
"Jadi?."
Fahmi menatap tajam Fanya yang kelihatan kelewat santai. Mereka di kafe langganan Fanya. Sesuai kemauan Fanya.
Fanya meminum jusnya dengan tenang lalu menatap Fahmi.
"Apanya?."
Fanya mengibaskan rambutnya dengan tatapan genit ke Fahmi. Sedangkan Fahmi geram dan ingin sekali menjambak rambut Fanya yang dari tadi ia kibaskan terus.
"Foto itu. Mau mu apa?."
"Duh duh duh.. Gak seru banget sih kamu Mi."
Brak
Habis sudah kesabaran Fahmi menunggu jawaban Fanya yang ternyata dijawab seperti itu.
"Mejanya ntar patah loh. Tenang dong Mi. Kamu nanya apa mau ku? tentu saja aku ingin menagih janji mu."
"Janji yang mana?."
Fahmi duduk kembali ke kursinya setelah menenangkan amarahnya.
"Kamu bilang akan menikahi ku jika kita sudah besar nanti."
"Itu masa lalu."
"Tapi janji tetaplah janji."
Fanya tersenyum miring.
"Brengs*k"
Fahmi mengepalkan tangannya. Ia lupa akan kenyataan itu.
"Kenapa? mau ingkar sama janji kamu sendiri?."
"Tidak."
"Jika kamu gak segera putusin Chea, maka aku yang akan membuat hubungan kalian kandas."
Fahmi menatap datar Fanya.
"Jika gagal?."
"Akan ku lakukan hal nekat."
"Mau mati? Matilah."
Fanya menatap tajam Fahmi. Perkataan Fahmi sebegitu entengnya menyuruh Fanya mati.
"Jangan menantang ku Fahmi."
"Aku tak pernah bermain-main dengan ucapan ku Fanya."
Fahmi balik menatap tajam Fanya.
"Lakukan apa yang ku mau atau..."
"Atau..."
"Akan ku lukai Chea."
"Bwahahahahahaha.. Kau nyari mati jika nantang Chea. Kau tau bagaimana dia bukan?. "
Fanya kehabisan cara untuk memaksa Fahmi.
"Heh. Kita lihat saja nanti."
"Apa mau mu? Uang? berlian? atau apa? katakan lalu jangan pernah menganggu ku lagi."
Fahmi sudah berada di tingkat kesabaran paling atas.
"Kamu tau jika aku maunya kamu Fahmi. Jadi batalkan pernikahan mu dengan Che dan menikahlah dengan ku."
Dalam mimpi mu rubah. Fahmi menatap Fanya datar
"Persiapan sudah dilakukan dan sudah 40%. Undangan sudah jadi dan tinggal sebar."
"Tinggal batalkan."
Fanya meminum jusnya sampai habis. Menatap Fahmi dengan senyum licik.
"Apa harus aku yang bilang sama kedua orang tua mu?."
"Fanya.."
"Iya sayang..."
"Jangan memancing ku Fanya."
"Apa yang ku lakukan?."
Fahmi mengepalkan tangannya kuat sehingga membuatnya memerah saat dibuka atau bahkan bisa lecet saking kuatnya kepalan tangan Fahmi.
"Hei.. Aku tak akan mempermudah ini semua. Bagaimana kalau Chea tau tentang rekaman percakapan kita. Apa dia akan marah? terus batalin rencana pernikan sepihak mu itu? atau harus ku berikan ke orang tua Chea dan orang tua mu dulu ya Mi? Aku bingung."
Nada bicara Fanya begitu membuat Fahmi emosi ditambah dengan ancaman kosong Fanya.
"Apa maksud mu? rekaman apa?."
"Ohohoho .. sudah lupa ya. Mari saya ingatkan."
Fanya mengambil sebuah alat perekam suara kecil dari dalam tasnya. Fahmi memperhatikan gerak gerik mencurigakan Fanya.
"Mari kita ingatkan dirimu akan satu hal."
Fanya memutar rekaman yang ia maksud. Fahmi syok saat mendengar kata-kata yang ia ucapkan dulu saat bersama Fanya.
"Kasihan ya kalau Chea tau jika kamu hanya manfaatin Chea."
"Fanya.. Kamu.."
"Iya darling.."
Fanya menyimpan kembali alat perekam itu dan menjauhkannya dari Fahmi. Fanya tau jika Fahmi mengawasi gerak geriknya dan ingin mengambil rekaman itu.
"Itu sudah lama dan ini tak akan mempengaruhi siapapun."
Fanya tersenyum miring dan menatap Fahmi dengan genit.
"Wanna try it?."
Fahmi merasa terpojok. Ia tak mau jika rekaman itu sampai ke orang tuanya apalagi keluarga Chea. Ia tak mau jika rencana pernikahan yang ia susun sedemikian rupa akan kacau karena ulah Fanya. Apalagi resiko terburuknya adalah Chea meninggalkannya. Fahmi tak rela.
"Apa mau mu?."
"Masih sama."
Fanya tersenyum manis saat Fahmi menatapnya tajam.
"I refuse."
"Ohoho.. Pilihanmu cuma dua Fahmi. Ya atau tidak. Ya maka kau akan baik-baik saja. Tidak maka mereka yang hancur dan tentu saja special hate from Chea tentunya."
"Fanya yang ku kenal tak seperti ini."
"Ah Fanya yang itu ya. Yang cengeng dan manja itu. Dia sudah mati karena kamu tolak. Disini hanya ada Fanya yang baru. Yang akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang ia mau."
"Licik."
"Yes.. this is me now."
Fahmi merasa tak ada pilihan lain selain menerima itu sebelum Fanya benar-benar melakukan aksinya.
"Ya."
"Apa? Aku gak denger tuh apa yang kamu katakan."
Fahmi menahan rasa marahnya sebisa mungkin. Chea.. maafkan aku.
"Aku menerima tawaranmu."
Fanya tersenyum bahagia saat mendengar kalimat yang ia nanti-natikan itu.
"Acara pertunangan gak usah dibatalin. Aku akan jadi tunanganmu disana. Biar semua orang tau dan lihat. Aku harus pergi mempersiapkan diri untuk acara pertunangan kita 3 hari lagi. Bye."
Fanya memberikan kiss jarak jauh yang ditanggapi datar Fahmi. Fanya pergi dengan hati senang dengan meninggalkan Fahmi dengan semua masalah yang akan terjadi nantinya.
"Maafkan aku. Maafkan aku Chea. Kali ini maafkan aku untuk berbohong pada mu."
Fahmi menjambak rambutnya kasar dan menjadi sorotan tamu disana. Fahmi meninggalkan uang di meja dan segera pergi dari sana.
Kemana pun asal bisa menenangkan fikiran dan hati yang sedang berdebat akan keputusannya ini.
Tak jauh dari tempat duduk Fahmi dan Fanya telihat Chea dengan penyamaran tentunya dengan sangat jelas mendengar semua yang mereka bicarakan sejak tadi. Chea kecewa.
🏵
Malam begitu dingin dan membuat suasana sepi di taman ini. Chea berada di taman sudah hampir sejam dan baru merasakan dinginnya angin malam.
Masih ada beberapa orang yang lalu lalang tapi tetap saja taman ini bisa dikatakan sepi tak seperti biasanya.
"Aku kira siapa ternyata memang Chea."
Chea melihat ke depan dimana ada seorang Aji yang tersenyum padanya.
"Aji?!."
"Boleh duduk?."
Chea hanya tersenyum sebagai balasan dari pertanyaan Aji. Tanpa basa basi Aji langsung duduk.
"Kenapa kau malam-malam bisa disini?."
Aji menoleh ke arah Chea.
"Hanya ada waktu free saat malam. Pagi sampe sore sibuk kerja. Lo sendiri ngapain disini?."
Chea menghembuskan nafas lelah.
"Hanya mencari udara segar."
Keheningan menyelimuti mereka.
"Tangan lo kenapa?."
Chea melirik tangannya.
"Hanya luka biasa."
"Apa sakit?."
"Tidak."
Iya.
"Kau mana mungkin merasakan sakit."
Aku sakit hati bukan fisik.
"Katakan apa mau mu?."
Chea malas berbasa basi dengan Aji.
"Kita teman bukan?."
Chea melihat ke arah Aji yang juga menatapnya.
"Iya."
"Katakan saja apa pun yang menjadi pengganjal fikiran mu pada ku."
"Apa lo mau hibur gue kalau gue curhat?."
"Gak."
"Gitu nawarin."
Chea menyenderkan tubuhnya ke kursi.
"Ya siapa tau gue bisa bantu. Males gue hibur cewek bar-bar kayak lo."
"Jahat banget lo sama cewek lemah."
"Gak ada sejarahnya cewek lemah bisa nonjok orang sampe sekarat kayak lo."
"Diem lo."
Aji mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
Mereka kembali dilingkupi keheningan.
"Gue lagi marahan sama pacar gue."
Katanya gak mau curhat nih bocah. Dasar labil.
"Masalah orang ketiga?."
"Bukan."
"Terus?."
"Gue pulang."
Chea berdiri dari duduknya dan berjalan pergi ninggalin Aji yang melongo di tempat.
"Eh.. Cheana! kalau ngomong tuh gak usah setengah-setengah bisa gak? Bikin orang penasaran aja. Woi tungguin."
Chea terkekeh melihat tingkah Aji dibelakangnya. Setidaknya beban fikirannya sedikit berkurang dengan adanya Aji.
🏵
TBC
🏵