minta pemjelasan.


"Pikiran lo kok picik banget sih Che. Mentang-mentang ditinggal nikah mantan kayak gini nih efeknya."


Wisnu mulai drama dan ditangkap baik oleh Fajar.


"Emang. Kapan sih si Chea punya fikiran gak nethink coba. Gue aja kembarannya gak percaya kalau dia kayak gini gara-gara ditinggal nikah mantan. Apa faedahnya coba."


Chea menatap tajam Wisnu dan Fajar bergantian. Acara bogeman Chea gagal karena dia diteriaki Ipul dari kejauhan.


"CHEA!."


Ipul datang dengan terengah-engah dan menarik tangan Chea.


"Gawat! Lu kudu lihat ini."


Ipul menarik tangan Chea dan diikuti Fajar. Sedangkan Wisnu, Hasan dan susan berada di dalam suasana awkward.


"Yah bubar deh reuninya. Gue pergi dulu. Ntar lu bakal nerima undangan tunangan dari gue. Bye."


Wisnu menepuk pundak Hasan dan berlalu pergi untuk menyapa tamu-tamu yang Wisnu Kenal. Lupakan Hasan dan Susan. Kita fokus ke Chea dan Ipul.


Ipul membawa Chea ke ruangan khusus staff dan disuguhi pemandangan yang tak terduga. Ada mami dan ayahnya. Mati gue. Chea tersenyum kikuk ke arah mereka.


"Eh mami sama Ayah. Kenapa disini?."


"Menurut kamu?."


Mami Chea menjawab dengan sinis. Ipul entah pergi kemana dan Fajar bersembunyi dibelakang tubuh Chea. Takut kena amukan sang mami.


"Kan Chea nanya baik-baik mi. Kok sewot banget sih jawabnya."


"Gimana mami gak sewot kalau kamu ditelpon gak bisa. Buat apa kamu punya ponsel kalau gak bisa ditelpon. Mami kesel sama kamu."


Mami Chea memakan makanan jatah Chea. Sedangkan sang ayah tenang meminum tehnya.


"Maafin Chea mi. Ini acara gede. Acara pejabat lagi. Chea gak bisa santai mi. Buka ponsel aja lupa. Mati lagi itu ponsel. Dibawa abang lagi."


Chea mengeluh ke maminya dan sedikit bumbu untuk memancing amarah sang mami untuk abang tercintanya yang tadi menjewernya.


"Bener itu bang?."


Fajar keluar dari persembunyiannya dan memperlihatkan ponsel Chea yang tadi ia minta. dengan cengiran khas Fajar tentunya.


"Abang kok gak ngomong sama mami kalau udah ketemu sama Chea sih. Bikin mood makan mami ilang."


Chea memutar matanya setelah mendengar perkataan sang mami. Mood makan ilang tapi makanan udah habis.


"Mami, mau ngapain nyari Chea. Saat ini Chea masih sibuk mi."


Chea melirik jam tangannya dan mengingat jadwal acara selanjutnya. Tinggal 10 menit sebelum acara selanjutnya dimulai.


"Ntar malam bisa pulang ke rumah utama kan?."


Mami Chea to the point bicara kepentingannya mencari Chea.


"Chea gak tau mi. Kalau acara ini bisa ditinggal, pasti nanti Chea balik deh."


"Harus pokoknya. Akan ada tamu penting datang."


Sejak kapan Chea dilibatkan untuk menyambut tamu maminya.


"Diusahakan."


"Ya udah sana balik. Ntar kalau perlu lagi mami cari lagi. Sana pergi. Abang ikut mami sama ayah balek. Gak ada penolakan."


Chea tak percaya dengan ucapan maminya yang langsung pergi dari ruangan staff.


"Jangan capek-capek. Ayah sayang Chea."


Ayah Chea mengecup puncak kepala Chea dan berlalu pergi setelahnya.


"E cie.."


Chea langsung pergi dari ruangan staff dan masih bisa mendengar suara setan Fajar. Ingatkan dia untuk menghajar Fajar nanti. Sekarang yang penting acara hari ini .


Chea mengecek dan mengawasi jalannya acara tasyakuran dengan baik. Dia tak ingin acara pejabat ini cacat. Bisa turun pamor WO nya ntar. Chea lelah tapi tetap fokus dengan segala hal yang sudah disusun rapi oleh staffnya.


🏵


TBC


🏵