You Lie To Me

You Lie To Me
Maaf



"Bangs*t!."


Chea memukul Fahmi di kantor WO Chea. Hal itu menyita perhatian pegawai Chea. Mereka tau jika bos mereka terkenal sebagai wanita yang keras dan selalu menggunakan tangan jika emosi.


Fahmi hanya bisa meringis kesakitan saat Chea memukul perutnya. Ia datang untuk meminta maaf tapi saat tau jika Chea begitu menghindarinya membuat Fahmi mencium Chea.


Chea yang shock langsung memukul perut Fahmi. Chea malu dilihat orang banyak apalagi Fahmi menciumnya di tempat yang tidak semestinya.


"Lo mau mati."


Chea menarik kerah jas Fahmi. Menatap tajam Fahmi.


"Maaf. Aku reflek tadi. Maafin aku Chea."


Fahmi meringis merasakan perih di daerah perutnya. Chea memukulnya tidak tanggung-tanggung.


"Maaf? Lo udah bohongin gue selama ini dan barusan lo cium gue. Dan dengan mudahnya lo minta maaf?."


Chea semakin mengeratkan cengkramannya. Fahmi menunduk tidak bisa menatap Chea.


"Maaf."


Suara Fahmi begitu pelan dan hanya bisa didengar oleh Chea. Sudah 2 minggu berlalu sejak kejadian di rumah Chea.


"Basi."


Chea melepaskan cengkramannya dan berjalan masuk ke arah ruangannya. Ia menutup pintu dengan sangat keras sehingga membuat orang-orang sekitar kaget.


Chea memukul dinding ruangannya. Chea butuh pelampiasan. Chea butuh sesuatu yang bisa ia hancurkan.


Chea semalam mendapat kabar dari orang tuanya jika Chea akan segera menikah dengan Fahmi.


Kesialan apalagi yang Chea alami sekarang. Setelah kejadian tadi membuat Chea muak dengan Fahmi apalagi harus menikah dan melihat Fahmi seumur hidup. Chea tak akan sanggup.


Fahmi berjalan dengan cepat ke depan ruangan Chea dan segera masuk ke dalam. Ia bisa melihat Chea yang sudah berdarah-darah. Tangan kanan Chea berdarah.


Chea menatap Fahmi dengan pandangan muak dan permusuhan.


"Apa mau mu?."


"Kamu terluka."


Chea melirik tangannya yang terluka. Chea masa bodo dan berjalan untuk duduk.


"Apa mau mu?."


"Obati luka mu Che."


Fahmi berjalan ke arah Chea tapi berhenti saat mendengar bentakan Chea.


"APA MAU MU SEBENARNYA!."


"Apa maksud mu Che?."


"Maksud ku? Pernikahan. Kau melamar ku tanpa bicara sepatah katapun pada ku. Kau tak mau menanyakan jawaban ku. Kau .."


Chea sudah berdiri dan menunjuk ke arah Fahmi.


"..egois. Aku tak mau menikah dengan dirimu. Aku tak bisa membayangkan jika sudah menikah kau tetap membohongi ku."


"Apa.. apa maksud mu? membohongi? aku sudah meminta maaf pada mu Chea. Aku minta maaf dengan tulus. Apa aku harus berlutut agar kau bisa melihat keseriusan ku?."


Fahmi menatap sendu ke arah Chea.


"Lakukan."


Fahmi kaget dengan perkataan Chea tapi ia sudah bertekat akan melakukan apapun asalkan Chea memaafkannya. Segera Fahmi berlutut dan Chea menatap itu dengan pandangan datar.


"Good boy."


Fahmi menatap Chea senang.


"Apa artinya kamu memaafkan ku."


"Apa aku pernah bilang akan memaafkan mu jika kau berlutut?."


Senyuman Fahmi luntur seketika. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi.


Chea berjalan ke arah meja dan mengambil amplop kemudian melemparkannya ke Fahmi.


"Apa ini."


"Buka."


Segera Fahmi membuka amplop itu dan kaget saat melihat foto-foto dirinya dan Fanya.


"Itu bukti maaf mu bukan?."


Chea sudah berjongkok di depan Fahmi. Menatap Fahmi tajam setajam pedang.


"Ini... ini tidak seperti yang kau fikirkan. Aku.. tidak..."


"Lupakan. Tak akan pernah diriku tertipu oleh mu lagi. Keluar."


Chea berdiri dan berjalan ke arah jendela. Memandang langit yang sedang menangis.


"KELUAR!."


Fahmi berdiri dan langsung pergi. Ia akan membuktikan kepada Chea jika ia tak seperti di dalam foto. Chea salah paham dan itu semua salah Fanya.


Chea jatuh terduduk di bawah dengan darah yang masih mengalir dari tangannya. Chea merasakan perih teramat di hatinya.


Masa lalu dan masa depan yang sama membuat Chea menitikkan air matanya. Fahmi masih berdiri di depan pintu ruangan Chea dan mendengar suara isak tangis samar-samar dari dalam ruangan.


Fahmi segera pergi dan mencari Fanya.


Chea melirik tangannya yang berdarah. Segera Chea merobek dress yang ia pakai dan melilitkannya ke tangan. Chea bangun dari duduknya dan menelepon asistennya.


"Ririn.. bawakan kotak P3K ke ruangan saya segera."


Chea duduk di kursi kebesarannya dan menunggu kedatangan Ririn.


Tok Tok


"Masuk."


"Saya ma..suk."


Ririn kaget saat membuka pintu dan disuguhi pemandangan darah.


"Mbak terluka? dimana mbak?."


Ririn segera membuka kotak P3K dan mencari luka Chea.


"Hanya lecet."


Ririn kaget melihat tangan Chea yang diperban kain tak beraturan. Dengan telaten Ririn mengobati tangan Chea. Tanpa melihat ekspresi Chea sekalipun Ririn tau jika Chea habis menangis. Mungkin karena tadi dia melihat Chea dan Fahmi berantem.


"Udah mbak."


"Makasih Rin. Kamu boleh pergi. Ah.. sekalian suruh pak Eko dan mbak Eci suruh bersihin ruangan ini. Aku mau pergi."


"Baik mbak."


Chea pergi untuk membuntuti Fahmi. Chea dulu pernah iseng memasang GPS di ponsel Fahmi dan itu berguna sekarang.


Fahmi mencari ponselnya dan segera menelpon Fanya.


"Hallo Mi. Tumben mencari ku. Ada apa?."


Fahmi jijik dengan suara Fanya yang dibuat-buat semerdu mungkin.


"Dimana?."


"Aku di Restauran XXX. Kenapa?."


"Tunggu aku."


"Oke baby. aku.. "


Fahmi mematikan sambungan sepihak. Jijik mendengar suara Fanya. Fahmi ugal-ugalan dan dalam waktu sepuluh menit ia sudah sampai di Restauran XXX. Fahmi melihat Fanya yang berdiri di dekat pintu sambil tersenyum ke arahnya.


Fanya menghampiri mobil Fahmi dan masuk ke dalamnya. Belum sampai menyapa Fahmi, Fanya sudah dikagetkan dengan lemparan amplop yang mengenai pahanya.


"Buka."


Fanya membuka amplop itu dan kaget mengetahui isininya.


"Apa..maksudnya ini?."


Fahmi tertawa sinis menatap Fanya.


"Kau kan yang memberikan foto ini ke Chea."


"kau menuduhku?."


"Jika bukan kau siapa lagi."


Fanya dalam hati senang karena pasti Chea marah dan memutuskan untuk menolak Fahmi. Fanya tak boleh menampilkan ekspresi bahagianya.


"Bukan aku. Sungguh. Aku.."


"DIAM!."


Fanya terdiam mendengar bentakan Fahmi. Fanya tak pernah dibentak oleh siapapun dan Fanya menangis. Fahmi menghela nafas kasar dan menatap Fanya dengan tatapan kasihan.


"Maafkan aku. Tapi kita punya masalah yang harus kita selesaikan. Aku tak mau jika rencana pernikahan ku gagal karena mu."


Fanya kaget mendengar Fahmi menyebut kata rencana pernikahan. Fahmi tancap gas pergi untuk menyelesaikan urusan mereka.


Diam-diam Chea tau kebenaran foto itu dan sudah memaafkan Fahmi. Chea hanya ingin memberi pelajaran kepada Fanya. Hanya itu tujuan ia menunjukkan foto itu ke Fahmi. Chea hanya ingin Fahmi bertindak tegas atas hubungannya dengan Fanya yang semakin tak tau diri.


🏵


TBC


🏵