You Lie To Me

You Lie To Me
Kapan nyusul?



Chea sekarang berada di rumah Ari dengan busana khas staff WO. Ari sempat memarahi Chea karena datang pas acara hampir di mulai.


Chea menuju tempat siraman untuk melihat hasil kerja keras timnya semalaman untuk membuat dekorasi siraman dan dekorasi rumah Ari.


Warna biru dan putih mendominasi dekorasi siraman malam ini. Begitu simpel tapi cantik. Pilihan Ari memang bagus untuk ukuran wanita pemalas.


Chea melihat sekeliling ruangan yang juga sudah di dekorasi timnya. Chea tersenyum melihat hasil dekorasi yang bagus. Acara akan dimulai 10 menit lagi tapi wajah Hera staff yang bertanggung jawab pada acara ini belum kelihatan.


Chea mengkoordinasi timnya untuk segera bersiap-siap untuk mulai. Tanpa disadari ada Fahmi di kediaman Ari. Fahmi adalah kolega ayahnya Ari sehingga Fahmi akan datang pada acara ini. Perlu kalian tau jika acara pernikahan Ari diselenggarakan di Hotel Anggrek yang merupakan hotel milik Fahmi.


Terlihat Hera datang dengan terburu-buru menghampiri Chea.


"Mbak Che! Gawat mbak!."


Hera memegang tangan Chea.


"Ada apa Her? kamu tau gak ini acara mau mulai."


"Mbak itu.. itu.. mbak Arinya nangis mbak di kamar."


"Haa......"


"Duh mbak. Itu mbak Ari nangis waktu kami mau melihat kesiapan mbak Ari."


"Oke kamu handel sini aku handel Ari."


Chea segera menuju kamar Ari dan tanpa melihat kanan kiri Chea menabrak seseorang sampai terjatuh.


"Ah maafkan saya."


Chea segera bangkit dari orang yang ia tabrak. Chea mendongak dan melihat orang yang ia hindari.


"Gak papa. Kamu terluka?."


Fahmi adalah orang yang Chea maksud. Chea segera sadar akan situasi dan tanpa menjawab perkataan Fahmi segera pergi. Acara perginya gagal karena Fahmi mencekal tangan kanan Chea.


Chea memutar tubuhnya dan menatap Fahmi dengan tatapan galak.


"Apa mau mu?."


"Mau ku? Kamu gak bersikap seperti ini."


"Seperti apa?."


"Menghindari ku."


"Aku tak menghindari mu."


"Kau menghindar dari ku."


"Kapan?."


Chea menatap tajam Fahmi. Chea sudah muak dan jengah dengan sikap ramah Fahmi.


"Sudah seminggu kamu menghindari ku."


"Apa peduli ku."


"Chea!."


Fahmi dengan spontan membentak Chea.


"Jangan berteriak pada ku."


Chea dengan sekali tatapan tajamnya membuat Fahmi melepaskan cengkraman tangannya dari Chea.


"Maafkan aku. Tadi itu spontan."


Chea muak dan segera pergi dari sana tanpa memperdulikan teriakan Fahmi.


Chea bergegas masuk ke ruangan pengantin.


"Ari!."


Chea tanpa mau membuka knop pintu langsung mendorong pintu. Pst.. mendobrak lebih pantasnya.


"Bikin Kaget aja sih Che!"


Ari berusaha menghapus tangisannya dan disebelahnya sudah ada dua perias yang juga kaget dengan kedatangan anarkis Chea.


"Lo ngapain pakek acara nangis sih. Ini acara lo molor gara-gara lo nangis."


Chea mendekat ke arah Ari dan melihat kondisi make up Ari.


"Gak tau tapi gue nangis aja tadi."


"Gak usah lebay. Make up lo masih bagus. Sekarang berdiri dan kita mulai acara. Gue gak bisa nunggu lebih lama lagi. Bisa kacau ntar acara malam ini."


Ari menatap tajam Chea.


"Lo sih belum ngerasain di posisi gue. Ntar kalau lo juga nangis disaat seperti ini. Gue bakal ketawain lo."


Ari berdiri sambil melengos dan meninggalkan Chea yang masih setia menatap tajam Ari. Ini efek bertemu Fahmi. Amarahnya masih utuh dan belum tersalurkan.


Chea membuntuti Ari dan disuguhi dengan acara yang sudah di mulai. Chea geram saat melihat Fajar di acara ini sambil tebar pesona. Sedari tadi Fajar tak lelah tersenyum.


Chea segera menghampiri Fajar dan menyikut perut Fajar.


"Aw.. sakit !."


Fajar memegangi perutnya yang kena siku tajam Chea.


"Biarin."


"Kenapa lagi lo?."


Fajar mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru rumah Ari dan menemukan Fahmi. Fajar mengangguk- angguk tanda mengerti situasi mereka.


"Oh. Sudah bicara."


"Lupakan."


Chea berlalu pergi dan berdiri di dekat Hera yang sibuk koordinasi dengan MC acara ini.


"Gimana Her?."


"Aman mbak sejauh ini."


Chea tersenyum kecil dan menepuk pundak Hera.


"Kerja bagus Her. Aku suka ini."


"Makasih mbak. Ini juga berkat campur tangan mbak juga."


"Ini acara sahabat ku. Makanya aku buat semaksimal mungkin."


Hera mengangguk sebagai tanda mengerti. Bukan rahasia lagi melihat tingkah mereka saat berkumpul di kantor. Barang pecah pun selalu terjadi jika mereka berkumpul.


"Mbak kapan nyusul mbak Ari?."


"Ekhem! itu pertanyaan apaan coba Her."


Hera tertawa kecil karena sudah bisa menebak jawaban Chea.


"Ya itu pertanyaan umum mbak. Mbak Ari itu seusia mbak. Seharusnya mbak juga udah gak lama lagi setelah ini."


Chea menatap datar Hera yang tersenyum ke arahnya sambil mengangkat tangannya dna jarinya membentuk tanda V.


"Lupakan itu. Aku gak mau jawab."


"Mbak gak mau jawab karena pak Fahmi belum ngajak ya?."


Chea geram dengan pertanyaan Hera yang unfaedah menurut Chea.


"Yah mbak menghindari pertanyaan saya."


Chea menutup matanya dan menghembuskan nafas kasar.


"Gak usah ditanya kapan nyusul deh, gak akan nyusul pokok e. "


Hera cuma tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya berulang-ulang untuk menggoda Chea sedangkan Chea menatap datar Hera.


"Kamu fokus sama acara ini. Saya pergi."


Chea langsung pergi dan menghampiri keluarga Ari untuk pamit pulang karena besok acara akan tambah banyak tentunya juga sibuk.


Ari ngambek dengan Chea dan tak mau berbicara dengan Chea.


"Lo kayak gini maka lo siap-siap bilang bye ke acara kawinan lo besok."


Chea menantang Ari dengan tatapan meremehkan. Ari menatap tak suka Chea.


"Gini nih kalau punya sahabat WO. Dikit-dikit ngancemnya batal kawin besok. Udah sah juga guenya."


Ari menjulurkan lidah ke arah Chea dan dibalas pelototan dari Chea.


"Gue mau balek. Besok gue harus persiapin acara kawinan lo."


"Oke. Sana balek. Besok jangan lupa soal itu."


"Iya bawel."


Chea memeluk Ari dan segera pergi dari acara siraman yang sudah berakhir tadi.


Selama perjalanan pulang ke hotel, Chea merasa jika taksi yang sedang ia tumpangi sedang dibuntuti oleh sebuah mobil.


"Pak.. kita dibuntuti ya?."


Sang sopir melirik ke belakang melalui kaca spion di atas.


"Iya neng. Mobil itu tadi udah terparkir di belakang mobil saya tadi. Eh taunya juga ngikut pergi."


Che menoleh ke belakang sekali lagi dan memastikan nomor plat mobil itu. Ternyata mobil Fahmi.


"Pak... bisa ngebut?."


"Bisa neng. Sekarang neng pegangan."


Akhirnya sang supir melakukan aksi balap liar di jalanan yang lumayan ramai ini. Chea tak perduli akan suara klakson mobil lain yang merasa terganggu dengan taksi yang Chea tumpangi.


Tak lama kemudian mereka sampai di hotel. Chea segera membayar dan berlari masuk hotel. Aksi Chea dilihat banyak orang dan Chea tak perduli. Segera Chea berlari ke arah ballroom.


Chea langsung menghampiri staffnya yang sedang menata kursi dan meja.


"Mbak?"


Seorang staff memberikan botol minum air putih ke Chea dan diterima Chea dengan cekatan.


"Oh.. terima kasih. Kalian lanjutkan saja apa yang baru saja kalian lakukan. Anggap saja aku tak ada."


Semua staff yang tadinya melihat Chea langsung bergegas melanjutkan acara mereka.


Chea bangkit dan segera pergi dari ballroom. Chea melirik kanan dan kiri untuk melihat apakah ada Fahmi atau tidak. Dirasa aman, Chea segera berlari ke arah lift yang terbuka dan menuju kamarnya untuk istirahat.


🏵


TBC


🏵